Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 2: Perkara ASI


__ADS_3

Glek


Livia menelan salivanya, karena kebodohan dirinya ia harus masuk ke dalam jurang yang lebih dalam.


Dengan cepat Livia beralih duduk di samping Reymond tepatnya di sofa.


"Baiklah, saya akan menemani anda duduk di sini sembari menunggu teman saya kembali," ujarnya sembari meraih gelas Reymond dan kembali meminum sisa alkoholnya yang tinggal sedikit.


Reymond hanya tersenyum tipis lalu memanggil pelayan untuk mengambil pesanan khusus untuknya.


Arka dan Gavin saling menatap lalu menatap Reymond yang kini menatap datar mereka berdua.


Mereka seakan sedang berbicara lewat kontak mata tanpa tahu apa maksudnya.


Pesanan datang, Reymond langsung membuka botol alkohol tersebut lalu menatap Livia.


"Apa?" tanya Livia tak paham dengan tatapan tersebut.


"Apa kau akan menemaniku dengan minum angin dan es batu?" Livia menatap gelasnya yang sudah kosong.


Ia dengan malu menyerahkan gelasnya pada Reymond.


"Tuan apa boleh saya pergi ke kamar mandi?" Reymond mengangguk sembari menyodorkan gelasnya pada Livia.


"Asal aku temani," Livia melotot tak percaya akan ucapan frontal Reymond.


Livia langsung merebut gelas tersebut dan kembali meminumnya sembari menatap arah lain demi mengalihkan rasa malunya.


Reymond tersenyum sekilas lalu menoleh kala Arka berdeham.


"Perasaan dari tadi kita udah jadi obat nyamuk tapi masih banyak aja nyamuknya," ujar Arka sembari pura- pura menggaruk lengannya dan perlahan beranjak dari tempat duduknya.


"Tetap di kursimu," sontak Arka kembali duduk sembari mendengus sebal.


"Anggap aja hanya ada kita berdua di sini," ujar Gavin yang diangguki oleh Arka.


"Tuan saya sudah tak tahan, saya ingin ke kamar mandi," ujarnya yang langsung berlari ke belakang membuat Reymond sedikit panik.


"Argh ****," umpatnya dan bergegas berlari untuk menyusul Livia.


Livia terlihat berlari ketakutan menyusuri lorong yang sangat remang tersebut.


Entah apa yang terjadi, Livia juga tidak tahu akan hal itu tapi ketika ia berciuman dengan Reymond tadi.


Livia seperti sedang bermimpi namun terasa sangat nyata.


Ia bisa melihat kesedihan Reymond dan rasa kesepian, tak hanya itu bahkan Livia bisa melihat Reymond tengah bertengkar dengan seseorang.


Sebenarnya apa yang terjadi?


"Apa meminum alkohol bisa membuat orang berimajinasi?" gumamnya sembari bersandar pada dinding dan memegangi kepalanya.


"Ya, contohnya sekarang ini. Apa kau akan kencing di parkiran? Jangan bilang jika kamu ingin melarikan diri? Sejak kapan toilet club pindah kesini?" ujar Reymond sembari mengatur napasnya yang tersengal- sengal akibat mengejar Livia.


Livia tak menjawab, ia memegangi kepalanya yang terasa berat dan gelenyar aneh pada dirinya.


"Hei, apa kau tidur?" tanya Reymond kala Livia tak berbalik menatapnya dan bersandar pada dinding.


Reymond memegang pundak Livia namun bersamaan dengan itu tubuh Livia merosot ke lantai.


"Kenapa kepalaku sangat berat sekali, kau beri apa kepalaku tuan," racau Livia sembari memegangi kepalanya kala Reymond hendak membantunya berdiri.


"Aku memberinya batu," jawabnya dengan ketus sembari mengangkat tubuh Livia.


Reymond menatap parkiran lalu beralih menatap Livia.


Jika Reymond membawa kembali masuk Livia pasti dia akan teler, lebih baik Reymond akan membawanya ke apartemennya.


"Kenapa rasanya seperti naik kereta, apa ini? Kenapa sangat keras sekali? Apa ini bisa digigit?" racau Livia sembari memegangi lengan kekar Reymond dan mencoba menggigitnya.


"Arghh," ringis Reymond geli bukan sakit kala Livia mencoba menggigit bahu kekarnya.


"Perempuan ini sangat meresahkan dan aneh kala mabuk," gumamnya sembari meminta pengawalnya untuk membuka mobilnya.


"Kenapa kalian membuka pintu belakang, buka pintu depan," ujarnya marah pada pengawalnya.


