
Malam berganti pagi kini semuanya sudah siap menjalankan rencana yang sudah direncanakan.
kami sudah berada dirumah sakit, tempat zafira melahirkan, bak Siti dan pak Toni masuk kedalam ruangan zafira sedangkan aku keruangan bayi membawa afan ada juga dokter suruhan pak Toni yang membantuku.
" Bu dina sekarang silahkan keruangan bayi semuanya sudah kami atur ".
" baik dokter ".
Dokter berambut pendek itu tersenyum hangat, lalu aku segera pergi keruangan bayi untuk menukar bayiku sendiri.
nafasku memburu setelah selesai menukar aku segera menelfon pak Toni, kini yang berada digendonganku sudah bukan anakku lagi, aku terisak menahan rasa sakit yang tidak bisa jelaskan, dokter berambut pendek dia menuntunku untuk segera keluar dari sini.
" ibu Dina ayo segera keluar dari sini, lewat jalan ini !! ".
Dia menunjuk jalan yang sepi, aku mengangguk dan segera pergi, pak Toni juga mengatakan sudah menyiapkan taxi didepan.
*Flashback off*
Angga membelai rambut istrinya yang kini sudah membuka mata pasca operasi, zafira menatap suaminya dan tersenyum hangat.
" Angga dimana anak kita ".
Angga sedikit terkejut karena terlalu khawatir dengan keadaan zafira dia sampai tidak melihat anaknya.
" jagoan kita ada diruangan bayi katanya papa dia sehat ".
Zafira mengerutkan dahinya.
" kata papa ? Kamu belum melihat anak kita ? ".
Angga menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal dan tersenyum kikuk.
" bukan seperti itu za, kemarin aku sudah mau melihat bayi kita tapi kata papa aku disuruh fokus nemenin kamu, sedangkan bayi kita papa yang ngurus. "
Entah kenapa mendengar perkataan Angga, zafira menjadi khawatir kepada bayinya padahal pak Toni adalah kakeknya tapi dia merasa tidak aman.
" sayang apa yang kamu fikirkan bayi kita baik-baik saja ".
kata Angga lembut.
" bukan seperti itu Angga, kamu tau sendiri bukan papa tidak suka aku, bahkan dia mengatakan tidak ingin memiliki cucu yang lahir dari rahimku ".
setelah mengatakan itu pintu terbuka pak Toni masuk dengan menggendong bayi, pak Toni tersenyum dan menghampiri zafira.
" zafira terima kasih sudah memberikan saya cucu setampan ini ".
Zafira hanya tersenyum mendengar perkataan mertuanya.
pak Toni memberikan bayi itu kepada zafira, Angga mencium pipi kecilnya.
" Waahh matanya sangat persis dengan papa ".
Kata Angga.
" curang mama yang mengandung sembilan bulan, keluar keluar malah mirip papanya ".
semua tertawa, hingga tawa mereka berhenti ketika bayi menangis dengan keras.
Angga mengambil bayinya kegendongannya.
" Afan renandra jangan menangis ".
Angga mencubit-cubit kecil pipinya dan tangisan afan benar-benar berhenti.
pak Toni membelai halus kepala zafira, sampai zafira terkejut.
" nanti kalau zafira sudah sembuh, kita akan berpesta untuk menyambut lahirnya afan renandra, papa sudah siapkan semuanya ".
Zafira tertegun aliran darahnya rasanya berhenti melihat kelakuan mertuanya, selama ini pak Toni selalu menunjukkan sifat dingin bahkan terang-terangan mengatakan benci kepada zafira tapi kali ini berbeda sikapnya menghangat.
" i-i iya pak Toni ".
Zafira menjawab sangat gugup dan pak Toni tersenyum.
afan menangis kembali bahkan lebih keras dari sebelumnya.
" sepertinya dia haus zafira ".
kata Angga lalu memberikan bayi kepada ibunya.
" papa keluar dulu ya ".
__ADS_1
Zafira mengangguk tersenyum cerah.
" iya pa silahkan ".
Kata Angga.
Akhirnya pak Toni keluar dan zafira mulai memberikan ASI-nya, awalnya afan tidak mau sampai membuat Angga dan zafira kebingungan, cukup lama dirayu akhirnya dia mulai mau dan minum dengan lahap.
