Benih Yang Dicampakkan

Benih Yang Dicampakkan
ibu pergi


__ADS_3

" ibu meninggal dina ".


Deg


" a-a apa maksut kak doni ? ".


Aku sangat berharap jika kak doni akan mengatakan bahwa dia salah bicara atau hanya bercanda, bagaimana bisa dia mengatakan bahwa ibu sudah pergi.


Kak doni tidak menjawab dia langsung mematikan telfon, tanganku bergetar hebat dadaku bergemuruh bahkan aku sudah tidak mempedulikan zaki dan clara yang menatapku aneh.


Kakiku lemas aku berpegangan ke tembok ingin segera berlari menemui ibu tapi rasanya sangat sulit, aku menarik nafas perlahan menenangkan diri setelah itu berlari keluar dari kantor untuk mencari taxi, semua mata dikantor menatapku benci atau jijik tapi aku tidak peduli yang ada difikiranku hanya satu " ibu ".


Sial saat berada diluar taxi tidak ada aku menangis dengan keras berharap ada seseorang yang akan menolongku untuk segera bertemu ibu tapi semua orang ? Tidak ada yang peduli, akhirnya aku berlari menuju rumah sakit yang jaraknya tidak dekat, karena tidak memperhatikan sekitar aku terjatuh terperosok dijalan yang berlubang hingga membuat kakiku luka berdarah.


aku berusaha bangun tidak memperdulikan kakiku, namun tiba-tiba ada mobil dibelakangku ngelakson sangat keras, aku berhenti mobil itu berjalan perlahan kearahku.


ada yang turun dari mobil ternyata dia pak toni renandra.


" dina ada apa ? Kenapa kamu berlari dimalam hari seperti ini ".


Pak toni menatapku dengan tatapan iba, aku diam mulutku kelu tidak mampu mengatakan apapun.


" ibu ".


Hanya satu kata yang keluar dari mulutku sisanya aku menangis semakin keras, pak toni memelukku berusaha menenangkanku karena tubuhku bergetar hebat.


" tenanglah dina, saya akan membantu kamu kesulitan apapun yang kamu alami katakan saja kepada saya ".


pak toni mengatakan dengan serius pria paruh baya itu menepuk-nepuk pundakku untuk sedikit memberikan rasa hangat, hingga akhirnya aku bisa bersuara.


" kakak bilang jika ibu sudah meninggal, dina mau bertemu ibu bawa dina ke ibu pak toni ".


Pak toni melepaskan pelukannya dan segera membawaku ke mobil, setelah itu dia menyuruh supirnya untuk menjalankan mobil dengan cepat menuju rumah sakit.


setelah sampai dirumah sakit aku segera turun dan berlari dengan cepat sedangkan pak toni dan supirnya mengikutiku dibelakang, aku lihat disana keluargaku sudah menangis semua kak diva memeluk ayah sedangkan kak doni duduk lemas disana menangis dalam diam, kuhampiri dia.


" kak doni ibu dimana kak ".


Suaraku serak, tapi kak doni dia tidak menjawabku dan tetap diam, akhirnya aku meninggikan suara.


" KAK DONI DIMANA IBU KAK ".


Kak doni berdiri dan mendorongku hingga aku tersungkur dilantai.

__ADS_1


" bukankah kakak sudah katakan ibu sudah meninggal, DIA PERGI MENINGGALKAN KITA SEMUA GARA-GARA KELAKUAN SAMPAH YANG KAMU LAKUKAN ".


Kak doni menekan kata-katanya, gara-gara aku ? Benar semua yang dikatakan kak doni benar ini semua salahku, aku yang sudah menyebabkan ibu pergi.


Aku menunduk, rasanya sangat sakit, apa ibu sangat marah kepadaku sampai tidak mau berbicara dan menatapku lagi untuk selamanya ? benar selamanya.


pintu rumah sakit terbuka, ibu terbujur kaku ditutupi kain putih, aku berteriak dengan keras meraung-raung memanggil namanya, aku berusaha berdiri dan menghampiri ibu kepeluk tubuhnya dengan erat berharap ibu akan membalas pelukanku seperti yang biasa dia lakukan.


" ibu jangan pergi, maafkan dina ibu ".


Lirihku.


Kak diva menarikku hingga pelukanku terlepas, aku terhuyung kebelakang, pak toni menahanku agar tidak jatuh.


" tidak tau malu bahkan didepan ibu yang sudah terbujur kaku kamu menunjukkan jika kamu ****** dina ".


Kak diva menunjukku dan pak toni, aku menggelengkan kepala, kutatap ayah dia tidak menatapku marah seperti yang lain tapi wajah kecewa terlihat jelas di wajah keriputnya, ayah kenapa ayah tidak mau percaya kepadaku ?.


