
Livia dengan sangat perlahan membaringkan Queen di keranjang bayi.
Kini bayi cantik itu sudah tidur sangat pulas dengan perut yang sudah kenyang.
Ia menatap Queen dengan rasa yang senang tapi juga sedikit heran.
Bagaimana bisa ia menyusui meski belum menikah dan belum pernah memiliki anak.
Kata dokter tadi dirinya tidak kelebihan hormon, lantas bagaimana bisa asinya keluar?
Livia tiba- tiba tersipu malu kala mengingat ucapan dokter yang mengatakan jika hal itu bisa saja terjadi karena stimulasi payudara secara teratur ternyata bisa memicu kondisi galaktorea. Hal ini bisa terjadi akibat rangsangan selama aktivitas ****. Misalnya ketika suami terus-menerus menyentuh dan meremas ******.
Livia membungkam mulutnya untuk tidak berteriak.
"Dia tidak melakukannya semalam tapi meninggalkan tanda merah di mana- mana itu artinya," Livia menjeda ucapannya bersamaan dengan hal itu pintu terbuka.
Ceklek
"Apa dia sudah tidur?" tanya Reymond pelan dan Livia kini terlihat sangat cengo sekali sembari menatap Reymond tanpa kedip.
Reymond menghampiri Livia dan menyentuh lengannya lembut.
"Hei," ujarnya menyadarkan lamunan Livia.
"Tuan bilang apa tadi?" Reymond mendengus sebal lalu menatap putrinya.
"Dia sangat pulas sekali," gumam Reymond membuat Livia kini baru tersadar dan langsung menarik tangan Reymond untuk sedikit menjauh dari keranjang bayi Queen.
"Di mana pakaian saya? Saya ingin pulang," ujarnya membuat Reymond menatap Livia datar.
"Aku akan mengembalikannya namun sebelum itu, aku ingin berbicara padamu," ujar Reymond membuat Livia sedikit malu dan hanya menatap lantai.
"Apa lantai ini lebih menarik dari wajahku?" Livia sontak langsung mendongak dan menatap Reymond dengan tatapan yang sedikit ketus.
"Untuk kejadian semalam...,"
"Udah tuan enggak perlu jelasin, itu adalah kesalahan saya karena dibawah pengaruh alkohol dan dengan lancang duduk di pangkuan tuan, saya minta maaf akan hal itu. Setelah ini saya tidak akan menganggu kehidupan tuan lagi," ujar Livia membuat Reymond menggeram kesal dan spontan menarik pinggang Livia hingga tubuhnya menempel padanya.
Livia tampak terkejut dan dengan gugup ia menatap wajah Reymond yang saat ini terlihat sangat menakutkan.
"Siapa yang memintamu pergi? Aku hanya ingin mengatakan jika semalam aku sudah bertindak jauh tanpa seizinmu, terlebih kamu dibawah pengaruh alkohol," ujar Reymond dengan jelas namun penuh penekanan.
Livia benar- benar sangat gugup saat ini, apalagi jarak wajah mereka tak hanya dekat tapi hampir menempel.
"Aku minta maaf," ujar Reymond pelan sembari menatap bibir pink tipis Livia.
Livia langsung menunduk kala hidung mereka sudah saling bersentuhan.
Reymond memejamkan matanya mencoba menahan diri untuk tidak agresif pada Livia.
Perlahan Reymond melepas pelukannya pada pinggang Livia.
"Pakaianmu kugantung di kamar mandi, kamu bisa bersihkan diri lebih dulu," ujarnya membuat suasana kini menjadi sangat canggung dan awkward.
"Sebelum pulang sarapanlah, aku akan mengantarmu pulang," ucapnya lalu pergi keluar kamar.
Livia menghembuskan napas panjang dan mengusap dadanya yang kini berdetak sangat cepat sekali.
"Astaga, bagaimana bisa tadi sedekat itu," gumamnya lirih sembari berjalan menuju kamar mandi.
Sedangkan Reymond kini sudah duduk di depan meja makan menunggu Livia.
Ia sudah menghabiskan dua gelas air putih.
"Dia selalu meresahkan," gumamnya sembari mengibaskan tangannya di depan muka.
