
aku pergi ketaman kantor, suasana disini sepi karena masih jam kerja, aku menghembuskan nafas kasar rasanya sangat lelah menghadapi ini semua.
hp ku berdering tertera dilayar yang memanggil " pak angga " , dengan berat hati aku angkat telfonnya.
" dina kamu dimana ? ".
Tanya pak angga diseberang sana.
" saya ditaman pak, apa ada pekerjaan yang harus saya bereskan ".
Aku tetap bersikap profesional.
" iya segera keruangan saya sekarang juga ".
" baik pak "
Telfon terputus aku beranjak dari tempat dudukku untuk keruangan pak angga.
memencet bel dan pintu terbuka sendiri, terlihat disana pak angga sedang bersama pak toni ayahnya, perasaanku tidak enak ada apa ini ?
" selamat pagi pak, apa ada pekerjaan yang harus saya kerjakan ? ".
Tanyaku mencoba untuk bersikap seprofesional mungkin.
" kamu yang namanya dina ? ".
Bukan pak angga yang bertanya melainkan pak toni renandra.
" iya pak benar saya dina ".
Jawabku sedikit kikuk, aku harap tidak ada yang terjadi.
Pak toni mempersilahkanku duduk sedangkan pak angga dia terlihat gelisah.
" dina saya sudah tau apa yang terjadi antara kamu dan anak saya angga ".
Aku terkejut dan langsung menunduk tidak berani menatap matanya, sekarang apalagi yang akan terjadi bagaimana pak toni bisa tau akan hal ini ?.
Aku tidak menjawab melirik kepada pak angga dia juga menunduk dan diam.
" tidak usah tegang kalian berdua saya tidak marah tapi, jika kamu hamil dina mengandung keturunan renandra, maka anak itu harus menjadi pewaris tunggal renandra grup ".
Aku melotot mendengar ucapan pak toni, angga juga sama terkejutnya dia berdiri dan mengepalkan tangan urat lehernya keluar menandakan bahwa dia sangat marah.
" apa maksut papa, dina tidak hamil dia tidak sedang mengandung benihku, sekalipun dia hamil maka anak dari istri sah ku zafira yang akan menjadi pewaris tunggal ".
fikiranku kalut, lidahku kelu ada banyak hal yang ingin aku bicarakan ke dua orang ini tapi rasanya tidak bisa.
pak toni juga berdiri terlihat ayah dan anak ini saling menatap tajam dengan amarah masing - masing.
" papa sudah izinkan kamu menikah dengan zafira antonio anak dari musuh bebuyutan papa tapi jika menyangkut soal hak waris renandra tidak boleh ada campur darah antonio, PAPA TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN ITU TERJADI ".
Pak toni berbicara dengan nada menekan dan tinggi.
" papa, keluarga antonio sudah selalu meminta berdamai dengan kita, jangan egois dan hentikan permusuhan ini pa ".
__ADS_1
pak toni tersenyum mendengar ucapan angga.
" kamu tidak tau apa yang sudah dilakukan antonio kepada keluarga kita sejak dulu, mereka selalu ingin menghancurkan kita bahkan renandra grup saat sudah hampir jatuh ketangan penipu itu jika seandainya papa tidak berjuang mempertahankan perusahaan renandra, andai papa punya anak lagi selain kamu, maka papa tidak akan pernah sudi renandra grup jatuh ketangan orang bodoh yang hanya mementingkan cinta seperti kamu ".
Tanpa menunggu jawaban angga pak toni menyuruhku keluar dari ruangan untuk meninggalkan angga yang kini menatapku tajam, aku hanya mengikuti pak toni tanpa ada perlawanan entah kenapa aku merasa aman bersamanya, semua orang dikantor melihat kami dan berbisik-bisik tapi aku sudah tidak peduli.
Pak toni membawaku ketaman kantor, kami duduk dibangku tempat aku duduk tadi.
Entah kenapa air mataku mengalir aku bingung dan takut apa yang harus aku lakukan.
" dina saya harap kamu bisa mengandung anak renandra karena hanya kamu satu-satunya harapan saya ".
ucap pak toni sambil menatapku yang menangis.
" saya tidak mau pak, saya tidak mau hamil anak renandra, saya tidak mau ".
Aku menangis semakin keras sambil menutup telingaku menggunakan kedua tangan, aku sangat frustasi.
