
Sinar matahari pagi menerobos celah jendela mengusik tidurku, kucoba buka mata perlahan rasanya sangat berat mungkin karena menangis terlalu lama tadi malam hingga membuat mataku membengkak.
Baru saja bangun aku sudah mendengar suara bising dirumah seperti ada yang bertengkar.
Ada apa ini siapa yang bertengkar sepagi ini ?, seperti suara ayah dan ibu
Aku bergegas turun dari tempat tidur untuk memastikan apa yang terjadi
Kulihat di ruang tamu ada ibu dan ayah yang berpelukan sambil menangis, kedua kakakku menatap tajam kearahku begitupun dengan tante riri dan anaknya rina, aku bingung.
Tante riri menghampiriku dan melempar sesuatu tepat diwajahku, aku terkejut kulihat tes pack kehamilan berada dibawah kakiku, tubuhku membeku gawat aku lupa membuangnya tadi malam.
" ini punya kamu dina ? ".
Tante riri bertanya dengan wajah yang serius.
" t-t tidak aku tidak tau itu bukan milikku ".
Aku mengelak dengan gugup.
" ibumu yang menemukan alat ini di kamar mandi dina dan tadi malam kamu memang mual-mual, kami juga dapat info dari teman kantormu bahwa kamu hamil dengan laki-laki yang tidak diketahui identitasnya lalu memfitnah bosmu sendiri pak angga yang telah menghamilimu, menjebaknya meminta dia menikahimu agar kamu bisa menjadi menantu keluarga renandra ".
aku melotot mendengar semua perkataan tante riri tega sekali dia mengatakan ini semua kepadaku padahal disini aku adalah korban.
" JANGAN BICARA SEMBARANGAN TANTE ".
semua orang diruangan ini berdiri mendengar aku berteriak.
Aku melanjutkan perkataanku.
" aku tidak serendah yang tante katakan, mulut siapa yang sudah mengarang cerita sekeji itu terhadapku, aku juga tidak tau ".
" tapi kamu beneran hamil kan dina ? "
kini kak diva yang mulai bertanya
__ADS_1
aku menghela nafas berat mau bagaimanapun hal ini tidak bisa ditutup-tutupi, aku akan mengatakan semuanya, kulihat wajah ayah dan ibu mereka manatapku dengan penuh kecewa.
" iya dina hamil, tapi tolong dengerkan dulu penjelasanku, semuanya tidak seperti yang kalian fikirkan, aku disini korban ".
Ibu manganga mendengar perkataanku, ayah kembali duduk dikursi terlihat sangat frustasi.
Plaakk
Pipi kiriku rasanya panas, kak doni menamparku sangat keras hingga keluar darah dari sudut bibirku, aku diam sejenak mengatur nafas yang sudah mulai sesak.
" kak doni ? "
Aku menatapnya dengan mata yang sudah basah.
" kakak menamparku ? dimana letak kesalahanku kak ? APA AKU SALAH JAWAB AKU KAK ".
Kak doni sudah mengangkat tangannya lagi hendak menamparku tapi dia tidak melakukannya, menurukan kembali tangannya.
" kamu masih bertanya dina apa salahmu, liat kedua orang tua kita kamu sudah membuat aib yang sangat besar bagi mereka ".
" benar kak aku sudah membuat aib bagi mereka, malam itu aku diperkosa oleh bosku sendiri pak angga, dia menarikku memaksaku untuk melakukan hal itu, aku berteriak meminta tolong mencoba memberontak tapi aku tetap kalah, apa kakak tau bagaimana takutnya aku saat itu, bagaimana aku berharap ada seseorang yang datang dan menolongku tapi tidak ada, tidak ada yang membantuku bahkan semua orang kini hanya menghakimi dan menyalahkanku atas semua hal yang tidak aku lakukan ".
aku menangis dengan keras menumpahkan semua sakit hatiku.
" dina kamu sangat pintar mengarang cerita bagaimana bisa seorang angga renandra sampai memaksamu untuk melakukan hal seperti itu dia sudah punya istri, ternyata benar rumor itu kamu ingin menjebak bosmu agar bisa kamu miliki dengan cara yang serendah ini ".
