
Kota Iltan, 19.00 GMT+2
Livia tengah duduk di balkon dengan kaleng bir dingin di tangannya.
Sudah hampir 2 jam ia hanya duduk dan berdiam diri di di atas balkon kontrakannya.
Gemma yang melihat sahabatnya seperti itu merasa tak tega.
Ia bangun dari baringnya dan menghampiri Livia.
"Udahlah, cowok brengsek kek dia ngapain dipertahanin, gak guna juga, untung enggak rugi iya," ujar Gemma sembari membuka kaleng birnya.
"Bukan mertahanin, cuma aku kayak orang bodoh aja selama 4 tahun ini. Bisa- bisanya dia main di belakangku dengan Casley tanpa ketahuan," guman Livia membuat Gemma diam.
"Pasti mereka kini sedang menertawakan kebodohanku selama 4 tahun ini. Bagaimana bisa aku selalu memamerkan kemesraanku dengan Alvaro pada semua orang sedangkan ia sendiri tengah berhubungan dengan Casley hingga hamil," Gemma langsung memeluk Livia.
Gemma meletakkan kaleng birnya lalu menatap jam tangannya.
"Udah enggak usah sedih. Ayo ikut aku, kau pasti akan senang nanti," ujarnya membuat Livia mengerutkan keningnya.
"Bukankah sekarang waktunya kamu pulang? Bagaimana jika nanti papamu mencarimu?" tanya Livia membuat Gemma langsung menarik tangan Livia.
"Udah tenang aja, papa masih pulang besok. Sekarang cepat ganti baju dan aku akan mengajakmu pergi," ujar Gemma sembari menutup jendela kamar Livia dan menutup gordennya.
Ia lalu bergegas pergi untuk berganti baju.
"Etts jangan ganti baju, udah pakai gitu aja," ujar Gemma yang mengubah rencananya.
"Emang kita mau kemana sih?" tanya Livia yang tak paham kala Gemma menarik tangannya begitu saja keluar dari kamar.
"Gemma Livia, kalian mau kemana?" tanya Prameswari.
"Bibi, aku ingin mengajak Livia keluar sebentar, setelah ini kita pulang," Prameswari hanya mengangguk pelan dan percaya begitu saja.
Sedangkan Livia sendiri ia tak tahu kemana Gemma akan mengajaknya pergi.
"Mereka mau kemana bu?" tanya Deo, adik kandung Livia.
"Entah, mungkin ke rumah Gemma atau kemana. Palingan juga bentar lagi pulang," ujar Prameswari sembari mengupaskan apel untuk putranya yang tengah belajar mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi.
"Gemma kita mau kemana sih?" tanya Livia kala Gemma membawanya pergi menggunakan mobil Gemma.
"Udah tenang aja, aku jamin kamu bakal lupa semua masalahmu dengan Alvaro," ujarnya yang sangat percaya diri.
Gemma lalu melajukan mobilnya menuju mal milik papanya.
Sekitar 30 menit lamanya mereka baru keluar dari mal namun dengan penampilan yang sangat- sangat berbeda dari tadi.
Kini Livia mengenakan dress warna hitam sebatas lutut dengan bagian punggung yang terbuka serta bagian depan sedikit tertutup dan tak lupa high heelsnya.
Sedangkan Gemma, tahulah ia sangat terbiasa dengan pakaian yang terbuka.
"Gemma, pakaian apa ini? Kenapa sangat terbuka sekali?" tanya Livia yang kini merasa uring- uringan sendiri.
"Udah diam aja, ayo berangkat," ujarnya sembari menarik tangan Livia untuk kembali menaiki mobil dan pergi menuju tempat yang menurut Gemma sangat asyik.
•••
Club Daxton
"Gemma kita ngapain kesini, ayo pulang, aku tidak mau," ujar Livia marah kala tidak tahu jika Gemma akan mengajaknya pergi ke club.
"Tanggung Livia, udah sampai sini. Udah ayo masuk, kita akan aman nanti, sepupuku kerja di sini," ujarnya sembari menarik tangan Livia masuk ke dalam club.
Musik yang berdentum sangat keras, lampu yang remang- remang serta lampu disko yang berputar, orang- orang tampak berjoget ria dengan begitu asyiknya, itulah pemandangan yang pertama kali Livia lihat.
Banyak pasang mata yang mengarah pada mereka berdua membuat Livia merasa risih dan ingin sekali mencongkel mata mereka.
