
Sepulang sekolah, Natasya dan Ciko mengajak Tania ke rumah Ciko.
Ciko ingin memperkenalkan mereka pada Bundanya.
Mereka pergi dengan mengendarai mobil milik Ciko. Kira-kira tiga puluh menitan barulah mereka sampai dikediaman Ciko.
Rumah Ciko sangat besar dan indah.
Saat melewati gerbang, kita akan di suguhi taman yang sangat indah dan asri.
Ada sebuah kolam kecil di tengahnya. Banyak pohon-pohon dan juga bunga dengan berbagai warna yang menambah kesejukan saat kita melihatnya.
Saat memasuki pintu, banyak pelayan yang akan menjamu kita dengan sangat baik. Terdiri dari lima tingkat, dan suasana ruangannya yang sangat elegan.
“Ayo masuk, biasanya Bunda masih ada di ruang kerjanya. Kalian duduk saja dulu, aku akan memanggilnya” kata Ciko yang di balas anggukan oleh keduanya.
Ciko berjalan menjauhi mereka. Ia menuju ke lantai atas dengan menaiki lift yang ada disana.
“Wah Tan, aku gak nyangka rumah Ciko sebesar ini” ucap Natasya kagum.
“Hmm, aku juga. Apalagi yang mengurus Ciko kan hanya Bundanya.salut aku kepada perjuangan Bunda Ciko itu”
“Ia. Seorang wanita yang mampu membagi antara kasih sayangnya kepada anaknya dan juga memenuhi kebutuhan hidupnya” ucap Natasya lagi.
“Beruntung banget ya Ciko punya Bunda seperti Bundanya” ucap Tania.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol, datang seorangwanita paruh baya yang masih terlihat sangat cantik bersama dengan Ciko.
“Sorry lama, aku juga ganti baju soalnya” ucap Ciko.
“Enggak apa-apa kok” ucap Natasya.
“Nah ini Bunda aku”
“Halo tante” sama mereka berdua lalu mencium tangan Bunda Ciko.
“Halo, wah-wah cantik-cantik ya teman kamu Cik” ucap Bundanya.
“Ia dong Bun” ucap Ciko.
“Siapa namanya cantik?” tanya Bundanya kepada mereka berdua.
“Saya Natasya Tante”
“Saya Tania Tante”
“Panggil Tante Tiara saja, atau kalau mau kalian bisa panggil Tante Bunda” ucap Bunda Ciko.
“Boleh Tante?” tanya mereka berdua.
“Boleh” jawab Bunda Ciko.
Mereka kemudian berbincang-bincang sedikit tentang kehidupan mereka di tama, sedangkan Ciko pergi karena ada keperluan.
“Natasya ini ya, yang pacarnya Ciko?” tanya Bunda.
“Iya Bunda” jawab Natasya malu-malu.
“Terus kamu Tania pacarnya Reikan?”
“Iya Bunda, saya” jawab Tania malu-malu juga.
“Tetaplah ada di sekitar mereka. Bunda percayakan mereka pada kalian” ucap Bunda.
“Ia Bunda” jawab mereka.
“Bunda hebat ya, bisa menjadi orang sesukses ini, punya lima mall terbesar di Indonesia dan juga bisa mengurus Ciko” ucap Natasya.
“Begitulah seorang ibu, meski sibuk dengan pekerjaannya pasti iaakan selalu memikirkan anak-anak mereka” ucap Bunda.
“Andai aku punya Ibu, aku ingin ibu seperti Bunda” ucap Tania sedih.
“Kalau gitu, anggap saja Bunda ini ibu kamu, lagian Ciko juga sudah menganggapmu sebagai adiknya kan?” ucap Bunda.
“Beneran Bunda?” tanya Tania.
“Ia”
“Makasih Bunda” ucap Tania lalu memeluk Bunda.
“Aku juga mau di peluk” ucap Natasya.
“Ayo sini” ucap Bunda.
__ADS_1
Mereka berpelukan di taman tersebut. Tania sungguh bahagia bisa merasakan punya seorang ibu.
Reikan sedang sibuk mengurus semua masalah yang sedang terjadi pada perusahaan Papanya.
Sudah seminggu ini ia tak berkomunikasi dengan Tania dan itu membuatnya tak bisa tidur.
Ia sangat merindukan Tania.
