Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 7: Tunangan?


__ADS_3

Kini Livia baru tiba di rumah.


Sepertinya ia tak sadar jika sudah berada di depan rumah.


Ia terlihat mematung di depan pintu dengan pikiran yang entah kemana.


Gemma yang baru tiba, sontak langsung turun dari mobilnya dengan sedikit tergesa.


"Liviaaa," teriaknya membuat Livia langsung tersadarkan dari lamunannya.


Livia tampak berdecak kala Gemma memukul punggungnya.


"Kau kenapa tidak mengabariku, hah? Dari mana saja kau? Apa Virgo menyakitimu? Bagaimana bisa kau tidak pulang semalam?" cerocosnya tanpa henti membuat Livia memejamkan matanya sekilas lalu menatap jengkel Gemma.


"Kenapa kau seperti ibuku? Kau bahkan mengomel tanpa henti, karena membantumu aku bukannya mendapatkan keuntungan malah sial," ketusnya dengan kesal membuat Gemma menarik tangan Livia untuk duduk di kursi depan teras.


"Katakan padaku, apa yang Virgo lakukan? Apa dia menyakitimu? Sini kuperiksa tubuhmu," ujarnya sembari memeriksa wajah lengan serta kaki Livia.


"Tidak bukan itu. Virgo tidak menyakitiku melainkan Reymond," Gemma yang tadi sibuk memeriksa tubuh Livia sontak terdiam dan menatap kaget Livia.


"Jangan bilang jika kemarin kencan butanya gagal gara- gara Reymond," tebak Gemma membuat Livia menyugar rambutnya ke belakang.


"Kencan butanya sih lancar, bahkan kita udah saling tukar nomor. Tapi sialnya situa mesum itu datang di waktu yang tidak tepat," Gemma menghela napas lega yang mana ia langsung mendapatkan tatapan tajam dari Livia.


"Kenapa? Kau senang bukan kencan butanya lancar?" Gemma menyengir tanpa merasa berdosa.


"Lantas, apa yang Reymond lakukan padamu? Apa ia mengajakmu ke rumahnya?" Livia membuang napas lalu menyenderkan punggungnya pada kursi kayu itu.


"Yaiya apalagi," jawabnya membuat Gemma tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Terus, bagaimana dengan Virgo? Apa kau bertanya juga tentang pekerjaan yang mungkin bisa kamu lakukan di rumahnya?" Livia menatap Gemma dengan lesu.


"Entah. Ia belum menghubungi sampai sekarang," ujarnya membuat Gemma ikut merasa frustasi dengan hal ini.


"Tapi menurutku, kau terlalu naif deh Via, masak jadi baby sister aja kau tidak mau? Bahkan ia memberimu uang tunjangan lebih dulu meski kau belum bekerja. Lagian Reymond juga sangat tampan meski ia seorang duda anak satu," pujinya sembari senyam- senyum tanpa malu.


Livia langsung menonyor kepala Gemma dengan gemas.


"Lagian aku juga enggak akan senaif itu kalau pekerjaannya hanya sebatas baby sister dan ngurusin putrinya, tapi ini," Livia langsung menjeda ucapannya membuat Gemma memicingkan matanya.


"Jangan ada yang kau sembunyikan dariku," ujar Gemma memperingati membuat Livia lagi- lagi membuang napas.


"Aku harus menyusuinya," ujarnya cepat membuat Gemma sukses mendelik tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.


"Apa- apa Vi, aku tidak mendengarnya, coba katakan sekali lagi," pintanya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah.


Livia mendengus sebal membuat Gemma menganga tak percaya dan dengan tingkah alaynya ia membungkam mulutnya.


"Sungguh? Kau menyusui putrinya? Memangnya apa asimu keluar, mengingat kau belum menikah?" Livia menatap tajam dan sinis reaksi Gemma yang membuat dirinya semakin jengkel.

__ADS_1


"Yaaa tidak bisakah kau bersikap biasa saja? Kau sangat berlebihan sekali," ujarnya membuat Gemma mendekatkan kursinya pada Livia.


"Lantas apa asimu keluar? Bagaimana caramu menyusuinya sedangkan kamu belum mempunyai anak?" tanya Gemma dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


Livia yang tahu tingkat keingin tahuan Gemma sangat tinggi dan ia tak akan melepasnya kala rasa penasaran itu belum hilang sontak menatap kanan kiri dan mendekatkan wajahnya pada telinga Gemma.


"APA? KAU SERIUS?" tanya Gemma yang mana itu membuat Livia mendelik kesal sembari menutup telinganya.


Tatapan Gemma kini beralih pada dada Livia lalu menatap wajah sahabatnya itu dengan rasa tak percaya.


"Ja- jadi kau dengan Reymond..," Livia langsung membungkam mulut Gemma.


"Akan kujahit mulutmu jika kau kembali bersuara. Tutup mulutmu terlebih pada ibu, kau paham?" Gemma mengangguk membuat Livia melepas tangannya dari mulut Gemma.


"Bukankah kau semacam ibu susu dari putrinya?" goda Gemma membuat Livia memutar bola matanya malas.


"Aku sudah membantumu kemarin, sekarang bantu aku untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan rasional, bukan seperti ini," pintanya membuat Gemma menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa dengan wajahmu?" tanya Livia kala Gemma memasang wajah gemasnya.


