Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 8


__ADS_3

Sementara itu di tempat lain.


Di sebuah rumah megah yang berdiri kokoh di lahan yang begitu luas. Terlihat jejeran koleksi mobil serta motor mewah berharga fantastis. Di dalam sebuah ruangan pribadi, tampak seorang laki-laki tua berusia 59 tahun sedang duduk di atas kursi kesayangannya.


Walaupun lelaki itu sudah berumur. Namun dilihat dari segi manapun, lelaki itu tetap tampan dan menawan dengan bentuk tubuh yang tidak kalah bagus dari anak-anak muda.


Di hadapan lelaki tua tersebut tampak seorang laki-laki yang berusia lebih muda darinya. Usianya sekitar 45 tahun. Dari raut wajah lelaki itu terlihat cemas dan juga panik.


"Tuan Harry, saya punya berita buruk tentang Tuan Muda Alfa." Dia lah David Yudistira, Sang Asisten Pribadi Tuan Harrison Alexander Graham, tertunduk lesu di hadapan Daddy-nya Alfa.


Mendengar penuturan Asistennya itu, Tuan Harry pun ikut panik. "Alfa!" pekiknya. "A-apa yang terjadi pada anak nakal itu?"


"Tuan Muda Alfa bersama dua temannya, Ervan dan Arman kecelakaan di sebuah jalan raya tak jauh dari Desa Muara Asri," lanjut David.


Tuan Harry bangkit dari tempat duduknya yang empuk kemudian menghampiri David. Raut wajah lelaki tua itu tampak sedikit kesal kepada David yang bercerita setengah-setengah kepadanya.


"David, ceritakan yang benar! Jangan setengah-setengah! Apa kamu ingin penyakit jantungku kumat lagi?!" umpat Tuan Harry.


David menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan seperti itu, Tuan Harry. Saya sama sekali tidak pernah menginginkan hal itu terjadi. Malah sebaliknya, saya sengaja menceritakannya secara perlahan agar Anda tidak syok setelah tahu kebenaran tentang Tuan Muda dan kedua sahabatnya itu," jawab David.

__ADS_1


"Cepat katakan, David! Bagaimana kondisi anakku?" bentak lelaki tua itu.


Biar bagaimana pun nakalnya kelakuan Alfa. Namun, bagi Tuan Harry, Alfa adalah segala-galanya baginya. Alfa adalah anak satu-satunya dan pewaris seluruh harta kekayaan miliknya.


"Sebaiknya Tuan Harry ikut saya. Kita ke Rumah Sakit," ajak David. Lelaki yang sudah 20 tahun mengabdi dengan keluarga Tuan Harry tersebut.


"Baiklah."


Dengan tergesa-gesa, Tuan Harry memasang jas mahal miliknya yang menggantung di sebuah gantungan dan dibantu oleh David. Setelah selesai mengenakan jas tersebut, mereka pun bergegas keluar dari ruangan itu.


Nyonya Kharisma Wijayanto, 50 tahun, sedang duduk di ruang bersantai sambil menikmati secangkir teh hangat. Wanita paruh baya nan cantik itu terkejut ketika menyaksikan suaminya dan Sang Asisten berjalan dengan cepat melewatinya. Apa lagi wajah mereka terlihat sangat cemas, terlebih suaminya itu.


Kedua lelaki itu tidak menjawab. Mereka terus saja melangkah dengan cepat melewati ruangan demi ruangan di rumah megah tersebut menuju halaman depan rumah. Di mana mobil mewahnya terparkir di sana.


Karena merasa tidak digubris, Nyonya Kharisma pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti kedua lelaki itu. Bersama salah seorang pelayanannya, Nyonya Kharisma berjalan dengan sangat cepat menuju halaman depan.


"Silakan masuk, Tuan." David membukakan pintu untuk Tuan Harry dan baru saja lelaki itu ingin masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba Nyonya Kharisma memanggilnya.


"Berhenti, Sayang! Kamu tidak menjawab pertanyaanku." Nyonya Kharisma berjalan menghampiri Tuan Harry dan kini ia berdiri tepat di samping suaminya itu. Nyonya Kharisma memperhatikan wajah kedua lelaki itu dengan serius dan ia yakin ada sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi? Bisakah kalian menjelaskannya padaku?" ucap Nyonya Kharisma lagi.


Tuan Harry menghembuskan napas berat kemudian merengkuh pundak wanita itu. "Sebenarnya aku ingin menceritakan hal ini nanti, setelah aku melihat bagaimana kondisi Alfa dengan mata kepalaku sendiri, tetapi karena kamu--"


Belum habis Tuan Harry berucap, Nyonya Kharisma langsung menyela ucapan suaminya itu. "Apa yang terjadi pada anak kita? Bukankah kemarin ia baik-baik saja. Ia bahkan pamit padaku, katanya ia ingin berkemah bersama teman-temannya," tutur Nyonya Kharisma dengan wajah cemas.


"Sebaiknya kamu di sini saja dan tunggu kabar selanjutnya dariku," pinta Tuan Harry sambil menepuk pelan pundak wanita itu.


Namun, Nyonya Kharisma tidak mau. Ia menggelengkan kepalanya dan bersikeras ingin ikut bersama kedua lelaki itu ke Rumah Sakit di mana putra kesayangannya, Alfa dirawat.


"Aku tidak mau! Aku harus ikut kalian, titik!" ketus nya.


Tanpa mempedulikan bagaimana reaksi Tuan Harry, Nyonya Kharisma menerobos masuk ke dalam mobil mewah tersebut kemudian duduk di sana. Tuan Harry dan David sempat saling lempar pandang, tetapi hanya sebentar. Setelah itu ia pun segera menyusul Nyonya Kharisma dan duduk di samping istrinya tersebut.


Setelah pasangan itu duduk di sana, David pun bergegas menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menuju Rumah Sakit.


Di sepanjang perjalanan Nyonya Kharisma selalu bertanya bagaimana kondisi anaknya kepada Tuan Harry. Namun, lelaki itu enggan bicara dan menjelaskannya sebab Tuan Harry pun belum tahu bagaimana kondisi Alfa saat itu.


...***...

__ADS_1


__ADS_2