
Setelah mendengar perkataan pak toni aku berusaha menimalisir detak jantungku yang bergerak lebih cepat, tentang mayat wanita yang menjadi gantiku di mobil, aku tidak berani bertanya.
" lalu selanjutnya apa yang akan dilakukan pak toni ? ".
Tanyaku.
" kamu bersembunyi dulu dina, saya akan mengubah identitas kamu mulai sekarang nama kamu adalah larisa farida bukan dina nadira lagi karena dina nadira sudah mati ".
Jantungku berdetak semakin cepat saat mendengar bahwa dina nadira sudah mati tapi anehnya aku tidak menolak melainkan hanya mengangguk kecil.
" bagaimana dengan ayah ".
Cicitku sangat pelan tapi sepertinya pak toni mendengar.
Pak toni membelai rambutku pelan seperti kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, tanpa sadar air mataku jatuh mengingat ayahku yang disana, entah bagaimana kabarnya ?.
" tenang saja dina tentang ayah kamu dia akan baik-baik saja, nanti jika masalah sudah mereda dan anakmu sudah memiliki posisi yang sempurna menjadi pewaris tunggal renandra, kamu bisa bersama ayah kamu lagi ".
Ucap pak toni.
" baik pak toni, tapi bagaimana caranya anak saya bisa menyaingi anaknya zafira, pak angga tidak akan pernah membiarkan itu terjadi ".
" kita akan tukar ".
Aku mengerutkan dahi merasa bingung dengan perkataan pak toni.
" maksutnya pak ? ".
pak toni menghela nafas panjang sebelum mengatakan sesuatu yang membuatku sangat tidak setuju.
" kita akan tukar bayi kamu dengan bayi zafira, usia kehamilan kalian sama, nanti dina kamu yang akan merawat anak zafira dan sebaliknya zafira akan merawat anak kamu tanpa angga sadari ".
Jelas pak toni.
" tidak pak bagaimana bisa saya harus merawat anak mereka dan meninggalkan anak saya sendiri, saya tidak mau ".
Bantahku.
" dina ini satu-satunya cara agar anak kamu aman, jika sampai angga renandra mengetahui bahwa anaknya yang lahir dari rahimmu masih hidup, dia tidak akan tinggal diam, bahkan saya tidak bisa menjamin akan bisa menyelamatkan anak kamu dari tangan angga ".
Lidahku kelu apa yang harus aku lakukan ? Apa aku harus setuju dan mengikuti semua rencana pak toni ?.
" nanti jika semuanya sudah terkendali kamu bisa bersama dengan anakmu lagi, tapi jika kamu tidak mau dina, saya masih memiliki cara lain yaitu kita akan membunuh anak renandra yang lahir dari rahim zafira ".
Aku semakin terkejut dengan perkataan pak toni ? Membunuh ? Apa karena rasa sakit yang sangat dalam aku harus menjadi seorang penjahat yang sangat kejam membunuh anak yang tidak berdosa.
Aku tidak memiliki pilihan lain.
" baik pak saya akan mengikuti semua rencana pak toni, saya akan menukar bayi saya dengan bayi zafira tapi berjanjilah kepada saya bahwa anak saya akan selalu aman ".
Pak toni tersenyum lebar.
" tenang saja dina pasrahkan semuanya kepada saya, saya tidak akan mengecewakanmu ".
Ucap pak toni meyakinkanku.
" kenapa pak toni sangat tidak ingin anak dari zafira antonio menjadi pewaris renandra, jika hanya karena permusuhan bisnis antara pak toni dengan keluarga renandra rasanya tidak mungkin pak toni akan setega ini kepada cucu sendiri ".
Aku sangat penasaran hingga memberanikan diri bertanya.
raut wajah pak toni langsung berubah sepertinya dia tidak suka dengan apa yang aku tanyakan.
" maaf dina ini adalah masalah pribadi saya, saya tidak bisa menjawab, intinya pewaris renandra tidak boleh ada campur darah antonio karena itu sangat berbahaya, antonio mereka licik dan suka bermain kotor bahkan lebih dari seperti yang kamu fikirkan ".