" sudah ini penghormatan terakhir untuk ibu kalian redakan amarah kalian berikan ibu kalian ketenangan " .


Ayah berbicara sangat pelan tapi itu mampu membuat kami diam, lalu ayah menyuruh perawat untuk segera membawa ibu ke ambulance agar segera bisa pulang dan dikebumikan.


Sekarang kami semua sudah berada dirumah untuk memberikan penghormatan terakhir kepada ibu, semua saudara dan tetangga datang dengan tangis, ibu terkenal orang baik dan dermawan semua orang merasakan kehilangan dirinya.


Pak toni ? Dia pergi karena tidak ingin ada yang salah faham.


Setelah dimandikan dan disholatkan, kini kami berada dipemakaman, semuanya diiringi isak air mata yang tidak mereda.


" kasian ya bu nina harus pergi dengan cara seperti ini ".


" iya bu nina punya penyakit jantung katanya terkejut hebat mendengar anaknya jadi ****** padahal keluarganya selama ini terkenal keluarga baik-baik ".


" aku kira si dina itu dia wanita karir yang sukses jadi sekretaris diperusahaan besar ternyata dibalik itu semua dia cuman sang penggoda atasannya sendiri ".


aku menunduk mengepalkan tangan mendengar perbincangan tetangga dan saudara di belakangku, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam menerima semua hinaan mereka.


Setelah semua pulang kini hanya tinggal aku dan ayah dipemakaman, ayah menatap makam ibu dengan tatapan kosong, sedangkan aku berdiri lima langkah dari ayah tidak berani mendekat karena merasa bersalah yang hebat atas menjadi penyebab perginya ibu.


" dina kenapa kamu tidak mau mendekat ke ibumu ".


Aku terkejut tiba-tiba ayah mengatakan hal itu.


" ayah ".

__ADS_1


Aku menatapnya nanar dan segera berlari memeluk ayah, ayah membalas pelukanku.


" maafkan dina ayah maafkan dina ".


Aku menangis keras dipelukan ayah, seperti saat masih kecil ketika aku sedang sedih maka ayah akan memelukku dengan erat dan aku akan menangis dengan keras didadanya yang hangat.


" ibu marah kepada dina ayah dia marah sampai tidak mau melihat dina lagi untuk selamanya ".


" ini semua bukan salah dina, tapi ini adalah takdir yang diatas, kita tidak akan bisa merubahnya, sekarang tugas kita hanya mengikhlaskan dan mendoakan ibumu ".


aku hanya mengangguk dan terus menangis begitupun dengan ayah, kami berpelukan sangat lama menumpahkan rasa sakit masing-masing.


Setelah berpamitan dengan ibu aku dan ayah pulang, ayah adalah laki-laki paling sabar dan bijak yang pernah aku temui, dulu aku selalu berdoa agar mendapat pendamping hidup seperti ayah tetapi kini aku sudah kotor nama baikku sudah rusak siapa yang masih mau menerimaku.


" apa ayah percaya sama dina ? ".


Aku menatap ayah sambil menggenggam tangannya.


Ayah tersenyum hangat, senyum yang selalu membuatku merasa tenang.


" ayah percaya sama kamu nak, maafkan ayah yang gagal menjagamu hingga kamu harus mengalami ini semua ".


Lagi dan lagi air mataku jatuh ternyata masih ada orang yang percaya kepadaku dan dia adalah ayah laki-laki paling berharga dihidupku.


Saat baru sampai dirumah banyak orang yang menatapku tajam dan barang-barangku sudah berada diluar, ada apa ini ?.


" warga-warga kita harus usir dina dari sini dia hanya akan mempermalukan kita semua dan bisa memberi contoh yang tidak baik bagi anak-anak kita ".


Aku dan ayah terkejut mendengar perkataan tante riri kepada semua warga.


" benar usir dia ".


" usir dina sekarang juga dari sini ".


Kata warga.


Aku semakin menggenggam erat tangan ayah, kak diva dan kak doni mereka hanya diam.


namun setelah itu kak doni menarik paksa tanganku dan ayah sampai terlepas lalu memeluk ayah menahan agar tidak dekat denganku.


" apa yang kalian lakukan jangan usir anakku ".


Ayah berteriak dan berkali-kali memanggil namaku tapi tidak dihiraukan oleh semua orang, kak doni membawa paksa ayah agar masuk kedalam rumah sedangkan aku hanya bisa menangis tidak tahu harus berbuat apa menjelaskan juga tidak akan ada yang mendengarkan setelah itu kak diva mengunci pintu rumah dari dalam membiarkan aku diseret paksa oleh warga agar pergi dari sini.

__ADS_1


" ayah dina takut ".


Lirihku.


__ADS_2