Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 13


__ADS_3

"Bolehkah aku minta waktunya sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan bersama Ervan," ucap Tuan Harry kepada kedua orang tua Ervan.


Kedua orang tua Ervan pun mengangguk dan segera keluar dari ruangan tersebut. Kini tinggal Tuan Harry, Ervan dan David yang berada di sana.


David meraih sebuah kursi kemudian meletakkannya ke samping tempat tidur pasien yang sedang ditempati oleh Ervan. Setelah itu David pun mempersilakan Tuan Harry untuk duduk di sana.


"Silakan, Tuan."


"Terima kasih." Tuan Harry duduk di kursi tersebut kemudian tersenyum tipis menatap Ervan yang masih syok. Syok setelah mengetahui bagaimana keadaan kedua sahabatnya pasca kecelakaan yang mereka alami.


"Ervan, apa kamu masih ingat apa yang terjadi pada saat itu?" tanya Tuan Harry dengan begitu serius.


Ervan mengangguk pelan dengan kedua matanya tampak menerawang. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian tragis itu. Dan benar saja, kejadian itu terekam jelas di kepalanya. Bahkan ia teringat akan berbagai kejadian sebelum terjadinya kecelakaan tersebut.

__ADS_1


"Ya, saya ingat, Tuan." Mata Ervan terlihat berkaca-kaca untuk sepersekian detik hingga akhirnya ia tidak bisa menahan buliran bening tersebut dan akhirnya lolos dari pelupuk matanya.


Lelaki itu sesenggukan. Tubuhnya bergetar dan tampak jelas sebuah penyesalan yang amat sangat di raut wajahnya saat itu. "Ya Tuhan!" gumam Ervan sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Tidak apa, Ervan. Lepaskan saja," ucap Tuan Harry sembari menepuk pundak Ervan dengan lembut.


Setelah beberapa menit kemudian, tangis Ervan pun mulai reda. Lelaki itu tampak sedang menyeka air mata dengan menggunakan sebuah tissu yang diberikan oleh Tuan Harry kepadanya.


"Sekarang kamu sudah tenang?" tanya Tuan Harry dan Ervan pun mengangguk pelan.


Sebelum kembali melanjutkan pertanyaannya, Tuan Harry sempat menarik napas dalam dan menghembuskannya. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan di Desa Nelayan itu? Dan apa yang membuat Alfa nekat mengemudikan mobilnya dalam keadaan mabuk?" tanya Tuan Harry penuh selidik kepada Ervan.


Menurut Tuan Harry, walaupun Alfa adalah anak yang sangat bandel dan susah dikasih tahu. Namun, anak lelakinya itu paling anti mengemudikan mobil saat mabuk. Dan anehnya, kali ini pewaris tunggalnya itu malah nekat melajukan mobilnya dalam kondisi seperti itu.

__ADS_1


"Ehm, itu ...." Ervan kembali diserang kepanikan. Apa lagi setelah ia ingat peristiwa sebelum kecelakaan itu terjadi dan alasan Alfa nekat mengemudikan mobilnya dalam kondisi mabuk.


Namun, tidak mungkin ia berkata jujur kepada Tuan Harry bahwa saat itu mereka mencoba melarikan diri setelah berhasil memperkosa salah satu gadis di Desa Nelayan tersebut. Ervan yakin, jika ia berkata jujur maka permasalahan mereka akan semakin panjang. Lagi pula, ia dan kedua sahabatnya itu sudah berjanji akan merahasiakan kejadian itu sampai kapanpun.


"Sebenarnya saat itu kami berniat menghabiskan malam kami di pantai yang ada di desa tersebut, Tuan Harry. Dan seperti biasa, kami meminum-minuman memabukkan itu. Minuman yang memang sudah kami persiapkan sebelumnya. Ternyata beberapa Nelayan di sana merasa terganggu dengan aktivitas kami. Mereka marah kemudian mengusir kami dari pantai tersebut. Karena ketakutan, kami pun segera pergi dan Alfa nekat mengemudikan mobilnya. Hingga kecelakaan itu pun terjadi," tutur Ervan bohong.


Walaupun di dalam hati kecilnya menolak untuk berkata bohong kepada Tuan Harry, tetapi Ervan terpaksa harus melakukannya. Ia tidak ingin perilaku buruknya bersama kedua sahabatnya itu ketahuan oleh siapapun, termasuk Tuan Harry.


"Sekarang kalian tahu akibatnya, 'kan?! Aku sudah sering mengingatkan kalian soal efek minuman itu. Tetapi kalian semua tidak pernah peduli! Kalian bahkan tidak peduli dengan perkataanku!" kesal Tuan Harry.


Ervan menundukkan kepalanya. Apa yang dikatakan oleh Tuan Harry memang benar. Lelaki tua itu sering sekali memperingati mereka bertiga soal itu, tetapi tak satupun dari mereka yang peduli. Termasuk Alfa, anak lelakinya Tuan Harry sendiri.


"Ya, Tuan Harry. Aku menyesal, sungguh sangat menyesal," lirih Ervan. "Seandainya kami mendengar kata-kata Anda, mungkin kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi dan sampai sekarang kakiku pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


Menyesal pun sudah tiada arti. Nasi sudah menjadi bubur dan kesucian gadis nelayan yang sudah direnggut oleh Alfa tidak mungik kembali.


...***...


__ADS_2