
“Hai kalian sedang apa?” tanya Ciko.
“Oh ini, dari tadi Tania ngoceeeeeh terus, karena dia gak terima kalau dia gak satu kelas dengan Kee” jawab Natasya.
“Natasya”ucap Tania.
“Hahahaha kayak anak SD aja” ucap Soni yang membuat Tania malu.
“Ia, katanya dia udah semangat banget dari tadi pagi” ucap Kee.
“Oh, jadi itu alasannya kenapa sang pangeran sekolah datang sendiri hahaha” ucap Kei.
“Ih kalian apaan sih”ucap Tania dengan wajah yang semakin memerah.
“Maksudnya apa sih, aku gak ngerti. Apa hubungannya coba?” tanya Kee.
“Ya adalah. Biasanya tuh mereka bareng ke sekolah, tapi karena Tania yang terlalu bersemangat sampai gak perduliin Reikan hahaha” ucap Ciko.
“Hmm” ucap Reikan singkat.
Mereka semakin mengejek Tania dan juga Reikan.
Kee hanya diam mencerna semua yang ia lihat. Ia masih bingung dengan status antara Reikan dan Tania.
Sepulang sekolah, Tania ingin menghampiri Raikan di kelasnya.
Namun, saat tiba di depan pintu kelas XI IPA-2 Tania mendengar Kee yang berbicara dengan Reikan.
“Reikan, kamu pulangnya ama siapa? Boleh gak aku nebeng, soalnya tadi aku cuman di antar ke sekolah” tanya Kee sambil merangkul tangan Reikan.
“Sorry, aku sama Tania” ucap Reikan setelah melepas rangkulan Kee.
“Oh gitu ya, boleh gak sama Tanianya besok aja. Hari ini tolong antar aku pulang ya please” ucap Kee memegang tangan Reikan.
“Sorry, tapi gak bisa” ucap Reikan melepas tangan Kee.
Tania merasa tak suka saat melihat Kee merangkul dan memegang tangan Reikan.
Ada yang ganjal di hatinya, tapi di tepisnya. Ia merasa kasihan dengan Kee.
Tania menghampiri mereka berdua.
“Tania” ucap Kee kaget.
Reikan kemudian berbalik ke arah Tania.
“Emm, hai Kee. Rei hari ini kamu bisa pulang sendiri gak, soalnya aku ada urusan dulu” ucap Tania berbohong.
“Kamu mau kemana? Biar aku anter” ucap Reikan.
“Enggak, gak perlu aku bisa sendiri kok. Lagian tempatnya gak begitu jauh dari sini” ucapnyamasih berbohong.
“Biar aku nganter..."
“Nggak Rei, aku bisa kok. Oh ia Kee, kamu pulang sendiri?” ucap Tania memotong perkataan Reikan.
“Ha, oh ia aku pulang sendiri. Tadi aku cuman di anter ke sini” ucap Kee.
“Gimana kalau kamu pulang sama Rei aja” usul Tania.
“Aku sih terserah Reikannya” ucap Kee.
“Kamu mau kan nganter Kee?” tanya Tania kepada Reikan.
“Hmm” ucap Reikan.
“Nah, kalau gitu aku duluan ya. Bye” ucap Tania lalu berlari keluar.
Tania masih terus berlari sampai di gerbang sekolah. Ia merasa sedih entah mengapa.
Air mata telah penuh di pelupuk matanya.
Tania berjalan kearah yang berlawanan dengan rumahnya. Ia ingin menenangkan hatinya dulu sebelum pulang kerumahnya.
.
.
__ADS_1
.
Esok harinya, Tania pergi ke sekolah dengan wajah yang murung. Moodnya sedang tidak baik.
Di kelas pun Tania sering melamun. Natasya yang melihat Tania seperti itu menjadi heran.
Pasalnya, kemarin Tania happy-happy saja. Tapi kenapa hari ini ia murung.
“Kamu kenapa Tan? Ada masalah?” tanya Natasya.
