
Keesokan paginya Livia terbangun setelah tidur panjang yang sangat melelahkan.
Perlahan ia membuka kedua matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah Reymond yang tengah duduk di sofa sembari menatap dirinya.
"Hei sayang, kamu sudah bangun?" tanyanya membuat Livia menatap jendela yang memperlihatkan jika hari sudah pagi.
Reymond menghampiri Livia yang kini berusaha untuk duduk.
"Kamu ingin makan sekarang? Sudah kubelikan makanan dari luar," ujarnya membuat Livia menatap meja di dekatnya penuh dengan makanan.
"Aku bisa makan bubur yang diberikan rumah sakit, kau tak perlu membeli makanan di luar," ketusnya sembari mengikat rambutnya.
"Tidak. Bubur rumah sakit kurang sehat, kamu harus makan- makanan yang bergizi dan sehat, agar asimu bisa keluar dengan lancar dan banyak," ucap Reymond sembari mengambilkan beberapa makanan dari atas meja membuat Livia yang mendengar hal itu berusaha untuk tidak memperlihatkan pipi merahnya saat ini.
"Karena yang butuh asimu tidak hanya Queen, tapi juga diriku," lanjutnya sembari memasang meja kecil di depan Livia.
Livia hampir saja tersedak karena air liurnya sendiri.
Reymond tersenyum kala melihat pipi Livia bersemu merah.
Ia menarik kursi di samping brankar lalu membukakan untuk Livia.
"Aku bisa sendiri," ujar Livia kala Reymond hendak menyuapinya.
"Pakai sendok apa mulut?" Livia memicingkan matanya kala mendengar tawaran Reymond.
Reymond tertawa melihat wajah garang Livia.
Tok tok
"Damn. ****!" umpat Reymond kala mendengar suara ketukan pintu.
Livia yang mendengar umpatan itu hanya menatap heran Reymond.
"Masuk," serunya dengan suara dingin.
Ceklek
"Hehe maaf tuan menganggu," ujar Bimo dengan Queen digendongannya dengan buket bunga yang ia bawa.
Bimo langsung menghampiri Reymond dan menyapa sekilas Livia.
"Apa sesuatu terjadi pada Queen?" tanyanya sembari menerima Queen yang tampak diam tak rewel.
"Stock asi di kulkas sudah habis tuan untuk semalam. Jadi saya terpaksa bawa ke sini karena sebentar lagi siang, pasti tuan putri akan lapar," jelas Bimo membuat Reymond mengangguk.
"ASI yang pagi hari tidak kamu berikan kan? Yang kuberikan kemarin malam?" tanya Livia panik karena pasalnya itu sudah lewat tanggalnya.
"Tentu tidak nona, anda sudah menulis jelas di kantong ASI nya tanggal produksi dan kadaluarsanya, tentu saya membacanya dengan teliti," jawab Bimo membuat Livia tersenyum tipis dan mengangguk lega.
"Astaga nona, lukamu sangat parah sekali. Bagaimana dengan keadaanmu sekarang, apa lebih baik?" tanya Bimo membuat Reymond meliriknya tajam.
"Sudah tuan," jawab Livia dengan sedikit sungkan.
"Jangan panggil tuan, kita sepertinya sepantara. Panggil saja Bimo," ujarnya sembari tersenyum malu membuat Livia hanya mengangguk pelan.
"Oh ya, ini bunganya kutaruh di sini," ucap Bimo sembari menggeser bunga mawar merah itu.
"Hekm," deham Reymond membuat keduanya seakan baru tersadar jika masih ada Reymond di sana.
"Lain kali kalau jenguk orang sakit itu bawa buah, bukan bunga," ketus Reymond membuat Bimo hanya mengangguk pelan namun tidak dengan tatapan sinis Livia.
"Iya maaf tuan," ucap Bimo yang merasa bersalah karena hanya membawa buket bunga.
Dan tak lama Queen nangis membuat Livia menatap kasihan padanya.
"Ia pasti lapar," seru Livia sembari meminta Queen dari Reymond. Reymond menatap Bimo yang masih setia berdiri di samping brankar Livia.
"Ngapain kamu masih di sini? Cepat keluar!" perintahnya membuat Bimo sedikit malu dan gelagapan kala Livia juga menatap dirinya dengan sungkan.
Bimo dengan cepat langsung keluar dari ruang rawat Livia.
Reymond langsung beranjak dari kursinya dan beralih duduk di tepi brankar.
"Kau sendiri ngapain masih di sini?" perintahnya pada Reymond.
"Apalagi, tentu membantumu sayang," ucap Reymond yang mana ia sudah tak sabar untuk hal yang selalu ia tunggu- tunggu.
