Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 8: Minta Restu


__ADS_3

Kini Reymond tengah berada di rumah mamanya, lebih tepatnya di penthouse He Piece. Tampak sesekali Reymond menatap jam tangannya.


Sekarang sudah pukul 5 sore. Sedangkan mamanya masih melakukan treatment rutin di lantai paling atas.


Reymond sontak merogoh ponselnya di dalam saku. Ia menghubungi Bimo untuk menanyakan tentang dekorasinya.


"Halo tuan?"


"Bagaimana dekorasinya? Sudah selesai?"


"Sudah tuan," Reymond mengangguk senang.


"Kamu jaga rumah, ketika ia datang, langsung berikan gaunnya dan antar ke pantai. Kamu paham?"


"Baik tuan," Reymond langsung mematikan teleponnya.


Bersamaan dengan hal itu, Saras keluar dari lift dan menyapa putranya yang jarang sekali datang ke rumah.


"Hei sayang," sapanya dengan girang membuat Reymond menoleh dan langsung beranjak dari duduknya.


"Mama udah selesai?" tanyanya sembari menguraikan pelukannya.


"Sudah sayang. Kenapa enggak ke atas aja tadi? Lama enggak nunggunya?" tanya Saras yang mana keduanya duduk berdampingan. Reymond hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada apa sayang tumben enggak kasih tahu mama dulu mau ke sini," ujarnya sembari merapikan rambut Reymond.


"Ma, Reymond ingin melamar seseorang," sontak belaian di kepalanya terhenti. Saras menatap Reymond datar lalu tersenyum sekilas.


"Katanya kemarin enggak mau terburu dulu ngelamar Freya, sekarang kamu sendiri yang...," Reymond langsung memotong ucapan Saras.


"Bukan, ini bukan Freya, Reymond mau lamar seseorang yang lebih tepat sebagai ibu Queen," ucapnya membuat Saras kaget bukan main.


"Reymond jangan bercanda. Calon tunanganmu Freya, apa kata Dexto nantinya," kini Saras terlihat mulai marah.


"Ma, lagian kan baru calon, bisa batal juga. Lagian Reymond juga tidak mencintainya, Reymond ingin mencari ibu susu yang tepat untuk Queen," ujarnya mencoba menjelaskan pada Saras.


"Tunggu- tunggu, kepala mama rasanya sangat pening. Terus apa yang harus mama katakan pada Dexto nantinya?" tanya Saras pada Reymond.


"Nanti biar Reymond sendiri aja yang bilang, gimana?" tawari Reymond.


"Emang seperti apa perempuan yang ingin kamu lamar itu? Coba kenalin dulu sama mama," ujarnya membuat Reymond merubah posisi duduknya.


"Enggak ada waktu ma. Intinya dia sangat sesuai dengan tipe Reymond dan pastinya lolos seleksi yang selalu mama lakukan pada setiap wanita yang dekat dengan Rey," ujarnya yang terdengar begitu terburu- buru. "Kamu punya fotonya?" tanya Saras membuat Reymond menatap arah lain. Ia punya fotonya Livia sih, tapi saat mereka tidur bersama malam itu.


"Gimana, punya enggak?" tanya Saras membuat Reymond terpaksa memberitahukannya.


Saras melebarkan kedua matanya tak percaya kala melihat foto tersebut.


"Kalian sudah pernah tidur bersama? Jangan bilang kamu menodainya lalu melamarnya secepat ini karena tuntutan darinya?" Reymond menggelengkan kepalanya kuat.


"Enggak ma, mama salah paham. Bimo saksinya, malam itu Rey hanya mengajaknya ke rumah dan kita tidur bersama. Paginya saat Queen sakit karena susu formula yang belum boleh diberikan pada bayi usia 6 bulan, ia mencoba menyusuinya, kata dokternya asi Livia cocok untuk antibodi tubuh Queen dan sangat membantu pertumbuhannya," Saras yang menatap foto Livia hanya mengangguk pelan.


