
Kita sudah sampai dikota berhenti disebuah rumah sederhana, bak Siti membantuku untuk turun karena bekas lahiran masih sangat terasa.
" pak Toni apa saya akan tinggal dirumah ini ".
" benar larisa kamu dan Siti akan tinggal disini ".
aku hanya mengangguk dan melangkahkan kakiku untuk masuk kedalam rumah, afan berada di gendongan bak Siti.
" larisa rumah ini atas nama kamu, jadi seutuhnya ini adalah milik kamu, semoga nyaman tinggal disini ".
" terima kasih pak Toni kalau begitu saya ingin istirahat ".
" silahkan ".
Pak Toni duduk diruang tamu sambil memainkan hpnya, dia tertawa sendiri entah apa yang sedang dia lihat dilayar itu sampai membuatnya sangat bahagia.
Aku, bak Siti dan afan masuk kedalam kamar yang cukup luas.
" nona larisa beristirahatlah pasti nona sangat kelelahan ".
aku tersenyum mendengar perkataan bak Siti, dan dia membalas senyumanku.
" maafkan saya bak Siti, gara-gara saya mbak harus terlibat dengan semua hal ini ".
bak Siti menggelengkan kepalanya.
" tidak jangan berbicara seperti itu, justru saya bahagia bisa bersama dengan nona larisa terus ".
" lalu bagaimana dengan keluarga bak Siti didesa, jika mbak berada disini ? ".
" saya seorang anak yatim piatu dulu untuk makan saya mengamen dipinggir jalan hingga akhirnya takdir membawa saya bertemu dengan pak Toni, beliau membawa saya ke desa, memberikan rumah dan menyekolahkan saya bersama teman-teman yang lain, kini teman-teman bak Siti juga sudah banyak yang keluar dari desa ada yang menikah dan ada juga yang bekerja ".
aku tersentuh mendengar perkataan bak Siti.
" terima kasih bak, saya sudah tidak punya siapa-siapa semua orang membenci saya, dengan hadirnya bak Siti disini benar-benar sangat berharga bagi saya ".
" saya mengerti non, anggap saja bak Siti saudara nona larisa sendiri ".
Aku mengangguk dan tersenyum lebar, tapi sedetik kemudian senyumku hilang mengingat saudara kandungku saja tidak ada yang peduli bahkan tega membuang ku.
Tiba-tiba afan menangis, bak Siti memberikannya kepadaku.
" anak ibu kenapa nangis ? Haus ya ? ".
Afan tetap menangis aku menyentuh bibir mungilnya dan ajaibnya tangisnya berhenti dia tersenyum dengan mata berbinar.
Setelah memberi asi kini afan sudah tertidur pulas begitupun dengan bak Siti entah mulai kapan dia tertidur, aku meletakkan afan dikasur dan mulai merebahkan tubuhku sendiri, mataku terasa barat tidak butuh waktu lama aku terlelap.
aku terbangun dari tidur jam menunjukkan 10 malam, bak Siti dan afan masih tertidur.
Tiba-tiba suara pak Toni mengagetkanku begitupun dengan bak Siti dia sampai terbangun.
" larisa boleh saya masuk ".
kata pak Toni sambil mengetok pintu.
" iya pak silahkan ".
bak Siti beranjak dari tempat tidur dan pak Toni masuk kedalam dia menghampiriku.
" zafira sudah lahir larisa ".
__ADS_1
Deg aliran darahku seperti berhenti, apa secepat ini aku akan berpisah dengan anakku.
Aku tidak sadar dan mulai menangis kencang, pak Toni terlihat kebingungan begitupun dengan bak Siti.
" larisa ada apa " ?.
Ucap pak Toni sambil menangkup kepalaku.
" apa secepat ini saya akan berpisah dengan afan ? Saya tidak siap pak Toni ".
Bak Siti juga ikut menangis sedangkan pak Toni menatapku dengan tatapan sendu.
