
Hari itu Bara tengah melakukan pekerjaannya menjadi pramusaji di kafe milik Keenan. Ia mendapat shift malam dari jam enam sore sampai jam 11 malam. Tadinya Keenan tidak ingin memberikan pekerjaan pada anak seusia Bara apalagi anak itu adalah seorang pelajar. Namun karena terus memaksa mau tidak mau Keenan memberi pekerjaan sebagai seorang pramusaji di kafenya.
Awal mula pertemuan Kenan dengan Bara terjadi secara tidak sengaja. Malam itu ia dirampok dan dipukuli habis-habisan. Setelahnya mereka mengambil mobil dan barang-barangnya serta meninggalkan Keenan sendirian di pinggir jalan dalam keadaan babak belur.
Beruntungnya Bara yang saat itu baru pulang dari balapan liar menemukan Keenan yang tengah sekarat. Anak itu lalu membawanya ke rumah sakit dan mencoba menghubungi keluarga Keenan. Beruntung nyawa Keenan bisa diselamatkan.
Dan sejak saat itulah ia akrab dengan bara. Ia sudah menganggap Bara seperti adiknya sendiri. Berulang kali ia mengajak Bara untuk tinggal bersamanya sebagai balas budi karena telah menolongnya. Namun Bara menolak dan hanya meminta untuk dicarikan pekerjaan saja.
Oke kembali lagi bersama Bara. Ia tengah mengantarkan pesanan ke salah satu meja. Namun tanpa sadar ia menabrak seorang pria.
Brakk! Makanan yang dibawa Bara berceceran di lantai dan sebagian mengenai jas mahal orang pria yang barusan ia tabrak.
"Astaga, maafkan saya Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja. Lagian Tuan kenapa berdiri di tengah jalan juga si" omel Bara. Ini sebenarnya yang salah siapa si, dia yang nabrak dia juga yang ngomel.
__ADS_1
Pria tersebut hanya memandang datar kearah anak kurang ajar di depannya ini. Sementara bawahannya sudah bersiap untuk menghajar pemuda yang sudah beraninya menyinggung majikan mereka. Tapi hal tersebut dihentikan oleh Xavier nama pria tersebut.
Ia cukup tertarik melihat tingkah laku anak ini. Lihatlah bagaimana Bara yang terus-menerus menggerutu sembari memunguti piring yang terjatuh. Sangat menggemaskan. Dan saat matanya bertatapan dengan anak tersebut ia seperti mendapat sebuah insting.
"Bukannya kau yang salah karena tidak melihat jalan anak muda?" ucap Xavier datar.
"Ya gue kan udah minta maap tadi. Lo juga salah kali" ketus Bara. Setelahnya anak tersebut berlalu meninggalkan Xavier.
"Tuan, apakah saya perlu memberinya pelajaran?" tanya salah satu bawahannya.
Entah karena apa, Xavier kini menginginkan bocah itu.
"Ada apa Bar?" tanya Keenan yang melihat wajah lusuh Bara.
__ADS_1
"Baru nabrak orang Bang. Terus piringnya pada pecah deh" sesal Bara.
"Tapi lo nggak papa kan. Nggak diapa-apain sama orangnya kan?" khawatir Keenan.
"Nggak Bang, nggak diapa-apain kok. Maapin Bara ya karena udah mecahin piring2 Abang." ucap Bara menyesal.
"Udah nggak usah dipikirin soal itu. Sana gih ganti baju, shift kerja lo udah selesai juga"
Bara hanya mengangguk kemudian berlalu untuk ganti baju dan pulang ke apartemennya.
Sesampainya di apartemen kecil yang ia beli beberapa tahun lalu Bara segera merebahkan diri di kasurnya. Ia sangat lelah hari ini. Berharap semoga hari esok ia dapat terus tersenyum. Dab setelah itu hanya kegelapan yang terlihat. Bara tertidur pulas.
Keesokan harinya ia bangun cukup pagi. Ingin tidur lagi karena hari ini adalah weekend tapi matanya sudah tidak mengantuk. Akhirnya ia putuskan untuk jalan-jalan saja pagi ini. Kebetulan ia sudah lama tidak ke taman untuk berolahraga.
__ADS_1
'Yah itung-itung ngebentuk otot' batinnya. Ada-ada saja memang.