Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 12


__ADS_3

Malam itu Dea tidak bisa tidur karena memikirkan perkataan kakak iparnya tadi sore. Ia benar-benar ketakutan. Takut jika apa yang dikatakan oleh wanita itu benar-benar menjadi kenyataan.


"Ya, Tuhan! Cobaan yang Engkau berikan padaku sudah sangat-sangat berat dan janganlah Engkau berikan aku cobaan yang lebih berat dari ini," ucap Dea sambil menitikkan air matanya.


Dea melirik ke arah perutnya kemudian menyentuhnya perlahan. Tiba-tiba ada sebuah getaran yang ia rasakan di dalam hatinya. Getaran yang begitu kuat, hingga membuat Dea tersentak kaget.


Dea refleks memindahkan tangannya dari perut dan sekarang wajah gadis itu tampak memucat. "Tidak! Itu tidak boleh terjadi! Tidak boleh," gumam Dea sambil menggelengkan kepalanya.


Jika Dea tengah mencemaskan masa depannya yang semakin suram, Julian tengah berbahagia karena pernikahannya bersama Dea sudah berada di depan mata.


"Bilang sama Dea, setelah menikah tidak usah menunda-nunda kehamilan. Lebih cepat, lebih baik. Lagi pula Ayah dan Ibu sudah tua, Julian. Kami sudah tidak sabar ingin menimang cucu pertama kami. Benar 'kan, Yah?" ucap Ibu Julian.


Ayah Julian pun tersenyum. Sama seperti yang dikatakan oleh istrinya, seperti itu pula yang ia rasakan saat ini. Ia pun sudah tidak sabar ingin menimang cucu pertama mereka.


"Ya, apa yang dikatakan oleh Ibumu benar, Julian. Ayah pun sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana tampannya cucu laki-laki Ayah nantinya," sahut Ayah Julian.


"Lah, bagaimana kalau nanti yang lahir malah bayi perempuan?" tanya Julian kepada Sang Ayah yang begitu yakin bahwa cucu pertamanya nanti adalah seorang bayi laki-laki.


"Ya, tidak masalah. Walaupun yang lahir pertama adalah cucu perempuan, bagi Ayah sama saja," jawab Sang Ayah mantap.

__ADS_1


Julian pun menghela napas lega. Ia senang karena ternyata Sang Ayahnya tidak mempermasalahkan baik itu cucu perempuan maupun cucu laki-laki.


***


Beberapa hari kemudian.


Di Rumah Sakit.


"Bagaimana kondisi anak saya, Dok? Apakah sudah ada perkembangan?" tanya Tuan Harry kepada salah satu Dokter yang bertugas menangani Alfa.


Dokter itu menggelengkan kepalanya pelan dan wajahnya terlihat lesu. "Masih belum ada kemajuan yang berarti, Tuan Harry. Kondisi Tuan Muda Alfa masih sama seperti sebelumnya."


"Ya, Tuhan! Berikan lah satu kesempatan lagi untuk anakku. Semoga setelah ini hidupnya bisa berubah menjadi lebih baik lagi," gumam Tuan Harry sambil terus memperhatikan tubuh Alfa yang lemah tak berdaya.


"Ehm, maaf, Tuan Harry. Saya permisi dulu," ucap Dokter kepada Tuan Harry yang tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Baik. Terima kasih banyak, Dokter."


Setelah Dokter pergi, David pun segera menghampiri majikannya tersebut. "Tuan Harry, apa Anda ingin mengunjungi Ervan? Katanya, pemuda itu sudah sadar," ucap David kepada Tuan Harry yang masih terpaku menatap kondisi anaknya.

__ADS_1


Tuan Harry sempat terdiam sambil berpikir. Setelah beberapa saat, ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Ajak aku ke ruangan pemuda itu. Ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan padanya," sahut Tuan Harry.


"Baik, Tuan." David pun segera menuntun lelaki tua itu menuju ruangan di mana Ervan dirawat.


Beberapa meter sebelum mereka tiba di ruangan pemuda itu, terdengar suara jeritan yang begitu memilukan. Jeritan yang keluar dari bibir Ervan. Lelaki itu histeris setelah tahu bahwa kakinya sudah diamputasi oleh Dokter. Ervan tidak bisa menerima kenyataan pahit itu dan ia terus mencaci-maki tim medis serta kedua orang tuanya yang ada di ruangan tersebut.


"Kami terpaksa mengambil keputusan ini, Tuan Ervan. Sebab kondisi kaki Anda sudah tidak bisa dipertahankan lagi," jelas salah satu Dokter.


"Apa yang dikatakan oleh Dokter itu memang benar, Nak. Kakimu sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Kami sudah melihat dengan mata kepala kami sendiri bagaimana kondisi kakimu saat itu. Dan demi kebaikanmu, kami pun terpaksa mengizinkan Dokter untuk melakukannya," tutur Ibunya Ervan.


Ya, pada saat kecelakaan, kaki Ervan terjepit body mobil. Bahkan team rescue pun kesulitan saat mencoba mengeluarkan tubuh Ervan dari dalam mobil milik Alfa yang sudah tidak berbentuk tersebut.


"Seharusnya kamu bersyukur, Nak. Tuhan masih sayang kepadamu. Kamu masih diberikan keselamatan. Kamu masih bisa menarik napas hingga sekarang. Coba lihat dua sahabatmu yang lainnya, Alfa dan Arman," lirih Sang Ayah dengan wajah sendu menatap ke arah puteranya, Ervan.


Seketika Ervan berhenti menjerit. Ia menatap lekat kepada Sang Ayah kemudian bertanya. "Memang apa yang terjadi pada mereka?"


Sang Ayah membuang napas berat. "Arman meninggal di tempat dan ia sudah dimakamkan di samping makam Ayahnya. Sementara Alfa, Alfa masih ...." Belum habis Ayahnya berkata-kata, Tuan Harry dan David tiba di ruangan itu.


"Kondisi Alfa masih kritis dan sampai sekarang ia belum sadarkan diri," sela Tuan Harry.

__ADS_1


...***...


__ADS_2