" terima kasih nak karena kehadiranmu , mama mulai diterima oleh kakek kamu ".
Tidak sadar air mata zafira turun dengan perlahan.
" zafira terima kasih juga buat kamu sudah kuat sejauh ini ".
Zafira mengangguk, Angga memeluknya erat sambil menatap bayinya yang tersenyum ketika pipi mungilnya disentuh.
" Nona dina sudah ya nangisnya ".
Bak Siti sudah mulai kehilangan akal karena seharian ini dina terus menangis.
" saya tidak mau berpisah dengan afan bak, dia anak saya ".
" nona dina tidak berpisah, nanti kalau sudah waktunya kalian akan kembali bersama ".
Siti memeluk Dina untuk kesekian kalinya dan akhirnya tangisnya mereda.
" bak Siti kok manggil saya Dina ? Biasanya larisa ".
" iya Dina nama asli nona bukan, bak Siti bukan orang lain jadi tidak perlu menggunakan nama samaran".
" terima kasih bak Siti, jangan tinggalin Dina ya, Dina tidak punya siapapun lagi kecuali bak Siti ".
" iya non tenang saja ".
Dina melepas pelukan Siti dan berjalan menuju keranjang bayi, menatap bayi yang menguap dan membuka matanya perlahan.
" non bayi ini mau dikasih nama siapa ? ".
" tidak tau, terserah bak Siti saja ".
bak Siti menggendong bayi dan mencium hidungnya.
" kalau Akbar bagaimana non ? ".
Tanya Siti.
" boleh bak, Akbar renandra ".
" tidak Dina ".
Tiba-tiba pak Toni masuk dan mengagetkan semuanya.
__ADS_1
" jangan memberi nama anak ini dengan renandra, saya tidak mengizinkan ".
raut wajah pak Toni terlihat marah, bak Siti sampai menunduk dengan mata berkaca-kaca.
pak Toni mendekat kearah bayi, dia menatap bayi tersebut dengan wajah datar sebegitu bencinya dia pada cucunya sendiri ?.
" baik pak Toni saya mengerti, lalu bagaimana dengan anak saya disana apa dia baik-baik saja ? ".
Dina mencairkan suasana yang mulai menegang.
" tenang saja Dina dia baik-baik saja ".
Dina mengangguk lemah dan menarik nafas panjang.
setelah berbincang-bincang sedikit dan memberikan peralatan bayi mulai dari baju, susu dan lain-lain pak Toni lalu pulang.
Sebenarnya apa maunya ? Dia membenci cucunya tapi tetap memenuhi fasilitas dengan baik.
Dina tidak menyentuh sama sekali bayi Akbar, seperti saat ini Akbar menangis dengan keras tapi dia mengabaikannya dan tetap memakan camilan hingga bak Siti datang dan mulai menggendong Akbar.
" anak ganteng jangan menangis sebentar ya bak Siti mau buat susu dulu ".
Siti keluar lagi beberapa saat dan kembali membawa botol susu yang sudah terisi penuh tapi Akbar tidak mau dan terus menolak botol susu itu.
Siti terus berusaha tapi Akbar tetap tidak mau.
Dina sudah berbaring ditempat tidur lalu kambali bangun saat mendengar Siti menangis.
" kasian sekali kamu nak, lahir tanpa dosa tapi harus menanggung ini semua, jangan khawatir Akbar jangan takut Siti akan merawat kamu seperti anak sendiri jadi sekarang minum susunya ya ".
Hati Dina rasanya teriris mendengar perkataan Siti.
" benar anak ini tidak bersalah, dia hanya lahir ditengah-tengah sulitnya keadaan, aku yang jahat sudah memisahkan dia dengan ibunya lalu sekarang tidak memperlakukan dia dengan baik bahkan mengabaikannya ".
Ucap Dina dalam hati.
" bak Siti kemarilah Akbar akan saya beri asi mungkin dia mau ".
Bak Siti tersenyum cerah dan segera menyerahkan akbar kepadaku.
Dan benar dia mau bahkan meminumnya dengan lahap, matanya berbinar menatapku sedangkan aku menangis melihatnya begitupun dengan bak Siti, kami menangis bersama.
" maafkan ibu Akbar, mulai sekarang saya akan merawat kamu seperti anak sendiri ".
Kata Dina.
__ADS_1