Tante riri mengatakannya lagi hingga aku lepas kendali, aku menamparnya dengan keras hingga dia menoleh kekanan, rina anaknya berteriak dan mendorongku kebelakang.
" apa yang kamu lakukan dina ".
Itu suara kak doni aku sudah tidak mempedulikannya yang terlihat semakin marah, aku berjalan menghampiri ayah dan ibu kepegang tangan mereka.
" ayah sama ibu percaya kan sama dina ? ".
mereka menatapku dengan putus asa dan hal itu membuat hatiku sangat sakit, aku sangat butuh dukungan dan pertolongan saat ini tapi kenapa semua orang terdekatku tidak ada yang mempercayaiku.
__ADS_1
Ayah tidak menjawab dia terus berusaha memalingkan wajah tidak ingin melihatku sedangkan ibu menangis keras, akhirnya aku runtuh, aku bersimpuh dikaki ibu rasanya sangat sakit.
Tante riri menghampiriku dan menunjukkan ponselnya, disana ada aku dan pak angga yang sedang berpelukan dengan keterangan disana tertulis bahwa " sekretaris perusahaan renandra grup menjebak CEO perusahaan dengan memberikan minuman beralkohol tinggi hingga sang CEO mabuk berat dan tidak sadarkan diri lalu sekretaris tersebut menggodanya, setelah itu dia memfitnah jika CEO tersebut telah menghamilinya dan meminta untuk dinikahi ".
Aku sudah tidak bisa berkata-kata lagi bagaimana bisa, siapa yang telah melakukan ini kepadaku ?, siapa yang telah mencemarkan nama baikku menjadi sekotor ini ?.
ibu jatuh pingsan semua orang panik, kak doni segera menggendong ibu untuk dibawa kerumah sakit, kakiku lemas bahkan untuk sekedar berdiri mengejar mereka yang telah masuk kedalam mobil aku tidak mampu, aku hanya menangis dengan keras, kenapa semua orang sangat jahat kepadaku ?
setelah menangkan diri aku segera menyusul ibu kerumah sakit, aku berlari dilorong rumah sakit mencari ibu, kulihat disana kak diva sedang menangis dipeluk oleh kak doni sedangkan ayah hanya menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong, kuhampiri mereka.
" ayah bagaimana keadaan ibu ? ".
Ayah tidak menjawab pertanyaanku, tiba-tiba ada yang manarik tanganku itu kak diva.
" ngapain kamu disini, ini semua gara-gara kamu dina ibu punya penyakit jantung dia pasti kaget berat atas apa yang sudah dilakukan oleh putri kesayangannya ".
Aku hanya diam cukup lelah sudah menjelaskan kepada mereka, kulepas tangan kak diva dan mulai duduk disamping ayah.
Kak diva mendelik tajam dan kemudian kembali duduk.
" ayah pernah bilang sama dina waktu kecil kalau ayah adalah superhero dina, yang akan selalu melindungi dina dari segala hal, dimana sekarang superhero itu ayah ? saat ini dina sedang berada disituasi paling buruk, dina ketakutan dan butuh perlindungan tapi superhero itu bahkan tidak mau berbicara dengan dina, apa dia sudah tidak mau menjadi superhero dina lagi ? ".
Air mataku jatuh, ayah menoleh kearahku dia juga menangis menatapku sangat dalam lalu berdiri dan pergi meninggalkanku, aku mau mengejarnya tapi kak doni menahanku.
" biarkan ayah menenangkan diri dulu, ini semua tidak mudah untuk dia hadapi dina, dan ibu keadaannya kritis didalam ".
aku kembali terduduk, lagi dan lagi aku hanya bisa menangis.
30 menit berlalu tiba-tiba banyak suster yang masuk keruangan ibu dan itu mengagetkan kami, kak doni dia bertanya kepada dokter keadaan ibu dan dokter hanya mengatakan agar kami banyak berdo'a.
Ayah terduduk dilantai kak diva memeluknya.
" ibu maafkan aku tolong jangan seperti ini, jangan pergi, jangan hukum aku dengan cara seperti ini aku masih sangat butuh ibu, aku korban bu ".
Ucapku dalam hati.
__ADS_1
~ bahkan orang terdekat akan menjadi orang yang paling menyakitkan disaat kita berada dititik terendah ~