"Tidak. Aku bisa melakukannya sendiri dengan pumping asi," tolaknya dengan tegas membuat Reymond tersenyum lebar dan mendekatkan wajahnya pada wajah Livia.
"Aku yang membawamu kemari sayang, jika kamu lupa hal itu," ujarnya mengingatkan Livia.
Livia menelan salivanya perlahan dan memundurkan wajahnya.
"Sekarang makanlah dulu, biar kugendong Queen," pintanya agar Livia bisa sarapan lebih dulu.
Mau tak mau Livia memberikan Queen pada Reymond.
"Kenapa, apa kamu ingin disuapi dengan bibir seksi ini?" goda Reymond membuat Livia berdecak dan segera meraih sendoknya untuk sarapan.
Reymond yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis.
Ia lalu mengajak putrinya untuk berjemur di balkon rumah sakit selagi menunggu Livia sarapan.
Beberapa menit kemudian, Reymond kembali masuk dan terlihat Livia sudah selesai makan.
"Aku sudah selesai sarapan, kemungkinan asinya bisa keluar dengan lancar tanpa bantuanmu," ujar Livia kala Reymond mendekati brankarnya.
Reymond hanya mengangguk sembari memberikan Queen pada Livia.
Bukannya pergi keluar Reymond malah duduk di tepi brankar.
"Keluarlah. Aku akan menyusui Queen lebih dulu," kesalnya pada Reymond.
"Memang kenapa? Susui saja putriku, aku akan menunggu di sini," ucapnya dengan gamblang membuat Livia menatapnya sinis.
__ADS_1
"Lagian, aku sudah pernah melihat semuanya," ucap Reymond yang terdengar sangat frontal.
Reymond terkekeh melihat semu merah di wajah Livia.
Queen kembali menangis membuat Livia dengan spontan langsung menyusuinya tanpa memedulikan Reymond yang duduk di depannya.
Reymond yang melihat hal itu tersenyum begitu bahagia melihat putrinya bisa merasakan asi dari seorang ibu meski Livia bukan ibu kandungnya.
Tenang saja sayang, papa akan membuat tante Livia menjadi ibumu, kamu pasti senang kan bisa minum asinya setiap hari kan? Papa juga, jadi kita bagi dua, oke? Batin Reymond dalam hati sembari menahan senyumnya.
"Ayo sayang, hisap yang kuat," intruksi Livia pelan pada Queen.
Queen terus menangis membuat Livia melirik Reymond yang duduk di depannya dan tengah menyaksikan hal itu.
"Bagaimana jika kamu belikan pumping asi di dekat sini?" Reymond menaikkan sebelah alisnya.
"Bagaimana jika putriku pingsan karena kelaparan?" Livia memutar bola matanya malas.
"Tidak akan, percayalah. Tolong belikan pumping asi di dekat sini," ujar Livia ngotot.
"Jika aku bisa membantu kenapa harus repot beli pumping?" Livia mendelik kesal mendengar hal itu.
"Ayolah belikan sebentar saja, itu tak akan lama, atau minta tolong aja sama Bimo?" Reymond langsung merengut mendengar hal itu.
Queen sudah menangis begitu keras membuat Livia merasa kasihan juga panik.
Reymond langsung beranjak dari brankar membuat Livia tersenyum lega melihat hal itu.
Namun senyuman itu tak bertahan lama kala tahu Reymond menutup gorden jendela dan mengunci pintunya.
"Kenapa kamu mengunci pintunya? Aku memintamu untuk membeli pumping asi," ujar Livia sengit membuat Reymond hanya tersenyum tipis.
"Jika aku bisa menghisapnya kenapa harus pakai pumping asi," ujarnya sembari duduk di hadapan Livia.
Livia menelan salivanya dan menatap takut Reymond.
"Aku akan teriak jika kamu melakukannya di sini," ancam Livia membuat Reymond tertawa renyah.
"Teriaklah, tidak ada yang akan mendengarmu. Aku sudah mengosongkan lantai atas ini hanya untuk kita berdua. Lagian rumah sakit ini milikku, tak akan ada yang bisa menghentikanku kecuali aku sendiri," ujarnya memberitahu Livia.
Reymond menatap putrinya yang kini terlihat diam dan anteng seakan tengah memerhatikan papanya mengobrol dengan Livia.
"Maaf ya sayang, tapi kamu tidak boleh melihat hal ini," ujarnya pada putrinya sembari menutup mata Queen.
Reymond langsung memangut bibir bawah Livia secara perlahan dan lembut tanpa menuntut seperti biasanya.
Livia terlihat diam tak membuka mulutnya membuat Reymond tak kehabisan akal untuk hal itu.
