
Di saat Julian menciumnya, Dea hanya diam dan membiarkan tunangannya itu melakukan keinginannya. Setelah puas menikmati bibir mungil itu, Julian kembali tersenyum ketika menatap kedua bola mata nan indah milik Dea.
Namun, beberapa detik berikutnya, ekspresi wajah lelaki itu tiba-tiba berubah setelah menyadari ada sesuatu yang aneh di kedua sudut bibir Dea. Ia menyentuh sudut bibir Dea yang terlihat agak membiru tersebut dengan lembut.
"Apa yang terjadi padamu? Siapa yang sudah melakukan ini? Apa ini perbuatan Mbak Susi?" tanya Julian, sambil menatap lekat kedua netra gadis itu.
Dea menggeleng pelan. "Bu-bukan, Mas. Sebenarnya yang melakukan hal ini adalah Kak Herman karena dia kesal dan marah padaku," lirih Dea sambil menundukkan kepalanya.
Julian menautkan kedua alisnya heran. Ini pertama kalinya Herman melakukan kekerasan terhadap Dea. Padahal sebelumnya Julian tahu bahwa Herman tidak pernah berbuat kasar kepada adik perempuannya tersebut.
"Dea, apa ini ada hubungannya dengan malam itu? Jika itu benar, itu artinya ini semua adalah kesalahanku. Seharusnya aku tidak memintamu datang," lirih Julian sembari meraih wajah Dea yang tertunduk.
Dea sempat terdiam sejenak. Tidak mungkin ia berkata jujur soal kejadian memilukan itu kepada Julian untuk saat ini. Bisa-bisa Susi mengamuk lagi kepadanya. Dengan terpaksa Dea pun menganggukkan kepalanya.
"Ya, ini soal permintaanku kepada Kak Susi. Kak Susi tidak mengizinkan aku menemuimu malam itu. Namun, aku bersikeras dan akhirnya Kak Herman pun ikut kesal kemudian refleks memukulku," sahut Dea bohong.
Julian menghela napas berat dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Maafkan aku, Dea. Seharusnya aku tidak meminta hal yang aneh-aneh kepadamu. Seandainya aku tidak memintamu menemuiku malam itu, mungkin kamu akan baik-baik saja."
"Ingin sekali rasanya pernikahan ini dipercepat, agar aku bisa membawamu pergi dari rumah itu. Kita akan bahagia di sini. Aku, kamu dan anak-anak kita nantinya. Tidak ada lagi Susi Si Pemarah, tidak ada lagi Virna Si Pengadu domba. Hanya kita dan kita," tutur Julian sambil mengelus lembut puncak kepala Dea yang kini bersandar di dada bidangnya.
Untuk sesaat Dea dapat melupakan beban beratnya. Pelukan hangat Julian saat itu membuatnya merasa aman dan nyaman. Dea ingin terus seperti itu, walaupun ia tahu hal itu rasanya sangat tidak mungkin.
__ADS_1
Tak terasa, sore pun menjelang. Dea bersiap-siap kembali ke kediaman kakaknya. Sementara Julian berniat mengantarkan gadis itu kembali. Setelah membersihkan tubuhnya di kamar mandi yang baru ia bangun, Julian pun segera mengajak Dea untuk pergi bersamanya.
"Mari," ajak Julian sembari mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu.
Dea segera meraih tangan Julian kemudian mereka pun berjalan bersama sambil bergandengan tangan. Beberapa kali Julian melirik Dea yang tengah berjalan di sampingnya. Ia heran karena gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Jika biasanya Dea selalu tampak riang gembira, tetapi kali ini tidak. Gadis itu lebih banyak diam dan selalu terlihat murung.
"Dea, kamu beneran baik-baik saja, 'kan?" tanya Julian penuh selidik.
"Ya, aku baik-baik saja, Mas," sahut Dea dengan lirih.
"Syukurlah kalau begitu. Entah kenapa aku begitu mengkhawatirkan keadaanmu, Dea. Aku takut terjadi sesuatu padamu," balas Julian.
Dea hanya bisa tersenyum getir kemudian kembali fokus pada langkahnya.
"Selamat sore, Mbak," sapa Julian kepada Susi yang sempat melirik ke arahnya dengan ekspresi malas.
"Bagaimana rumah kalian? Sudah rampung semua?" tanya Susi, berbasa-basi.
"Tinggal sedikit lagi, Mbak. Masih ada ruangan yang harus dirapikan sebelum kami menempatinya," jawab Julian dengan mantap.
Melihat Susi yang sibuk merapikan jemuran ikannya, Dea pun tidak tinggal diam. Ia segera menghampiri Susi dan membantunya memasukkan semua ikan-ikan tersebut ke dalam rumah mereka.
__ADS_1
Setelah pekerjaannya ditangani oleh Dea, sekarang Susi berdiri di hadapan Julian sambil menatapnya lekat.
"Heh, Julian! Kenapa acara pernikahan kalian tidak dipercepat saja? Dari pada seperti ini," ucap Susi.
Julian tersenyum tipis mendengar ucapan wanita itu. "Sebenarnya aku juga menginginkan hal itu, Mbak Susi. Tapi, mau bagaimana lagi? Semuanya sudah diatur, lagi pula pernikahan kami tinggal dua minggu lagi, 'kan?" sahut Julian.
Dea yang baru menyelesaikan pekerjaannya, kembali menghampiri Susi dan Julian yang masih berdiri di depan teras rumah Susi. Melihat Dea yang datang mendekat, Susi pun segera meminta Julian untuk pulang.
"Sebaiknya kamu pulang, Julian. Lagi pula ini sudah hampir gelap," ucap Susi sambil melirik Dea dengan wajah masam.
"Baik, Mbak. Aku pamit dulu." Julian pun segera meninggalkan tempat itu dan melangkah menuju kediaman kedua orang tuanya.
Setelah Julian pergi, Susi mendorong tubuh Dea agar segera masuk ke rumahnya. "Aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan kalian. Biar semuanya beres! Dan semoga saja tidak akan muncul masalah baru. Hih, amit-amit," ketus nya.
"Masalah baru? Maksud Kakak apa?" Dea tersentak kaget dan ia bingung apa maksud Susi berkata seperti itu kepadanya.
"Ya, aku harap kamu tidak akan hamil anak lelaki bajungan itu. Bisa saja 'kan hal itu terjadi. Apa kamu tidak pernah dengar berita yang sering terlihat di tivi-tivi? Seorang gadis hamil setelah diperkosa," jawab Susi tanpa memikirkan bagaimana perasaan Dea saat itu.
"Kakak! Kenapa Kakak bicara seperti itu?" Mata Dea berkaca-kaca dan hatinya seakan kembali diobrak-abrik.
"Aku cuma mengingatkanmu, dasar gadis bddoh!" gerutu Susi.
__ADS_1
...***...