Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 11: Rumah Sakit


__ADS_3

Reymond telah sampai di rumah Livia dengan Calvin dan Magenta yang mengikutinya.


Tampak Reymond bergegas masuk ke dalam rumah.


"Udah kayak rumah sendiri aja main masuk," gumam Magenta heran sembari mengikuti Reymond.


Reymond segera masuk ke dalam kamar Livia yang tampak terbuka.


"Bu, bagaimana keadaan Livia?" tanyanya membuat Prameswari langsung menghadang langkah Reymond yang hendak mendekat pada ranjang Livia.


"Tolong jangan dekati Livia, agar ia tidak dalam bahaya," larangnya membuat Reymond sedikit dalam dan serius menatap Prameswari.


"Apa maksud ibu?" tanya Reymond sedikit dingin.


"Tolong jangan usik hidup kami, ibu akan mengembalikan semua uangmu. Ibu hanya tak ingin Livia dalam bahaya karena berada di dekatmu, orang itu menginginkanmu," beritahunya pada Reymond.


Reymond memicingkan matanya kala melihat lengan Livia yang tampak tergores begitu panjang, pipi yang memar serta bekas cambukan pada tangan dan lehernya.


Reymond mencoba bersikap lemah lembut pada Prameswari.


"Bu percaya pada saya, selama Livia dalam pengawasan saya, dia akan aman. Lebih berbahaya lagi jika dia jauh dari saya, jadi izinkan saya menjaga putri anda, saya akan menjamin keselamatannya dengan nyawa saya, percayalah," ucapnya yang menyakinkan Prameswari.


Prameswari yang tadinya hendak marah pada Reymond kini bagai tersihir hanya karena ucapan lemah lembut Reymond.


"Sebenarnya apa yang terjadi nak Rey, kenapa Livia bisa seperti ini? Siapa yang menyakitinya?" tanya Prameswari dengan tangis yang bercucuran sembari memegang lengan kekar Reymond.


"Ibu tenang saja saya akan mencari pelakunya sampai ketemu, dan saya tidak akan memberinya ampun atas apa yang mereka lakukan pada Livia," ucap Reymond mencoba menenangkan Prameswari.


"Maaf bu tapi saya akan membawa Livia ke rumah sakit saya untuk mendapatkan perawatan intensif," Prameswari hanya mengangguk dan menatap sendu putrinya.


Deo yang sejak tadi hanya diam kini menghampiri Reymond dan mencekal tangannya.


"Kau harus temukan pelakunya sampai ketemu, kakakku seperti ini juga karenamu," peringatinya pada Reymond dengan suara yang lirih agar ibunya tidak mendengar hal itu.


"Tenanglah, aku bisa mengatasinya sendiri," ujarnya lalu mengangkat tubuh Livia untuk ia bawa ke rumah sakit.


Magenta dan Calvin lalu pamit untuk undur diri.


Sebelum masuk mobil Reymond menatap beberapa anak buahnya yang sengaja ia perintahkan untuk berjaga di rumah Livia.


"Sebagian tetaplah berjaga di sini. Sisanya telusuri kompleks ini dan temukan cctv atau apapun yang mencurigakan," perintahnya pada anak buahnya.


"Baik tuan," jawab mereka serempak.


Reymond langsung masuk ke dalam mobil dengan Livia yang ia bopong.


Calvin dan Magenta segera masuk ke dalam mobilnya untuk ikut bersama Reymond.


***


Sesampainya di rumah sakit Reymond tampak terburu dan menggila membopong Livia masuk ke dalam lift menuju lantai paling atas tepatnya ruang VVIP.


"Sabar napa, itu yang diangkat anak orang bukan karung beras jangan main grusak- grusuk," sindir Calvin membuat Reymond berdecak kasar.


Ting


Pintu lift terbuka membuat Reymond dengan cepat berlari menuju ruangan yang kosong.


Magenta dengan cepat memanggil dokter yang ada di lantai atas.


