Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 15


__ADS_3

Dea tiba di depan kediaman calon suaminya. Di sana tampak ramai. Para tetangga berbondong-bondong mendatangi kediaman Julian untuk membantu keluarga besarnya mempersiapkan berbagai keperluan pesta pernikahannya bersama lelaki itu.


Dea ingin masuk ke halaman rumah calon mertuanya tersebut, tetapi ia ragu. Banyaknya orang-orang yang berkumpul di sana membuat Dea kembali berpikir ulang.


"Katakan ... atau kembali?" gumam Dea sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat itu. Mencoba mencari sosok Julian di antara banyaknya orang yang berkumpul.


Salah seorang sahabat Julian tanpa sengaja melihat ke arah Dea yang tampak kebingungan di depan pagar rumah orang tua Julian. Menyaru dengan banyaknya orang di tempat itu.


Lelaki itu menyentuh pundak Julian kemudian memberitahunya soal Dea. "Heh, Julian. Bukan kah itu Dea? Sepertinya dia sedang mencarimu," ucap lelaki itu sembari menunjuk ke arah Dea berdiri.


Julian menoleh ke arah gadis itu, kemudian tampak sebuah senyuman hangat tersungging di wajahnya. "Dea? Mau apa dia ke sini? Apakah dia sudah tidak sabar ingin bertemu denganku?" gumam Julian pelan, tetapi masih terdengar jelas di telinga lelaki itu.


"Cieee ... yang mau jadi menten," goda lelaki itu sambil tertawa pelan.


Julian pamit kepada sahabatnya itu kemudian berjalan menuju ke arah Dea tanpa bersuara sedikitpun. Ia sengaja melakukan itu untuk mengejutkannya. Benar saja, Dea sama sekali tidak menyadari bahwa saat itu Julian sudah berada di dekatnya.

__ADS_1


"Ehem! Sepertinya ada yang merindukanku," ucap Julian sambil tertawa pelan.


Suara Julian yang terdengar begitu dekat membuat Dea tersentak kaget. Gadis itu berbalik kemudian menatap lelaki itu sambil tersenyum tipis. "Mas Julian."


"Apa yang kamu lakukan di sini, Dea? Kamu merindukanku, ya!" goda Julian sembari mencolek dagu gadis itu.


"Ehm, sebenarnya bukan itu. Eh, maksudku ya! Aku merindukanmu tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan saat ini," sahut Dea dengan wajah sendu.


Melihat ekspresi Dea saat itu, Julian sadar ada sesuatu yang tidak beres pada gadis itu. Sekarang Julian mulai serius, ia menatap Dea lekat dan meminta gadis itu menjelaskannya.


Tepat di saat itu, Susi sudah tiba di sana. Dan dari kejauhan ia sudah dapat melihat dengan mata dan kepalanya sendiri, Dea tengah berbicara dengan serius bersama Julian.


"Wah, gawat! Sepertinya apa yang aku khawatirkan akan terjadi! Sepertinya gadis bodoh itu ingin mengakui semuanya!" gumam Susi dengan wajah panik.


Susi mempercepat langkahnya. Ia tidak ingin Dea mengakui hal itu dan menghancurkan pernikahan yang dua hari lagi akan di gelar secara meriah di kediaman Julian.

__ADS_1


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi," gumamnya lagi.


Saat itu mata Dea kembali Berkaca-kaca. Bibirnya bahkan terlihat bergetar. Terlihat jelas kesedihan yang mendalam dari raut wajahnya. "Ya, Mas. Ini tentang hubungan kita. Aku rasa sebaiknya kita--"


Belum kelar Dea berucap, tiba-tiba Susi sudah berada di samping gadis itu dan menyela pembicaraan pasangan kekasih tersebut. "Dea, apa yang kamu lakukan di sini, ha? Apa kamu tidak malu, menemui lelaki yang dua hari lagi akan menjadi suami sah-mu! Lihatlah, semua orang sedang menatapmu! Nanti kamu dibilang keganjenan lagi sama mereka! Ayo, sekarang kita pulang!"


Susi menarik paksa tangan Dea dan berniat ingin membawanya pulang. Namun, Dea menolak dan bersikeras ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Julian soal kejadian naas di malam itu. Malam naas di mana Dea harus kehilangan kesuciannya.


"Lepaskan tanganku, Kak Susi! Aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Julian sebelum semuanya terlambat!" ucap Dea sambil mencoba melepaskan genggaman erat tangan Susi.


"Ini sudah terlambat, Dea! Jika kamu mengatakan yang sebenarnya saat ini, kamu hanya akan membuat mereka mengalami kerugian yang sangat besar! Memangnya kamu dapat menggantikan semua uang yang sudah mereka keluarkan, ha?!" kesal Susi dengan setengah berbisik dan penuh dengan penekanan. Ia terus berusaha menarik paksa tangan Dea dan membawanya menjauh dari Julian.


Julian yang sudah terlanjur penasaran segera menyusul Dea dan Susi yang mulai menjauh dari posisinya. Ia pun melangkah dengan cepat dan kini ia berhasil meraih tangan Dea yang satunya.


"Lepaskan Dea, Mbak Susi! Biarkan dia mengatakan apa yang ingin dia katakan kepadaku!" titah Julian dengan tegas kepada wanita pemarah itu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2