Bayi Sang Pewaris

Bayi Sang Pewaris
BSP BAB 14


__ADS_3

Beberapa hari sebelum hari pernikahan Dea dan Julian dilaksanakan.


Malam itu Dea terdiam di dalam kamarnya sambil menatap kosong ke arah luar jendela. Semenjak kejadian naas itu, tidur gadis itu tidak lagi se nyenyak dulu. Herman yang baru saja keluar dari kamar kecil, segera menghampiri kamar Dea setelah sadar bahwa lampu di kamar gadis itu masih menyala.


Tok tok tok!


"Dea, kamu masih belum tidur?" tanya Herman pelan sambil mengetuk pintu kamar Dea.


Mendengar panggilan dari Herman, Dea pun tersentak kaget dan segera menyahut. "Ya, Kak. Aku masih belum tidur."


"Bolehkah Kakak masuk? Ada yang ingin Kakak bicarakan padamu," ucap Herman.


Dea pun segera bangkit dari posisinya kemudian berjalan menghampiri pintu. Ia membuka pintu tersebut kemudian mempersilakan Herman masuk.


"Kenapa kamu tidak tidur, Dea? Bukan kah ini sudah larut malam?" tanya Herman sembari duduk di tepian tempat tidur lusuh milik Dea.


Setelah menutup pintu kamarnya, Dea pun menghampiri Herman dan duduk di samping kakak lelakinya itu. "Belum, Kak. Aku masih belum mengantuk."


Herman menatap sedih kepada Dea dan kini matanya tampak berkaca-kaca setelah mengingat cobaan berat yang sedang di hadapi oleh adik perempuannya itu.


"Dea, maafkan Kakak. Kakak sudah memukulmu waktu itu. Tidak seharusnya Kakak melakukan itu, Dea! Kakak jahat! Kakak memang sangat jahat!" Herman memukul-mukul tangannya yang sudah memukul pipi Dea hari itu.


Melihat hal itu Dea pun panik. Ia menghentikan aksi Herman kemudian memeluk tubuh kakaknya tersebut sambil terisak. "Jangan, Kak! Jangan lakukan itu! Kakak tidak salah, Kakak pantas memukulku karena semua itu memang salahku. Seandainya malam itu aku mendengarkan kata Kak Susi, kejadian naas itu pasti tidak akan pernah terjadi, Kak," sahut Dea.


Herman membalas pelukan Dea dengan erat. Dan terlihat beberapa kali ia melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala gadis itu.


"Kakak akan selalu berdoa yang terbaik untukmu, Dea. Semoga saja Julian tidak akan mempermasalahkan hal itu. Namun, jika Julian tidak terima, Kakak berjanji akan turun tangan dan menjelaskan kepadanya bahwa ini bukanlah kesalahanmu."


"Amin. Semoga saja dan terima kasih karena Kakak sudah bersedia berdiri di sampingku." Dea melerai pelukannya bersama Herman kemudian mencoba tersenyum.

__ADS_1


"Ehm, Dea. Kakak sudah mencoba mencari tahu siapa yang sudah tega mengerjaimu pada malam itu. Namun, sayang semuanya nihil. Tak ada satu pun warga yang mengetahui informasi tentang ketiga pria bajingan itu," lirih Herman dengan kepala tertunduk.


Dea tersenyum kecut dan wajah gadis itu kembali murung. "Aku sendiri bahkan tidak tahu siapa mereka. Kejadian itu terjadi begitu cepat dan kondisi malam yang gelap membuatku tidak dapat mengenali mereka, Kak."


Herman mengelus lembut punggung Dea yang kini tengah menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Yakinlah, Dek. Akan ada pelangi setelah badai. Begitu pula dirimu. Akan ada kebahagiaan menantimu setelah kamu berhasil melewati semua cobaan berat ini."


"Amin, kak."


Ke esokan harinya.


Dea tampak mondar-mandir di dalam kamar sempitnya sambil meremass kedua tangan secara bergantian. Wajah gadis itu tampak memucat dan ia sangat cemas. Sudah hampir semingguan ini Dea merasa gundah gulana.


"Aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Julian. Harus! Kalau tidak aku akan terus merasa bersalah selama hidupku," gumam Dea.


Setelah merasa yakin, Dea pun segera keluar dari kamarnya dan melenggang menuju halaman depan. Namun, ketika ia melewati ruang televisi, Susi yang sedang duduk bersantai bersama Virna, memanggil gadis itu.


"Dea! Mau kemana kamu!" panggil Susi.


"Aku harus cepat!" gumam Dea dalam hati.


Susi kesal karena panggilannya tidak digubris oleh adik iparnya tersebut. Ia pun meradang dan kembali berteriak untuk kedua kalinya.


"Dea! Apa kamu tuli, ha?!"


Lagi-lagi Dea tidak menggubrisnya dan terus melangkah menuju halaman depan. Setelah tiba di halaman depan rumah, Dea segera berlari kecil menelusuri jalan menuju kediaman Julian yang memang berada tak jauh dari rumah milik kakak iparnya tersebut.


Susi bangkit dari posisi duduknya dan berniat menyusul gadis itu. Ia berjalan dengan tergesa-gesa menuju teras. Namun, ternyata ia terlambat. Gadis itu sudah menghilang.


"Ke mana gadis bandel itu?!" pekik Susi sambil bertolak pinggang.

__ADS_1


Sementara itu.


Setelah beberapa meter dari kediaman milik kakak iparnya tersebut, tiba-tiba Dea berpapasan dengan kakak lelakinya. Saat itu Herman baru saja pulang dari kediaman Julian untuk membantu mereka mendirikan tenda dan sebagainya. Sebab pernikahan Dea dan Julian akan dilaksanakan di kediaman lelaki itu.


"Dea, kamu mau ke mana?" tanya Herman.


"Kakak? Ehm, aku ingin menemui Mas Julian. Apa dia ada di sana? Kakak baru saja dari rumahnya, 'kan?" tanya Dea balik.


"Ya, ada. Memangnya kamu mau apa?"


Setelah mendengar penuturan dari Herman, Dea pun kembali berlari kecil tanpa menjawab pertanyaan lelaki itu.


"Dea, jangan lama-lama! Nanti tidak enak dilihat orang, bukan kah pernikahan tinggal dua hari lagi," ucap Herman lagi dengan setengah berteriak.


"Baik, Kak." Terdengar jawaban dari gadis itu di kejauhan.


Setelah Dea menghilang dari pandangannya, Herman pun kembali melangkah menuju kediamannya.


Baru saja tiba di depan rumahnya, Herman sudah disambut oleh Sang Istri dengan sebuah pertanyaan.


"Mas lihat Dea? Barusan dia pergi dari rumah tanpa meminta izin padaku!" kesal Susi sambil memasang wajah masam.


"Ya. Dia bilang mau ke rumah Julian. Tapi aku tidak tahu, mau apa dia ke sana," jawab Herman sambil terus melangkah memasuki kediaman mereka.


"Menemui Julian? Mau apa gadis itu ke sana?"


Tiba-tiba saja terlintas di pikirannya tentang masalah gadis itu. Ekspresi wajah Susi pun mendadak berubah. Entah kenapa ia yakin bahwa Dea ingin mengatakan yang sebenarnya kepada Julian.


"Jangan-jangan gadis itu .... Ah, ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus segera menyusul gadis itu!" gumamnya yang kemudian segera berlari menuju kediaman Julian.

__ADS_1


...***...


__ADS_2