“Ha! Oh enggak kok gak apa-apa” ucap Tania sedikit kaget.
“Tan, kemarin aku liat Kee sama Reikan tuh boncengan. Emang kemarin kalian gak pulang bareng ya?” tanya Natasya.
“Enggak, kemarin aku ada urusan gitu jadi aku minta Reikan ngantar Kee pulang? ucap Tania.
“Tapi Tan, kalau aku liat-liat si Kee itu kayaknya suku deh sama Reikan. Emangnya dia gak tahu ya kalau kamu sama Reikan itu pacaran?” ucap Natasya.
“Itu mungkin cuman perasaan kamu aja kali Nat” ucap Tania.
“Pokoknya kita harus cari tahu yang sebenarnya OK” ucap Natasya semangat.
“Terserah kamu deh” ucap Tania pasrah.
Dugaan Natasya ternyata benar, Kee memang suka dengan Reikan. Terlihat dari tingkah lakunya yang setiap hari selalu saja memperhatikan Reikan.
Saat mereka menonton pertandingan basket Reikan, Kee selalu saja terfokus dengan Reikan, saat mereka makan di kantin, Kee selalu saja menatap ke arah Reikan, bahkan Kee selalu mencari cara agar Reikan memperhatikannya.
Natasya yang telah mengetahui bahwa Kee menyukai Reikan tidak tinggal diam.
Ia menghampiri Kee di WC wanita. Tania menyusul Natasya ke WC wanita. Saat Natasya tiba di WC, ia langsung mendorong Kee.
“Hei dasar kamu ya, sahabat macam apa kau yang sukanya nikung temen sendiri” ucap Natasya marah.
“Udah Nat? Ucap Tania menenangkan Natasya.
“Maksud kamu apa sih, dateng-dateng langsung marah” ucap Kee.
“Kamu suka kan sama Reikan. IA KAN” ucap Natasya lagi.
“Emang kalau ia kenapa?” tanya Kee.
“Pacaran. Aku tahu kok” ucap Kee memotong perkataan Natasya.
Tania kaget ketika mendengar ucapan Kee.
“Kalau kamu udah tahu terus kenapa kamu masih ngedeketin Reikan?” tanya Natasya.
“Emangnya kalau mereka pacaran, ada larangannya gitu Reikan harus deket ama siapa aja. Gak ada kan! Lagian mereka toh baru pacaran belum nikah” ucap Kee santai.
“Kamu itu ya bener-be...”
“Aku gak nyangka Kee kamu bisa bicara kayak gitu” ucap Tania yang sedari tadi diam.
“Emang bener kan” ucap Kee.
“Aku pikir kamu tuh sahabat aku. Ternyata kamu lebih kejam dari seorang musuh” ucap Tania di depan Kee.
Kee hanya diam melihat Tania seakan-akan ia tak mendengar perkataan Tania.
“Kenapa Kee? Emang aku salah apa sama kamu? HAH!! Selama ini aku tuh selalu ngebela kamu. Kamu di sakitin sama cowok, aku pukul mereka. Kamu di kata-katain sama orang, aku marahin mereka. KENAPA” ucap Tania tak bisa lagi membendung amarahnya.
“Gak ada yang minta kamu buat ngelakuin itu semua” ucap Kee sinis.
“Emang gak ada yang nyuruh aku ngelakuin itu semua, itu adalah inisiatif aku sendiri, karena aku pikir kamu itu sahabat aku, ternyata bukan” ucap Tania di depan wajah Kee.
“Ayo Tan kita ke kelas aja, gak guna tahu gak bicara sama orang kayak dia” ajak Natasya.
Tania mengikuti ajakan Natasya, tapi Tania berhenti ketika mereka akan keluar dan berbalik ke arah Kee.
“Dan satu lagi Kee, aku gak bakalan biarin kamu ngerebut Reikan dari aku”. Ucap Tania.
Natasya kemudian menarik Tania menuju ke kelas mereka sebelum terjadi perdebatan lagi di antara mereka.
