
Sedangkan di tempat lain ada Livia yang sedang diikat di kursi dengan mata yang tertutup.
Perlahan ia sadar dari obat bius yang diberikan padanya tadi.
"Kau sadar?" tanya perempuan yang duduk di depannya membuat Livia berusaha menunduk ke kanan kirinya karena matanya yang tertutup oleh kain hitam.
"Kau takut sekarang?" tanyanya sembari menyalakan pematik rokoknya.
"Siapa kamu? Kenapa kamu melakukan ini?" teriak Livia membuat suaranya bergema.
Perempuan itu berdiri dan menghampiri Livia.
"Wajahmu dibawah standar, kau hanya perempuan biasa dan tak juga kaya. Bagaimana bisa kau menarik perhatian Reymond," ujarnya sembari mencengkeram begitu kuat rahang pipi Livia.
Livia tampak berdecih membuat sosok di depannya sedikit emosi akan hal itu.
"Kau tertawa sekarang?" tanyanya pada Livia.
"Kenapa? Kau tidak bisa mendapatkan Reymond dengan wajahmu yang cantik dan hartamu yang melimpah itu? Menjijikkan sekali," ledek Livia membuat cengkraman di rahang pipinya semakin kuat.
"Kau akan menyesali ucapanmu hari ini," peringatinya di telinga Livia.
Sedangkan Livia kini ketakutan sendiri kala dirinya bersentuhan dengan sosok di depannya namun ia berusaha keras menahan rasa takut itu dengan bersikap santai.
Siapa orang di depannya ini?
"Kau ingin mendengar sesuatu?" tanyanya pada Livia.
Perempuan itu tampak merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya.
"Tolongggg," Livia terkejut dengan suara ibunya.
"Apa ada orang di luar?" teriak Deo dengan suara yang keras.
"Kau pasti mengenalikan suara siapa itu?" tanyanya sembari mematikan rekamannya.
"Jangan sentuh mereka berdua," peringati Livia pada perempuan di depannya.
Perempuan itu tampak tertawa keras.
"Kenapa, kau ketakutan sekarang?" tanyanya pada Livia.
"Caramu sungguh murahan sekali, kau tidak bisa mendapatkan Reymond dan melukai orang terdekatku," ujarnya dengan tegas.
Perempuan itu tampak tersulut emosinya hingga ia melayangkan tamparan keras pada pipi kanan Livia.
Plak
Plak
Plak
Ya, tamparan itu tak hanya sekali namun tiga kali.
Terdengar suara ngos- ngosan dari perempuan itu setelah menampar pipi Livia.
Ia tampak puas dan lega.
"Jangan memancing emosiku, aku bisa dengan mudah menghabisimu semauku," ujarnya sembari menginjak rokoknya.
Livia merasa panas dengan tamparan di pipinya.
"Lepaskan mereka dan bunuh aku saja. Dengan begitu Reymond milikmu," ujar Livia singkat namun terdengar tegas.
Perempuan itu menatap nyalang dan tajam Livia.
Bukan psikopat namanya jika benda tajam tidak selalu ia bawa.
__ADS_1
Ia mengeluarkan pisau kecil andalannya.
"Tidak semudah itu sayang, siapapun yang telah mengusik milikku, harus habis rata," ujarnya sembari menggoreskan ujung pisau pada lengan Livia.
"Akh," ringis Livia kala ia merasa perih pada lengannya.
Ya perempuan itu memang menggores lengan Livia.
Tidak, ia bahkan tengah melukis lengan Livia dengan darah yang bercucuran keluar tersebut.
"Apa kau seorang iblis, kau bahkan tak mempunyai hati nurani," ujar Livia sembari sesekali merintih kesakitan kala lengannya terasa perih.
"Memang psikopat mana yang memiliki hati nurani," ucapnya sembari melemparkan pisau kecilnya ke sembarang arah.
Livia tersenyum kecut mendengar hal itu.
"Lihatlah, kau bahkan mengakui jika dirimu seorang psikopat," gumamnya membuat perempuan itu terkekeh.
"Tentu. Seorang bajingan mana mungkin berdusta," Livia tertawa mendengar hal itu.
"Hentikan tawamu pikirkan ibu dan adikmu, kurasa itu hal yang baik," ujarnya sembari menatap tali rotan yang ia pegang.
Livia sedikit tersentak kaget kala dirinya ditarik paksa dari kursi.
Brugh
"Arghh," ringis Livia kala perempuan itu mendorong Livia hingga terjerembab di lantai.
"Aku akan memberimu pelajaran kecil selagi kamu berpikir untuk memutuskan apa yang harus kamu lakukan," ujarnya sembari menatap gemas pada tali yang ia pegang.
Cetes
"Arghh," teriak Livia kesakitan kala tali rotan itu menyentuh kulitnya.
"Jangan hanya berteriak, cepat pikirkan apa yang harus kamu lakukan agar cambukannya berhenti," ujarnya yang kembali mencambuki Livia dengan begitu teganya.
Kini tubuh Livia sudah memerah dan tampak memar di mana- mana.
Hingga Livia yang sudah tak tahan mulai membuka suara.
"Baik, aku akan menjauhi Reymond," cambukan yang terhitung sebanyak 20 kali itu berhenti kala Livia membuka suara.
"Tidak ada jaminan untuk aku bisa percaya dengan ucapanmu," ujarnya yang kembali mencambuk Livia.
"Kamu pikir aku sudi dekat dengan Reymond. Tidak! Jika bukan karena kesalahan malam itu, aku sudah lari jauh dengannya," bentak Livia dengan keras yang mampu membuat perempuan itu terhenti kala mendengar teriakan Livia.
