Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 83


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Kamu yakin tidak mau ikut ke acara pernikahan Julian, Dea?" tanya Susi sekali lagi untuk memastikan.


Dea menggelengkan kepalanya dengan mantap. "Tidak, Kak."


"Ya, sudah kalau begitu."


Susi pun melenggang pergi dan meninggalkan Dea yang masih terdiam di sofa ruang depan. Wanita itu melenggang dengan penampilan yang begitu modis. Ia mengenakan dress mahal, satu set perhiasan emas dan sebuah tas jinjing yang melingkar di pergelangan tangannya. Tak lupa high heels mahal yang ia beli beberapa hari yang lalu.


Hari ini adalah hari pernikahan Julian dan Reva. Pernikahan itu digelar dengan sangat meriah. Melebihi meriahnya acara pernikahan Julian dan Dea dahulu. Suara lantunan nada dan musik bahkan terdengar jelas hingga ke kediaman Susi.


Seluruh warga desa Muara Asri begitu antusias berhadir ke pesta itu. Selain untuk melihat kemeriahan pesta pernikahan Julian, mereka pun ingin menikmati berbagai macam hiburan yang sengaja disuguhkan oleh keluarga besar dari pihak mempelai. Belum lagi berbagai macam hidangan yang tersaji di atas meja saji. Mereka bisa memilih dan mengambil hidangan itu sesuka hati.


***


Tak terasa sore pun menjelang. Acara pernikahan meriah itu akhirnya selesai sudah. Jika pasangan pengantin baru tersebut ingin beristirahat untuk melepaskan rasa penat mereka. Namun, berbeda dengan pemain musik di luar sana. Hiburan tersebut masih tetap berlanjut bahkan hingga tiga hari ke depan.


"Apa kamu lelah, Sayang?" Julian menghampiri istri barunya, Reva. Wanita itu tengah duduk di meja rias sembari melepaskan beberapa aksesoris yang tertancap di kepalanya.

__ADS_1


Reva tersenyum manis sambil menatap bayangan Julian di dalam cermin. "Iya, Mas. Aku sangat lelah. Rasanya tubuhku baru saja digebukin oleh seluruh warga desa," celetuknya.


Julian tertawa pelan kemudian kembali melabuhkan ciuman hangat di atas puncak kepala Reva. "Hari ini kamu terlihat cantik sekali, Reva."


"Tentu saja dong, Mas. Siapa dulu, Reva!" ucap wanita itu dengan kepala terangkat.


Julian membantu Reva melepaskan berbagai aksesoris yang masih menempel di kepala istrinya itu. Sesekali Julian menggoda Reva dengan mencium pundak serta tengkuknya.


"Ih, Mas! Geli," pekik Reva sambil bergidik manja.


"Geli? Bagaimana dengan ini?"


Julian menghentikan aksinya. Ia tersenyum melihat posisi Reva yang terlihat begitu menantang.


"Kamu sudah siap 'kan, Sayang?" tanya Julian dengan tatapan penuh hasrat menatap Reva.


Julian menyingkap gaun pengantin yang masih dikenakan oleh Reva hingga sebatas perut. Kini paha mulus milik Reva terpampang jelas di depan mata lelaki itu. Julian mulai menggerayangi paha putih mulus Reva hingga ke pangkalnya membuat Reva mendesahh dengan manja.


"Ehmmm ... ya, Mas. Aku siap!" jawabnya dengan sangat yakin.

__ADS_1


Julian melepaskan gaun pengantin yang melekat di tubuh Reva kemudian melemparnya ke samping tempat tidur. Kini tinggal braa serta cd bermanik yang masih menempel untuk menutupi area pribadi milik wanita itu.


Julian mulai melakukan pemanasan. Ia melepaskan braa serta cd yang masih melekat di tubuh Reva sembari menciumi setiap inci bagian tubuh wanita itu dengan penuh nafsuu. Tubuh polos Reva membuat Julian semakin bersemangat.


Ia bangkit dari posisinya dengan napas yang sudah memburu. Lelaki itu sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh Reva yang kini terlihat sangat menantang. Apa lagi wanita itu mulai bergelinjangg manja sambil memainkan miliknya yang sudah basah.


Kini baik tubuh keduanya sudah polos. Julian menghampiri Reva dan membenarkan posisinya. Julian menaiki tubuh Reva kemudian berbisik di samping telinganya.


"Sayang, mungkin kali ini akan terasa menyakitkan, tapi kamu tidak usah khawatir. Aku berjanji akan melakukannya dengan lembut. Jadi, tahan sedikit, ya."


Tiba-tiba Reva terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar penuturan dari Julian barusan. Namun, itu hanya sebentar saja. Reva tidak ingin ambil pusing dan ingin tetap fokus pada permainan perdananya bersama lelaki itu.


Julian menggesekkan bagian ujung benda panjang itu ke area pribadi milik Reva yang sudah basah, kemudian mendorongnya dengan perlahan. Julian sempat bingung kenapa permainannya terasa mulus dan tanpa hambatan. Tidak seperti yang dibicarakan oleh teman-temannya bahwa malam pertama itu penuh dengan drama.


Begitu pula Reva. Wanita itu sama sekali tidak meringis kesakitan ataupun menitikkan air mata, seperti cerita orang-orang kebanyakkan. Malah sebaliknya, Reva mendesis keenakan sambil menggigit bibir bawahnya.


"Akh ... nikmat, Mas!" ujar Reva dengan mata terpejam.


***

__ADS_1


__ADS_2