Jelas pak toni akhirnya aku diam tidak ingin bertanya lebih jauh lagi tentang hal ini.
__ADS_1
setelah beberapa minggu dirumah sakit keadaanku sudah lebih baik dan dibolehkan pulang, pak toni membawaku ke sebuah rumah yang terletak disebuah desa yang cukup jauh dari kota.
Rumah kecil namun terlihat sangat nyaman, dengan halaman rumah yang dipenuhi tanaman hijau dan disamping rumah terbentang sawah yang lebar.
Aku turun dari mobil bersama pak toni yang langsung disambut oleh dua wanita, yang satu sudah paruh baya dan satu lagi sepertinya masih seumuran denganku, mereka membawa barang-barangku.
saat masuk kedalam rumah aku terpesona, ini seperti rumah tradisional semua perabotan masih menggunakan kayu dan banyak barang-barang antik yang unik.
" dina ingat nama kamu larisa mereka semua yang ada disini tidak akan mengenal nama dina, karena saya sudah mengenalkan kamu sebagai larisa ".
Jelas pak toni memelankan suaranya.
" baik pak toni saya mengerti ".
Aku tersenyum kecil semoga semuanya akan baik-baik saja.
Pak toni menginap selama seminggu disini ternyata sawah yang lebar ini miliknya, dan orang desa yang tingal disini adalah pekerja pak toni renandra semua, mereka masyarakat miskin yang tidak memiliki rumah, lalu pak toni membangunkan rumah untuk mereka dan menyekolahkan anak-anak mereka.
" larisa kamu baik-baik disini pak toni mau kembali ke kota dulu, kamu tenang saja semua orang desa disini akan menemani dan melayani kamu dengan baik ".
" iya pak toni ".
Aku mengantar pak toni sampai depan dan mobil pak toni melaju meninggalkan pekarangan rumah.
benar kata pak toni bukan hanya pelayan yang dirumah melayaniku dengan baik tetapi semua warga desa yang berada disini juga, aku sedikit bahagia walau hati selalu menangis merindukan ayah.
"Apa ayah baik-baik saja disana ? ".
Jika mengingat ayah air mataku selalu turun tanpa diminta.
__ADS_1
*9 bulan kemudian*....
sudah 9 bulan aku berada disini bersama warga desa yang ramah dan baik, kini perutku sudah sangat besar sebentar lagi akan melahirkan, saat dibawa periksa oleh pak toni dokter bilang anakku laki-laki.
Saat sedang asik-asiknya menyiram tanaman dihalaman perutku tiba-tiba rasanya kram dan sangat sakit, air mengalir dari selangkanganku, air ketuban ?.
Aku terjatuh, bak siti pelayan di rumah segera menangkapku dan berteriak meminta bantuan.
" bak siti apa saya akan melahirkan tapi dokter bilang masih minggu depan ".
" tidak tau nona tenanglah kami akan segera membawamu kerumah sakit ".
Pak toni dan yang lainnya tergesa-gesa menghampiriku.
" dina kamu kenapa ".
Kata pak toni, saking paniknya dia sampai lupa memanggilku larisa tapi tidak ada yang peduli akan hal itu untuk saat ini.
" pak zen cepat siapkan mobil " .
Ucap pak toni kepada supirnya, sejak kehamilanku 8 bulan pak toni memang berada disini, jaga-jaga katanya takut kejadian seperti ini.
Aku dibawa kemobil menuju puskesmas terdekat, sebenarnya tiga hari lagi aku akan ke kota untuk melahirkan dirumah sakit yang bagus disana, tapi kini sudah tidak ada waktu.
" sakit bak siti " .
Keluhku
" tenang non tarik nafas pelan-pelan jangan panik ".
Aku menangis dipelukan bak siti karena rasanya sangat sakit.
" ibu dulu berjanji akan menemani dina saat akan melahirkan, lihatlah ibu dina akan melahirkan tapi ibu tidak ada disini ".
__ADS_1
Ucapku dalam hati kepada ibu yang sudah berada disurga.