Benih Yang Dicampakkan

Benih Yang Dicampakkan
Melahirkan


__ADS_3

Sekarang aku sedang berjuang melahirkan anakku ditemani oleh bak siti dan tiga bidan sedangkan pak toni menunggu diluar, air mataku tidak berhenti mengalir rasanya sangat sakit, sudah dua jam aku berusaha tapi bayi ini tidak mau keluar.


" ayo buk terus dorong perlahan-lahan kepala bayinya sudah terlihat ".


mendengar perkataan bidan aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan, lalu kembali mendorong bayiku untuk keluar.


" ayo nona larisa pasti bisa ".


Ucap bak siti menyemangatiku, dia menggenggam tanganku erat seperti menyalurkan kekuatan.


Aku terus berusaha lima belas kemudian suara bayi terdengar sangat nyaring, semua orang yang berada diruangan bernafas lega termasuk aku.


" selama buk bayinya laki-laki ".


Aku hanya tersenyum kecil sambil mengatur nafas melihat bayi laki-laki yang masih berlumuran darah digendongan bidan.


Setelah itu bidan membawa bayiku untuk dibersihkan, aku juga dibersihkan dan dijahit bekas lahiran, lagi-lagi aku menjerit karena rasanya sangat sakit.


" apa seperti ini perjuangan ibu dulu melahirkan dina ".


ucapku pelan mengingat ibu, air mataku kembali turun dulu ayah dan ibu selalu mengatakan tidak sabar menggendong cucu mereka yang lahir dariku, aku sudah memberikan mereka cucu tapi mereka tidak ada disini.


" nona larisa kenapa ? Seharusnya sekarang nona larisa harus bahagia karena telah melahirkan anak yang sangat tampan ".


Bak siti mengusap air mataku dengan tangannya perlahan, aku tidak menjawab pertanyaannya.


setelah aku selesai dijahit dan dibersihkan pak toni masuk kedalam ruangan dengan senyum yang sangat lebar, bayiku sudah ada digendongannya.


" larisa lihat cucu saya sangat tampan ".


Ucap pak toni dengan senyum yang tidak luntur dari wajah keriputnya.


" iya pak ibunya cantik kayak gini masak anak laki-lakinya tidak tampan ".


Aku tersenyum mendengar perkataan bak siti.


" siti terima kasih sudah menemani larisa melahirkan ".


Ucap pak toni kepada bak siti.


" iya pak toni sama-sama saya juga sangat bahagia bisa membantu nona larisa ".


" siti bisa kamu keluar dulu ada yang ingin saya bicarakan dengan larisa ".


Bak siti hanya mengangguk ketika pak toni menyuruhnya keluar.


" bak siti keluar dulu ya non ".


Ucap bak siti.

__ADS_1


aku mengangguk kecil, setelah itu bak siti keluar dari ruangan bersalin.


pak toni memberikan bayiku, aku menggendongnya, matanya sangat mirip dengan angga ayahnya, sedangkan bibirnya persis punyaku.


" Afan renandra ".


Aku menoleh kepada pak toni dengan wajah bingung.


" nama cucu saya ini afan renandra ".


aku menatap bayiku yang kini juga menatapku, dia tersenyum kecil sangat manis.


" apa ada alasan pak toni memberi nama anak ini afan renandra ? ".


" angga dan zafira sudah menyiapkan nama untuk anak mereka yaitu Afan renandra ".


Aku tidak suka mendengar perkataan pak toni.


" tidak pak toni saya akan menyiapkan nama sendiri untuk anak saya ".


Ucapku sedikit ketus, pak toni menghela nafas panjang.


" dina apa kamu lupa jika nanti anak ini akan tinggal bersama angga dan zafira, sudah pasti dia akan dipanggil sebagai afan renandra nama yang sudah disiapkan oleh mereka ".


