
Berbeda dengan Bara yang dikelilingi kehangatan berkat kasih sayang sahabat-sahabatnya. Istana Andrea tampak suram beberapa tahun terakhir ini. Tidak ada kehangatan yang terpancar. Hanya aura-aura dingin tak tersentuh yang selalu menguar.
Tepat setelah Andrea kehilangan Pangeran Bungsu mereka, sebuah fakta mengejutkan terungkap. Fakta tentang kelahiran Pangeran Bungsu Andrea, Albara Genesia Andrea.
Hal tersebut diakui langsung oleh Raja Anggara, Viktor Anggara. "Cih, Ariana bahkan sudah mengandung sebelum aku menculiknya membuatku tak menyentuhnya sama sekali. Dan kau begitu mudahnya termakan fitnah bawahanmu itu. Kau memang pantas dikatakan Raja bodoh Zarc Andrea." sinis Viktor.
Zarc hanya bisa mengepalkan tangan menahan amarah. Jadi selama ini ia telah dibodohi? Bagaimana mungkin aku tak mempercayai istriku sendiri?
Akhhhhh!!!!
"Jika saja kau tidak menawan Ariana waktu itu ini semua tidak akan terjadi Viktor." sergah Zarc.
"Mencari pembelaan, huh?" ejek Viktor.
"Sudahlah aku tak mau meladenimu untuk saat ini. Aku ingin mencari calon anakku saja Albara Genesia Andrea. Ah tidak, aku akan dengan senang hati mengganti marganya menjadi Albara Genesia Anggara. Kelihatannya lebih cocok." ucap Viktor.
"Jangan bermimpi kau Viktor. Bara adalah putraku dan selamanya akan seperti itu. Jadi jangan coba-coba untuk merebutnya." sentak Zarc.
"Heh, kudengar kau tidak mengakuinya bukan? Daripada ia menderita bersama Ayah sepertimu lebih baik anak manis itu denganku saja." kekeh Viktor.
"Atau begini saja, siapa yang menemukannya terlebih dahulu maka ia yang akan mendapatkan anak itu, bagaimana?" tawar Viktor.
__ADS_1
"Kau..."
"Kuanggap kau menyetujuinya. Sampai jumpa Raja bodoh" ejek Viktor sebelum dirinya menghilang.
"Siallll!!!! Hans!" panggil Zarc kepada panglimanya.
Tidak lama kemudian seseorang bernama Hans datang.
"Bunuh orang yang sudah menyebarkan fitnah tentang Pangeran Bungsu dan segera lakukan pencarian Pangeran Bungsu. Aku tidak mau tau, kalian harus menemukannya sebelum Raja Anggara" perintah Zarc.
"Baik Yang Mulia" ucap Hans sebelum berlalu dari sana.
Zarc terkejut dengan kehadiran putra sulungnya dan pangeran lainnya.
"Sejak kapan kau ada disini, Sean?" tanya Zarc.
"Sejak Raja Anggara itu datang, Ayah. Jadi apa yang dikatakannya adalah kebenaran? Albara yang selama ini aku caci maki dan tidak segan aku lukai adalah adik kandungku?" tanya Sean memastikan.
Zarc hanya terdiam. Sebelum kemudian mengangguk untuk membenarkan hal tersebut. Ia merasa amat bersalah dengan putra bungsunya itu. Selama sepuluh tahun bahkan tidak ada kata-kata manis yang ia berikan untuknya.
Ia menangis. Tangisan penuh sesal dan keputusasaan. Ia kecewa. Kecewa dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Bara..." ucap pirih Zarc.
'Maafkan kami adik. Kami menyesal...' batin para pangeran.
Dan kembali lagi bersama Albara yang kini tengah memberontak di tangan sahabat-sahabatnya. Ia yang tidak suka diinfus malah dihadapkan dengan benda tersebut oleh Bram, Kakak kedua Alex yang berprofesi sebagai dokter.
"Heh, lepasin gue. Gue nggak mau diinfus. Lepasin! Kalo sampe lo nusuk-nusuk tangan gue kita kemusuhan Bang Bram." ancam Bara yang masih berusaha melepaskan diri.
"Duh, diem dong Bar. Lagian cuma diinfus doang kok. Nggak sakit beneran" ucap Dion salah satu inti Alaskar yang tengah memegang tangan Bara agar tidak kabur.
"Nggak sakit mata lo. Itu jarum dimasukin tangan gue mana ada yang nggak sakit" rengek Bara.
"Bara kamu ingin diam sendiri atau Abang bius?" ancam Bram yang sudah tidak tahan.
Bara segera menggeleng ribut. Ia berangsur-angsur tenang membuat Bram lebih mudah untuk memasangkan infus ke tangan pemuda bandel itu.
Mata Bara sudah berkaca-kaca siap untuk menumpahkan muatannya. Sungguh tangannya nyut-nyutan dan dia tidak menyukai itu.
"Udah cup cup nggak usah nangis. Lagian ini demi kebaikan lo sendiri. Siapa suruh sering telat makan dan jajan sembarangan." ucap Alex sembari mengelus rambut Bara yang terasa sangat halus di tangannya.
Poor Bara
__ADS_1