Bara Dan Sepasang Sayap

Bara Dan Sepasang Sayap
Mansion Ferdinant


__ADS_3

Disinilah sekarang Bara berada, mansion keluarga Ferdinant dengan kedua kaki terantai di ujung tempat tidur.


Setelah penolakan yang diberikan Bara atas tawaran untuk bergabung dengan Geng Alaskar, ia dibawa paksa oleh Alex ke mansionnya. Apakah Bara diam saja?


Tentu saja tidak, ia sekuat tenaga berusaha melepaskan diri dari gendongan Alex tapi karena memang dasar kekuatannya yang tidak sebanding berakhir ia yang tertidur karena kelelahan memberontak dan berteriak sedari tadi.


Kenapa tidak ada yang menolongnya? Oh ayolah siapa pula yang berani melawan anak pemilik yayasan.


"Eungh, sshhh kepala gue pening" ucap Bara lirih sembari memijat pelipisnya. Suaranya terdengar serak karena banyak berteriak sebelumnya, selain juga faktor bangun tidur.


Tunggu dimana ini. Bara kebingungan saat mendapati ruangan yang ia tempati tampak asing di matanya. Oke Bara kau harus tenang. Ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya sebelum kemudian mengingat kejadian memalukan yang menimpanya. Hell, siapa yang tidak malu digendong ala koala di depan banyak orang seperti tadi.


Saat hendak bangun dari tempat tidur, Bara baru menyadari jika kakinya terantai di tempat tidur. 'Ahhhh, hari yang penuh kesialan' batinnya mengacak-acak rambutnya. Kenapa pula kakinya mesti dirantai seperti ini. 'Gue bukan binatang woi' jeritnya dalam hati.


"Berhenti melakukan itu Al, kau akan melukai kepalamu nanti" ucap seseorang yang baru saja memasuki kamar. Ia adalah Alex dalang dari kesialan yang menimpa Bara hari ini.

__ADS_1


"Mau lo apasih? Kalo ada masalah tu ngomong baik-baik bukannya seenak jidat lo nyeret gua kesini" ucap Bara frustasi.


Alex hanya menghela nafas sebelum duduk di samping Bara. Ia mengelus lembut surai silver Bara. "Gue pengin lo jadi adik gue, Al"


Bara terdiam. Adik? Apa ia tidak salah dengar. Selama ini Alex dan teman-temannya kerap mengganggunya hanya karena ingin ia jadi adiknya?


"Maksud lo?" tanya Bara tamapak tak paham.


"Seperti yang lo denger barusan. Gue pengin lo jadi adik gue. Dan gue nggak nerima penolakan atau.... kehidupan SMA lo jadi taruhannya" bisik Alex di akhirnya. Hal tersebut membuat Bara bergidik.


Bara bahkan pernah mengalami pembullyan yang dilakukan oleh Alex dan teman-temannya, membuat tidak ada satupun orang yang mau berteman dengannya. Memang tidak sampai membuatnya terluka. Tapi tindakan yang dilakukan oleh Alex dan teman-temannya melukai psikisnya.


Jika hanya disuruh untuk membelikan makanan di kantin atau mengerjakan tugas mereka itu masih bisa ia terima, tapi jika sudah menghina asal-usulnya yang tidak jelas apalagi menyinggung pasal orangtuanya itu sudah keterlaluan menurutnya. Ia memang sebatangkara disini, tapi tidak ada yang boleh menjelek-jelekkan orangtuanya terutama Bundanya. Namun pada akhirnya ia tidak bisa melakukan apa-apa karena beasiswanya terancam dicabut jika berani melawan Alex.


Bara tidak terlalu ingat sejak kapan Alex mulai berhenti membullynya, seingatnya ia pernah menemukan Alex tengah dikeroyok oleh orang-orang tidak dikenal di sebuah gang saat Bara baru saja pulang dari kafe tempatnya bekerja. Ia yang tidak tega pun segera membantu Alex untuk menghajar orang-orang itu. Jangan remehkan kemampuan beladiri Bara, ia juga pemegang sabuk hitam taekwondo jika kalian tau.

__ADS_1


Dan setelah kejadian itu perlahan Alex dkk mulai berhenti membullynya. Sebaliknya mereka terang-terangan menunjukkan ketertarikannya pada sosok Bara dan mulai mendekatinya. Jika dulu ia menghindar agar tidak dibully, tapi kini ia menghindar karena merasa risih dengan sikap mereka yang bisa dibilang ... posesif?


Pada akhirnya Bara hanya bisa menangis. Alex yang melihatnya pun terkejut dan berusaha menenangkan Bara.


"Hei, kenapa menangis, Al?" tanya Alex sembari mengusap air mata yang mengalir di pipi putih Bara. Ia memeluk Bara dan menenggelamkan wajah Bara di dadanya. Apakah permintaannya terlalu sulit hingga membuat Bara menangis. Seingatnya bahkan saat Alex membully Bara dulu, anak ini tidak pernah menangis. Tetapi kenapa saat ia meminta Bara menjadi  adiknya ia malah menangis.


Sudah setengah jam Bara terisak di pelukan Alex, sebelum akhirnya Bara angkat suara.


"Bang..."


Sungguh jangan bangunkan Alex jika ini adalah mimpi. Barusan Bara memanggilnya Abang? Alex senang bukan main saat panggilan itu terucap.


"Bisa kasih waktu buat gue jawab, gue mohon..." Alex tersentak. Bara bahkan tidak pernah memohon padanya sebelumnya. Ia merasa menjadi orang paling jahat sekarang.


 Pada akhirnya Alex hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2