Basket In Love

Basket In Love
Serangan 1


__ADS_3

Sesuai dengan permintaan Tania, Reikan selalu menghindari Kee.


Bahkan jika ada peluang mereka akan satu kelompok, Reikan pasti mencari cara agar hal itu tidak terjadi. Mudah baginya bisa melakukan hal itu.


Setelah beberapa bulan, akhirnya mereka naik ke kelas XII.


Mereka sangat senang karena ini adalah puncak dari usaha mereka.


Mereka akan menghadapi ujian yang akan menentukan masa depan mereka kelak.


Semester lima, mereka disibukkan dengan banyaknya tugas yang menanti.


Karena di kelas XII, efektifitas belajar mereka hanyalah kurang lebih delapan bulan, maka mereka harus lebih giat lagi untuk belajar dan tidak ada waktu untuk bersantai.


.


.


.


Tania sedang berada di lapangan basket bersama dengan Reikan saat jam istirahat.


Reikan sedang latihan basket dan Tania sibuk dengan buku yang ada di tangannya.


“Kamu gak bosen baca buku terus” kata Reikan yang sedang mendrible bola.


“Enggak” ucap Tania tanpa mengalihkan perhatiaanya dari buku.


“Apa enaknya sih membaca?” ucap Reikan lagi.


“Kita udah mau lulus tahu Rei, dan kamu juga harus lebih giat belajar” ucap Tania.


“Walau gak belajar, aku juga udah pintar” ucap Reikan lagi.


“Terserah” kata Tania menyerah.


Ia memang tak bisa jika sedang berdebat dengan Reikan.


Walau Reikan itu keliatannya cuek dan hobinya cuman main basket, tetapi ia selalu mendapat peringkat satu umum di sekolah, dan Tania di urutan kedua.


Tania berhenti dari aktivitas membacanya. Ia memperhatikan suasana di sekitar lapangan.


Ia teringat ketika pertama kali ia memasuki sekolah itu.


“Rei, ingat gak saat pertama kali kita ketemu. Di lapangan ini” ucap Tania.


“Hmm. Saat aku gak sengaja lempar bola ke kepala kamu” ucap Reikan sambil memegang bola basket.


Reikan mendekat dan duduk di sebelah Tania.


“Ia, hahaha. Kalau ingat itu, aku jadi aneh sendiri tahu gak sih” ucap Tania.


“Aneh kenapa?” tanya Reikan.


“Ternyata, orang yang ngelempar bola ke kepala aku adalah orang yang selalu mengusap kepalaku” ucap Tania merona.


“Hahaha aku di duluin sama bola basket” ucap Reikan sambil mengusap kepala Tania.


Mereka tertawa tanpa memperdulikan orang yang ada disekitarnya.

__ADS_1


Tak ada yang berani mengusik kebersamaan mereka. Bahkan para FG Reikan hanya bisa menangis melihat sang idola bersama dengan wanita lain.


Tania mengajak Natasya ke rumahnya untuk menginap, karena Natasya ingin belajar bersama dengannya.


Natasya memang sering menginap di rumah Tania, entah itu ketika orang tuanya sedang pergi atau ketika ia ingin curhat kepada Tania.


Di depan rumah Tania terdapat dua kursi panjang dan satu kursi pendek yang berhadapan dengan meja panjang.


Mereka duduk disana untuk belajar sambil memandang indahnya bintang di langit.


“Aku suka banget deh Tan kalau duduk di depan rumah kamu kayak gini sambil menatap bintang di atas sana”ucap Natasya dengan buku di tangannya.


“”Iya Nat, aku juga. Rasanya adem banget” ucap Tania yang ada di sampingnya.


“Apa lagi kalau kita lagi sama orang yang kita sayang” ucap Natasya.


“Hmm. Aku sering melakukan itu” ucap Tania.


“Maksud kamu?” tanya Natasya.


“Dulu ketika aku masih kecil, aku sering melihat bintang bersama dengan kedua orang tuaku dan juga kakakku. Walau aku tak begitu ingat. Tapi ketika aku melihat bintang, memori itu muncul begitu saja” ucap Tania bahagia.


“Terus kakak sama ibu kamu kemana Tan?” tanya Natasya lagi.


“Entahlah, aku juga gak tahu. Waktu itu aku masih terlalu kecil dan belum mengerti apa-apa. Aku juga gak ingat gimana wajah mereka. Saat ku tanyakan kepada Ayah, Ayah hanya bilang bahwa mereka masih menyayangiku” ucap Tania sedih.


“Sabar ya Tan, semoga kalian bisa segera bertemu” ucap Natasya mengusap punggun Tania.


