
Lima tahun sudah berlalu semenjak Pangeran Bungsu kita meninggalkan kerajaan Andrea. Atau mungkin lebih tepatnya meninggalkan dunianya.
Sebelumnya saat Bara luntang lantung di tengah hutan Kerajaan Andrea setelah berhasil menginjakkan kaki keluar istana, ia bertemu dengan seorang kakek pertapa. Bara sempat membantu Kakek Liu alias si pertapa tersebut saat kakinya hendak dipatuk ular berbisa. Dan semenjak saat itu Bara tinggal dengan Kakek Liu. Tidak lama. Hanya sekitar satu bulan setelahnya Bara pamit pergi.
"Kamu yakin dengan keputusanmu Bara? Tidak mudah menjalani kehidupan di dimensi lain. Mungkin akan lebih banyak rintangan yang kau temui disana." nasihat Kakek Liu. Ia sudah mengetahui alasan anak yang belum genap seputuh tahun itu berada di tengah hutan belantara seperti ini. Tentang kisah kelahiran Bara, kematian sang Ibunda, kebencian anggota kelurganya, hingga rahasia kelahirannya yang selama ini disembunyikan, dan tentang kebenaran bahwa Bara bukanlah anak kandung dari Yang Mulia Raja Riandra. Bara telah menceritakan semuanya.
Sebelumnya Kakek Liu sempat memberi tahu bahwa terdapat dimensi lain di luar dimensi yang saat ini kita tinggali, yakni dimensi manusia. Bara tertarik akan cerita tersebut. Ia yang memang berkeinginan untuk pergi meninggalkan Andrea kini memilih dunia manusia sebagai tujuan pelariannya.
"Bara sudah yakin Kakek. Mungkin memang dunia itu lebih keras dan kejam seperti perkataan Kakek, tapi lagi-lagi izinkan Bara untuk menyembuhkan hati ini dari harapan-harapan semu yang selalu membayangi hidup Bara selama ini. Tolong bantu Bara untuk mewujudkan keinginan Bara ini, kek..." mohon Bara.
Kakek Liu terdiam. Sungguh pelik takdir yang harus diterima anak kecil ini. Harapan akan kasih sayang keluarganya yang selalu menjadi harapannya selama sepuluh tahun terakhir sudah merusak mental anak ini. Ia memandang sendu mata bening Bara yang tampak kehilangan cahayanya. Mencari keraguan disana. Namun pada akhirnya Kakek Liu hanya mampu menghela nafas. Ia tak menemukannya.
"Baiklah nak... Tapi ingat untuk selalu menjaga dirimu baik-baik disana" peringat Kakek Liu.
__ADS_1
Bara tampak senang mendengarnya. Ia mengangguk mantap. Kakek Liu hanya tersenyum gemas sembari mengusak surai silver Bara. Bara tampak berkali-kali lipat lebih menggemaskan saat tersenyum. Sungguh menyia-nyiakan anak seperti Bara adalah keputusan paling fatal.
Kakek Liu memberikan sebuah kalung liontin dengan bandul kristal berwarna biru cerah pada Bara. "Kalung ini yang akan membawamu ke dunia manusia. Kamu cukup berkonsentrasi dan memantapkan tujuanmu di dalam hati Bara. Namun sebelum itu ada hal yang harus kamu perhatikan baik-baik. Jangan sampai manusia disana mengetahui identitas aslimu yang berbeda dari bangsa mereka atau kamu akan berada dalam masalah besar. Ingatlah untuk membaur dengan mereka, nak..." nasehat Kakek Liu.
"Baik kek, Bara mengerti. Terimakasih telah menjaga Bara selama ini. Jaga diri Kakek baik-baik. Bara pamit kek" ucap Bara sembari memeluk Kakek Liu. Tidak lama kemudian tampak cahaya berwarna biru mengelilingi tubuh Bara dan membawa anak itu pergi.
'Semoga ini menjadi keputusan terbaik yang kau ambil, nak' batin Kakek Liu.
Brakk!!!
Ah, sungguh Bara sangat mengantuk pagi ini. Ia baru pulang ke apartemennya pukul 3 pagi tadi.
"Maafkan saya, Bu." sesal Bara. Bu Sarah hanya menghela nafas kasar, ia sebenarnya tidak tega melihat wajah kuyu bara. Namun mau tidak mau ia harus mendisiplinkan murid-muridnya.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu mencuci muka terlebih dahulu baru saya izinkan untuk mengikuti pelajaran saya kembali" ucap Bu Sarah. Bara hanya mengangguk singkat sebelum izin ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Entah nasib baik atau buruk di tegah jalan ia tanpa sengaja bertemu dengan Geng Alaskar. Anak-anak orang kaya yang selalu mengganggu kehidupan SMA nya.
"Wah, sungguh kebetulan yang menyenangkan akhirnya kami bisa bertemu denganmu adik manis" ucap salah satu dari mereka yang berambut blonde. Mario Alfonso atau biasa dipanggil Rio, ia adalah putra tunggal keluarga Alfonso salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ia menjabat sebagai wakil ketua dari Geng Alaskar.
'Menyenangkan matamu' batin Bara yang hanya bisa menahan diri untuk tidak mengumpati kakak kelasnya itu.
Ia segera memutar arah menjauhi Geng tersebut. Persetan dengan tujuan awalnya yang hendak mencuci wajahnya di kamar mandi. Ia tidak ingin berurusan dengan mereka. Namun sebelum itu tangan Bara ditahan oleh salah satu dari mereka. Ia adalah Alex Ferdinant ketua Alaskar.
"Aku meminta jawaban atas tawaranku kemarin, Al..." ucap Alex dingin.
Bara menelan ludahnya kasar. Sungguh aura yang dikeluarkan Alex membuat bulu kuduknya meremang. Namun tak lama kemudian ia menghentakkan kasar tangan Alex.
__ADS_1
"Aku tidak tertarik sama sekali untuk bergabung dengan Geng kalian itu. Dan berhentilah mengganggu hidupku."
"Well, pilihan yang salah..." tampak seringai menakutkan menghiasi wajah Alex.