Mereka yang melihat hal itu sedikit merasa aneh juga takut.


Pasalnya setelah perceraian Reymond dengan Casley 1 tahun yang lalu membuat Reymond tak mengizinkan siapapun duduk di depan bersama dirinya.


Tapi malam ini Reymond membawa perempuan mabuk yang ia perbolehkan dengan leluasa untuk duduk di depan bersamanya.


"Mana kuncinya?" tanya Reymond sembari mengadahkan tangannya pada pengawalnya.


"Bagaimana jika saya saja tuan yang menyetir untuk anda, anda sedang di bawah pengaruh alkohol," ujar pengawalnya yang mencemaskan Reymond.


"Yaaa brengsek, cepat jalankan keretanya, aku akan telat ke pesta nanti," teriak Livia dari jendela mobil membuat semua pengawal dibuat terkejut dengan ucapan Livia barusan.


Reymond hanya menatap pengawal itu tanpa berkata dan pengawal itu tahu maksud tuannya.


Dengan cepat Reymond masuk ke dalam mobil lalu menutup jendelanya dan melajukannya menuju apartemen.


•••


Sesampainya di apartemen Reymond mengangkat tubuh Livia untuk masuk ke dalam.


Pengawal yang melihat Reymond tampak membopong seorang perempuan sontak bergegas membukakan pintu untuknya.


"Apa dia sudah tidur?" tanyanya kala pengawal sedikit berlari menuju pintu lift.


"Sudah tuan setelah kami buatkan susu tadi," Reymond hanya mengangguk.


Reymond masuk ke dalam lift dan membawa Livia menuju lantai atas.


Ting


Reymond langsung keluar dari lift dan masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Apa yang dia makan hingga tubuhnya begitu berat," gumamnya sembari membaringkan Livia di king sizenya.


Reymond lalu memeriksa keranjang bayi untuk melihat tuan putrinya.


Terlihat bayi yang baru berusia 3 bulan itu terlelap sangat pulas.


"Arghh panas," Reymond menoleh dan terlihat Livia sudah membuka resleting dressnya.


"Yaa apa yang kau lakukan?" gerutunya kesal sembari menghampiri Livia.


"Apa kau gila? Apa yang kau lakukan?" tanyanya sembari menarik kembali resleting itu hingga ke atas.


"Yaa brengsek, di mobil ini panas sekali," Reymond mengerutkan keningnya, ia baru ingat jika tadi ia meminta alkohol kadar tinggi.


Kemungkinan Livia tidak seperti dirinya yang mampu menahan rasa panas karena kadar alkohol yang sangat tinggi.


"Kau bukan sedang berada di mobil, sekarang tidurlah," ujar Reymond yang kembali membaringkan Livia di king sizenya.


Cup


Reymond mendelik kaget kala Livia menarik tengkuknya dan mencium bibirnya.


"Permen rasa apa ini? Apa ini jeli?" tanyanya sembari mencecap bibirnya beberapa kali.


Sedangkan Reymond seakan terpana dan terpaku akan bibir merah Livia saat ini.


"Apa kau suka rasa permen ini?" tanya Reymond pada Livia.


Livia yang mengalungkan tangannya pada leher Reymond kini hanya mengangguk dengan mata yang terpejam.


Reymond sontak ******* bibir Livia untuk kedua kalinya.


Jika tadi sangat pelan dan dalam kini terlihat liar dan sedikit rakus.


Reymond terlihat menarik kemejanya dengan sekali hentakan dan melemparkannya di lantai.


Sedangkan Livia seperti sedang menikmati bibir Reymond yang ia maksud sebagai permen tadi.


Perlahan tangan Reymond sudah berada pada punggung Livia dan menurunkan secara perlahan resleting tersebut.


Kini dress itu sudah sedikit menurun hingga bisa memperlihatkan pelindung benda kenyal tersebut berwarna hitam dan berendra.


Reymond kembali ******* bibir tipis Livia dengan satu tangan yang sibuk melepas pengait branya.


Kini sudah terlepas dan ciuman Reymond mulai turun ke leher jenjang Livia.


"Enghh," erang Livia kala Reymond menggigit lehernya.


Reymond semakin turun ke bawah hingga ia berada di depan benda kenyal yang sejak tadi ia tunggu.


Dengan sedikit tergesa Reymond melepas semua pakaiannya sendiri hingga tersiksa boxernya.


Reymond lantas melepas semua pakaian Livia dan menyisakan kain pelindung pada tempat sensitifnya.


Dengan pelan ia naik ke atas ranjang dan menindih tubuh yang hampir telanjang tersebut.