Gemma membawa Livia menuju ke bar menghampiri Alan.
"Alann," sapa Gemma membuat Alan yang tengah membuat racikan sedikit terkejut kala melihat kehadiran Gemma dan Livia.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sini? Apa kalian tahu tempat apa ini?" Gemma menganggu tidak dengan Livia.
"Ambilkan aku alkohol kadar rendah, dua gelas," pintanya membuat Alan membuang lapnya dan melepas celemek coklatnya lalu keluar dari bar.
"Aku akan mengantar kalian pulang," ujar Alan sembari menarik tangan Gemma.
"Alan tunggu," Alan menoleh menatap Gemma dengan raut wajah kesal.
"Hanya kali ini saja, pliss. Kan ada kamu yang jagain, kali ini aja Alan," mohonnya dengan wajah yang menurut Alan sangat menggemaskan.
Alan melepaskan tangan Gemma dan berkacak pinggang menatap mereka berdua.
"Oke, aku akan membiarkan kalian untuk kali ini saja. Tapi kalian hanya boleh duduk di sini, tidak untuk joget seperti mereka," sontak Gemma mengangguk dengan sangat antusias.
Sedangkan Livia merasa sangat risih di dalam sana.
Ia ingin pulang saja dan memilih tidur.
Gemma terus membujuk dan merayu Livia.
Alan lalu menyodorkan 2 gelas sloki kecil berisi alkohol radar rendah.
"Hanya satu gelas," tekan Alan pada Gemma.
Gemma hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Ayo kita bersulang untuk melupakan semua masalahmu," ujar Gemma membuat Livia dengan ragu meraih gelas sloki tersebut dan bersulang dengan Gemma.
Dengan sekali teguk, Gemma langsung menghabiskan alkohol dalam gelas slokinya.
Sedangkan Livia baru mencicipi sedikit saja sudah merasa aneh dengan rasanya.
"Nanti kau juga akan terbiasa dengan hal itu setelah meminumnya satu gelas habis," ujar Gemma membuat Livia mendengus sebal dan memegangi gelasnya sembari melihat sekelilingnya.
Sedangkan Gemma kini diam- diam mencuri alkohol Alan ketika dia sedang mengantar pesanan tamunya.
"Aku akan mengadukanmu pada Alan," ujar Livia kala Gemma menuang kembali alkoholnya ke dalam gelas untuk ketiga kalinya.
Livia mencoba menjauhkan botol alkohol tersebut namun Gemma terus meraihnya.
"Kenapa kau seperti Alan? Sangat protektif sekali," gerutunya sembari menuang alkoholnya hingga kini tersisa setengah.
Livia baru saja menghabiskan segelas alkoholnya yang tadi dituangkan Alan sedangkan Gemma sudah setengah botol.
Dengan cepat Livia mengambil botol alkoholnya kala melihat Alan kembali dan menuangkannya ke dalam gelas.
"Livia, bukankah sudah kubilang hanya satu gelas?" marahnya kala Livia kembali menuangkan alkohol ke dalam gelasnya.
Alan lalu menatap Gemma yang kini terlihat menunduk.
Livia yang melihat Gemma tampak ingin memuntahkan sesuatu sontak memberitahu Alan.
"Sepertinya Gemma mual," sontak Alan menatap Gemma.
Dengan cepat Alan meletakkan nampannya dan bergegas menghampiri Gemma.
"Tetaplah di sini, aku akan mengantarnya ke toilet," Livia hanya mengangguk dan menatap kepergian mereka berdua.
Diam- diam Livia tampak terbiasa meminum alkohol di depannya.
Memang benar apa yang dikatakan Gemma jika ia bisa melupakan sejenak semua masalah Alvaro di sini.
Livia menatap gelas slokinya lalu kembali menuang alkoholnya.
"Ya setidaknya untuk malam ini aku bisa melupakan semua masalahku," gumamnya lirih sembari meminum sedikit demi sedikit alkoholnya karena Livia juga sudah merasa sedikit pusing.
Livia meraih kue di depannya yang tadi Alan siapkan untuknya dan Gemma.
Terlihat Livia menggoyangkan kepalanya kala kue coklat itu masuk ke dalam mulutnya.
Livia menatap sekitar hingga tatapannya bertemu dengan seseorang yang ingin ia hindari sejak kemarin.
