
Chaeryoung menangis tersedu-sedu di pojok kamar tidurnya. Ia benar-benar merasa semua perlakuan yang ia terima benar-benar tidak adil. Ia bahkan bertanya-tanya apa yang telah ia lakukan sampai harus mendapatkan perlakuan seperti ini.
Semua terasa baik-baik saja ketika ia pertama kali memasuki sekolah itu. Ia mendapat banyak teman, nilainya bagus, bahkan ia menjadi peringkat pertama di angkatannya. Tidak ada masalah yang begitu berarti pada awalnya.
Parasnya yang cantik membuat tidak sedikit laki-laki yang menaruh hati bahkan mengejarnya dengan terang-terangan. Tidak terkecuali siswa terkaya di angkatannya, Na Jaemin.
Semua berbalik ketika ia menolak laki-laki itu. Ia tidak menolak laki-laki itu dengan kasar, hanya saja penolakan mana yang tidak menghasilkan rasa sakit?
Rasa sakit hati membuat laki-laki itu dendam dan ingin membalas gadis itu lebih sakit dari pada yang ia rasakan. Tidak hanya ia, beberapa orang yang memang sejak awal iri dan membencinya turut memperlancar aksi balas dendam itu, tidak terkecuali sahabatnya sendiri.
Namanya saja persahabatan, tapi orang yang menjadi sahabat tidak benar-benar berniat menjadi sahabat. Ia hanya mendekati gadis itu agar menjadi sama populernya dengan gadis itu. Sejujurnya, ia sangat membenci gadis itu. Apalagi orang yang ia sukai sejak lama justru menyukai gadis itu dan mendekatinya dengan terang-terangan.
Aksi perundungan besar-besaran terhadap gadis itu pun terjadi. Tidak hanya dicaci dan dimaki, ia bahkan mengalami kekerasan fisik yang dilakukan oleh teman-teman kelasnya.
Apakah guru-guru tidak mengetahui perundungan yang ia alami itu? Mereka tahu, sangat tahu malah, tapi mereka memilih untuk diam. Mereka lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu. Apalagi orang yang memimpin aksi perundungan itu adalah anak kesayangan dari pemilik yayasan sekolah itu. Tentu tidak ada yang berani menentangnya.
Tidak hanya guru-guru, siswa/siswi dari kelas lain juga berpura-pura tidak tahu tentang perundungan yang dialami oleh gadis itu. Tidak sedikit bahkan yang ikut merundung gadis itu. Kehidupan gadis itu selama berada di lingkungan sekolah benar-benar mengerikan.
__ADS_1
Ia benar-benar putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Tapi ia juga memendam rasa sakit hati yang teramat sangat terhadap seluruh orang di sekolahnya itu, terutama teman-teman sekelasnya. Ia sangat ingin membalas rasa sakit yang ia alami berkali-kali lipat pada teman-teman sekelasnya itu. Hanya saja, ia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk mewujudkan hal itu.
***
Gadis itu meringis menahan kesakitan yang ia rasakan pada beberapa bagian di tubuhnya. Ia saat ini tengah bersembunyi di dalam perpustakaan, menghindari orang-orang yang terus merundungnya selama beberapa hari belakangan ini.
Sejujurnya, ia bisa saja mengatakan semuanya pada ibunya, lalu melaporkan aksi perundungan itu kepada pihak berwajib. Tapi apakah semua itu bisa membuat orang-orang yang telah menyakitinya itu mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatan yang telah mereka lakukan selama ini?
Orang tua Na Jaemin tidak hanya merupakan pemilik yayasan sekolahnya, mereka adalah pemilik perusahaan Nana Corp, perusahaan yang paling besar dan paling berpengaruh di kotanya saat ini. Mereka bisa saja memutar-balikkan fakta dan menuntut balik dirinya sehingga yang bisa ia terima hanyalah rasa sakit dan kehancuran.
Ia juga bisa saja meminta ibunya untuk memindahkannya ke sekolah lain, tapi apakah ia akan bahagia dengan itu semua? Bersekolah di tempat itu adalah sesuatu yang telah ia impikan sejak lama.
