Bayi Mafia

Bayi Mafia
BAB 5: Calrena


__ADS_3

Livia telah selesai menyusui dan kini Queen sudah terlelap dengan pulas.


Livia menggigit jari telunjuknya, ia sangat malu saat ini untuk keluar.


Bagaimana caranya ia menghadapi Reymond saat ini setelah Livia membuat kesalahan yang membuatnya ingin menghilang dari rumah Reymond.


Jika Livia tidak keluar sekarang, ia akan terjebak di dalam kamar Reymond sampai nanti.


Apalagi sekarang sudah pukul 9 malam.


Saat Livia hendak memegang knop pintu, pintu terbuka dari luar.


"Tu- tuan," kaget Livia membuat Reymond juga terkejut dengan hal itu.


"Apa dia sudah tidur?" Livia hanya mengangguk lalu Reymond menutup pintu kamarnya dan melihat putrinya di keranjang bayi.


Ia tersenyum setiap kali melihat tuan putrinya.


Reymond lalu menatap Livia yang kini terlihat menunduk dan tampak malu setelah melakukan hal tadi.


"Sudah malam? Bukankah sebaiknya kamu tetap di sini?" Livia menatap kaget Reymond.


"Sepertinya saya pulang saja tuan," ucapnya menolak tawaran Reymond.


Kringgg


Reymond menunjukkan pada Livia.


"Ibu kamu," ujarnya membuat Livia dibuat menganga akan hal itu.


Bagaimana bisa Reymond mendapatkan nomor telepon ibunya?


Pasti Prameswari yang memberikannya sendiri.


"Halo bu," sapa Rey sopan dan pelan.


"Apa Livia bersamamu nak?" Rey menatap Livia yang kini tampak penasaran dengan obrolannya.


"Ya bu," jawab Rey singkat.


"Ibu mau bepergian malam ini, apa boleh Livia menginap di sana dulu," Rey menahan bibirnya sekuat mungkin sembari melirik Livia.


"Tentu, kenapa tidak. Ibu tenang saja, saya akan menjaganya," perasaan Livia mendadak tidak enak kala mendengar ucapan Reymond.


Panggilan pun berakhir dan Livia langsung menghampiri Rey.


"Apa yang ibu katakan?" Rey menatap Livia dengan mata yang menelisik dalam.


"Katanya kamu diminta untuk menginap di sini," Livia melebarkan kedua matanya terkejut.


"Sungguh? Ibu mengatakan itu?" Rey hanya mengangguk pelan sembari berjalan menuju almari dengan bibir yang menahan senyumnya.


Livia langsung menghubungi Prameswari untuk memastikannya.


Rey yang tengah mengganti sprei dan selimut sesekali melirik Livia.


"Halo bu kenapa...,"


"Livia dengarkan ucapan ibu, pokok malam ini kamu harus tidur dengan Reymond, kalau bisa seranjang yaa, pokok malam ini kamu harus membuat malam yang indah bersamanya, kamu tahu?" Livia melihat sekilas Rey dan tersenyum palsu.


"Tapi ibu sangat merepotkan tuan Reymond karena memintaku menginap di sini," ujarnya untuk menutupi rasa malunya saat ini.


"Jangan sungkan- sungkan. Kamu harus bisa sekali dayung 2 pulau, pokok bersikap centilah agar Reymond tertarik padamu," Livia menahan mulutnya untuk tidak mengumpat saat ini.


"Ah baiklah ibu selamat malam," ucapnya yang memotong pembicaraan Prameswari dan segera menutup teleponnya sebelum ibunya itu berbicara lebih jauh lagi.


Reymond yang sudah selesai dengan acara mengganti spreinya sontak menatap Livia sembari berkacak pinggang.


"Bagaimana, apa kata ibumu?" tanya Rey membuat Livia membasahi bibirnya.


Livia menelan salivanya ia berusaha memberikan jawaban yang tepat.