"Akh," ringis Livia kesakitan kala perutnya diinjak dengan sepatu boots.
"Jangan berteriak padaku," tekannya sembari menginjak kuat perut Livia.
Perempuan itu tampak berjongkok di samping Livia.
"Yang kuinginkan bukan kau harus menjauhi Reymond," ujarnya yang di luar nalar Livia.
"Lantas kenapa kau melakukan ini padaku," bentak Livia kesal membuat perempuan itu menampar pipinya.
Plak
"Kau hanya diperbolehkan untuk menjawab bukan untuk bertanya padaku, kau paham?" Livia hanya diam tak merespon.
"Yang harus kau lakukan untukku adalah," perempuan itu menjeda ucapannya membuat Livia menunggu dengan napas yang terdengar lemah.
"Temukan siapa dalang dibalik pembunuhan di keluarga Dominique," lanjutnya membuat Livia seakan bertanya- tanya apa maksud dari ucapan perempuan tersebut.
•••
Sedangkan di markas Reymond kini tampak begitu menegangkan kala bos mafia tampan nan rupawan itu tengah serius.
__ADS_1
"Cepat katakan padaku, di mana kau bawa wanitaku?" tanyanya pada Freya.
"Sungguh aku mengatakan jujur padamu Rey, aku tidak tahu," jawaban yang sama untuk pertanyaan yang kesekian kalinya.
Brak
Freya terjengkit kaget kala Reymond menggebrak meja di depannya.
Reymond duduk di atas meja dan menatap tajam dengan mata yang memerah pada Freya.
"Bukankah aku bersamamu sejak tadi? Bagaimana bisa kamu menuduhku menculik Livia, bagaimana jika dia sebenarnya sedang bersembunyi darimu bukan di culik?" ujarnya dengan nada yang tak ingin disalahkan.
Freya kini sudah menangis membuat Reymond semakin muak.
"Bagaimana jika anak buah papamu yang menculiknya?" tebak Reymond dengan suara yang ditekan dan otot leher yang terlihat jelas membuat suasana semakin mencekam.
"Mana mungkin, aku belum memberitahu papa soal tunangan kita," bantah Freya yang kini berhenti menangis.
"Rey," panggil Calvin membuat Freya menoleh dan introgasi terhenti sejenak.
"Kenapa suruh kita kumpul di sini? Apa ada sesuatu?" tanya Magenta yang datang bersama Calvin.
Reymond menatap tajam Freya lalu beranjak dari atas meja.
"Wanitaku hilang, cari dia sampai ketemu malam ini," perintahnya pada kedua sahabatnya.
"Tunggu. Wanitamu? Hilang? Wanita yang mana?" tanya Magenta dengan wajah yang terlihat meledek.
"Mantan istrimu kan udah lama ngilang," gurau Calvin sembari menatap sekilas Freya.
Reymond menatap tajam Magenta lalu menghembuskan napas kasarnya.
"Kenapa aku memanggil mereka kemari saat aku bisa mencarinya sendiri tadi," gerutunya sembari mengusap gusar wajahnya.
Reymond yang merasa putus asa dengan ledekan kedua temannya sontak memberitahukan foto Livia yang ia ambil secara diam- diam kala mereka tidur bersama malam itu sepulang dari club.
"Nih lihat baik- baik wajahnya, jangan lihat ke arah lain," peringati Reymond sembari menyodorkan ponselnya dengan rasa ragu karena kedua temannya yang mata keranjang apalagi tubuh Livia saat itu hanya terbalut selimut.
Calvin dan Magenta saling menatap satu sama lain dan beberapa kali menatap foto Livia.
"Tunggu, ini wanita yang mana lagi? Kenapa kita enggak tahu?" tanya Calvin yang sedikit membongkar rahasia playboy Reymond.
"Kenapa kau tidak memberitahuku jika ia secantik ini," puji Magenta dengan wajah yang berbinar kala melihat foto Livia.
Reymond merebut paksa ponselnya dan menatap garang kedua temannya.
"Dia milikku. Jangan terbesit pikiran untuk merebutnya dariku!" peringatinya dengan tegas tanpa memedulikan Freya yang masih di sana.
Spontan Magenta dan Calvin melirik Freya membuat Reymond memicingkan kedua matanya pada mereka.
"Ibunya juga diculik dan hanya tersisa sahabatnya. Aku sudah memerintahkan para pengawal untuk mencari dan berjaga di rumahnya," ujarnya sembari menatap kedua temannya.
"Apa kamu yakin dia diculik?" tanya Calvin yang kini mode serius.
Reymond hanya mengangguk lalu menunjukkan rekaman CCTV yang ia salin di ponselnya.
"Aku akan lacak plat mobilnya," ujar Magenta yang kini langsung bergerak cepat.
Reymond senang dan lega kala kedua temannya bisa ia andalkan dan bergerak cepat.
Namun terkadang ia jengkel kala mendengar ledekan mereka berdua.
"Tuan tuan," teriak anak buahnya dari luar.
"Ada apa?" tanyanya dengan penuh penekanan dan mata yang tajam.
"Nona sudah pulang bersama dengan adik dan ibunya," lapornya membuat Reymond tampak terkejut dan berbinar secara bersamaan.
__ADS_1
Dengan cepat ia berlari untuk menuju rumah Livia diikuti Calvin di belakangnya.
"Yaaa bangsat tungguin," teriak Magenta yang langsung lari kala Reymond dan Calvin meninggalkannya sendiri di markas.