***
Ibunya tidak sengaja menemukan memar-memar di lengan dan paha putri semata wayangnya itu. Seperti tersambar petir di siang hari, hati ibunya benar-benar hancur mengetahui putrinya dirundung di sekolah. Lebih hancur lagi karena putrinya lebih memilih untuk menyembunyikan hal itu ketimbang memberi tahunya.
Tentu saja seperti yang telah Chaeryoung duga sebelumnya, ibunya memilih memindahkannya ke sekolah lain demi keselamatannya sendiri. Ia tetap menyimpan rasa sakit karena meskipun itu untuk kebaikannya, ia tetap tidak ikhlas karena justru ia yang harus berkorban padahal ia sendiri adalah korban dari aksi perundingan tersebut.
__ADS_1
Sebelum benar-benar meninggalkan sekolah itu, ia sempat menemukan sebuah buku terlarang di perpustakaan sekolah. Buku yang menjelaskan tentang cara mengadakan kontrak balas dendam dengan makhluk terkutuk bernama iblis. Entah mengapa buku se mengerikan itu justru ada di sekolah itu.
Ia menemukan buku itu ketika ia tengah bersembunyi dari para perundungnya. Judul buku itu mungkin sangat menarik hati orang sepertinya yang menyimpan dendam. Tapi ia belum se putus asa itu sampai ingin mengorbankan jiwanya sendiri demi aksi balas dendam kepada orang-orang itu.
Entah apa yang ia pikirkan saat itu. Gadis itu bukannya mengembalikan buku itu ke posisi semula, melainkan membawa buku itu pulang ke rumahnya.
Ia juga belum memiliki niat untuk mengadakan kontrak dengan iblis demi aksi balas dendamnya. Tapi tetap saja ada bagian kecil di dalam hatinya yang ingin melakukannya sehingga buku itu ia bawa pulang ke rumahnya untuk berjaga-jaga.
***
Teman-teman sekelasnya di sekolahnya yang baru mungkin lebih baik dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya di sekolah sebelumnya. Tapi tetap saja ia tidak memiliki teman dekat dan takut untuk berhubungan lebih dekat dari sekedar teman sekelas atau satu sekolah dengan orang lain. Ia benar-benar merasa trauma dengan apa yang pernah ia alami di sekolahnya yang dulu.
Ia kini menjadi lebih pendiam dan lebih banyak menyendiri. Ia lebih memilih memainkan ponselnya, belajar atau tidur dibandingkan bergaul dengan teman-teman sekelasnya.
Satu waktu ia tidak sengaja melihat salah satu foto teman sekelasnya dulu lewat di beranda akun sosial medianya. Hatinya benar-benat sakit melihat senyum bahagia teman-teman satu kelasnya terpampang di sana. Apalagi setelah membuatnya merasa begitu menderita. Teman-teman sekelasnya masih bisa bersikap biasa saja seakan-akan tidak pernah terjadi sesuatu sebelumnya.
Manusia benar-benar makhluk yang menyeramkan. Mereka bisa menyakiti orang lain dengan kejam hanya karena rasa iri dan sakit hati.
__ADS_1
Kilatan amarah terpancar jelas dari tatapan gadis itu. Ia benar-benar ingin membalas perlakuan teman-teman sekelasnya dulu kepadanya. Bahkan kalau bisa, ia ingin membalas perlakuan semua orang yang ada di sekolah itu terhadapnya. Ia ingin mereka merasakan rasa sakit berkali-kali lipat dari rasa sakit yang pernah ia rasakan.
Tatapan gadis itu beralih pada buku terlarang yang ia letakkan di atas meja belajarnya. Ia menimbang-nimbang apakah ia harus membalas perbuatan teman-teman nya itu dengan cara bersekutu dengan iblis atau tidak. Masih ada keraguan di dalam benaknya mengingat ia harus menyerahkan jiwanya untuk selama-lamanya terhadap makhluk terkutuk itu sebagai imbalan dari persekutuan yang telah mereka bangun bersama. Tapi di satu sisi ia sangat ingin melakukannya meskipun bayarannya adalah jiwanya sendiri.