
Bara kini sendirian di kamar Alex. Rantai yang melingkari kedua kakinya juga sudah dilepaskan. Ia tengah memikirkan perkataan Alex terakhir kali.
"Maaf..." ucap Alex lirih.
Bara mendongak untuk melihat wajah Alex. 'Tiba-tiba...' pikirnya.
"Maaf atas perlakuan gue selama ini. Dan tentang tawaran tadi agar lo mau jadi adik gue, itu tulus dari hati gue. Gue harap lo mempertimbangkannya matang-matang." ujar Alex sebelum beranjak keluar.
Namun sebelum menutup pintu, ia kembali berkata "Mungkin gue akan balik larut malem, jika butuh apa-apa lo bisa minta sama bodyguard yang jaga di depan." setelahnya ia benar-benar berlalu.
Bara memegang erat liontin yang melingkar di lehernya. "Bunda Bara harus gimana sekarang..." tanyanya hampir tak terdengar.
Dan seharian itu, Bara habiskan dengan melamun memikirkan jawaban untuk Alex. Semua kebutuhannya diantarkan oleh maid ke dalam kamar. Alex benar-benar menjamunya dengan baik.
Hari sudah semakin larut dan Alex belum juga kembali ke mansion. Entah mengapa Bara merasa khawatir dengan kakak kelasnya itu. Bodyguard yang ia tanya pun tidak tahu kemana Alex pergi dan kapan ia kembali ke mansion.
Huh, Bara tidak bisa tidur jika dirinya dilanda gelisah seperti ini. Hingga pintu kamar perlahan terbuka. Bara sudah cukup lega karena mengira itu adalah Alex yang sudah pulang.
Namun sepertinya perkiraan Bara meleset. Seorang pria dengan setelan jas kerjanya memasuki kamar Alex membuat Bara waspada seketika.
__ADS_1
Pria tersebut tersenyum misterius melihat apa yang ia temukan di kamar adiknya itu. Ya dia adalah Adrian Putra Ferdinant, Kakak sulung Alex. "Well, kejutan yang menarik... Sejak kapan adikku menemukan kucing manis ini?" tanya Adrian membuat Bara semakin was was.
Aura pria ini seperti seorang psikopat yang menemukan mangsanya. Apakah ini akhir hidup Bara? 'Ya Tuhan, gue nyesel nggak ikut Alex pergi tadi' batin Bara parno.
Perlahan Adrian mendekati ranjang yang ditempati Bara. Ia sendiri refleks mundur hingga punggungnya menyentuh kepala tempat tidur. 'Sial, sial lo dimana si lex, kenapa mesti melihara psikopat di rumah si' umpat Bara dalam hati.
"M..mau apa lo?!" tanya Bara dengan suara bergetar. 'Sialan, kenapa gue jadi gugup gini si' batinnya.
Adrian hanya diam tak menjawab. Sungguh pemandangan di depannya terlalu menggemaskan. Ia sepertinya akan mengintrogasi adiknya nanti karena berani menyembunyikan makhluk selucu ini di kamarnya.
Perlahan Adrian mengelus pipi berisi Bara dan sesekali mencubitnya. Hal tersebut membuat Bara cengo di tempat.
Adrian tersenyum geli mendengarnya. "Ah maaf ekspresi wajah lo terlalu menggemaskan, gue nggak tahan buat nyubit pipi tembem lo. Perkenalkan gue Adrian lo bisa panggil Bang Rian." ujar Adrian dengan terus memandang Bara intens membuat Bara merasa risih dengan orang di depannya ini.
"L..lo siapanya Alex?" tanya Bara mencoba lebih sopan dari sebelumnya. Adrian tersenyum tipis menampakkan lesung pipinya.
"Kakak pertama Alex. Dan siapa namamu bocah?" tanya Adrian.
"Gue bukan bocah ya! Nama gue Bara, Albara Genesia. Lo bisa manggil gue Al atau Bara terserah lo." ucapnya sembari menyodorkan tangan. Hei kemana ketakutannya Bara tadi menguap? Bahkan kini ia sudah bercanda ria dengan orang yang sempat ia sebut psikopat tadi.
__ADS_1
Adrian ternyata orang yang ramah walau wajahnya terkesan datar dan dingin. Membuat Bara cepat akrab dengannya.
Tidak lama terdengar suara dobrakan pintu membuat atensi Bara dan Adrian teralihkan untuk melihat siapa pelaku yang membuat kegaduhan larut malam begini.
Dan disanalah Alex berdiri dengan raut kesalnya.
Kini mereka bertiga tengah berada di ruang makan untuk menikmati hidangan tengah malam. Ada-ada saja memang. Aura permusuhan antara Alex dan Kakak sulungnya tersebut menciptakan atmosfer ketegangan di ruangan itu.
"Hei sudahlah Alex, Bang Rian cuma ngajak kenalan tadi. Dia nggak ada niatan jahat kok" ucap Bara memecah keheningan.
Alex tampak lebih kesal dari sebelumnya. Bang Rian? Apa-apaan itu. Ia yang susah payah membujuk Bara untuk mau jadi adiknya dan sekarang malah Bang Rian yang mendapat panggilan Abang.
"Sebaiknya lo jauh-jauh dari Bara atau lo bakal tau akibatnya nanti" ancam Alex pada Adrian, ia tak menghiraukan ucapan Bara tadi. Sementara Adrian hanya tersenyum sinis pada Alex seakan mengatakan 'You lose, Bro'.
Hah, Bara lelah dengan perang dingin antara dua saudara ini.
" Oh ya lex ten..."
"Panggil Abang Al..." potong Alex. Terdengar nada perintah di dalamnya membuat Bara tanpa sadar meneguk ludahnya.
__ADS_1
"Eh, maksud gue Bang Lex. Gue udah ada jawaban tentang pertanyaan lo tadi" perkataan Bara sontak membuat kakak beradik itu menatapnya seolah menunggu keputusan besar.