Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 4: Dibantu Reymond


__ADS_3

Reymond tampak menghampiri Livia dan Virgo.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya dengan dingin sembari melihat Virgo sekilas.


"Kalian kenal?" Sontak keduanya menatap Virgo.


"Ahh enggak, tadi berapa nomor kamu?" Reymond memicingkan tatapannya pada Livia.


"Bukankah kamu sudah menerima uang tunjangannya?" Livia yang tengah mencatat nomor Virgo hanya memutar kedua bola matanya malas.


"Nanti aku akan menelponmu," ujar Virgo membuat Reymond kini mencoba menahan diri kala dirinya diabaikan.


"Ayo pulang," ajaknya sembari menarik tangan Livia pergi dari sana.


"Virgoo jangan lupaa yaa, nanti telpon aku," teriaknya membuat seisi restauran menatap Livia.


Reymond tampak menahan amarahnya sembari menarik tangan Livia keluar dari sana.


"Tuan lepasin," ujar Livia sembari menarik tangannya hingga terlepas.


Reymond berbalik dan menatap tajam Livia.


"Bukankah kamu harus berada di rumah? Kenapa bisa di sini?" sontak Livia teringat akan Queen.


"Oh iya saya lupa belum menyusuinya," ujar Livia sangat keras membuat beberapa pelanggan yang lalu lalang di parkiran sontak menatap Livia.


Reymond menarik Livia menuju mobilnya.


"Apa dia sedang di rumah sendirian? Apa dia ada yang menjaganya?" tanya Livia namun tidak digubris oleh Reymond.


Ia membukakan pintu untuk Livia lalu mendorongnya untuk masuk.


Reymond menatap tajam Virgo yang kini menatapnya dari dekat jendela.


Dengan cepat ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan restauran tersebut.


Sepanjang jalan keduanya hanya diam hingga Reymond membuka suara.


"Bagaimana kamu bisa kenal dengan Virgo? Apa yang kamu lakukan dengannya tadi? Mengapa kamu meminta nomor teleponnya?" Livia menatap garang Reymond.


"Kenapa tuan begitu banyak bertanya," ketusnya membuat Reymond menatap sekilas Livia.


"Apa kamu ingin aku mengatakan pada ibumu jika tempo hari kamu berada di club dan tidur bersamaku semalam," Livia sontak langsung melebarkan kedua matanya.


"Kenapa tuan selalu mengancam orang untuk tunduk pada perintahmu," kesalnya membuat Reymond berusaha mengontrol dirinya.


"Maka jawab apa yang aku tanyakan," ujarnya membuat Livia mendengus sebal dan menatap ke depan lurus.


"Saya menggantikan Gemma dalam kencan butanya dengan Virgo," jawabnya santai namun tidak dengan Reymond.


"Itu artinya kamu membohongi Virgo dan berpura- pura menjadi Gemma?" Livia menggelengkan kepalanya.


"Tidak, saya jujur padanya," Reymond tampak mengetatkan giginya.


"Lantas kenapa kamu meminta nomornya?" tanya Reymond membuat Livia kini tersenyum lebar.

__ADS_1


"Karena dia tampan," jawabnya membuat Reymond langsung menoleh menatap Livia.


Reymond sontak menambah kecepatan mobilnya membuat Livia berpegangan erat pada sabuk pengamannya.


•••


Sesampainya di rumah Reymond langsung pergi ke lantai atas untuk melihat tuan putrinya.


Terlihat dua pengawal tampak bermain dengannya.


"Kamu tidak memberinya susu formula kan?" Dua pengawal itu menggelengkan kepalanya.


Reymond lalu memberikan isyarat pada dua pengawalnya untuk pergi.


Livia dengan cepat langsung membopong Queen untuk bersiap menyusuinya.


"Apa yang tuan lakukan di sini, keluarlah," usirnya membuat Reymond sempat tertegun dengan hal itu.


Dengan canggung Reymond keluar dari kamarnya dan membiarkan Livia untuk menyusui putrinya.


Livia langsung menyusui Queen namun sepertinya asinya tidak keluar.


"Ayo sayang, kamu hisap yang kuat ya biar perut kamu ada isinya," ujar Livia dengan lemah lembut membuat Reymond yang masih berdiri di depan pintu hanya tersenyum tipis.


Sekitar 10 menit Reymond berdiri di depan pintu namun Livia belum juga keluar.