" dina dengarkan saya, jika seandainya kamu benar-benar hamil tolong jangan gugurkan anak itu dia cucu saya, walau kamu bukan menantu saya tapi saya akan menganggap kamu sebagai keluarga, kamu boleh meminta apapun saya akan turuti.
" tapi saya tidak hamil pak ".
" saya yakin kamu akan segera hamil anak renandra dina ".
" jika seandainya saya benar-benar hamil bagaimana dengan pak angga dia tidak akan menerima anak ini, seandainya ? ".
entah kenapa pertanyaan itu keluar tiba-tiba dari mulutku, aku sama sekali tidak berharap hamil tapi bagaimana jika takdir berkata lain.
" tenang saja dina kamu jangan khawatir itu akan menjadi urusan saya ".
~ ~ ~ ~
Sudah satu minggu semenjak pembicaraanku dengan pak toni.
Kini tubuhku rasanya aneh panas dingin dan selalu mual, aku selalu ingin memuntahkan sesuatu tapi tidak ada yang dimuntahkan, gawat apa aku hamil ?.
" aku harus mamastikan hal ini ".
setelah lama meyakini diri sendiri aku mengendarai sepeda listrik dan pergi ke sepermarket terdekat untuk membeli tes kehamilan, hatiku sangat was-was bagaimana jika aku benar -benar hamil, apa yang akan aku katakan kepada kedua orang tuaku bagaimana dengan masa depanku ?.
aku membeli sembunyi-sembunyi karena jika ada yang mengenalku dan menemukanku membeli alat seperti ini mereka pasti akan curiga, setelah selesai membeli aku bergegas pulang.
Kini aku sudah ditoilet menunggu hasilnya, aku mondar-mandir tidak karuan, kuhela nafas dengan panjang dan mengambil tes pack kehamilan yang ada dibawah.
Deg garis dua.
tubuhku langsung lemas dan jatuh kelantai air mata sudah tidak bisa lagi aku bendung, menangis dalam diam kini semuanya menjadi semakin rumit.
Makan malam keluarga bersama dengan ayah ibu dan kedua kakakku doni dan diva, kami semua makan dengan tenang hanya ada suara sendok dan piring.
Tiba-tiba seperti ada yang berjalan diperutku, aku sangat mual dan segera berlari kekamar mandi untuk memuntahkan isi perut, ibu mengejarku dan memegang tengkukku hampir 5 menit mualku sedikit mereda.
" dina kamu sakit ayo kita kerumah sakit ".
Gawat kalau aku kerumah sakit ibu bisa tau segalanya.
__ADS_1
" e-e tidak buk dina tidak papa, tadi dikantin kantor dina makan mie ayam cabenya kebanyakan jadi sakit perut ".
Jawabku gugup.
" kamu ini kebiasaan jangan pedes-pedes makannya dina ".
Wajah ibu terlihat khawatir aku merasa sangat bersalah, apa aku jujur saja.
" buk dina mau bicara sesuatu ".
Belum bicara air mataku sudah mau jatuh.
" kenapa din ayok bicaranya diluar jangan dikamar mandi dingin nanti kamu tambah sakit ".
Ibu mau keluar tapi aku menahannya.
" ibu maafin dina tapi saat ini dina ham ".
Tiba-tiba .....
" ibu ada tante riri katanya mau bayar hutang ".
Belum selesai aku bicara kak diva datang.
" iya diva bilangkan duduk dulu ibu segera kesana ".
kata ibu kepada kak diva.
" dina kamu kenapa, sakit ? ".
Tanya kak diva.
" endak kak gak papa cuman makan kepedasan tadi ".
" makanya jangan makan pedas-pedas terus ".
Kak diva memukul kepalaku aku mengeluh sakit sedangkan ibu memukul kepala kak diva.
" ampun buk ampun ".
kata kak diva, dia segera lari dan meninggalkan kita berdua.
" ayok dina keluar jangan lama-lama dikamar mandi ".
Aku dan ibu keluar.
" tadi dina mau bicara apa ? ".
" tidak bu cuman mau nanyak obat sakit perut dimana ".
Aku belum siap bicara sekarang.
" tak kira mau ngomong apa, itu obatnya ada dilemari putih didepan tv, minum dan setelah itu istirahat ibu masih mau menemui tante riri ".
aku mengangguk kecil dan segera kekamar, menutupi tubuh dengan selimut dan menangis dalam diam.
__ADS_1