Dan tak lama Livia menuruni tangga membuat Reymond kembali merubah ekspresinya menjadi datar dan dingin.
"Tuan saya langsung pulang saja, takutnya Gemma sama ibu khawatir," ujarnya membuat Reymond memicingkan kedua matanya.
"Tidak. Sarapanlah lebih dulu dan aku akan mengantarmu," ujarnya tak terbantahkan.
"Tapi...,"
"Jika kamu terus menolak kamu akan semakin lama di sini," ujar Reymond sembari mengambil nasi.
Livia berdecak dan duduk di samping kanan Reymond.
Sontak tatapannya meneliti makanan yang tersaji begitu banyak di atas meja.
"Ini tuan yang masak?" Reymond menggelengkan kepalanya sembari menyodorkan segelas air putih untuk Livia.
"Chef pribadi," jawabnya membuat Livia sontak langsung menatap dapur Reymond.
Livia sontak langsung mengambil nasi dengan porsi yang mampu membuat Reymond menelan ludahnya sendiri.
Hanya dengan lauk steak serta sayuran Livia tampak sangat lahap sekali.
"Berapa minggu kau tak makan?" Livia mengangkat dua jarinya membuat Reymond hanya mengangguk pelan dan melanjutkan makannya.
Sontak keduanya asyik sarapan bersama hingga selesai dan Reymond mengantar Livia untuk pulang.
•••
__ADS_1
Sesampainya di rumah Livia, Reymond turun dari mobil dan melihat kanan kiri kompleks yang menurut dia sedikit pelosok dan juga terlihat seperti pedesaan.
"Udah tuan boleh pergi," ujar Livia membuat Reymond menoleh menatap Livia dengan dahi yang berkerut.
"Kamu tidak mengajak saya masuk?" Livia menelan ludahnya lalu ia menggigiti bibirnya tanda ia gugup.
"Liviaaa," panggil Gemma membuat Livia dan Reymond menoleh bersamaan.
Livia memejamkan kedua matanya kala Prameswari juga keluar rumah.
Reymond menganggukkan kepalanya sopan pada Prameswari.
Bugh
"Kenapa tamunya enggak diajak masuk. Ayo nak kita masuk dulu," Livia melebarkan kedua matanya kala Reymond melemparkan senyuman mengejek pada Livia.
"Yaaa siapa dia? Kau bilang kemarin tidak mau sugar daddy, kenapa kau malah membawa pria tampan dan begitu gagah sekali," ujar Gemma membuat Livia langsung memukul punggung Gemma.
"Yaa karenamu aku harus berurusan dengannya," marahnya membuat Gemma seketika langsung tersenyum manis dan berubah menjadi lemah lembut pada Livia.
"Liviaaa cepat masuk dan buatkan minum untuk Reymond," Gemma menatap Livia kaget kala mendengar suara teriakan Prameswari.
"Wahh namanya Reymond? Bahkan bibi kini sudah sangat akrab dengannya, apa itu tandanya bibi setuju?" Livia menatap tajam Gemma lalu dengan malas masuk ke dalam rumah.
Terlihat Reymond tampak duduk di ruang tamu bersama ibunya.
Dengan malas Livia pergi ke dapur untuk membuatkan minum Reymond.
Dan tak lama ia pergi ke ruang tamu dengan nampan yang ia bawa.
Saat Livia meletakkan secangkir kopi di depan Reymond, tiba- tiba ia mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
"Maaf bu, apa boleh jika saya meminta Livia untuk menjadi baby sister putri saya? Saya akan menggajinya $ 50.000 perbulannya, sedangkan untuk tunjangan ke sehariannya akan saya berikan setiap hari asal dia tinggal bersama saya dan menjaga putri saya selama 24 jam," Prameswari tampak berbinar menatap Reymond saat ini.
Bahkan kedua mata Prameswari kini sudah berwarna hijau kala Reymond menyebutkan angka fantastis dalam menggaji Livia.
"Tidak..," tolak Livia tegas namun terpotong oleh ibunya.
"Tentu boleh, keseharian dia hanya luntang- lantung tidak karuan. Kamu boleh mempekerjakannya nak," ujar Prameswari membuat Livia menatap kesal ibunya sedangkan Reymond kini menyeduh kopinya dengan senyum yang samar.
