Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 16


__ADS_3

Namun, walaupun Julian sudah mengatakan hal itu dengan tegas, tetapi Susi tetap teguh pada pendiriannya. Ia tidak akan pernah membiarkan Dea mengatakan yang sebenarnya kepada Julian.


"Tidak ada yang penting, Julian! Beberapa hari ini Dea memang terlihat agak setres. Ia terlalu memikirkan masalah pernikahan kalian. Ia sudah tidak sabar ingin pernikahan ini segera dilaksanakan," tutur Susi, masih berjuang membawa Dea agar pulang bersamanya.


Mendengar penjelasan dari Susi, Julian pun tersenyum. Entah mengapa tiba-tiba saja Julian percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir Susi barusan. Sementara Dea masih berusaha melepaskan genggaman tangan kakak iparnya tersebut dari tangannya.


"Bukan itu, Julian! Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dan itu sangatlah pent-- eum!"


Susi membekap mulut Dea dengan sangat erat bahkan hingga Dea kesulitan bernapas. Ia terus menarik paksa tangan gadis itu hingga menjauh dari tempat itu. Sementara Julian hanya bisa terbengong-bengong melihat Susi mengajak Dea pulang dengan paksa.


"Dea!" Baru saja Julian ingin melangkah, kembali menyusul Susi dan Dea, tiba-tiba salah seorang saudara sepupunya memanggil.


"Julian! Sini, kami butuh bantuanmu!" panggilnya, meminta bantuan Julian untuk mendirikan sebuah tenda di belakang rumahnya.


Julian menoleh ke arah lelaki itu kemudian mengangkat sebelah tangannya. "Baiklah, tunggu sebentar!" teriaknya.


Julian terpaksa mengurungkan niatnya untuk menyusul Dea dan Susi, walaupun sebenarnya ia sangat penasaran dengan apa yang ingin Dea katakan.


"Baiklah, aku bisa menghubungimu nanti," gumamnya kemudian melangkah menyusul lelaki yang baru saja memanggilnya.

__ADS_1


Setelah merasa aman, Susi pun melepaskan bekaban mulut Dea kemudian mendorong gadis itu dengan keras hingga terjatuh ke tanah.


"Dasar bodoh! Apa kamu sudah gila, Dea! Jika kamu mengatakan yang sebenarnya kepada Julian saat ini, aku yakin pihak keluarga besar Julian akan membatalkan pernikahan kalian! Dan mereka pasti akan minta uang ganti rugi karena biaya yang mereka keluarkan untuk pernikahan kalian tidaklah sedikit. Memangnya Kakakmu itu punya banyak uang untuk mengganti semuanya?" geram Susi sambil bertolak pinggang di hadapan Dea yang masih tersungkur di tanah.


Dea mengangkat kepalanya dan menatap Susi yang sedang emosi. "Tapi, Kak. Lebih baik Julian tahu sekarang. Seandainya dia memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami, setidaknya aku tidak membohongi dirinya soal apa yang terjadi padaku," lirih Dea.


Susi memperhatikan sekelilingnya dan ada beberapa orang yang memperhatikan mereka dengan serius. Karena merasa tidak nyaman, ia pun kembali menarik tangan Dea hingga gadis itu kembali ke posisinya semula, berdiri di sampingnya. "Sebaiknya kita pulang dan bicarakan ini di rumah!"


Susi kembali mencengkram tangan Dea dengan erat agar gadis itu tidak kabur dan kembali ke kediaman Julian. Setibanya di kediamannya, ia pun segera menyeret gadis itu untuk kembali ke dalam kamarnya.


"Sini, mana ponselmu?" pinta Susi sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Dea.


Namun, tidak semudah itu meluluhkan hati Susi yang sekeras baja. Wanita itu mengambil paksa ponsel tersebut dari saku baju Dea dan setelah berhasil ia pun menyimpannya. "Akan kuserahkan kembali ponselmu, setelah hari pernikahan kalian selesai dilaksanakan," ucap Susi yang kemudian melenggang pergi.


"Kakak, aku mohon! Kembalikan ponselku!" teriaknya dari dalam ruangan itu.


Setelah keluar dari kamar sempit tersebut, Susi langsung mengunci pintunya dari luar hingga hingga Dea tidak bisa lagi keluar. Sementara kunci milik Dea pun sudah berada di tangannya.


"Kenapa Tante Dea dikurung, Bu?" tanya Virna yang baru saja tiba di tempat itu dan menghampiri Sang Ibu.

__ADS_1


"Dia pantas dikurung! Kamu jaga kamar ini dan jangan biarkan siapapun membukanya kecuali Ibu. Paham?" tegas Susi kepada Virna.


"Walaupun itu Ayah?" tanya Virna lagi.


"Ya, walaupun itu Ayahmu. Jika dia berani membukakan pintu untuk Dea, maka katakan sama Ibu, mengerti 'kan?" sahut Susi.


"Baik, Bu!" ucap Virna sambil menghormat kepada Ibunya itu.


"Bagus, anak pintar!" Susi tersenyum sambil mengelus lembut puncak kepala Virna dengan lembut.


Sementara Dea masih terus berteriak sambil menggedor pintu kamarnya, meminta Susi mengeluarkan dirinya dari ruangan itu.


Mendengar suara teriakkan adik perempuannya, Herman pun segera menyusul ke kamar gadis itu. "Ada apa lagi ini, Susi? Kenapa Dea dikurung?" tanya Herman dengan wajah bingung.


"Heh, Mas! Adik perempuanmu ini sudah gila! Dia ingin membatalkan pernikahannya bersama Julian. Memangnya Mas punya banyak uang untuk menggantikan semua biaya yang sudah mereka keluarkan untuk menyambut acara pernikahan itu, iya?!" ketus Susi dengan mata membesar.


Herman pun terdiam dan ia menatap sedih ke arah kamar gadis itu. Ia tidak tega melihat Dea diperlakukan seperti itu. Namun, ia pun takut jika harus diminta menggantikan semua uang yang sudah dikeluarkan oleh keluarga Julian nantinya.


...***...

__ADS_1


__ADS_2