__ADS_1
"Alvaro," gumamnya lirih dengan mulut masih penuh dengan kue.
Livia langsung memalingkan mukanya dan merasa was- was kala Alan dan Gemma belum kembali.
"Livia," panggilnya sangat keras membuat Livia semakin panik dan melihat orang- orang yang tengah duduk di sofa.
"Maaf ya Tuhan untuk malam ini saja saya akan sedikit kecentilan demi menghindari dia," gumamnya sembari turun dari kursi dan berjalan menuju orang- orang yang duduk di sofa.
"Hei sayang," teriak Livia pada pria berjas putih yang tak sengaja bertatapan mata dengannya.
Livia dengan sedikit malu berjalan menghampiri meja Reymond membuat semua wanita yang melihat hal itu sontak diam dan memperhatikan tingkah kecentilan Livia.
"Hah? Sayang?" kaget Arka dan Gavin.
Livia dengan santai duduk di pangkuan Reymond dengan kedua tangan yang tampak meremas kemeja Reymond.
"Maaf ya tuan tapi tolong bantu saya untuk saat ini," gumamnya pelan pada Reymond sembari memejamkan matanya takut kala ia bersikap kurang ajar pada orang tidak dikenal.
Reymond menatap pria yang tampak berdiri di depan mejanya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Reymond dingin dan datar pada Alvaro.
"Dia...,"
"Kekasihku," jawab Reymond singkat namun mampu menggegerkan seisi club khususnya para wanita.
Alvaro tampak tak percaya dan masih setia berdiri di sana.
Tak ada pilihan Reymond ******* bibir merah yang belepot cokelat tersebut secara lembut sembari menahan punggung Livia yang sedikit terbuka kala Livia hendak menghindar.
Terlihat Alvaro langsung pergi namun Reymond tak mengakhiri ******* bibirnya pada Livia.
Arka dan Gavin sontak memilih untuk bermain game dan mencoba mengalihkan perhatiannya pada Reymond dan Livia.
Livia langsung mendorong dada bidang Reymond membuat Reymond tampak menyipitkan matanya tajam.
Livia menoleh dan menelisik akan keberadaan Alvaro.
Sudah tidak ada.
Reymond mengusap bibirnya lalu mencecap sekilas ibu jarinya yang terasa sangat manis.
Livia meraih gelas di depannya yang berisi alkohol dengan es batu kotak- kotak tersebut karena merasa seret setelah tadi memakan kue coklat.
Reymond hendak menghentikannya namun Livia sudah terlanjur menenggaknya hingga habis.
Arka dan Gavin yang melihat hal itu tampak menganga.
Pasalnya alkohol yang Reymond minum adalah kadar tinggi.
"Sampai kapan kau akan duduk di pahaku?" Livia menelan perlahan alkohol yang tersisa di mulutnya.
Ia memejamkan matanya lalu meletakkan gelasnya dan bergegas berdiri dari atas pangkuan Reymond.
"Maaf tuan, maaf saya tidak bermaksud kurang ajar pada anda tapi tadi dia sangat mengganggu," ujar Livia membuat Reymond mendongak menatap Livia yang tampak ketakutan.
"Kalau begitu saya permisi, terima kasih," ujar Livia hendak pergi namun Reymond kembali menarik tangan Livia hingga ia kembali terduduk di atas pangkuannya.
"Apa kau akan pergi begitu saja nona setelah aku membantumu?" Livia menatap Reymond dengan takut.
"Bukankah saya sudah mengatakan terima kasih?" ujar Livia membuat Reymond hanya tersenyum samar.
"Lantas jika ada sofa kenapa kau duduk di pangkuanku? Kau bisa saja duduk di sampingku dan mengatakan aku kekasihmu. Tapi kau malah duduk di pangkuanku dan membuatku terpancing karenamu," Livia menelan salivanya takut.
"Tad tadi saya pikir jika dengan melakukan hal itu dia akan memercayainya," ujarnya dengan jujur membuat Reymond menyukai akan kepolosan itu.
"Apa saya sudah boleh pergi?" tanyanya dengan takut.
"Boleh," Livia tersenyum dan tampak berbinar membuat Reymond ingin sekali menerkamnya saat ini.
"Setelah kau menemaniku di ranjang malam ini," ujarnya membuat senyuman itu perlahan pudar dan berubah menjadi raut wajah takut.
__ADS_1