Gemma yang melihat nasib Livia saat ini mencoba menahan diri untuk tidak menertawakannya.
Entah bagaimana bisa tapi Gemma sangat senang kala Livia bersama Reymond.
"Kalau begitu saya akan memberikan uang tunjangannya lebih dulu," ujar Reymond yang merogoh sesuatu di balik jasnya.
Sebuah cek.
Reymond lalu menuliskan nominalnya dan memberikannya pada Prameswari.
$10.000 hanya untuk tunjangan?
Bahkan Livia belum mulai bekerja.
Wah apa Reymond seorang pencetak uang? Kenapa uangnya begitu banyak sekali?
"Ibu, kenapa ibu menerimanya," ujarnya dengan kesal membuat Reymond tersenyum tipis dan kembali menyeduh kopinya.
"Diamlah, daripada kau hanya main kesana- kemari bersama Gemma lebih baik bekerjalah menjadi baby sister, bukankah kau sangat suka dengan anak kecil?" ujar Prameswari membuat Livia hanya bisa menahan diri untuk tidak mengumpat.
"Jika boleh tahu, kapan Livia bisa bekerja bu?" Livia memicingkan mata menatap tajam Reymond.
"Sekarang juga boleh, dia sedang tidak ada pekerjaan hari ini," Livia menatap ketus ibunya sedangkan Reymond hanya mengangguk pelan.
Reymond menatap jam tangannya lalu menatap Prameswari.
"Saya harus pergi ke kantor, maaf tidak bisa berlama- lama mengobrol dengan ibu," Livia berdecak membuat Prameswari mencubit lengan putrinya dan mengangguki ucapan Reymond.
"Kamu bisa bersiap- siap lebih dulu, nanti pengawalku akan menjemputmu," ujar Reymond pada Livia sebelum pergi.
"Cihh siapa yang akan pergi ke rumahmu," umpatnya membuat Prameswari memukul punggung putrinya.
Bugh
"Aww ibu sakit," ringisnya sembari mengusap pelan punggungnya.
"Berbicaralah dengan baik padanya," ucapnya dengan penuh penekanan.
Reymond lalu pamit untuk pergi.
Setelah Reymond pergi, Livia langsung menatap ibunya.
"Ibu kenapa nerima uangnya gitu aja sih, kan yang kerja Livia, yang nentuin mau kerja atau enggak juga Livia kenapa ibu menerima uangnya gitu aja," marah Livia membuat Prameswari berkacak pinggang.
"Daripada kamu hanya keluyuran enggak jelas mending kerja sama dia enak dapat gaji besar, kamu bisa beli apapun yang kamu mau," ujar Prameswari memberitahu Livia.
"Tapi Livia enggak mau bu kerja sama dia. Siniin ceknya, Livia akan kembalikan uangnya," ujar Livia meminta cek yang Reymond berikan tadi.
"Enggak. Ibu bakal berikan ceknya kalau kamu dapat pekerjaan yang gajinya lebih besar dari ini," ujarnya lalu masuk ke dalam begitu saja membuat Livia menghembuskan napas panjang dan duduk di kursi teras.
Gemma yang melihat hal itu kini merasa kasihan dengan Livia.
"Livia maafkan aku," ujarnya sembari berjongkok di depan Livia.
__ADS_1
KRINGG
"Papa," gumamnya kaget lalu ia berusaha untuk tenang dan mengatur napasnya lalu ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo pa,"
"Gemma, di mana kamu sekarang?" tanyanya yang terdengar sangat dingin.
"Di rumah Livia," jawabnya jujur.
"Nanti malam pergilah ke restauran milik papa untuk menemui Virgo, papa sudah mengatur kencan buta untukmu. Jadi, bersikap baiklah, karena ini demi bisnis papa," ujar Xavier membuat Gemma dan Livia saling menatap.
"Tapi pa, kenapa harus kencan buta segala sihh," tolaknya kesal.
"Jangan banyak mengeluh. Datang saja dan temui dia, dia akan sangat cocok jika menikah denganmu nanti," ujar Xavier membuat Gemma semakin kesal.
"Tapi pa...,"
"Udah ya papa ada urusan," ujarnya lalu menutup teleponnya secara sepihak.