Dengan sangat perlahan Reymond membaringkan Livia di brankar.


"Tuan Reymond, siapa yang sakit?" tanyanya membuat Reymond menoleh.


"Kenapa kau panggilkan dokter pria?" marahnya pada Magenta.


"Lha yang ada cuma dokter Windo," bantah Magenta membuat Reymond berdecak.


"Panggil dokter perempuan," perintahnya dengan tegas.


Dokter Windo segera pergi untuk memanggil dokter Fanny.


"Emang kenapa sih Rey, kan sama- sama dokter," ucap Calvin heran dengan tingkah Reymond.


"Aku tidak ingin pria lain melihat seinci pun tubuh wanitaku," ucapnya sembari menoleh menatap kedua temannya.


"Termasuk kalian berdua. Cepat keluar!" perintahnya dengan raut wajah yang menakutkan.


"Orang kita cuma berdiri di sini enggak ngintipin," protes Magenta membuat Reymond menatapnya tajam.


Dan tak lama dokter Fanny datang.


"Astaga, apa yang terjadi dengannya? Kenapa tubuhnya penuh dengan memar di mana- mana?" kaget dokter Fanny kala melihat kondisi Livia.


"Cepat berikan pengobatan yang terbaik untuknya," perintahnya pada dokter Fanny.


"Sepertinya aku harus membuka bajunya untuk melihat luka lainnya," gumam dokter Fanny sembari menatap Reymond sekilas.

__ADS_1


"Biar aku yang membuka baju...," ucap Reymond terpotong kala Calvin dan Magenta memegang kedua tangannya.


"Belum nikah enggak boleh buka- buka baju orang," ujar Magenta membuat Fanny tersenyum mendengar hal itu.


Ketiga pria itu sudah keluar dan kini Fanny bisa dengan leluasa untuk memeriksa Livia.


"Siapa perempuan ini?" gumam Fanny yang belum pernah melihat Livia sebelumnya.


Kini mereka bertiga duduk di ruang tunggu.


"Arghh aku tidak bisa menunggu di sini, aku harus mendampinginya di dalam," ujar Reymond sembari membuang napas gusar.


"Halah enggak usah banyak alasan kau. Mau lihat Livia enggak pakai baju aja pakai alasan harus dampingi segala, sini duduk," ucap Magenta dengan tegas membuat Calvin yang duduk di sampingnya sedikit terkejut.


"Sepertinya jiwa kalian tertukar," gumam Calvin sembari menggelengkan kepalanya pelan.


Reymond tampak mondar- mandir di depan pintu.


"Duduklah di sini, kepalaku pusing karena melihat kakimu," ujar Calvin sembari menatap kesal Reymond.


"Lepas saja kepalamu," sarkasnya membuat Calvin berdecak.


"Tapi kalian penasaran enggak sih sama pelakunya? Sepertinya bukan Freya deh Rey, dia kan denganmu di dalam rumah waktu penculikan Livia, mana mungkin ia melakukannya mengingat itu kali pertamanya mereka saling bertemu," ucap Magenta membuat Reymond kini mengerutkan keningnya tanda marah.


"Aku akan menemukan pelakunya bagaimanapun caranya," tekannya sembari mengepalkan kedua tangannya erat.


Ceklek


Pintu terbuka dan menampilkan Fanny.


"Gimana keadaan wanitaku? Apa lukanya serius? Apa perlu operasi?" Fanny tersenyum melihat Reymond begitu mencemaskan Livia.


"Tenanglah. Wanitamu sudah kuobati dengan baik dan tidak perlu operasi. Hanya saja, luka cambuk di tubuhnya begitu mengerikan sekali, dan perutnya juga memar seperti bekas tendangan atau semacam injakan," jelas Fanny membuat emosi Reymond semakin tak tertahan.


Reymond langsung menerobos masuk membuat Calvin dan Magenta bergegas untuk mengikutinya.


