Bara Dan Sepasang Sayap

Bara Dan Sepasang Sayap
Serangan Anggara


__ADS_3

Hari ini, kerajaan Andrea mendapat serangan mendadak dari kerajaan Anggara. Entah siapa yang membocorkan informasi jika Raja dan para Pangeran tengah berada di luar istana. Membuat pertahanan istana melemah. Banyak pasukan Andrea yang gugur dalam penyerangan ini. Bahkan Ariana, Ratu Andrea turut merenggang nyawa demi melindungi putra bungsunya.


"Bunda, Bara mohon jangan tinggalin Bara" tangis anak kecilĀ  berusia sepuluh tahun itu memenuhi istana Andrea.


Ariana baru saja menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Bara. Ia menggunakan tubuhnya sendiri untuk menghalangi anak panah beracun yang ditujukan kepada putra bungsunya.


"Bara, tolong ikhlaskan Bunda. Jadilah anak yang kuat. Bunda titip Ayah dan kakak-kakakmu. Bunda menyayangimu.." ucap Ariana sebelum menutup mata untuk selama-lamanya.


"Tidak! Bunda tidak boleh pergi. Siapa yang akan menemani Bara selain Bunda. Siapa yang akan mengajari Bara terbang selain Bunda, hiks... Bunda hiks... Maafin Bara Bun.. harusnya Bara yang terkena panah itu dan bukan Bunda... Bara janji akan menjadi anak yang kuat untuk Bunda, hiks.."


Tidak lama kemudian Raja Andrea sampai di istana bersama para Pangeran yang lain dan segera memukul mundur pasukan musuh.


Namun nasi telah menjadi bubur. Hari ini Andrea telah kehilangan sosok Ratunya. Begitupula dengan Bara yang kehilangan malaikatnya.

__ADS_1


Setelah hari itu Raja dan Pangeran lain mulai menunjukkan kebencian kepada Bara secara terang-terangan. Jika dulu saat sang Bunda masih ada, Bara hanya mendapat pengabaian dan tatapan ketidaksukaan dari Ayah dan kakak-kakaknya. Maka sekarang hanya karena tidak sengaja menumpahkan minuman di jubah kakak sulungnya ia mendapatkan banyak luka cambuk di tubuhnya.


"Dasar pembawa sial. Dimana kau letakkan matamu itu. Ceroboh dan pembawa petaka, itu julukan yang pantas untukmu. Jika bukan karena anak lemah sepertimu Bunda tidak akan pergi. Harusnya kau yang mati, bukan Bunda" ucap Pangeran Sean sembari melayangkan cambuk ke tubuh Bara. Ia hanya bisa menahan rasa sakit dengan air mata yang mengalir membasahi wajah putihnya. Sungguh luka cambuk di tubuhnya itu tidak ada apa-apanya dibandingkan luka hatinya mendengar ucapan Pangeran Sean.


Tidak ada yang berani membantu Bara atau nyawa mereka yang menjadi taruhannya. Para pengawal dan pelayan di istana hanya bisa memandang prihatin akan nasib pangeran bungsu mereka.


"Apakah aku memang terlahir sebagai pembawa sial Paman Johan?" tanya Bara yang kini tengah diobati oleh pengawal kepercayaan Bundanya.


Johan terdiam sejenak mendengar pertanyaan tersebut. Hatinya merasa iba dengan takdir yang harus diterima oleh anak kecil seperti Bara.


"Jika demikian, mengapa Ayah dan kakak-kakakku malah membenci kehadiranku Paman. Apakah paman mengetahui alasannya?" tanya Bara.


Johan tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi ia tidak ingin membuat Pangeran yang sudah ia anggap anaknya sendiri ini penasaran. Namun ia juga terikat janji dengan mendiang ratu untuk tidak menceritakan rahasia kelahiran Bara yang bahkan hingga kini belum dipastikan kebenarannya.

__ADS_1


Mendapati keterdiaman Johan, Bara hanya bisa menghela nafas. Selalu seperti ini jika ia bertanya tentang alasan kebencian yang ia terima dari Ayah dan kakak-kakaknya.


Hingga suatu hari saat Bara ingin mengambil air minum, ia secara tidak sengaja mendengar gunjingan para pelayan di dapur.


"Aku merasa kasihan dengan Pangeran Bara. Setiap hari harus mendapat luka dan cacian dari keluarganya sendiri. Aku tidak habis pikir mengapa Yang Mulia Raja dan Para Pangeran membenci anak sebaik Pangeran Bara." ucap pelayan pertama.


"Kau tidak tahu? Bahkan alasan mengapa Yang Mulia Raja dan Para Pangeran lain membenci Pangeran Bungsu sudah menjadi rahasia umum di istana." ucap pelayan kedua.


"Benarkah? Jika begitu ceritakanlah kepadaku. aku benar-benar tidak tahu." jawab pelayan pertama.


"Jadi sebelum mediang Ratu Ariana dikabarkan mengandung Pangeran Bungsu, ia sempat ditawan oleh Raja Anggara. Dan setelah Yang Mulia Raja berhasil menyelamatkan Ratu terdengarlah berita bahwa Ratu tengah hamil. Nah, ada desas-desus yang mengatakan bahwa anak dalam kandungan Ratu bukanlah anak kandung Raja melainkan anak dari Raja Anggara. Dari situ Yang Mulia Raja ingin Ratu menggugurkan kandungannya. Namun Yang Mulia Ratu tetap kekeh untuk mempertahankan Pangeran Bungsu dan mengatakan bahwa Pangeran Bungsu bukan anak Raja Anggara. Walau begitu Yang Mulia Raja dan Pangeran lainnya tetap tidak mempercayainya" ungkap pelayan kedua.


Bara yang mendengar hal tersebut sontak terdiam, namun tidak dengan hatinya yang teramat sakit mengetahui bahwa dirinya ternyata adalah anak haram yang tidak pernah diinginkan kehadirannya.

__ADS_1


'Jika demikian, harusnya aku tidak layak berada di sini. Aku memang anak haram dan pembawa sial. Maafkan aku Ayah dan Kakak-kakak harusnya aku sadar untuk tidak pernah mengharapkan perhatian dan kasih sayang dari kalian. Bara pamit, semoga kalian bahagia setelah kepergianku' ucap batin Bara sembari menghapus air mata yang entah sejak kapan mengalir.


Esok harinya istana Andrea digemparkan dengan menghilangnya Pangeran Bungsu. Tidak ada yang tahu kemana Bara pergi, baik Johan sebagai pengawal pribadinya sekalipun.


__ADS_2