Aku terdiam benar aku lupa anak ini tidak akan bersamaku, hatiku sangat sakit, sebesar apa hatiku sampai akan melakukan ini kepada bayiku sendiri, membuatnya tinggal bersama orang lain walaupun bersama ayah kandungnya tapi tetap saja anak ini tidak diharapkan kehadirannya.


" dina jangan terlalu difikirkan ini hanya nama, selamanya dia akan tetap menjadi putramu, nanti kamu akan tinggal bersama dia dikediaman renandra ".


" saya mengerti pak toni mulai sekarang nama anak ini adalah afan renandra ".


pak toni mengangguk dan tersenyum lalu dia menyentuh lembut kepalaku.


" terima kasih dina sudah melahirkan darah renandra, saya bersumpah akan menepati janji saya ".


" saya percaya dengan pak toni ".


Tiba-tiba suara telfon pak toni berdering, dia mengangkatnya dan agak menjauh dari aku dan afan.


" afan renandra anak ibu harus tumbuh jadi anak yang hebat, kuat dan cerdas ".


Aku mencium wajah mungilnya awalnya bibir mungil itu tersenyum tapi aku semakin gemas tanpa sadar menciumnya lebih kuat disetiap inci wajahnya, akhirnya afan menangis kencang membuatku terkejut.


Aku memberinya asi lagi, tangisnya berhenti, mata bulatnya menatapku tanpa berkedip, aku menyentuh bulu matanya agar dia berkedip.


" kenapa afan menatap ibu seperti itu, afan tau nak kalau nanti kita akan berjauhan " ?.


Air mataku menetes kewajahnya.


" tenang saja nanti jika sudah waktunya kita akan kembali bersama ".

__ADS_1


tiba-tiba pak toni masuk dengan tergesa-gesa, gawat aku sedang dalam posisi memberi asi kepada afan.


Aku tutup asiku dengan kain tipis yang ada dimeja entah kain apa itu aku sudah tidak peduli, wajah afan sampai tertutupi juga.


" dina kita harus segera ke kota, zafira juga akan melahirkan hari ini ".


Aku terkejut, kebetulan macam apa ini aku dan dina melahirkan dihari yang sama.


" saya akan segera menyiapkan keberangkatan kita ".


setelah mengatakan itu pak toni keluar lagi.


Aku tersenyum sendu.


" afan apa secepat ini kita akan berpisah nak ? ".


Aku menangis sangat pilu bak siti menghampiriku.


" ada apa nona larisa ".


Aku tidak menjawab melainkan terus menangis sambil menatap wajah bayiku.



Setelah pak toni menyiapkan semuanya kini kita sudah berada dimobil menuju kota, mobil ini besar dan panjang pak toni bahkan meletakkan kasur disini agar aku bisa tiduran bersama afan karena selesai melahirkan rasanya sangat perih jika duduk.



Bak siti juga ikut bersama kami biasanya dia cerewet tapi kini dia hanya diam menunduk, dia mungkin terkejut karena barusan pak toni menceritakan semua yang terjadi kepadaku termasuk penukaran bayi, tujuannya pak toni ingin bak siti menjadi pendampingku mulai saat ini dan membantuku disituasi apapun.



Aku juga diam tidak ingin mangatakan apapun, afan tertidur pulas aku juga berusaha tidur agar bisa menenangkan sedikit beban fikiranku, tidak butuh waktu lama aku terlelap.



Aku terbangun entah berapa lama aku sudah tertidur, afan tidak ada disampingku ternyata sudah ada digendongan bak siti.


Bak siti tersenyum kepadaku tidak seperti tadi yang terlihat murung dan gelisah.


" non bayinya dikasih asi dulu, karena memang dua jam sekali harus diberi asi ".


" iya bak sebentar ".


Aku berusaha duduk bak siti membantuku, setelah itu kuberikan asi kepada afan dia sangat lahap, aku bahagia melihatnya bayiku sehat.


" zafira tidak bisa melahirkan normal dia harus melakukan operasi ".


Ucap pak toni.

__ADS_1


Aku hanya diam begitupun dengan bak siti.


__ADS_2