
"Ya, aku setuju! Bagaimana denganmu?" tanya Ervan kepada Arman. Ternyata otak ketiganya sudah dikuasai oleh hasrat, hingga tak lagi memikirkan bagaimana nasib wanita itu jika mereka benar-benar melakukannya.
"Sebaiknya kita sembunyi sebelum dia menyadari keberadaan kita. Aku tidak ingin keberadaan kita malah menakutinya dan kabur," titah Alfa kepada kedua sahabatnya.
"Ya, kamu benar! Sebaiknya cepat!" sambung Ervan.
Ketiga sahabat yang sudah tidak bisa berpikir dengan jernih itu bergegas sembunyi di samping tenda mereka sambil sesekali mengintip wanita itu.
"Bagaimana? Dia tidak kabur, 'kan?" tanya Alfa kepada salah Ervan yang masih mengintip ke arah wanita itu.
Ervan menganggukkan kepalanya. "Ya, dia sudah dekat. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk menyergap wanita itu," sahut Ervan mantap.
"Baiklah!" Alfa dan Arman pun bersiap untuk menyergap wanita itu.
"Sebentar!" Ervan kembali bicara. Ia memperhatikan wanita itu dengan seksama. "Sepertinya dia ragu lewat jalan ini. Dia berhenti dan memperhatikan tenda kita," lanjut Ervan dengan setengah berbisik.
"Kurang ajar! Apa perlu kita kejar saja dia?" ucap Arman kemudian.
"Jangan dulu, kita lihat apa yang akan dia lakukan." Ervan masih memperhatikan wanita itu sementara Alfa dan Arman menunggu perintah selanjutnya dari lelaki itu.
Setelah beberapa detik berikutnya, akhirnya wanita itu kembali melanjutkan langkahnya. Melewati tenda Alfa dan kawan-kawan, ya walaupun terlihat jelas bahwa ia ragu dengan keputusannya saat itu.
__ADS_1
"Dia datang! Dia datang!" seru Ervan yang kemudian bersiap untuk menyergap wanita itu. Dan ketika wanita itu tengah berdiri tepat di hadapan tenda mereka, ketiga lelaki itu pun segera melompat dan kini berdiri di berbagai sisi wanita itu.
POV DEA
Wanita itu, dia adalah seorang gadis yatim piatu yang baru berusia 19 tahun. Namanya Dea, dia tinggal tak jauh dari tempat Alfa dan teman-temannya memasang tenda.
Gadis itu sempat terdiam dan memperhatikan tenda milik Alfa bersama teman-temannya tersebut. Ia jadi ragu melewati tempat itu, tetapi karena sudah tidak memiliki jalan alternatif lain, Dea pun terpaksa melanjutkan langkahnya walaupun saat itu hatinya tengah berdebar dengan sangat kencang.
"Tenda siapa itu? Apa mungkin mereka orang pendatang?" gumam Dea. "Ah, semoga saja mereka orang baik," lanjutnya.
Dengan lutut yang bergetar, Dea mencoba melewati tenda tersebut. Namun, apa yang dikhawatirkan oleh gadis itu menjadi kenyataan.
Tiba-tiba tiga orang laki-laki tak dikenal muncul dari balik tenda. Ketiga lelaki itu menyeringai menatap dirinya seolah ingin memangsanya hidup-hidup.
"Wah, kita beruntung sekali, Alfa! Ternyata dia masih sangat muda," ucap Ervan sembari menghampiri Dea dengan lebih dekat lagi. Gadis itu sontak menoleh kepada lelaki yang dipanggil Alfa tersebut.
"Kamu benar!" sahut Alfa yang juga sudah tidak sabar ingin menyentuh tubuh gadis itu.
"Semoga saja dia masih perawan, ya!" sambung Arman sambil menelan salivanya.
"Ya, dan kalau itu benar. Berarti kita benar-benar beruntung! Sekarang ini susah mencari gadis yang benar-benar masih perawan di kota besar," sambung Alfa sambil ikut menyeringai.
__ADS_1
Mendengar percakapan ketiga lelaki itu, Dea tahu bahwasanya mereka memiliki niat buruk terhadapnya. Ia mencoba kabur dari tempat itu dengan berbalik dan berniat kembali ke kediamannya.
Namun, sayangnya ketiga lelaki itu berhasil menangkap kedua tangannya dan membuat Dea tidak berdaya. Gadis itu menjerit dan meminta pertolongan kepada siapapun yang dapat mendengar teriakannya saat itu.
"Tolong!" jerit Dea.
Mendengar Dea menjerit, Alfa refleks menutup mulut gadis itu dengan tangannya. Namun, naas tangan Alfa malah digigit dengan keras oleh gadis itu dan membuatnya memekik kesakitan.
"Dasar gadis sialan!" umpat Alfa sambil menahan sakit.
Melihat hal itu, Ervan sontak melepaskan kemejanya kemudian menyumpalkannya ke mulut Dea. Dea menagis lirih dan dengan air mata yang bercucuran, gadis itu meminta dilepaskan dengan bahasa isyarat.
Namun, bukannya iba, Ervan dan Arman malah semakin bersemangat mengerjai gadis yatim piatu tersebut. "Tidak akan lama, kok, Sayang. Hanya sebentar saja, setelah beres kami berjanji akan melepaskanmu," ucap Ervan.
Baru saja Ervan menyentuh kancing kemeja non formal yang sedang digunakan oleh Dea, Ervan mendapat serangan kecil dari gadis itu. Dea menendang bagian sensitif Ervan yang sejak tadi sudah siap menuju persemayamannya.
Ervan terjengkang ke pasir dengan posisi meringkuk. Sementara tangannya memegang erat benda sensitifnya itu. Terdengar suara rintihan Ervan di bawah sana, sementara Dea mencoba betontak dari cengkraman Arman.
"Dasar gadis sialan! Kali ini aku tidak akan pernah mengampunimu!" kesal Ervan, dengan tertatih-tatih bangkit dari posisinya. Ia menatap Dea lekat dengan tatapan penuh kebencian. "Rasakan ini!"
Plakkk!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Dea dan membuat gadis itu jatuh tersungkur. Melihat kesempatan itu, ketiga lelaki itu pun tidak menyia-nyiakannya.
***