Meski begitu, ia menahan dirinya sendiri untuk tidak menghubungi Tania dulu sebelum semua masalah di perusahaan Papanya selesai.
Ia tidak bisa menjamin dirinya bisa menahan hasratnya untuk segera bertemu dengan Tania jika ia mendengar suaranya.
Reikan masih berada di Singapura, dan besok ia dan Papanya akan berangkat ke Korea karena urusannya di Singapura telah selesai.
Masalah yang di hadapinya ternyata cukup rumit. Dan banyak rekan papanya yang awalnya menolak untuk membantu perusahaan Papanya itu.
Tetapi dengan kecerdasan otak Reikan dan juga arahan dari Papa dan juga Om Reza, Reikan mampu membujuk mereka meski hanya 85% yang akan membantu mereka, tetapi itu sudah cukup untuknya.
Ia masih harus bertemu dengan wajah-wajah baru nantinya.
Reikan memang sedari kecil sudah di bekali ilmu untuk membantu Papanya di perusahaan.
Terkadang di hari libur, ia menyempatkan diri untuk membantu Papanya meyakinkan klien-klien yang susah untuk di ajak kerja sama.
Mungkin karena dirinya anak tunggal, jadi dia sudah terjun ke dunia perkantoran meski dirinya masih berumur belia.
Sebenarnya masalah ini sudah lama terjadi, tetapi belum menampakkan efek yang dapat merugikan perusahaan Papanya.
Mereka baru bertindak ketika kerugian yang mereka capai mencapai tiga triliun.
Reikan baru mengetahuinya ketika pertemuan pertamanya dengan Om Reza seminggu yang lalu.
Om Reza sempat mencurigai seseorang yang bekerja di perusahaan Papanya.
Karena melihat data-data yang ia input sangat mencurigakan dan Om Reza memberi tahu Papanya.
Namun kemudian mereka melupakan hal itu karena tiba-tiba saja masalah terjadi di Amerika yang membuat kerugian perusahaan mencapai dua triliun.
Ketika mereka sedang mengurus masalah tersebut, ternyata kecurigaan Om Reza benar, orang tersebut memanglah mata-mata dari perusahaan lain yang ingin menghancurkan perusahaan Papanya.
Hal itu membuat mereka kembali mengalami kerugian sebesar satu triliun.
Maka dari itu, Om Reza tidak ikut bersama dengan Reikan dan Papanya. Karena Om Reza juga sedang berusaha mengurus segalanya di Indonesia.
Setelah seminggu mengunjungi dua negara sekaligus, mereka akhirnya sampai di Amerika.
Reikan dan Papanya di sambut baik oleh semua bawahan Papanya. Mereka menjelaskan secara menditail tentang apa yang terjadi kepada Reikan dan Papanya.
Ternyata ada hubungannya antara masalah yang ada di Indonesia dengan masalah di Amerika.
Para perusahaan yang ingin menjatuhkan Papanya bekerja sama untuk melakukan hal tersebut.
Mereka lebih dahulu memulai aksi mereka di Amerika karena Papanya sedang berada di Indonesia.
Setelah rencana mereka berhasil di Amerika, mereka menjadikan hal tersebut sebagai pengecoh untuk menjalankan rencana mereka di Indonesia.
Itu sebabnya Papanya tak dapat dengan cepat mengetahui hal itu semua, karena ternyata tak hanya satu perusahaan saja yang ingin menghancurkan Papanya.
Bahkan beberapa dari mereka adalah klien yang sempat menjadi teman dekat Papanya.
Reikan berusaha mencari bukti dari beberapa pegawai Papanya yang ada di sana.
Setiap sudut ia periksa dan ia pastikan bahwa mereka semua tidak akan selamat karena telah mencoba menghancurkan Papanya.
Ia memeriksa semua data-data dan juga cara kerja mereka. Jika ada yang mencurigakan, maka sesegera mungkin ia bertindak.
Reikan tak seperti Papanya yang bisa mentoleransi beberapa hal. Reikan seseorang yang tidak bisa mentoleransi apapun jika berhubungan dengan pekerjaan. Ia akan langsung bertindak apapun itu.
Ia akan baik jika hal itu memang memerlukan kebaikan, jika sesuatu hanya bisa di lakukan dengan tindakan yang sedikit over, maka ia tidak segan-segan melakukan hal tersebut.
Dalam kurung waktu sepuluh hari, Reikan mampu menghandle masalah perusahaan Papanya yang ada di Amerika.
