Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 6: Berusaha Menjeratnya


__ADS_3

Keesokan paginya Reymond bangun lebih awal.


Ia menoleh ke samping kanan yang mana terdapat Livia yang memeluk erat perutnya.


Reymond tersenyum lalu dengan susah payah dan berusaha untuk tidak menimbulkan pergerakan yang membangunkan Livia, ia meraih ponselnya di atas nakas.


Dengan cepat Reymond mengambil gambar sebelum Livia bangun.


5 potret Reymond rasa sudah cukup.


Ia kembali meletakkan ponselnya di atas nakas lalu sedikit merunduk menatap Livia.


Tanpa ragu Reymond mencium puncak kepala itu dan melepas perlahan pelukan Livia.


Reymond langsung turun memeriksa tuan putrinya.


Ternyata masih terlelap.


"Rasanya seperti keluarga kecil kalau gini," gumamnya pelan sembari mengusap lembut pipi putrinya.


"Pasti kamu senang ya sayang bisa minum asi?" gumamnya lirih sembari tersenyum sendu merasa kasihan dengan putri kecilnya yang malang.


Reymond lalu beranjak untuk menuju kamar mandi dan membasuh mukanya.


Keluar dari kamar mandi, Reymond melihat Livia masih terlelap dengan sangat pulas.


Meski Livia bekerja pada Reymond, namun tak ada niatan untuk Reymond membangunkan Livia.


Ia keluar kamar menuju dapur untuk melihat chef pribadinya menyiapkan sarapan.


Karena niat terpendamnya dalam mempekerjakan Livia hanyalah sebagai ibu susu dari putrinya, tidak lebih.


Dan embel- embel sebagai baby sister itu hanyalah ucapan kiasan untuk menutupi niat Reymond yang ingin menikahi Livia dan menjadikannya ibu pengganti untuk Queen.


Sayangnya Reymond masih ragu untuk mengatakannya.


Ia takut ditolak Livia dan ia semakin menjauh dari Reymond.


Sebaiknya Reymond melakukan pendekatan secara perlahan dan bertahap.


Setelah semua makanan siap saji, Reymond balik ke lantai atas untuk membangunkan Livia.


Ceklek


Terlihat Livia sudah membopong Queen di dekat jendela.


Reymond langsung menghampiri Livia.


"Kalian sudah bangun?" tanya Reymond membuat Livia menoleh.


"Entah kenapa ia tiba- tiba menangis, padahal dia sedang tidak demam," ujar Livia memberitahukan pada Reymond.


"Mungkin ia lapar," ujar Reymond sembari menatap putrinya yang kini tampak diam dibopongan Livia.

__ADS_1


"Saya sudah memberikannya asi meski tadi hanya keluar sedikit," ucap Livia sembari menatap Queen.


Dan tak lama Queen kembali menangis membuat Reymond langsung mendekat pada Livia.


"Sepertinya ia lapar, bagaimana jika kamu memberinya lagi asi," Livia menatap Reymond sekilas lalu menatap Queen.


"Tadi hanya keluar sedikit, apalagi hari ini saya ada urusan sampai nanti malam," sontak Reymond langsung menatap Livia sengit.


"Kemana? Bukankah mulai hari ini kamu akan kerja dengan saya? Saya sudah memberikan uang tunjangannya padamu bukan?" Livia menelan salivanya sembari menepuk- nepuk pelan tubuh Queen agar tertidur.


Livia tidak mungkin mengatakan jika dirinya bekerja dengan Virgo.


"Saya akan mengembalikan semua uang tunjangannya tanpa kurang satu dollar," serunya membuat Reymond berdiri tegak dan menyipitkan kedua matanya.


"Aku tidak butuh uangnya kembali, aku hanya membutuhkanmu," Livia menatap lantai marmer tersebut sembari mencari cara untuk bisa lepas dari jeratan dan pekerjaan Reymond.


"Maaf tapi saya tidak bisa bekerja dengan anda, ada sesuatu yang harus saya lakukan," ujar Livia membuat Reymond langsung mendekat dan memegang lengan Livia.


"Apa yang lebih penting dari pekerjaan ini? Apa gajinya kurang? Aku bisa memberikannya sesuai permintaanmu," ucap Reymond pelan namun dengan ditekan.


"Ini bukan perkara gaji. Saya hanya tidak bisa bekerja dengan anda," ucap Livia membuat Reymond melepaskan cengkramannya pada lengan Livia.


"Tolong belikan pumping asi, saya akan tetap memberikan asi saya pada putri anda setiap harinya. Tapi saya tidak bisa bekerja dengan anda," ujarnya membuat Reymond benar- benar sangat terenyuh dengan sikap mulia Livia.


Perhatian keduanya sontak langsung teralihkan pada tangisan Queen.


Livia mencoba berjalan mondar- mandir untuk bisa menenangkan tangisan Queen.


Terlihat Livia membaringkan Queen di king size.


Reymond menatap Livia yang duduk di king size lalu berjalan untuk menghampirinya.


Brugh


Reymond mendorong Livia hingga ia terbaring di king size.


"Jika bisa kubantu kenapa harus beli pumping asi," ujarnya sembari menatap Livia lekat dengan tangan yang sibuk melepas kemeja baju Livia.


Livia beberapa kali meremas sprei dan menelan salivanya karena sangat gugup saat ini.