" larisa kita sudah membicarakan ini sebelumnya, tolong ikhlaskan anak kamu untuk dirawat mereka bukan untuk selamanya tapi hanya sementara ".
Aku tetap menangis kencang rasanya hatiku sangat tidak terima, tapi aku juga tidak bisa melakukan apapun.
Setelah ditenangkan oleh pak Toni dan bak Siti kini tangisku sudah mereda.
" dengar larisa saya sudah menjalankan rencana, zafira mengalami pendarahan pasca operasi dan sampai saat ini belum sadar, Angga sangat khawatir dengan zafira bahkan dia sampai lupa dengan anaknya, jadi pak Toni yang menggendong untuk pertama kalinya anak mereka Angga dan zafira tidak akan melihat wajah bayinya sampai kita berhasil menukar dengan bayi kamu ".
" lalu sekarang Apa yang harus saya lakukan pak Toni ? ".
" besok kita akan diam-diam menukar bayi kamu dengan bayi zafira ".
" caranya ? ".
Tanyaku serius kepada pak Toni.
" Siti dan saya akan menahan Angga agar tidak menemui bayinya Sampai selesai ditukar sedangkan kamu larisa pergilah diam-diam ke ruangan bayi, tenang saja semuanya sudah saya atur tidak akan ada yang curiga bahkan menemukanmu melakukan hal itu karena saya sudah bekerja sama dengan salah satu dokter disana ".
Jelas pak Toni, aku hanya mengangguk dan pasrah atas apa yang akan terjadi.
" pak Toni Siti harus bagaimana agar bisa menahan pak Angga ? ".
Tanya bak Siti.
" nanti kamu akan berpura-pura menjadi perawat dan memberikan alasan kepada mereka agar tidak keruangan bayi ".
__ADS_1
" baik pak saya mengerti ".
Setelah menjelaskan semuanya pak Toni keluar dari kamar, kini afan sudah bangun dia menangis sepertinya haus, aku menggendongnya perlahan dan memberikan asi.
" nona larisa mau makan ?, saya buatkan dulu ".
" iya mbak boleh ".
Setelah itu bak Siti keluar juga.
Aku menatap wajah putraku hatiku rasanya teriris melihat senyum di bibir mungilnya, air mata jatuh kembali padahal aku sudah berjanji kepada diri sendiri untuk kuat tapi rasanya sangat sulit, memangnya seorang ibu yang mana ? tidak terluka jika harus dipisah dengan anaknya sendiri.
Setelah satu jam setengah afan kembali tertidur dan bak Siti kembali membawa nasi dan teh.
" ayo nona larisa dimakan dulu, bak Siti buatkan kuah dari sayur yang melancarkan ASI ".
Bak Siti memberikan mangkok berisi kuah sayur bening.
" apa gunanya bak ? Besok saya sudah tidak akan menyusui afan lagi ".
" saya tidak tahu harus mengatakan apa non, berada diposisi nona larisa pasti sangat sulit saya hanya bisa selalu berdoa agar nona diberikan kekuatan menghadapi ini semua ".
" iya bak terima kasih itu sudah lebih dari cukup ".
Kami saling melempar senyum dan aku segera makan.
selesai makan bak Siti mengambil alih mangkok ditanganku.
" menurut bak Siti apa saya jahat melakukan ini semua ? Memisahkan seorang ibu dengan anaknya seperti zafira dan bayinya yang akan saya ambil, dan saya juga tidak yakin bisa merawat anak zafira seperti anak sendiri ".
" jika mendengar penjelasan pak Toni tentang apa yang terjadi pada nona larisa, menurut bak Siti mereka lebih jahat, dan tenang saja jika nona larisa tidak mau merawat anaknya Bu zafira maka saya yang akan merawatnya dengan baik ".
" terima kasih bak Siti ".
" sama-sama, sudah sekarang istirahat tidak usah memikirkan apapun dulu setidaknya sampai besok pagi ".
" iya bak ".
__ADS_1
Aku mulai merebahkan kembali tubuhku disamping afan, rasanya belum siap untuk menghadapi hari esok.