BETRAYAL

BETRAYAL
EIGHT


__ADS_3

"farel ganteng dan tidak sombong ayolah bantuin gue" ucap ana memelas sambil berbaring di ranjang entah sejak kapan dia bisa masuk


tentu saja dia bisa masuk karna mudah bagi nya mendapatkan kunci cadangan dari Tante kesayangannya


"wah bisa-bisa nya Lo masuk pasti ngambil kunci dari mama gue kan" ucap farel keluar dari ruang ganti baju nya setelah selesai mandi di kejutkan dengan adanya sepupu nya itu di kamar nya


"apa sih yang ga gue bisa buat menuhin keinginan gue" sombong ana kepada farel yang sedang menyisir rambut nya


"ada tuh bukti nya Lo ga bisa nemuin yang berharga telah hilang dari Lo"


"ngomong gitu lagi fiks gue ga mau keluar dan gue bakal tidur di sini, bodoamat Lo nolak atau ga"


"jangan gila dong na kelakuan Lo"


"bodoamat" ucap ana santay malah menarik selimut dan bersiap untuk tidur


"gue ga bisa bantu Lo tapi gue ada informasi buat Lo" ucap farel sambil duduk di atas ranjang milik nya


"apa? penting ga?" ucap ana antusias sambil duduk menghadap farel


"sabar rel sabar untung sepupu kalo bukan udah usir nih anak" gumam farel dalam hati


"gue emang ga bisa bantu Lo ketemu sama yang orang Lo cari itu tapi yang Lo cari itu orang nya lagi sakit dan sekarang lagi di rumah sakit berjuang untuk hidup dan mati nya"


"WHAT!!" teriak ana benar-benar membuat seorang farel terkejut sambil mengelus da*da nya sabar


"iya dan penyebab dia masuk rumah sakit itu gue sendiri"


"LO GILA REL? LO BUNUH DIA?!" teriak ana tidak benar-benar percaya farel sepupunya membuat anak orang sekarat


"gue ga bunuh dia gue cuma ngehukum dia lari keliling lapangan 20 kali"


"itu Lo ngebunuh nama nya dodol" kesal ana menoyor kepala sepupu nya


"gue ga tau kalo dia punya penyakit serius"


"to*lol banget gue punya sepupu"


setelah ana mengetahui penyebab kenapa farel menghukum dia pun langsung mengambil kunci motor dan juga jaket nya setelah itu dia bergegas pergi menuju rumah sakit yang di sebutkan farel tadi

__ADS_1


"semoga kali ini pertemuan gue ga salah orang lagi" gumam ana sambil mengendarai motor nya menuju rumah sakit


....


setelah dewa mengantarkan papi Ardi dan mami Astrid pulang ke rumah dia kembali lagi ke rumah sakit dengan membawa baju ganti untuk dia dan kepin


saat ingin memasuki area rumah sakit tanpa sengaja mata nya melihat seseorang yang dia yakini itu adalah penyebab dari semua kenakalan kepin selama ini


"kalau gue ketemu sama dia berarti kepin juga udah ketemu sama dia" ucap dewa


setelah memastikan yang dia lihat nya itu benar dewa bergegas pergi menuju ruangan Nayla namun saat ingin memasuki lift dia melirik orang yang juga ingin masuk lift dan ke lantai yang sama dengan nya


"maaf kaya nya Lo salah lantai deh, lantai 5 itu lantai tempat sahabat gue di rawat dan itu VVIP jadi ga mungkin sembarang orang bisa masuk" ucap dewa dingin namun masih berusaha sopan


"gue ga salah lantai dan gue emang mau ke lantai 5" ucap orang itu yang seperti nya tergesa gesa


dewa bersikap bodoamat saja karna dia pikir mungkin ada orang lain juga yang di rawat di lantai 5 itu walau VVIP


setelah lift terbuka dewa langsung pergi menuju tujuan nya sedangkan dia semakin bingung siapa dan untuk apa orang di samping nya itu mengikuti nya


"nama pasien yang pengen Lo jenguk siapa nama nya?" ucap dewa penasaran dan juga waspada takut nya orang yang di samping nya itu penjahat


"Nayla" ucap ana tanpa menoleh dan pokus pada tujuan nya yaitu memastikan dugaan nya


"na-nayla? tapi Lo siapa mau nemuin sahabat gue?" ucap dewa waspada


"cerita nya panjang nanti kalo waktu nya udah tepat gue bakal cerita"


dewa terdiam dalam pikiran nya sendiri berpikir keras siapa orang yang sedang mencari sahabat nya itu dan untuk apa


setelah obrolan singkat itu mereka sama diam dan tidak ada yang membuka suara sampai mereka sampai di depan ruangan Nayla dan melihat kepin dengan wajah melamun nya


"kenapa pin?" tanya dewa kepada kepin yang sedang melamun


"tadi di lantai bawah waktu gue ke kantin dan tanpa sengaja mata gue liat si pengkh*ianat itu dia datang sama cewek simpanan nya yang lagi bunting" ucap kepin masih melamun


"Lo ga sapa dia?" tanya dewa lagi


"buat apa? dia pasti malu lah anggap gue padahal dia yang udah buat gue lahir di dunia ini" ucap kepin sendu

__ADS_1


"sampai kapan pin Lo kaya gini terus biar gimana pun dia tetap bokap Lo"


"gue ga pernah anggap dia bokap gue"


ana sedari tadi terdiam dan akhirnya membuka suara karna jengah sekali mendengar curhatan dua orang di depan nya ini


"hmmm, sorry motong obrolan kalian tapi gue boleh masuk ga?" ucap nya membuka suara


"Nayla ga bisa di jenguk dan kalo mau liat dia Lo bisa liat lewat jendela aja" ucap dewa dingin


"oke" jawab ana langsung pergi


ana tidak memperdulikan tatapan bingung dari kedua orang yang dia tahu itu sahabat dari yang bernama Nayla itu


"ngapain dia sini wa?"


"Lo kenal?"


"gue kenal dia"


"kapan dan dimana?"


"gue kenal dia waktu gue mabuk dan dia hampir gue lecehin malam itu"


"oh jadi dia yang nelpon gue dan kasih tau gue kalo Lo di hotel malam itu"


"dia nelpon Lo?"


"iya"


"terus apa hubungannya sama Nayla jadi dia tiba-tiba jenguk Nayla wa"


"gue ga tau tapi gue yakin ada sesuatu yang besar di sembunyiin tuh cewek"


"kalo kerabat Nayla kan yang kita tau cuma kita-kita doang kan Nayla juga tinggal sama kita dari kecil"


"iya yang gue tau juga gitu, nanti deh gue tanyain sama papi gue lagi"


mereka sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing yang di penuhi dengan tanda tanya siapa gadis yang ingin bertemu dengan sahabatnya itu

__ADS_1


"setelah hampir 18 tahun gue nyari Lo ternyata gue bisa ketemu sama Lo tapi kenapa pertemuan kita harus menyakitkan kaya gini" lirih ana menatap seseorang yang selama ini dia cari harus berjuang antara hidup dan mati di dalam sana


"jangan tinggalin gue ya Lo kan belum ketemu sama gue dan papa kita juga belum ngabisin waktu kita bersama layaknya seorang yang punya hubungan darah" lirih ana lagi sambil menitikkan air mata nya di depan jendela ruangan nayla


__ADS_2