Tangannya turun ke bawah dan meremas benda kenyal itu dengan sedikit kuat.
"Akhh," desah Livia membuat Reymond tersenyum tipis di sela ciumannya kala dirinya bisa memanfaatkan hal itu untuk bisa memperdalam ciumannya.
Reymond tak memberikan jeda untuk Livia bernapas.
"Hahh," hela napas Livia kala ia hampir saja kehabisan oksigen.
Reymond tersenyum geli melihat tingkahnya hingga menyebabkan bibir Livia begitu merah.
"Itu baru rangsangan sayang, belum bisa keluar," ujarnya yang mana ia langsung menghisap benda kenyal Livia dengan tangan yang masih setia menutup mata Queen.
Livia menggigit bibir bawahnya kala hisapan itu begitu kuat hingga membuat Livia reflek mendongakkan kepalanya ke atas.
Sebenarnya bukan berniat mesum atau cabul namun memang begini cara memberikan rangsangan untuk bisa membantu Livia mengeluarkan asinya karena ia belum menikah dan belum mempunyai anak.
Namun sayangnya hal ini disalahgunakan oleh Reymond yang mana ia kecanduan untuk melakukannya.
"Ahh," hela Reymond kala ia tanpa sengaja menenggak asi Livia.
Livia menelan salivanya cepat dan langsung menyusui Queen.
Reymond tersenyum kala melihat putrinya begitu bersemangat kala asinya keluar begitu lancar.
Livia terlihat fokus menatap Queen tanpa mau mendongakkan kepalanya untuk melihat Reymond.
Cup
Reymond berhasil membuat Livia mengangkat kepalanya dengan tatapan tajam ke arahnya setelah ia mengecup singkat pipi kirinya.
"Makasih ya, udah mau memberikan asimu pada putriku. Mungkin aku tidak bisa membalas semua perbuatanmu ini, aku berhutang budi sangat banyak padamu," serunya pada Livia.
Livia yang mendapatkan ucapan tersebut kini merasa terenyuh melihat Reymond yang selama ini mengurus Queen seorang diri.
"Mungkin aku harus bekerja lebih giat lagi agar bisa membelikanmu makanan sehat dan bergizi, dengan begitu putriku bisa tumbuh dengan sehat karena asimu keluar begitu lancar dan aku juga akan tumbuh dengan kekar karena mengonsumsi susu yang tepat," tuturnya membuat Livia kini ingin sekali menghilang dari hadapan Reymond.
"Serta aku bisa mendapatkan jatahku juga," gumamnha pelan sembari mengusap bibir bawahnya menggunakan ibu jarinya.
Livia langsung menunduk menatap Queen membuat Reymond tersenyum melihat hal itu.
Ting
Reymond meraih ponselnya di atas nakas dan terdapat pesan dari Calvin.
Calvin Gila
Aku menemukan rekaman cctv dari kompleks rumah Livia. Datang dan periksalah sendiri.
Reymond memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket hitamnya.
"Maaf sayang, tapi sepertinya aku harus pergi," ujarnya yang beranjak dari brankar membuat Livia mendongak dan menatap datar Reymond.
Padahal dalam hati Livia bersorak senang kala Reymond pergi.
"Aku akan menjemput ibu dan temanmu kemari, dan akan meminta pengawal untuk berjaga di depan. Jadi, kamu tidak perlu takut, di bawah juga banyak anggotaku yang berjaga," pesannya pada Livia sembari mengusap lembut puncak kepala Livia.
Livia hanya mengangguk untuk memperlihatkan sikap penurutnya, padahal ia tak suka diatur oleh siapapun itu, termasuk Reymond.
__ADS_1
Reymond mencium lama puncak kepala Livia lalu beralih pada Queen.
"Papa pergi bentar ya sayang, tolong jaga mamamu," pesannya pada Queen membuat Livia menaikkan sebelah alisnya heran mendengar ucapan Reymond.
Cup
Livia melebarkan kedua matanya tak percaya kala Reymond bukannya mencium putrinya tapi malah benda kenyalnya sekilas.
Sedangkan Reymond berlalu begitu saja keluar dari ruangan sembari menahan tawanya sekuat mungkin kala ia membayangkan bagaimana ekspresi Livia saat ini.
"Dasar bastard," umpat Livia kesal dengan sikap Reymond.
•••
Setibanya di markas Reymond langsung menuju ke ruang bawah tanah tepatnya ruang rahasia dalam merencanakan penyerangan.
"Mana rekamannya?" tanya Reymond membuat Calvin dan Magenta yang sedang asyik bermain kartu langsung menghentikan aksinya dan menghampiri Reymond.
"Coba kau lihat," ucap Calvin sembari memutar rekaman cctvnya.