Reymond langsung memainkan dua benda kenyal itu dengan mulut serta tangannya.


Livia beberapa kali tampak membusungkan dadanya kala tangan kekar Reymond mempermainkan benda kenyalnya dengan meremas dan memilin.


Reymond hampir tersedak kala ia menghisap isi benda kenyal tersebut.


"Apa ia kelebihan hormon? Berapa usianya?" gumam Reymond sembari menatap wajah cantik Livia yang kini meremas spreinya.


Reymond tersenyum tipis kala ia bisa menemukan orang yang tepat untuk bisa memberikan asi pada tuan putrinya.


Reymond tampak kembali menghisap dan mempermainkan benda tersebut hingga ia merasa puas.


Bahkan kini leher Livia bagai disengat lebah, terlihat begitu banyak tanda merah di leher serta dadanya.


Dan jangan lupakan di area sekitar benda kenyalnya.


Reymond mengecup sekilas perut Livia hingga ia turun ke bawah.


Saat Reymond hendak melepas kain segitiga tersebut sesuatu membuat ia berdecak dan mengumpat keras.


"****," umpatnya sembari menatap Livia yang kini tampak memejamkan mata namun terus meracau.


"Apa dia selalu menyebalkan seperti ini?" gerutunya sembari turun dari atas tubuh Livia.


Ia memunguti semua pakaian yang tergeletak di lantai.


"Jika tahu dia sedang datang bulan, tahu gitu aku sudah meninggalkannya di sana tadi," dumelnya sembari memakai kembali celana panjangnya.


Livia kini malah beralih posisi menjadi miring ke kiri.


Reymond menelan salivanya kala ia bisa melihat punggung polos Livia.


"****, padahal aku sudah hampir sampai, tubuhmu sungguh meresahkan," dumelnya lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Livia hingga kepala lalu berjalan menuju kamar mandi untuk melampiaskan hasratnya yang tertunda karena Livia.


•••


Keesokan paginya Livia terbangun kala ia mendengar suara bayi.


"Sejak kapan ada bayi di rumahku," dumelnya sembari mempererat pelukannya pada Reymond.


Livia yang menyadari gulingnya terasa lebih besar dari biasanya sontak langsung membuka kedua matanya.


Hal pertama yang ia lihat adalah dada bidang yang sangat- sangat seksi.


Perlahan Livia mendongak dan terlihat Reymond masih memejamkan kedua matanya.


"ARGHHHHH," teriak Livia begitu lantang dan bergegas duduk bersandar di king size sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.


Reymond menutupi telinganya sembari mengerjapkan kedua matanya kala mendengar suara teriakan Livia.


Livia menunduk, terlihat dirinya sudah memakai kemeja putih milik Reymond.

__ADS_1


Ia lalu mencari di mana dressnya?


Reymond perlahan membuka matanya lalu menatap Livia yang terlihat duduk dan menatap tajam ke arahnya.


"Apa kau melahap toa? Bagaimana bisa suaramu begitu keras sekali hingga memekakkan telinga orang yang masih tidur," marahnya dengan sangat kesal pada Livia.


"Kenapa saya bisa kemari? Bukankah kemarin kita di club?" tanya Livia sembari melihat kanan kiri dan sekeliling kamar Reymond.


Reymond menoleh pada keranjang bayi kala putrinya menangis.


Livia menatap Reymond yang tampak menghampiri keranjang bayi dan membopong seorang bayi perempuan yang terlihat sangat cantik.


"Apa itu hasilnya?" Reymond menaikkan sebelah alisnya dengan pertanyaan ambigu Livia.


"Apanya?" tanya balik Reymond.


"Kita baru melakukannya semalam dan langsung keluar sebesar itu?" Reymond berjalan menghampiri Livia dan menyentil keningnya.


Tak


"Awww," ringisnya sembari mengusap keningnya.


"Ini putriku," Livia menatap terkejut Reymond.


Entah kenapa Queen terus menangis tanpa henti.


Livia yang memang sangat menyukai anak kecil sontak bertanya pada Reymond.


"Apa boleh saya membopongnya?" Reymond menatap Livia dengan ragu.


Lantas ia mengangguk dan memberikannya pada Livia.


"Badannya panas, bukankah ia sakit?" Reymond langsung memeriksa tubuh Queen.


Ya benar panas.


Reymond sontak menelpon pengawalnya untuk menjemput dokter kandungan yang biasa Casley panggil ke rumah.


"Di mana ibunya? Apa dia tidak menstock asi?" Reymond tampak membasahi bibirnya dengan tatapan yang tak lepas pada putrinya.