"Seperti yang dikatakan pada tuan tadi," Reymond tersenyum sekilas.

__ADS_1


"Kalau begitu istirahatlah, jika kamu ingin mandi kamu bisa membersihkan diri lebih dulu, aku akan menunggu di luar," ujarnya lalu keluar kamar begitu saja.


Livia menghembuskan napas panjang sembari memegangi dadanya.


"Bagaimana bisa ibu mengatakan hal sefrontal itu, bukankah ia seharusnya takut karena putrinya akan bermalam dengan seorang pria? Tapi dia malah menyuruhku melakukan hal yang aneh- anhe," dumelnya sembari melepas tas selempangnya dan pergi ke kamar mandi.


Selang beberapa menit, Livia sudah duduk di sofa dan terlihat sudah selesai mandi.


Ceklek


Terlihat Reymond sudah tampak segar.


Apa dia selesai mandi?


"Kamu belum tidur?" tanya Reymond membuat Livia menggeleng dengan ragu.


"Saya tidur di mana?" tanya Livia kala Reymond malah menutup pintunya.


"Di sini, di mana lagi," ujarnya membuat Livia membelalakkan kedua matanya tak percaya.


"Di sini?" tanyanya sekali lagi untuk memastikan.


"Apa kamu tuli?" Livia dengan reflek menggelengkan kepalanya membuat Reymond mengangguk dan naik ke atas king sizenya.


Livia melihat sofa yang ia duduki, lumayan besar dan panjang.


Dengan ragu ia menghampiri Reymond di king size yang kini sudah berbaring sembari menatap ponselnya.


"Tuan bolehkah saya minta bantalnya?" Reymond menoleh sembari mengerutkan keningnya.


"Hanya bantal tidak untuk selimut, meski sofanya sangat empuk tapi saya tidak bisa tidur jika tidak memakai bantal," ujar Livia membuat Reymond menyipitkan tatapannya.


"Siapa yang menyuruhmu tidur di sofa?" tanyanya dengan dingin.


"Lal- lalu saya tidur di mana?" tanya Livia dengan gugup.


Reymond langsung menarik tangan Livia hingga ia terbaring di king size.


"Ehh," kaget Livia dan langsung terdiam kala wajahnya kini berdekatan dengan wajah Reymond.


Reymond langsung bangun dari atas tubuh Livia lalu menarik selimut untuk keduanya.


Livia menatap langit- langit kamar itu dengan perasaan yang sangat takut dan begitu gugup sembari meremas selimut yang menutupi dirinya sebatas dada.


Perlahan Livia menoleh ke samping dan terlihat Reymond sudah memejamkan kedua matanya.


Livia lalu mengambil guling yang berada di dekat kakinya lalu meletakkannya di tengah- tengah mereka sebagai pembatas.


Dengan sangat perlahan Livia mengubah posisinya menjadi membelakangi Reymond.


Wing


Bugh


Reymond meraih guling tersebut dan membuangnya ke lantai lalu menarik tubuh Livia untuk merapat dengannya.


"Ehh tuan," kaget Livia kala Reymond memeluknya dari belakang.


"Diam dan tidurlah," ujarnya membuat Livia merasa geli saat ini karena hembusan napas Reymond yang terasa pada tengkuk belakangnya.


Livia berusaha memejamkan matanya saat ini tapi sangat sulit sekali.


"Tidurlah Livia, sebelum aku berubah pikiran," gumam Reymond dari belakang dengan suara seraknya.


Livia yang takut sontak langsung memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.


Reymond membuka perlahan kedua matanya dan terlihat napas Livia tampak teratur dan tenang.


Itu artinya ia sudah tidur.


Reymond merapatkan selimutnya pada tubuh Livia lalu ia mengecup sekilas tengkuknya.


Reymond memeluknya dengan sangat erat sembari menyembunyikan wajahnya pada tengkuk Livia untuk menghirup aroma tubuh wanitanya.