Terlihat sebuah taksi warna kuning berhenti di depan rumah Livia.
Terlihat seorang pria gempal turun lalu mengangkat tubuh Livia untuk diletakkan di depan teras.
Sopir itupun berlalu begitu saja meninggalkan Livia tergeletak di teras.
Dan tak lama terlihat Prameswari dan Deo keluar dari dalam rumah dan berteriak histeris kala melihat keadaan Livia.
"Temukan sopir taksi itu dan perusahaan taksinya!" perintahnya dengan tegas.
Magenta yang sudah hafal dengan sikap Reymond langsung menyodorkan informasi yang sudah ia kumpulkan.
"Sopir itu tewas tak jauh dari kompleks," lapornya membuat Reymond mengepalkan tangannya erat dengan mata yang memerah.
"Menurut polisi itu sebuah pembunuhan karena sopir taksi itu ditemukan dengan tembakan di kepalanya," perjelas Magenta pada Reymond.
"Kemungkinan Livia bakal didatengi sama polisi untuk diintrogasi sebagai korban penculikan," kini Calvin yang berbicara.
Reymond mengusap gusar wajahnya dan menghempaskan dirinya di sofa.
"Panggil kembali semua yang berjaga di rumah Livia. Lalu ganti dengan pengawal yang lain," perintahnya yang langsung diangguki oleh Calvin.
"Lalu bagaimana dengan Livia sendiri? Kau sudah bertanya padanya? Siapa yang melakukannya?" tanya Magenta dengan sangat kepo.
"Dia tidak tahu, saat diculik kedua matanya ditutup kain hitam selama menuju perjalanan. Ia hanya mendengar suara perempuan," jawab Reymond dengan suara yang rendah.
"Perempuan? Tega banget nyiksa sesama perempuan, apa ada seseorang yang kau curigai?" Reymond hanya diam dan pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
"Tentu. Dan aku tidak akan membiarkan ia bernapas begitu mudah setelah melakukan hal itu pada wanitaku," tekannya dengan suara yang terdengar mengerikan.
"Berani menyentuh milikku, itu artinya harus siap mati," itulah prinsip seorang Reymond Dominique.
Karena itu Calvin dan Magenta tidak pernah berani mengusik milik Reymond.
Jika kalian tahu, Reymond adalah orang paling bengis kala membunuh siapapun yang mengusik miliknya.
Tak percaya? Kalian akan melihat apa yang akan terjadi pada para pengawal yang berjaga di rumah Livia setelah ini.
"Rey, mereka udah dateng," ujar Calvin diikuti beberapa pengawal di belakangnya.
Reymond beranjak dari sofa dan meraih pistol di balik punggungnya.
"Berjongkoklah membelakangiku!" perintahnya pada mereka semua.
Pengawal itu dengan sangat patuh langsung berjongkok di depan Reymond namun membelakanginya.
"Saat taksi kuning mengantarkan wanitaku, kemana kalian semua?" tanyanya pada mereka semua.
"Siap berjaga di sana tuan," jawab mereka serempak.
DOR
Semua langsung kicep kala pistol Reymond yang berbicara.
"Kutanya sekali lagi, di mana kalian semua saat taksi kuning mengantarkan wanitaku?" masih dengan pertanyaan yang sama.
"Siap berjaga di sekeliling rumah nona tuan," jawab mereka dengan sama dan serempak.
DOR
Calvin dan Magenta yang melihat hal itu hanya bisa diam tak berkutik.
Selain mereka tidak bisa melakukan apapun untuk membantu para pengawal, mereka berdua juga takut dengan Reymond.
"Aku tidak pernah telat memberi upah kalian. Hanya menjaga hal kecil ini kalian sangat teledor. Apa hukuman bagi mereka yang tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik?" tanya Reymond pada mereka yang masih tersisa.
"Siap mati tuan," jawab mereka semua dengan serempak.
DOR
DOR
DOR
DOR
"Apa kau sedang bermain tembak kaleng dapet boneka, bagaimana bisa kau menghabisi mereka dengan sangat mudahnya," celetuk Calvin yang tak habis pikir dengan sikap bengis dan kejam Reymond.
"Kenapa mereka membohongimu? Jelas mereka tidak berada di sekitar rumah Livia saat taksi kuning itu datang," ujar Calvin yang heran dengan sikap pengawal Reymond.
Reymond hanya diam dan berpikir tentang siapa yang menculik wanitanya.
Ia juga tak percaya dibohongi oleh pengawalnya sendiri.
"Sepertinya ada seseorang yang ikut campur dalam hal ini," gumam Reymond yang tampak mencurigai orang terdekatnya.
__ADS_1