
"Bang lex, pulang..." rengek Bara berusaha membujuk Alex agar ia dapat segera pergi dari tempat bernama rumah sakit ini.
Alex menggeleng tegas. Baru setengah hari anak itu disini dan ingin langsung pulang? Tentu saja ia tidak mengizinkannya.
"Ishhh, Bara tu mau kerja Bang. Nanti gaji Bara dipotong lagi sama Bang Keenan gara-gara bolos kerja" mohon Bara.
"Tidak Al. Dan jangan khawatirkan masalah perkerjaanmu itu. Aku sudah menghubungi Keenan untuk meliburkanmu beberapa hari kedepan. Tidak ada pemotongan gaji, jadi jangan membuat-buat alasan lagi. Mengerti?" tegas Alex.
Jika kalian ingin tau siapa Keenan, ia adalah pemilik kafe tempat Bara bekerja. Keenan juga adalah sepupu jauh Alex jadi dia mudah saja meminta sepupunya itu untuk meliburkan anak nakal ini.
'Duh, Bang Kee kenapa pake kasih izin segala si. Ini gimana caranya gue bisa kabur kalo gitu. Ayo Bara lo harus muter otak' batin Bara tampak berpikir keras.
Alex yang melihat dahi Bara berkerut mengusapnya. "Tidak usah banyak berpikir dan fokuslah pada kesehatanmu, Al. Buka mulutmu sekarang, ini sudah waktunya makan." perintah Alex dengan sendok berisi bubur ditangannya.
Bara hanya memandang nanar makanan tersebut. Apakah tidak ada menu makanan selain bubur di rumah sakit ini? Ia tidak kuasa menelan makanan lembek tersebut.
"Yang lain napa Bang. Bakso kek, Mie Aya.. emmm" belum selesai perkataan Bara, Alex langsung saja memasukkan sendok berisi bubur tersebut ke mulut anak itu. Membuat Bara melotot sebal ke arah Alex. Alex sendiri tidak peduli dan hanya mengangkat bahunya.
Ia terkekeh gemas melihat buntalan selimut berisi Bara yang tengah ngambek kepadanya.
"Hei, sudahlah Al. Ini demi kebaikan lo juga" bujuk Alex agar Bara mau membuka selimutnya. Ia takut anak tersebut akan sesak.
__ADS_1
Bara tetap diam. Tidak mempedulikan Alex yang terus berusaha membujuknya.
'Huh, sesek juga kayak gini terus. Eh, tapi gue harus tahan. Pokoknya gue masih ngambek. Titik." batin Bara.
Dan benar saja pernafasan pemuda tersebut mulai tak teratur. Hal tersebut membuat Alex dengan paksa membuka selimut Bara. Dan tampaklah wajah Bara yang sudah sangat merah.
"Hei, Al. Tenang oke. Tarik nafas pelan-pelan" ucap Alex berusaha menenangkan Bara yang terlihat kesulitan meraup oksigen.
Setelah dirasa anak tersebut tenang. Alex lantas membawa Bara ke dalam gendongan koalanya. "Jangan lakukan hal yang dapat membahayakan diri lo kaya tadi lagi, Al. Gue khawatir. Gue takut lo kenapa-kenapa. Oke?" pinta Alex.
Bara hanya menggumam singkat seraya meletakkan dagunya di pundak Alex. Jujur ia lelah dan mengantuk. Tidak lama terdengar dengkuran halus dari mulut anak itu.
Perlahan ia meletakkan kembali Bara fi tempat tidur dan membenarkan infusnya.
"Tetap sehat Al. Jangan pernah tinggalin gue ya..." bisik Alex.
Keesokan harinya terdengar suara gaduh dari ruangan tempat Bara dirawat.
Ternyata pemuda tersebut tengah mengamuk karena Satria mengambil cemilannya.
"Woy, itu cemilan gue Bang Sat. Balikin nggak?!" teriak Bara.
__ADS_1
"Yaela, cil. Minta satu napa si. Pelit amat lo..." ucap Satria seraya menghindari timpukan bantal dari Bara.
"Sudah-sudah. Nggak usah jail Sat, anaknya baru aja sakit juga. Ntar kalo nangis lo juga yang kena omel Alex" nasihat Rio yang jengah dengan pertengkaran unfaedah keduanya.
"Ck, nggak asik tau. Yaudah nih cil gue balikin" ujar Satria sembari mengembalikan toples cemilan Bara ke si empunya.
Bara dengan senang hati merebut kembali toples tersebut membuat sahabatnya yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala. Ngakunya dah gede tapi kelakuannya masih sebelas dua belas kek anak kecil.
"Btw kapan gue bisa balik, Bang?" tanya Bara yang sudah bosan tinggal di ruangan bau obat ini.
"Bentar gue tanya ke Bang Bram dulu." ujar Rio. Setelahnya ia pergi keluar untuk menemui Bram.
Sedang di sebuah ruangan minim cahaya tampak seorang pria tengah meneguk wine di tangannya sembari mendengar laporan anak buahnya.
"Anak tersebut kini tengah melakukan check up kesehatan di sebuah rumah sakit milik keluarga Ferdinant, tuan." lapor seseorang yang ia tugaskan untuk mengikuti seorang anak.
"Hmm, tetap awasi dia, Roy." ujar Pria tersebut.
"Baik tuan" tidak lama kemudian orang benama Roy tersebut meninggalkan ruangan tuannya.
Siapakah Pria itu?
__ADS_1