"Jadi, kamu melamarnya karena ingin menjadikan ia ibu susu Queen?" Reymond mengangguk dengan sangat mantap.


"Gimana ma, mama setuju kan? Mama merestuinya kan? Ia sangat sesuai dengan kriteria yang selalu mama seleksikan pada wanita yang mendekati Rey," ujar Reymond berusaha menyakinkan mamanya.


Lama Saras memandangi foto Livia hingga ia menatap Reymond.


"Apa pekerjaannya? Bagaimana asal usulnya? Lalu bagaimana dengan bobot, bibit dan bebetnya?" Reymond menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya di sofa.


"Ma, apa yang mama harapkan dengan wanita yang memiliki kriteria tinggi sesuai diri mama. Memang kenapa jika ia hanya lulusan SMA? Memangnya kenapa jika ia hanya dari keluarga sederhana? Bobot, bibit, dan bebet bukan diukur dari hal itu ma, banyak hal lain yang bisa mama lihat, misalnya ketulusan dia," ujar Reymond menjelaskan agar pandangan mamanya terhadap wanita yang mendekatinya bisa berubah.


"Lagian dulu dapet wanita yang berkelas dengan bobot, bibit serta bebetnya yang jelas aja kelakuannya rendahan dan murahan, tukang selingkuh lagi," ujarnya membuat Saras menatap Reymond dengan serius.


"Harta Reymond banyak, bahkan sampai tujuh turunan pun enggak akan habis hanya untuk menafkahi Livia nantinya. Reymond enggak butuh wanita karier apalagi berkelas, cukup istri yang setia yang bisa mengurus aku dan Queen dengan baik, itu sudah lebih dari cukup. Untuk masalah uang, Reymond akan bekerja keras biarkan Livia yang menghabiskannya dengan Queen," ujar Reymond dengan sangat yakin dan tulus dalam hatinya. Reymond melirik mamanya yang tampak terdiam karena ucapannya.


"Jadi, gimana ma? Mama setuju kan Reymond nikah sama Livia? Ini kan juga demi kebaikan cucu mama," ujarnya sekali lagi untuk menyakinkan. Saras menatap Reymond dengan wajah yang bisa dibilang sedikit sendu.


"Baiklah, tapi satu syaratnya," Reymond terlihat mendengus kala mendengar kata 'Syarat'


"Mama tidak ingin kamu langsung menikahinya. Mama akan merestui kamu untuk melamarnya saja, mama ingin melihat untuk beberapa bulan ke depan, jika ia memang memenuhi kriteria yang mama inginkan, oke dia lolos dan kamu boleh menikahinya," ujar Saras membuat Reymond tampak berbinar.


"Sungguh ma?" Saras mengangguk dengan mantap. Sontak Reymond langsung memeluk erat Saras.


"Wahh ada apa ini? Apa kakak memenangkan sebuah lotre?" canda Vera membuat Reymond menguraikan pelukannya.

__ADS_1


Reymond sontak langsung memeluk sepupunya tersebut dengan erat karena merasa begitu bahagia malam ini.


Vera yang mendapatkan pelukan tiba- tiba itu sontak terkejut dan menatap Tesa dengan kerutan di dahinya.


"Kakakmu akan melamar seorang perempuan malam ini," ujarnya membuat Vera menganga tak percaya dan tersenyum lebar.


"Melamar kak Freya?" Saras menggelengkan kepalanya membuat Vera mengerutkan keningnya.


"Nanti aku akan membawanya kemari, ia sama cantiknya sepertimu," ujar Reymond membuat Vera semakin merasa penasaran.


"Permisi tante," sontak semua kepala menoleh ke arah suara tersebut.


"Ehh Freya, sini sayang," sapa Saras membuat Freya mengangguk dan langsung duduk di antara Saras dan Reymond.


"Yaudah ma Reymond pergi dulu," pamitnya yang tampak bergegas.


"Eh Reymond, kenapa buru- buru, baru juga Freya datang. Sini temeni Freya dulu," pinta Saras membuat Reymond langsung merubah ekspresi wajahnya.