Brak


"Argh bangsat," umpat Calvin kala Reymond mengunci pintunya dari dalam.


"Udahlah ayo balik ke markas," ajak Magenta yang sudah balik kanan untuk segera pergi.


Calvin langsung mengikuti Magenta untuk kembali ke markas.


Seperginya mereka berdua kini hanya menyisakan Fanny.


Ia melihat pintu kaca di depannya tersebut.


Fanny lalu beranjak dari sana untuk melakukan piket malamnya.


Sedangkan di dalam terlihat Reymond tengah melepas cctvnya.


Tak hanya itu, ia juga menutup semua gordennya.


Reymond lalu berjalan menuju brankar dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


Dengan perlahan Reymond duduk di tepi brankar lalu membuka selimut yang menutupi tubuh Livia.


Tanpa ragu dan merasa penasaran Reymond menyibak baju pasien Livia untuk melihat luka memar yang Fanny katakan tadi.


Dan benar saja perut Livia tampak memar dan membiru.


Reymond sedikit menyibakkan bajunya ke atas dan betapa kagetnya Reymond kala melihat luka cambuk di sekujur tubuh Livia.


"****," umpatnya dan kembali menutup baju Livia.


Reymond menatap wajah Livia yang tampak terlelap begitu damai.


Waktu sudah sangat malam membuat Reymond ikut naik ke atas brankar dan berbaring di belakang Livia.


Dengan lembut ia mencium punggung Livia dari balik baju pasiennya.


Tepat pukul 3 dini hari Livia terlihat mengerjapkan beberapa kali kedua matanya.


Livia menatap sekitarnya, di mana ia sekarang? Kenapa cahayanya remang- remang.


Apa Livia masih berada di ruangan dengan perempuan iblis itu?


Tatapan Livia lalu teralihkan pada infus di depannya lalu terdapat tabung oksigen di sudut ruangan serta bau obat- obatan.


Livia menatap tangan kekar yang berada di bawah lehernya.


Perlahan Livia menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang berbaring dengannya.


Reymond? Batinnya dalam hati dan kembali mengubah posisinya membelakangi Reymond.


Livia kini merasa sedikit dingin padahal ia terbungkus selimut tebal khas rumah sakit.

__ADS_1


"Kamu terbangun?" tanya suara serak itu yang mana Reymond memposisikan wajahnya di tengkuk Livia.


Livia melebarkan kedua matanya kala merasa tangan kekar Reymond berada di dalam baju sembari mengusap lembut perut ratanya.


Sembari menahan rasa sakit disekujur tubuhnya Livia berusaha melepas tangan kekar Reymond yang memeluk perutnya.


"Diamlah sebelum aku menghujammu di sini," ancam Reymond sembari menciumi daun telinga Livia.


"Turunlah. Brankarnya sangat sempit karenamu," ujar Livia membuat Reymond menggigit daun telinga Livia pelan.


"Kenapa kau begitu menggemaskan sekali," ucapnya sembari menciumi punggung belakang Livia.


Livia kini pasrah karena berhubung tubuhnya juga begitu sakit dan tulangnya hampir remuk tak terbentuk jadi ia hanya diam kala Reymond memonopoli tubuhnya.


"Ibu dan adikmu baik- baik saja, mereka sudah berada di rumah dengan aman," ucap Reymond mulai serius.


"Apa kamu melihat wajah orang yang melakukan semua ini?" tanyanya pada Livia.


"Tidak. Mereka menutup mataku dengan kain hitam dan membawaku sedikit jauh dengan jarak tempuh mobil sekitar 20 menit," jelasnya membuat Reymond memicingkan matanya mendengar hal itu.


"Laki- laki apa perempuan?" tanya Reymond dengan dingin membuat Livia sedikit merinding kala mendengar perubahan suara Reymond.


"Perempuan tapi ia merokok, aku sempat mencium asapnya," jawab Livia singkat.