Reymond semakin cemas kala mendengar Queen menangis.


Ceklek


Reymond sedikit tersentak kaget kala Livia membuka pintunya.


"Tidak, hanya saja," Livia menjeda ucapannya membuat Reymond menatapnya.


"Asiku tidak keluar," lanjutnya membuat Reymond menatap Queen yang terus menangis.


Reymond menepuk- nepuk pelan paha putrinya sembari memikirkan bagaimana caranya untuk mengatakannya pada Livia.


Lama mereka saling diam hingga Reymond menatap Livia dengan sedikit takut.


"Bagaimana jika aku membantumu seperti yang dianjurkan dokter?" ujar Reymond menawarkan diri.


"Heh?" kaget Livia dan ia mencoba untuk menyembunyikan wajah merahnya.


Reymond menatap Livia yang kini pipinya sudah bersemu merah.


Ingin sekali rasanya Reymond menerkam Livia saat ini.


Sayangnya Livia begitu jutek padanya.


"Jika kamu keberatan aku akan membuatkannya susu formula untuk sementara ini," ujarnya yang sudah beranjak dari king size.


"Saya mau melakukannya," jawab Livia cepat membuat Reymond menatap Livia tak percaya.


"Dokter bilang jika sering dikasih susu formula, Queen akan lebih sering mencret, radang telinga hingga 50 persen, radang paru hingga 16,7 persen dan masalah infeksi lain karena formula bisa terkontaminasi bakteri berbahaya," jelas Livia yang mengingat dengan baik setiap ucapan dokter kemarin.

__ADS_1


Reymond menatap arah lain sembari menahan senyumnya.


Livia langsung duduk di king size di samping Queen.


"Ayo kita lakukan sebelum tangisnya semakin kencang," ujar Livia dengan kikuk dan merasa canggung saat ini.


Reymond menahan senyumnya sembari melepas jas serta dasinya.


Dengan sedikit canggung Reymond menghampiri Livia yang kini sudah terlentang di samping putrinya.


Dengan perlahan ia menindih sebagian tubuh Livia.


Reymond menatap Livia yang tampak menatap Queen dan menghindari kontak mata dengannya sembari membuka kancing atas kemeja Livia.


Dengan sangat perlahan Reymond melepas pengaitnya hingga benda kenyal itu kini terlihat sangat jelas tanpa pelindung.


Livia tampak meremas sprei di sampingnya sembari beberapa kali menelan ludahnya.


Livia memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya kala benda kenyal itu masuk ke dalam mulut Reymond yang terasa hangat dan dingin secara bersamaan.


Remasan pada sprei semakin kuat kala Reymond meremas, memilin dan menghisapnya sangat kuat.


"Enghh," Livia tampak kelepasan membuat Reymond berpura- pura untuk tidak mendengarnya.


Ia terus menghisap dan memainkan benda kenyal itu hingga mengeluarkan cairan putih untuk putrinya.


"Ahh tuan ahh," desah Livia yang kini meremas rambut Reymond karena merasa tak kuasa menahan remasan kuat dari tangan kekar Reymond.


Reymond menelan asi yang sempat ia hisap tersebut dengan cepat sebelum dirinya tersedak.


Saat Livia merasa bagai di awan tiba- tiba Reymond mengakhiri remasannya.


"Sudah keluar," ujarnya sembari bangun dari atas tubuh Livia.


Livia yang masih terlentang mencoba menyadarkan dirinya.


Hingga ia tersadar kala Queen kembali menangis.


Livia dengan cepat langsung menyusuinya dan melihat sekeliling kamar.


Kemana Reymond?


Livia memejamkan matanya malu, rasanya ia ingin sekali menghilang saat ini juga.


Bisa- bisanya ia mendesah di depan Reymond tadi.


Tidak, Livia bahkan meremas rambut Reymond. Seakan ia sangat menikmati permainan tangan Reymond.


Bagaimana ia bisa menghadapi Reymond setelah ini?


Livia memukuli mulutnya dan mengacak- acak rambutnya karena merasa malu.


Sedangkan di luar kamar, Reymond sedang menenangkan batin dan pikirannya.


Ia duduk di ruang tengah sembari memegangi dadanya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa aku tergila- gila dengan tubuhnya," gumamnya lirih sembari mencecap bibirnya beberapa kali.


"Ternyata rasanya asi itu hambar," ujarnya pelan yang baru mengetahui hal itu.


__ADS_2