"Reymond harus pergi sekarang ma," ujarnya yang bergegas pergi tanpa menghiraukan keberadaan Freya saat ini.


Sedangkan Vera menatap Freya yang terlihat kecewa karena tak bisa bertemu dengan Reymond lebih lama.


Jika kak Rey melamar seseorang, lantas bagaimana dengan nasib Freya? Bahkan bi Saras terlihat begitu dekat dengan Freya, batin Vera sembari melihat kedekatan Saras dan Freya saat ini.


•••


Sedangkan di tempat lain, ada Gemma serta Livia yang tengah mengobrol bersama dengan Virgo.


Tidak lebih tepatnya makan malam bersama.


Ya saat tadi mereka membeli pumping asi, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Virgo.


"Kenapa kalian hanya diam saja, bahkan kalian tidak berniat untuk kenalan?" tanya Livia pada Gemma dan Virgo.


"Aku sudah tahu namanya, papanya dan aku bekerja sama selama 3 bulan terakhir ini," ujar Virgo sembari menatap Gemma yang sejak tadi hanya diam dan mengaduk makanannya.


Gemma lalu mengetikkan sesuatu di ponselnya dan mengirimkan pesan pada Livia.


Livia dengan sedikit sungkan meraih ponselnya dan melihat pesan yang Gemma kirimkan.


Livia menutup ponselnya begitu saja tanpa membalas ataupun menoleh pada Gemma.


Gemma menghembuskan napas gusar dan kembali mengaduk makanannya.


"Oh ya Go, gimana kamu butuh pekerja enggak?" tanya Livia takut Virgo lupa akan janjinya waktu itu.


"Oh iya astaga, aku sampai lupa memberitahumu. Kemarin ada loker di kantor cuma udah keisi, gimana kalau kamu jadi asisten aku aja, aku pastiin kamu bakal dapet gaji yang tinggi kok sama kayak pegawai kantoran," ujarnya membuat Livia merasa sungkan.


"Jangan seperti itu, gaji aku sesuaikan pekerjaanku saja. Aku sudah senang bisa bekerja denganmu," ucapnya membuat Gemma menatap Livia dengan sinis.


Livia menatap Gemma kala kakinya ditendang.


"Jadi, kapan kamu ada waktu, silahkan datang di sini. Kamu bisa langsung bekerja nantinya," ucap Virgo sembari memberikan kartu yang mana itu mencantumkan alamat penthouse Virgo.


Penthouse He Piece.


Gemma melirik kartu alamat tersebut lalu menatap sekilas Virgo.


"Wahh kamu tinggal di penthouse?" kaget Livia membuat Virgo hanya tersenyum tipis.


"Pasti kamu orang kaya," tebak Livia membuat Gemma ingin sekali memukul kepala Livia saat ini.


"Tidak, itu penthouse milik keluarga," jawabnya membuat Livia mengangguk dan kembali mengamati kartu alamat yang berwarna silver tersebut.


"Di tempat lain jika ingin mempekerjakan orang mereka akan memberikan uang tunjangan sebagai uang muka, bukankah kamu tinggal di penthouse? Pasti kamu akan memberinya uang tunjangan bukan?" Virgo hanya tersenyum lalu merogoh sesuatu di balik saku jasnya.


Sedangkan Livia sudah memukul punggung Gemma karena merasa malu di depan Virgo.


"Maaf aku lupa memberikannya, jika kurang kamu bisa mengatakannya padaku," ucapnya sembari memberikan selembar cek pada Livia.


Keduanya dibuat menganga dan melotot dengan nominal yang tertera di atas kertas tipis tersebut.


"Hanya setengahnya? Bahkan lebih besar daripada yang diberikan duda tampan itu," gumam lirih Livia membuat Gemma berdecak.


"Kalau aku sih milih dia, udah tampan, kaya raya, royal lagi, mana jadi incaran banyak wanita lagi," kini giliran Livia yang berdecih.

__ADS_1


Virgo menatap jam tangannya.


"Maaf tapi sepertinya aku harus pergi," Livia dan Gemma spontan secara bersamaan menatap Virgo.