Semenjak saat itu, Tania selalu menjauh dari Kee dan mengusahakan agar Reikan tak berhubungan dengan Kee, apapun itu.
Reikan yang menyadari hal itu menjadi bingung. Pasalnya yang ia tahu, Tania dan Kee adalah sahabat.
__ADS_1
Tapi kenapa mereka seakan-akan tak saling mengenal. Dan ia menyadari bahwa Tania seolah ingin agar dirinya jauh dari Kee.
Sepulang sekolah, Reikan mengajak Tania ke taman yang sering mereka kunjungi, taman yang menjadi saksi dari bersatunya cinta mereka.
Mereka duduk di sebuah bangku di tengah taman.
Suasana taman tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
“What happen Tan?” tanya Reikan.
“Enggak kok, aku gak apa-apa” jawab Tania.
“Maksud aku kamu sama Kee, bukannya kalian sahabat ya?” tanya Reikan lagi.
“Enggak, aku sama dia gak apa-apa” jawab Tania berbohong.
“Don’t lie” ucap Reikan.
“Hmm, sebenarnya aku sama dia tuh udah gak sahabatan lagi” ucap Tania sedikit sedih.
“Kenapa?” tanya Reikan.
“Dia tuh suka sama kamu Rei, dia mau ngerebut kamu dari aku, walau dia udah tahu kalau kamu pacar aku tetep aja dia mau kamu jadi pacar dia” ucap Tania panjang lebar.
“Kamu cemburu?” Tanya Reikan di depan wajah Tania.
Tania kaget dan pipinya merona. Pasalnya wajahnya dan wajah Reikan hanya berjarak beberapa senti.
“Eng..gak kok aku gak cemburu” ucap Tania kemudian memalingkan wajahnya.
Reikan tertawa melihat kelakuan Tania yang lucu di matanya. Ia mengacak rambut Tania yang membuat Tania cemberut.
“Apasih Rei, jadi berantakan kan” ucap Tania kesal.
“Itu gak mungkin terjadi” ucap Reikan.
“Apa? Rambut aku gak bakalan beran.…”
“Maksudku, aku gak mungkin pacaran sama Kee” ucap Reikan.
“Kenapa gak mungkin?” tanya Tania.
“Kan ada kamu. Kamu pasti gak bakalan biarin itu terjadi kan” ucap Reikan.
“Emm” ucap Tania mengangguk.
“Dan juga, aku suka liat kamu cemburu kayak gitu” ucap Reikan lalu tertawa.
“Ih aku gak cemburu tahu” ucap Tania kesal.
“Terus apa?” tanya Reikan.
“Aku cuman gak suka aja liat kamu deket-deket sama dia, apa lagi sekarang aku tahu kalau dia itu mau ngerebut kamu dari aku” jelas Tania.
“Sama aja tahu” ucap Reikan mengacak rambut Tania.
“Enggak, itu gak sama. Cemburu ya cemburu, gak suka ya gak suka” ucap Tania lagi.
“Terserah” ucap Reikan lalu menarik Tania ke dalam pelukannya.
Tania tersenyum dan kemudian membalas pelukan Reikan.
Cukup lama mereka berpelukan, tiba-tiba Tania melepas pelukan mereka.
“Oh ia, aku hampir lupa” ucap Tania.
“Apa?” tanya Reikan.
“Kamu gak boleh deket-deket sama Kee, ada atau gak ada aku di dekat kamu” ucap Tania sambil menunjuk Reikan.
“Masih aja ngebahas itu” ucap Reikan.
“Kalau kamu sampe deket-deket sama dia aku bakal...”
Ucapan Tania terhenti karena Reikan menarik Tania kembali ke dalam pelukannya.
“Ia, dasar bawel” ucap Reikan tersenyum.
__ADS_1
Tania tersenyum di dalam pelukan Reikan.
Hanya Reikan yang dapat membuat Tania bahagia dan hanya dengan Tanialah Reikan bisa tertawa dan tersenyum seperti itu.