__ADS_1


•••


Monds Club


Terdapat Calvin yang kini sedang menikmati rokok di tangannya sembari menatap para wanita yang tengah berjoget ria.


Dan tak lama dari itu ada dua wanita yang langsung duduk di samping kanan kiri Calvin.


"Kamu sendiri aja? Udah punya istri belum?" tanya wanita sebelah kiri sembari membelai wajah Calvin.


"Jika belum apa kamu mau menjadi istriku?" Wanita itu tampak tersipu malu.


"Pacar juga belum punya?" tanya wanita sebelah kanan untum memastikan jika Calvin memang masing single.


Calvin menggelengkan kepalanya membuat dua wanita itu langsung memuaskannya.


Di sisi lain, ada Irena yang memasuki club sembari melihat kanan kiri untuk mencari seseorang.


Hingga ia menyipitkan tatapannya kala melihat seseorang yang ia kenal.


Dengan dada yang bergemuruh, Irena melangkahkan kakinya menghampiri Calvin.


Terlihat Calvin begitu menikmati permainan dua wanita di sampingnya saat ini.


"PERGI KALIAN!" bentaknya pada dua wanita itu membuat Calvin yang begitu menikmati kocokan wanita sebelah kiri kini mengangkat kepalanya.


"Apa kalian tuli?" bentaknya pada mereka berdua membuat Calvin berdecak dan terpaksa memasukkan miliknya kembali diiringi dengan umpatan.


Calvin lalu menyuruh mereka untuk pergi.


Irena menatal botol alkohol di atas meja.


Sangat banyak sekali.


Irena langsung duduk di samping Calvin.


"Kau sangat menikmati permainan mereka?" Calvin menatap datar dan dingin Irena.


"Jika iya memang kenapa? Kau juga ingin merasakannya?" tawarnya membuat Irena menatap lekat Calvin.


Irena melepaskan tas selempangnya lalu membuka dua kancing kemeja paling atas.


"Aku juga bisa melakukannya, jadi jangan cari kepuasan pada wanita lain," ujarnya sembari membuka kembali kancing celana Calvin.


Bugh


Calvin mendorong Irena hingga ia terhempas di sofa dan kembali mengancingkan celananya.


"Aku tidak sudi disentuh olehmu," ujarnya lalu pergi begitu saja meninggalkan Irena.


Irena dengan cepat menyambar tasnya dan pergi menyusul Calvin.


"Calvin," teriaknya di parkiran namun tidak dipedulikan sama sekali oleh Calvin.


Brak


Irena menutup pintu mobil Calvin membuat ia mendengus sebal.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanyanya membuat Calvin berkacak pinggang sembari menatap arah lain.


"Calvin kamu denger enggak sih?" marah Irena membuat Calvin menatap Irena tajam.


"Bisa enggak sih jangan ganggu kesenangan orang, cari kesibukanmu sendiri sana," ucapnya dengan tegas membuat Irena seakan berusaha untuk tidak menangis saat ini karena ucapan Calvin.


"Aku sudah melakukan kesibukanku, apa aku salah jika ingin memperhatikanmu?" tanya Irena membuat Calvin menyugar rambutnya ke belakang.


"Udah ya, aku lagi penat dan lelah hari ini. Jangan ganggu aku," ujarnya hendak membuka pintu namun Irena kembali menutupnya.


"Aku akan mengemudi untukmu. Kau sedang di bawah pengaruh alkohol," ujar Irena cemas membuat Calvin mendorongnya ke samping.


"Seenggaknya aku masih sadar dan bisa mengemudi sendiri," ujarnya lalu masuk ke dalam mobil.


Calvin pergi begitu saja meninggalkan Irena di basement parkiran.

__ADS_1


Irena menyugar rambutnya ke belakang sembari mendongakkan kepalanya agar cairan bening itu tidak lagi jatuh.


__ADS_2