“Aku harap juga begitu. Walau aku gak tahu mereka dimana, tapi aku selalu merasa mereka ada di dekatku” ucap Tania.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba datang Reikan dengan kondisi yang acak-acakan. Terdapat banyak luka di wajah.


“Ya ampun REI!!!” teriak Natasya.


Mereka memapah Reikan dan mendudukinya di salah satu kursi yang mereka tempati tadi.


“Nat, tolong ambilin kotak P3Kdi dapur, ada di laci atas samping kiri” ucap Tania panik.


“Oke, tunggu sebentar ya” ucap Natasya lalu segerah masuk ke dalam rumah Tania.


Ia sangat cemas melihat luka Reikan. Entah apa yang telah terjadi kepadanya, sehingga ia mendapatkan luka tersebut. Tania meneteskan air mata.


“Kenapa kamu bisa kayak gini sih Rei” ucap Tania sedih.


Reikan mengusap air mata Tania.


“Enggak, aku gak apa-apa kok. Cuman luka dikit aja”.


“Gak apa-apa gimana, muka kamu udah babak belur masih di bilang gak apa-apa” ucap Tania sedikit menaikkan nada suaranya.


“Ini Tan, kotak P3Knya” ucap Natasya lalu menyerahkan kotak P3K tersebut.


Tania mengobati luka Reikan. Di bagian dahi sebelah kanan, di sudut bibir sebelah kiri, dan di pipi kirinya.


Reikan sesekali meringis ketika Tania tanpa sengaja menekan lukanya terlalu keras. Setelah mengobati luka Reikan, datanglah anggota 4NGEL yang lain.


“Sebenarnya ada apa sih, kok kamu bisa kayak gini?” tanya Tania.


“Tadi aku berencana datang kesini sama temen-temen, tapi di jalan aku di hadang sama beberapa orang” ucap Reikan.

__ADS_1


“Siapa Rei?” tanya Natasya.


“Anak Gangs Hight International School” jawab Reikan.


“Tapi kenapa mereka nyerang elo Rei” ucap Kei.


“Mungkin mereka gak terima kekalahan kemarin” ucap Soni.


“Bener juga ya. Wah gak boleh di biarin nih, kita harus bertindak” ucap Ciko.


“Ih Ciko, jangan memperkeruh keadaan dong” ucap Natasya sambil memukul Ciko.


“Tapi bener yang di bilang Ciko, kita harus bertindak” ucap Kei.


Reikan memandang Tania yang tiba-tiba menjadi aneh ketika Kei berbicara tentang serangan balik kepada anak Gangs Hight International School.


“Gak perlu, kita gak perlu nyerang mereka” ucap Reikan kemudian.


Semua kaget tak terkecuali Tania yang ada di sampingnya.


“Kenapa gak perlu” tanya Ciko.


“Udahlah, biarin aja mereka. Toh kita yang menangkan” ucap Reikan.


“Tapi Rei”


“Stop oke” ucap Reikan memotong perkataan Ciko.


Mereka hanya bisa pasrah jika Reikan sudah berkata demikian.


“Tan, Ayah kamu mana? Kita belum pernah ketemu sama Ayah kamu” ucap Soni.


“Ha!! Oh itu, Ayah udah tidur. Apa mau aku bangunin?” tanya Tania.


“Gak usah deh Tan, Ayah kamu pasti capek” ucap Ciko.


“Mumpung kalian semua disini, gimana kalau kitaaaa.….belajar bareng” ucap Natasya.


“Maleees” ucap mereka.


“Setuju” ucap Tania sendiri.


“Ayolah, supaya kalian nanti bisa ujian dengan lancar” bujuk Natasya.


“Ia, sedikit juga gak apa-apa” lanjut Tania.


“Tuh, Reikan gak ikut belajar” ucap Kei.


“Dia itu, walau gak belajar juga bakalan pintar gak kayak kalian” ucap Natasya sambil menunjuk muka mereka satu persatu.


Tania tertawa melihat tingkah Natasya yang memarahi mereka seperti seorang guru yang memarahi siswanya yang tidak mau belajar.


“Tania emang adik yang jahat, malah tertawa di atas penderitaan kakaknya sendiri” ucap Ciko pura-pura kesal.


“Hahaha, siapa suruh nganggep aku adik. Kalau kalian juga mau jadi kakak-kakak aku, kalian harus jadi kakak yang baik, ia kan Nat” ucap Tania.


“Betul sekali” ucap Natasya.


Reikan hanya diam melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil.

__ADS_1


Ia kembali memikirkan kejadian beberapa menit yang lalu. Tingkah aneh Tania ketika mereka berencana untuk menyerang.


Di tatapnya Tania yang sedang tertawa bersama dengan Natasya karena memaksa ketiga sahabatnya untuk belajar.


__ADS_2