"Wahh apa kau akan dijodohkan? Dengan sugar daddy atau duda anak satu?" tanya Livia yang kini meledek Gemma.
Gemma tampak kesal dan kini Livia yang tertawa keras kala melihat wajah cemberut Gemma.
Sontak Gemma memiliki ide cemerlang tentang hal kencan buta ini.
"Aku bisa membantumu lepas dari Reymond," ujarnya sembari menarik tangan Livia untuk masuk ke dalam rumah.
•••
Restauran, 19.00 GMT+2
Kini Livia sudah di depan restauran tempat Gemma akan bertemu dengan pria kencan butanya.
Tapi sayangnya kini Livia yang harus menjadi tumbalnya.
Ya, kini Livia datang untuk menggantikan Gemma.
Dan hal ini akan saling menguntungkan bagi mereka berdua.
Livia lalu masuk ke dalam sebelum pria yang Gemma maksud pergi.
Saat dirinya memasuki restauran mewah itu, ia menelisik setiap para pelanggan.
Hanya ada satu pelanggan yang berada di dekat jendela seorang diri dengan meja yang sudah dihias sangat romantis.
"Pasti dia," gumam Livia yang langsung menghampiri pria berjas hitam tersebut.
"Hei," sapa Livia membuat Virgo menoleh dan sempat tertegun untuk beberapa saat.
"Apa kamu yang bernama Virgo?" pria itu hanya mengangguk membuat Livia langsung duduk di depannya.
Virgo tampak dibuat terpana dengan kecantikan Livia saat ini.
"Apa kamu yang bernama Gemma? Putri tuan Xavier?" Livia tersenyum lalu detik kemudian ia menggelengkan kepalanya.
"Maaf dia tidak bisa datang, jadi aku yang menggantikannya," ujar Livia jujur membuat Virgo mengangguk.
"Apa kau kecewa karena Gemma tidak bisa datang?" Virgo tersenyum lalu berusaha mengontrol raut wajahnya.
"Sayang sekali dia tidak bisa datang, tapi siapa yang tahu jika temannya mau datang menggantikan kencan buta yang papanya buat," ucap Virgo membuat Livia hanya tersenyum sekilas.
Keduanya lalu mengobrol sangat lama hingga Livia kini memberanikan diri untuk bertanya.
"Virgo," panggilnya pelan membuat Virgo yang tengah menyantap steaknya kini berusaha untuk tidak tersedak.
"Ya?"
"Terus terang saja, sebenarnya aku mau menggantikan Gemma malam ini karena aku sangat butuh bantuanmu," Virgo meletakkan garpu dan pisaunya.
"Apa? Katakan saja, aku pasti akan membantumu," ujar Virgo dengan lapang dada.
Livia mengunyah perlahan makanannya hingga ia mencoba memberanikan diri untuk mengatakannya.
"Apa kamu tidak butuh asisten atau seorang pembantu di rumah? Aku sangat membutuhkan pekerjaan saat ini," Virgo tersenyum lebar dan sedikit melonggarkan dasinya.
"Aku kira kamu mau minta tolong apa. Kenapa harus pembantu jika kamu bisa bekerja di kantorku," ujarnya membuat Livia sangat terkejut akan hal itu.
"Hah? Serius?" Virgo mengangguk dengan sangat antusias.
Livia lalu tersadar jika dirinya hanyalah lulusan SMA.
"Tapi aku hanya lulusan SMA, apa yang bisa kulakukan?" tanyanya membuat Virgo kembali tersenyum.
"Tenang saja kamu bisa mengikuti masa training dan itupun digaji. Aku akan mengangkatmu sebagai sekretarisku," serunya membuat Livia membungkam mulutnya tidak percaya.
"Sungguh?" Virgo mengangguk mantap sembari meraih air minumnya.
Livia terlihat sangat senang sekali.
Bahkan hal yang paling Virgo sukai ialah senyumannya.
"Livia," teriak seseorang membuat Virgo dan Livia menoleh secara bersamaan.
__ADS_1
"Reymond," gumam Livia lirih dengan wajah yang sangat terkejut kala melihat Reymond kini melayangkan tatapan tajam padanya.