"Tidak bisakah kamu bekerja sementara dulu dengan Reymond selagi menunggu telpon dari Virgo?" Livia berdecak kasar.


"Tahu gitu aku akan tidur seharian kemarin dibanding harus membantumu," gerutunya membuat Gemma langsung memeluknya dari samping.


"Livia jangan marah donggg, iya nanti aku coba tanya ke papa siapa tahu ada lowongan pekerjaan di kantornya," ujar Gemma membuat Livia menatapnya sekilas.


"Hanya lulusan SMA gini kau ingin mencarikanku pekerjaan di kantor? Apa kau ingin mempermalukanku? Aku bahkan tidak tahu caranya menggunakan komputer," Gemma berdecih.


"Kau meledekku atau bagaimana?" Gemma tertawa bersama.


Sontak Livia teringat akan pumping asi.


"Gemma," panggilnya membuat Gemma menguraikan pelukannya.


"Kenapa?"


"Ayo ikut denganku, aku harus membeli sesuatu sebelum hari malam," Gemma mengerutkan keningnya tak paham.


"Memangnya kamu mau kemana? Beli apaan sih emang?" tanya Gemma gemas kala Livia tampak terburu- buru sedangkan ia saja belum masuk ke dalam rumah sebentarpun.


"Beli pumping asi," jawabnya sembari menarik tangan Gemma untuk beranjak dari sana.


Sedangkan itu, Prameswari yang baru saja selesai masak dan menyajikan semua makanannya di meja makan sontak berjalan ke teras berniat untuk memanggil Gemma dan Livia.


"Anak itu kenapa tidak masuk rumah dulu dan malah mengobrol di teras," dumelnya sembari berjalan ke arah pintu.


Ceklek


"Gemma Livi...kemana dua berandalan itu? Apa mereka pergi lagi?" omelnya sembari mencari di teras rumah.

__ADS_1


"Arghh ****, dasar berandalan itu, aku akan menghukum kalian berdua nanti saat kalian pulang. Ahh shibal, aku harus kembali makan sendiri," umpatnya yang menirukan logat pada drama Korea yang sering ia tonton.


•••


Sedangkan di kantor, ada Reymond yang tengah termenung dan sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa menikahi Livia, aku tak akan melepaskannya," gumamnya yang sejak tadi disibukkan dengan memikirkan Livia.


Tok tok


"Masuk," jawabnya sembari memainkan kursi putarnya.


Terlihat Bimo, asisten serta tangan kanannya tampak sudah kembali dari misinya.


Bimo lalu duduk di depan Reymond.


"Permisi tuan saya ingin melaporkan tentang gudang senjata anggota Levator yang dipindahkan ke gudang bawah tanah. Saya melihat Marius tampak tidak ada di markasnya selama satu minggu ini, menurut tuan kemana kira- kira ia pergi?" tanyanya pada Reymond.


"Tempat romantis, ya itu tempat yang sangat tepat," ujar Reymond.


"Heh?" kagetnya sembari menatap Reymond bingung.


"Memangnya Marius ingin melamar siapa tuan, pergi ke tempat romantis?" tanyanya membuat Reymond memicingkan tatapannya.


Karena takut akan tatapan maut itu, Bimo meraih sebotol air minum di depannya.


"Cih, kenapa kau sekarang jadi telmi, aku tidak mengatakan tentang keberadaan Marius, aku sedang membahas tentang tempat untuk melamar wanitaku," ketusnya yang kesal.


Byurrr


Reymond mengumpat kala Bimo menyemburkan minumnya.


"Uhuk uhuk," Reymond memutar bola matanya malas kala Bimo bereaksi berlebihan.


"Tuan tadi bilang apa? Melamar? Wanitaku? Memang wanita yang mana?" tanyanya yang memang tidak tahu.


"Apa telingamu bermasalah? Kau dan Livia sama- sama mempunyai masalah akan pendengaran, aku terus mengulang kala berbicara dengan kalian," Bimo tampak melebarkan kedua matanya.


"Namanya Livia? Orang mana tuan? Apa anda sudah mengenalnya sejak lama?" tanya Bimo dengan rasa keponya.


"Kau ingin dipotong gajimu atau lidahmu?" tanyanya membuat Bimo langsung diam.


Reymond memijit pelipisnya, kepalanya benar- benar penat untuk hari ini.


"Apa mama punya jadwal hari ini?" Bimo langsung memeriksanya.


"Tidak ada tuan. Sedang berada di rumah," Reymond mengangguk paham.


"Kau carikan tempat romantis dan dekor semuanya dengan baik tanpa ada cela sedikitpun. Aku akan meminta restu pada mama," ujarnya sembari menyambar kunci mobilnya dan pergi begitu saja.

__ADS_1


"Serius tuan Reymond mau nikah? Sama siapa tadi...Livia? Lalu bagaimana dengan tunangannya Freya?" gumamnya yang sangat bingung.


"Arghh baru aja pulang dari Milan udah disuruh yang aneh- aneh, sabar Bim kerja sama psikopat kadang suka makan hati meski gajinya tinggi," dumelnya sembari berjalan keluar untuk melaksanakan perintah Reymond.


__ADS_2