Ia juga sudah menemukan bukti-bukti yang mampu memberatkan klien-klien Papanya yang berhianat.
Mereka akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Bahkan Papanya sendiri tak tahu bahwa selama sepuluh hari ini, Reikan mengutus beberapa orang kepercayaan Papanya untuk membongkar kedok klien-klien Papanya tersebut.
Sehingga mereka semua akan sulit untuk lepas dari jerat hukuman yang akan mereka terima ketika Reikan dan Papanya pulang ke Indonesia.
Di tempat lain, Tania sedang berada di lapangan basket bersama dengan Natasya dan juga anggota 4NGEL.
Mereka sedang bermain basket. Sekedar refreshing katanya karena selama hampir satu bulan ini Tania dan Natasya selalu memaksa mereka untuk belajar.
Tania duduk di bangku dekat ring bersama dengan Natasya.
__ADS_1
“Tan, bentar lagi ulang tahun kamu kan?” tanya Natasya.
“Masih lama tahu, ini baru tanggal berapa coba” jawab Tania.
“Dua minggu itu gak lama Tan” ucap Natasya menaikkan suaranya.
“Apanya yang dua minggu nih?” tanya Kei.
“Ulang tahun Tania dua minggu lagi” jawab Natasya.
“Wah bentar lagi dong” ucap Soni.
“Party nih kita” ucap Ciko.
“Biasanya aku gak ngadain party sih kalau ulang tahun” ucap Tania datar.
“Lah, jadi sweet seventenmu kemarin hambar dong?” tanya Ciko spontan.
“Aish, elo Cik” senggol Soni.
“Ups sorry Tan” ucap Ciko menutup mulutnya.
“Enggak apa-apa kok” ucap Tania senyum.
“Tapi kan Tan, setidaknya di umur kamu yang ke delapan belas nanti, harus di raya in” ucap Natasya.
“Enggak usahlah, aku juga udah biasa” ucap Tania lagi.
“Tapi kalau ngasih kado boleh kan?” tanya Kei.
“Ia Tan, bolehlah?” tanya Ciko juga.
“Terserah kalian saja” jawab Tania.
Tania hampir saja lupa dengan ulang tahunnya sendiri jika saja Natasya tidak memperingatkannya.
Yang ia pikirkan adalah keadaan Reikan saat ini. Entah sedang apa dia, karena Tania tak pernah sekalipun berkomunikasi dengannya.
Tania takut mengganggunya jika ia ingin menelpon Reikan dan Reikan sendiri tak pernah sekalipun menelpon dirinya.
Jika ada yang ingin Tania lakukan di hari ulang tahunnya nanti, ia ingin bersama dengan semua orang yang menyayanginya.
Bersama Ayah, Natasya, Ciko, Kei, Soni, dan tentunya ada Reikan pula di sisinya.
Setelah bermain basket, mereka mengantar Tania pulang.
“Kalian gak masuk dulu, sekalian ketemu Ayah” ucap Tania.
“Enggak deh Tan, udah mau malam juga” ucap Kei.
Tiba-tiba Ayah Tania keluar.
“Siapa Tan?” tanya Ayahnya.
“Ini Yah teman-teman Tania” ucap Tania.
“Hallo Om” sama mereka semua.
“Hallo, kok gak masuk dulu” ucap Ayah Tania.
“Enggak usah Om, udah malam soalnya” ucap Soni.
“Ia Om, kapan-kapan saja” lanjut Ciko.
“Kamu Nat, gak bermalam?” tanya Ayah kepada Natasya.
“Enggak Om, Belum izin soalnya, lain kali pasti nginep” jawab Natasya.
“Ya suda, kalian hati-hati ya” ucap Ayah.
“Ia Om, kami pamit dulu” ucap Kei.
Mereka kemudian mencium telapak tangan Ayah Tania lalu meninggalkan rumah Tania.
“Pacar kamu yang mana nih?” tanya Ayah.
“Dia gak ikut Ayah, lagi ada urusan” ucap Tania.
“Jadi kapan dong Ayah bisa ketemunya” ucap Ayahnya lagi.
“Nanti kalau dia udah pulang, Tania kenalin”
Mereka kemudian masuk dan menutup pintu. Ayah Tania masi membicarakan soal pacar Tania sampai makan malam.
__ADS_1