"Mungkin ini yang terakhir kalinya, nanti malam ketika saya selesai dengan urusan saya, saya akan membeli pumping asi dan akan mampir ke sini untuk memberikannya," ujar Livia membuat Reymond mendongak menatap mata hitam pekat Livia dengan tangan yang berhenti melepas kancing baju Livia.


Livia mencoba mengatur napasnya serta berusaha untuk tetap tenang kala Reymond menatapnya dengan sangat lekat.


"Ki- kita belum menikah bukankah cara ini terlihat sangat murahan sekali? Kita bisa membeli pumping asi tapi kita malah melakukan hal ini yang tidak seharusnya kita lakukan," ucap Livia dengan sedikit gemetar.


"Lantas jika begitu menikahlah denganku dan jadilah ibu untuk putriku," ucapnya dengan sangat gamblangnya.


"Tidak semudah itu tuan, pernikahan bukanlah permainan. Saya ingin menikah dengan orang yang saya cintai, hanya untuk satu kali dan seumur hidup," ujarnya dengan tegas.


"Baik, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku dan aku akan melakukan segala cara untuk bisa menjeratmu, you are mine now," ucapnya yang langsung ******* bibir tipis Livia sembari membuka pengait branya.


Jakun Reymond tampak naik turun dan ia bisa merasakan jika Livia hanya diam tak membalas lumatannya.

__ADS_1


Kala pengait itu sudah lepas, Reymond menghentikan lumatannya dan mengecup sekilas dada mulus Livia.


Ia turun ke bawah dan mulai memerah benda kenyal Livia agar asinya mau keluar.


Sesekali Reymond juga menghisapnya dengan sangat kuat hingga Livia meremas kuat sprei karena merasa sedikit sakit sembari menggigit kuat bibirnya.


Reymond terlihat sangat liar hingga ia sedikit memanfaatkan kesempatan itu meski ia tahu jika asinya sudah keluar namun dia terlihat sangat menikmati permainannya itu.


Livia mendorong dada bidang Reymond dan segera mendekatkan diri pada Queen.


Reymond terduduk di samping Livia dan kini ia tampak membelakangi Reymond karena sedang menyusui Queen.


Dengan santai Reymond berbaring di belakang Livia dan memeluk perut rata tersebut dari belakang.


"Tuan," gumam Livia memperingati Reymond.


Reymond dengan sengaja mensejajarkan wajahnya dengan tengkuk belakang Livia.


"Aku hanya ingin kau menjadi ibu susu untuk putriku, ucapan tentang menjadi baby sister itu hanyalah alasanku untuk bisa menjeratmu. Menikahlah denganku, aku akan menjadikanmu seorang ratu dan tidak akan membiarkanmu bersaing dengan wanita manapun," ucapnya sembari mengecupi tengkuk belakang Livia.


Livia yang sedang menyusui beberapa kali memejamkan mata menahan rasa geli pada tengkuknya terlebih hembusan napas Reymond membuat bulu kuduk Livia berdiri dan terasa meremang.


Ia menunduk dan terlihat Queen tampak terlelap karena merasa kenyang.


Livia melepas tangan kekar Reymond dari perutnya dan hendak bangun.


Brugh


Reymond menarik tangan Livia hingga ia kembali terbaring di samping tubuhnya.


"Tuan lepaskan," ucap Livia yang memberontak berusaha untuk bisa melepas pelukan Reymond saat ini.


"Kau sangat terburu- buru sekali ingin kemana? Kelihatannya urusanmu lebih penting daripada bersamaku hingga kau ingin sekali cepat pergi," tanyanya sembari menghirup aroma tengkuk Livia yang begitu candu baginya.


"Saya sedang ada urusan, tolong lepaskan," ucapnya yang berusaha melepas pelukan Reymond.


Reymond mendekatkan wajahnya dan perlahan melepas pelukannya pada tubuh Livia.


"Kamu boleh saja pergi, asal kamu harus pulang kemari setiap harinya, untukku dan Queen," ujarnya dengan pelan sembari menatap mata cantik Livia.


"Anda tidak berhak mengatur kehidupan saya, saya punya kehidupan sendiri," ujarnya membuat Reymond tersenyum tipis.


"Bagaimana jika ibumu tahu jika kita sudah pernah tidur bersama? Bagaimana jika ibumu tahu jika pekerjaanmu hanyalah memberikan asi untuk putriku, itupun dengan bantuanku," ucapnya dengan pelan namun mampu membuat Livia bergetar hebat ketakutan.


"Aku bisa melakukan semuanya hanya untuk menjeratmu, jadi jangan memiliki pemikiran untuk kabur dariku," bisiknya pelan pada telinga Livia dan mengecupnya sekilas.


"Akhh," desah Livia kala Reymond meremas sekilas benda kenyalnya.


"Jangan lupa pasang kembali bramu sebelum pergi, aku tak ingin pria lain melihatnya. Itu milikku dan Queen," ucapnya sembari bangun dari king size dan merapikan rambutnya sekilas lalu keluar dari kamar.


Livia yang mendapatkan perlakuan itu kini pipinya terasa panas dan terlihat sangat merah.


Ia sangat malu sekali saat ini.

__ADS_1


"Arghh Reymond bangsat," umpatnya sembari bangun dari baringnya dan membenahi penampilannya.


__ADS_2