"Cepet banget, emang mau kemana?" tanya Livia membuat Gemma merasa jijik mendengarnya.


"Aku masih harus kembali ke kantor," jawabnya membuat Livia mengangguk.


"Mulai sekarang kamu sudah resmi menjadi asistenku, kamu boleh bekerja kapan kamu senggang," ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya.


"Maaf terus merepotkanmu," ucap Livia dengan tangan yang digenggam erat oleh Virgo.


"Tidak perlu sungkan. Kalau begitu aku pergi dulu," pamitnya yang diangguki oleh mereka berdua.


Livia tampak tersenyum sembari menatap kepergian Virgo.


"Kedip nona," sindir Gemma dengan penuh penekanan.


Livia hanya mengerucutkan bibirnya dan meraih tasnya.


"Yaa, kau ingin jalan-jalan?" tanya Livia menawari dan langsung diangguki oleh Gemma dengan wajah yang berbinar.


Keduanya lalu asyik mengelilingi mal di mana Livia yang sepertinya lupa jika ia harus ke rumah Reymond.


•••


Sedangkan di rumah lain, ada Reymond yang kini tengah menunggu kedatangan Livia.


"Kemana dia pergi?" gerutunya tanpa henti sembari mondar- mandir membuat Bimo yang melihat hal itu mendadak pening.


"Tuan, saya mohon duduklah sejenak. Nona pasti akan pulang sebentar lagi," ucapnya membuat Reymond berhenti mondar- mandir dan kini berkacak pinggang sembari menatap Bimo.


"Kira- kira kemana dia?" tanyanya pada Bimo.


"Entah. Kepala saya pening karena melihat kaki anda yang berjalan ke sana kemari," ucapnya membuat Reymond berdecak.


Bimo lalu menatap Reymond dengan tatapan yang penuh introgasi.


"Saya heran sama anda, dulu nyonya menjodohkan anda dengan perempuan yang berkelas dan punya tutur kata yang manis serta lemah lembut anda menolaknya dengan tegas, lantas sekarang anda akan melamar perempuan yang malam itu memanggil anda dengan sebutan bangsat tersebut? Anda ini sedang cap cip cup atau bagaimana kala menikahi perempuan," ujar Bimo yang merasa penasaran dengan pikiran serta hati Reymond.


"Kala itu ia sedang berada di bawah pengaruh alkohol, jadi wajar ia bersikap seperti itu. Lagian wanita di luaran sana bermulut manis dan lemah lembut juga hanya untuk mendapatkan perhatianku," ketusnya membuat Bimo mengangguk setuju.


"Iya juga sih. Lagian masalahnya pada anda sendiri," Reymond spontan langsung menajamkan tatapannya.


Bimo yang mendapatkan tatapan tajam itu sontak langsung merubah ucapannya.


"Maksud saya, karena anda terlalu tampan jadinya banyak wanita di luaran sana bersikap manipulatif untuk bisa mendapatkan perhatian anda," Reymond langsung berubah menjadi tersenyum tipis mendengar hal itu.


Lama Reymond menunggu Livia, hingga akhirnya pintu terbuka.


Ceklek


"Nah itu nona," sorak Bimo kala pintu terbuka dan menampilkan Livia.


Livia tampak merasa takut dengan tatapan Reymond saat ini.


"Tuan, maaf saya pulang larut malam. Ini saya sudah pumping tadi, apa Queen sudah tidur?" tanya Livia sembari menyodorkan kantong plastik yang berisi satu kantong asi tersebut.


Ya, selama perjalanan ke rumah Reymond Livia sengaja pumping untuk menghindari ekhm tahulah ya apa yang akan dilakukan Reymond.


Jadi, ia hanya mendapat satu kantong asi saja karena waktunya juga sebentar.


Reymond langsung mengambil kantong tersebut lalu menarik tangan Livia untuk naik ke lantai atas.


***


REYMOND DOMINIQUE




LIVIA PRAMESWARI


__ADS_1


__ADS_2