Reymond menarik pelan tubuh Livia untuk menempel padanya.


"Maaf aku terlambat untuk menyelamatkanmu," gumamnya pelan sembari menciumi tengkuk belakang Livia.


Livia hanya diam tak memedulikan ucapan Reymond.


Ia sibuk sendiri dengan pikirannya pada perempuan yang menghajarnya tadi.


Apa maksud dia agar aku menemukan pembunuh Dominique? Siapa orang itu? gumam Livia dalam hati.


"Akhh," kaget Livia kala Reymond meremas benda kenyalnya.


"Kenapa kamu mengabaikanku? Aku berbicara sejak tadi dan kamu hanya diam saja," ketus Reymond membuat Livia menelan salivanya berat sembari menahan tangan Reymond agar keluar dari dalam baju pasiennya.


"Keluarkan tanganmu sebelum aku menendangmu nanti," ancam Livia membuat Reymond semakin gemas dan meremas sekilas benda kenyal Livia.


"Akhh bangsat," umpatnya membuat Reymond terkekeh mendengar hal itu.


"Jangan mendesah sayang, dokter akan datang nanti," bisik Reymond membuat Livia ingin sekali menendang muka Reymond.


Tangan kekar Reymond mulai turun ke bawah dan mengusap lembut perut rata Livia.


"Arghh dingin sekali, sepertinya pilihan yang baik jika kita tidur tanpa busana dan saling berpelukan lalu arghh," ringis Reymond kala Livia menyikut perut sixpacknya.


"Tidurlah di sofa, aku tidak bisa tidur karena brankarnya sempit," ketusnya membuat Reymond semakin erat memeluk Livia dari belakang.


"Tidak. Apa gunanya aku memilih ruang VVIP jika harus tidur di sofa. Tujuanku tidur seranjang denganmu," bantahnya dengan tegas.


Livia benar- benar dibuat gila dengan sikap Reymond.


Bahkan ia ingin sekali lari jauh dari Reymond.


Selain Reymond cabul dan mesum, ia pemaksa dan keras kepala.


Dan itu tidak cocok dengan Livia.


Sontak Livia teringat akan Queen.


"Bagaimana dengan Queen? Apa dia baik- baik saja? Apa ia sudah minum asi? ASI yang kemarin sudah kadaluarsa jangan diminumkan lagi," Reymond yang menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Livia dengan mata yang sudah terpejam sontak tersenyum kala mendengar pertanyaan cemas Livia.


"Keadaanmu seperti ini dan kamu masih ingat dengan putriku, bagaimana aku tidak jatuh cinta padamu," gumamnya pelan sembari membelai perut rata Livia.


Livia hanya menelan salivanya pelan.


"Aku hanya takut ia lapar," jawabnya singkat membuat Reymond membuka kedua matanya dan tersenyum.


"Bagaimana jika kubantu untuk pumping?" tawarinya pada Livia dengan bibir yang menahan senyum.


"Secara manual," lanjutnya dengan lirih di telinga Livia.


Livia yang merasa geli dan jijik sendiri dengan hal itu sontak langsung berbalik menghadap Reymond dan memeluk pinggangnya demi menghindari pumping manual tawaran Reymond.


"Sudah cepat tidur," ucap Livia sembari membenamkan wajahnya pada dada bidang Reymond.


Reymond yang melihat hal itu tak bisa lagi menahan tawanya.


Ia langsung memeluk erat Livia dan menciumi gemas puncak kepala Livia.


"Bagaimana bisa kamu begitu menggemaskan sekali," ujarnya yang mengagumi sikap Livia.


Sedangkan Livia tengah berperang dengan pikirannya sendiri.


Ia tak bisa mengabaikan hal ini begitu saja.

__ADS_1


Ia merasa penasaran dengan apa yang terjadi pada ibu dan Deo.


Apa mereka juga dihajar dengan orang yang sama? Bagaimana keadaan mereka?


__ADS_2