
"Sebelumnya gue ngucapin terima kasih atas tawaran yang lo berikan. Dan gue mohon maaf karena gue nggak bisa jadi adik seperti yang lo harapkan" ucap Bara seraya memilin ujung bajunya. Sungguh keputusan ini menguras emosinya.
Alex terdiam begitu juga dengan Adrian yang langsung paham apa yang terjadi.
"Lo udah tau konsekuensi atas keputusan yang lo ambil ini Al..." tanya Alex berusaha membuat Bara berubah pikiran.
Bara tersenyum. Senyum yang penuh dengan keputus asaan. "Gue tahu. Dan kalo lo sama temen-temen lo mau ngebully gue kayak dulu akan gue terima. Bahkan kalo lo mau ngeluarin gue dari sekolah gue juga nggak masalah Bang." ucapan Bara membuat Adrian memandang penuh amarah pada Alex. Jadi selama ini ia melakukan bullying pada Bara?
Alex tidak menghuraukan tatapan Kakak sulungnya itu. Fokusnya sekarang adalah pada Bara. "Apa alasan lo?" jujur ia masih tidak terima dengan keputusan Bara.
Bara menatap Alex lama sebelum menjawab. "Gue nggak bisa kasih alasan yang jelas kenapa gue nolak. Yang pasti gue nggak mau terluka lagi jika harus berurusan dengan yang namanya keluarga. Jadi tolong jangan memaksakan gue buat masuk dalam ikatan itu. Gue belum bisa berdamai dengan masa lalu gue. Dan maaf karena gue nggak bisa ceritain tentang itu bahkan ke orang terdekat gue sekalipun." tanpa sadar air mata Bara mengalir. Dengan cepat ia menghapusnya. Kenapa belakangan ini dirinya jadi cengeng begini.
__ADS_1
Ia menunggu respon Alex dan Adrian. Namun hingga beberapa saat tidak ada tanggapan membuat Bara terheran-heran.
Kedua saudara tersebut hanya diam memandangi dirinya. Sebelum Alex bangkit dan memeluknya. Bara? Ia tentu saja kaget dengan pelukan tiba-tiba yang ia dapatkan.
"Maaf..." Bara merasakan basah di bahunya. Alex menangis? Apakah ia salah bicara sebelumnya?
"Maaf karna gue terlalu egois. Gue nggak ngertiin perasaan lo dan memaksakan kehendak gue yang justru itu nyakitin lo tanpa sadar. Tapi gue mohon jangan jauhin gue. Gue udah terlanjur sayang sama lo. Lo boleh nggak nganggep gue sebagai kakak lo. Tapi bisakah kita jadi sahabat? Gue mohon untuk yang terakhir kalinya... " Jujur Bara tersentuh dengan pengakuan Alex.
Adrian juga ikut memeluk keduanya. "Benar apa yang dikatakan Alex. Abang juga berharap lo nggak ngejauh dari kami setelah ini, Al"
Bara mengangguk dalam pelukan mereka. "Terimakasih karna udah sayang sama orang kayak gue. Terimakasih untuk mau jadi sahabat gue, Bang..."
__ADS_1
Ekhemm!
"Apa yang terjadi, Son? Kenapa rumah ini jadi banjir air mata?" tanya seseorang yang tak lain adalah Tuan George Ferdinant sekaligus Papa dari Alex dan Adrian.
Beliau bersama istrinya Nyonya Liana Ferdinant yang baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya dibuat terheran-heran saat melihat kedua putranya tengah menangis di ruang makan dengan seorang pemuda dalam pelukan mereka.
Mereka bertiga segera melepas pelukannya dan mengusap air mata di wajahnya masing-masing. Sungguh ketahuan menangis oleh orangtua sendiri di usianya saat ini terlihat memalukan untuk kedua kakak beradik tersebut terutama Adrian sebagai anak pertama.
Sementara Bara cukup terkejut dengan kehadiran pasangan paruh baya tersebut. Ia grogi sungguh.
"Well, sepertinya malam ini masih cukup panjang. Jadi kalian punya banyak waktu untuk menceritakan apa yang terjadi" ucap Nyonya Liana.
__ADS_1