
"Dea! Apa kamu mendengarku?" teriak Julian yang kini hanya berjarak beberapa meter dari lokasi Dea tergeletak. Namun, karena pekatnya cahaya malam, Julian tidak menyadari keberadaan tunangannya itu.
"Ju ... Julian, to-tolong aku," lirih Dea sambil menitikkan air matanya. Suara lirih Dea saat itu sama sekali tak terdengar di telinga Julian.
Lelaki itu malah berjalan menjauhi lokasi di mana Dea masih terbaring lemah dengan keadaan setengah telanjaang. Ia terus melangkah semakin menjauh sambil terus meneriakkan nama Dea.
Dea yang sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya, akhirnya jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri di tempat itu. Sementara Julian terus mencari keberadaan Dea hingga akhirnya ia pun menyerah dan kembali ke kapalnya dengan rasa kecewa.
"Bagaimana, Julian? Apa kamu menemukan kekasihmu?" tanya salah satu temannya.
Julian menggeleng pelan. "Sepertinya benar, Dea hanya membohongiku," jawabnya lirih dan terlihat jelas bahwa saat itu Julian benar-benar kecewa.
"Sudahlah, tidak apa. Lagi pula sebentar lagi kalian akan segera menikah, bukan?" Teman Julian mencoba menghibur lelaki itu.
Julian yang tadinya terlihat murung, akhirnya menyunggingkan sebuah senyuman hangat. "Kamu benar. Aku harus tetap semangat bekerja karena tidak lama lagi kami akan sah menjadi suami-istri. Mana rumah kami belum selesai di kerjakan lagi," sahut Julian.
"Semangat!" Lelaki itu merengkuh pundak Julian untuk memberikan semangat kepada lelaki itu.
Setelah Julian naik ke atas kapal, mereka pun segera berangkat menuju lautan lepas guna mencari ikan.
Pagi pun menjelang.
__ADS_1
"Ya ampun, Dea! Jam segini dia masih belum bangun juga? Benar-benar keterlaluan!" gerutu Kakak Ipar Dea, Susi.
Wanita itu kesal karena Dea belum juga mengerjakan pekerjaannya. Cucian piring masih menumpuk di westafel, begitu pula cucian baju yang menjulang tinggi melebihi wadahnya.
"Lihatlah adikmu yang tidak berguna itu, Mas! Ia bahkan masih asik bergelut dengan selimutnya yang hangat, di dalam kamarnya. Sementara pekerjaannya dibiarkan begitu saja hingga menumpuk seperti ini!" kesal Susi kepada suaminya yang baru saja tiba di ruangan itu.
"Sudahlah, Sayang. Mungkin saja dia sedang tidak enak badan. Lagi pula, baru kali ini 'kan dia terlambat bangun," sahut Herman, kakak laki-laki Dea.
"Hhh, belain saja terus. Biar dia ngelunjak sekalian! Asal Mas tahu, ya. Anak itu kalau dibiarkan seperti itu lama-kelamaan jadi terbiasa. Jika sudah seperti itu, siapa yang bakal susah? Aku juga 'kan? Hhh, amit-amit," kesal Susi sambil memutar bola matanya.
Susi yang masih kesal, berjalan menghampiri pintu kamar milik Dea yang terletak di ruangan dapur. Kamar berukuran kecil dan juga begitu pengap. Wanita itu menggedor-gedor pintu tersebut dengan sangat keras dengan mulut yang terus saja mengoceh.
Ya, beberapa tahun yang lalu, Susi pernah mengurung Dea di rumah belakang. Atau lebih tepatnya gudang jelek yang sudah lapuk dan tidak lagi terawat. Susi tega menghukum gadis yatim piatu tersebut hanya karena kesalahan kecil. Sementara Herman tidak bisa berbuat apa-apa karena kakaknya itu sejenis lelaki takut istri.
Beberapa kali Susi memanggil nama gadis itu, tetapi tak terdengar sedikit pun jawaban dari dalam ruangan tersebut. Hingga akhirnya membuat Susi semakin kesal saja.
"Dea! Buka pintunya sebelum aku benar-benar emosi!" ancam Susi dengan mata melotot.
"Palingan Tante Dea masih tertidur, Bu," sahut Virna, anak dari Susi dan Herman yang baru berusia 10 tahun.
"Bener-bener nih anak! Bikin aku emosi saja," gerutu Susi yang akhirnya melenggang masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil kunci serap.
__ADS_1
"Awas saja kamu, Dea! Kali ini aku tidak akan mengampunimu, walaupun kamu menangis darah!"
Susi kembali ke dapur dan menghampiri pintu kamar Dea. Ia mencoba membuka pintu kamar gadis itu dengan kunci yang tadi ia ambil dari dalam kamarnya hingga pintu tersebut pun terbuka.
Mata Susi kembali membulat sempurna. Ia tidak menemukan Dea di dalam kamar tersebut. Bahkan ranjang milik Dea yang hanya cukup untuk satu orang tersebut terlihat sudah rapi.
"Ke mana kamu, Dea?!" pekik Susi sambil memikirkan ke mana gadis itu menghilang.
Tiba-tiba Susi teringat akan permintaan gadis itu kemarin sore kepadanya. Dea minta izin kepada Susi bahwa ia ingin sekali mengantarkan kepergian Julian pagi-pagi sekali ke dermaga, di pinggir pantai. Gadis itu memohon-mohon kepadanya, tetapi Susi tetap bersikeras dan tidak memberikannya izin.
"Astaga, Mas! Adikmu itu benar-benar, yah!" pekik Susi sembari menghampiri Herman yang sedang menyeduh teh hangat di atas meja makan.
"Ada apa lagi sih, Sayang?" tanya Herman sambil mengelus punggung Susi dengan lembut agar wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
"Ternyata Adikmu itu tidak ada di kamarnya dan aku yakin sekali ia pasti menghabiskan waktunya bersama Julian!" kesal Susi. "Hhh, aku sudah tidak sabar menunggu hari pernikahan mereka! Aku sudah muak melihat tingkah adikmu dan tunangannya itu," lanjut Susi.
"Tapi itu idak mungkin, Sayang. Mana pernah Dea berani membantah perintahmu? Bukan kah kemarin sore kamu menolak permintaannya?" Herman kembali mencoba menenangkan istrinya yang tempramen itu.
"Tuh, 'kan! Kamu membelanya lagi!" kesal Susi. "Awas saja! Jika dia pulang, aku tidak akan pernah mengampuninya!"
***
__ADS_1