"Bagaimana bisa kau menanyakan hal itu setelah kita semalam tidur bersama?Aku sudah bercerai sejak 7 bulan lalu, ia pergi setelah melahirkannya," jawab Reymond membuat Livia merasa bersalah dengan menanyakan hal itu.


"Maaf saya tidak tahu," ucap Livia sembari menatap Queen.


"Jika aku masih beristri, aku tak yakin kau bisa tidur senyenyak kemarin malam sembari memelukku layaknya ayam goreng, kau pasti sudah dimandikan di kamar mandi," sindir Reymond yang mengingat semalam bagaimana Livia memeluknya sangat erat dengan mengatakan jika tubuh Reymond seperti ayam goreng.


Livia hanya menunduk menatap Queen yang sesekali menangis.


"Kenapa tidak anda buatkan susu selagi dokternya belum datang," Reymond hanya mengangguk lalu keluar dari dalam kamar untuk membuatkan susu.


Dan tak lama dokter datang bersama pembawal di belakangnya.


"Di mana tuan Reymond?" tanya pengawal itu.


"Kuminta untuk membuatkan susu," sontak pengawal itu langsung berlari menuju dapur membuat Livia dan dokter wanita di depannya saling menatap heran.


Dokter itu lalu memeriksa Queen bersamaan dengan itu Reymond kembali dengan dot bayi di tangannya.


"Ia masih berusia 3 bulan, apa asi anda tidak keluar dengan lancar?" tanya dokter pada Livia.


"Hehh?" kaget Livia membuat Reymond menggaruk tengkuknya.


"Tolong jangan kasih dia susu formula dulu, tolong sempatkan waktu anda untuk menyusuinya. Tubuhnya panas karena ia belum bisa mencerna susu formula tersebut," jelas sang dokter membuat Livia menatap tajam Reymond.


"Tapi saya...,"


"Jika asinya kurang lancar, tuan bisa membantu nyonya untuk hal itu," ujar sang dokter membuat Reymond melebarkan kedua matanya sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Saya?" dokter itu mengangguk.


"Ya dengan cara tuan menghisap lebih dulu payudara nyonya untuk memberikan pancingan agar bisa keluar, kebanyakan asi tidak keluar karena Bayi yang memiliki tongue tie yaitu gerakan lidah yang terbatas. Ini membuatnya tidak bisa menyusu atau menghisap ****** dengan baik dan benar. Risiko tongue tie akan membuat produksi ASI menurun karena frekuensi bayi menyusui menurun pula," jelas sang dokter panjang lebar.


"Tapi ini bukan anak saya," ujar Livia yang sudah menahan diri sejak tadi.


"Terus dari mana anak ini?" tanya dokter itu kebingungan.


"Itu anak saya," dokter itu lalu meminta maaf.


"Lalu apa anda pernah menyusuinya?" Livia menggelengkan kepalanya.


"Tapi asi dia sangat lancar," sontak Livia dan dokter wanita itu menoleh menatap Reymond dengan wajah yang bingung.


"Bu bukan maksud saya, saya melihat dia makan sayur- sayuran pasti dia memiliki produksi asi yang baik," dokter mengangguk setuju dengan ucapan Reymond sedangkan Livia memicingkan matanya pada Reymond.


Setelah itu dokter wanita itu pamit untuk pergi.


Kini hanya tinggal mereka berdua.


"Kita baru kenal semalam, kapan anda melihat saya makan sayur- sayuran? Club Daxton tidak menyediakan makan sayur- sayuran," Reymond terlihat sangat panik dan mengusap sekilas tengkuknya.


"Aku akan ke bawah selagi kamu mencoba menyusuinya," ujar Reymond yang bergegas keluar kamar dan menutup pintunya.


"Bodoh- bodoh, apa yang kukatakan tadi," ujarnya sembari memukuli bibirnya pelan.


Sedangkan itu Livia menatap Queen yang terlihat sangat cantik.


"Kasihan, dia ditinggalkan ketika baru dilahirkan," gumamnya sembari membuka tiga kancing kemeja paling atas.


Livia melebarkan kedua matanya kala melihat tanda merah pada dada serta benda kenyalnya.


"A- apa semalam dia melakukannya?" gumam Livia takut tapi juga merasa lega karena ia sedang berhalangan saat ini.


Jadi, sangat mustahil jika Reymond melakukannya.


Tapi tanda merah ini?


Livia menatap tajam dan garang pada pintu kamar yang tertutup tersebut.

__ADS_1


__ADS_2