Bidadari Kedua Suamiku

Bidadari Kedua Suamiku
Bab 21


__ADS_3

Akhsan syok dengan jawaban Zella. Setahunya Zella sangat manja padanya dan selalu bergantung padanya. "Ini nih yang aku khawatirin sejak dulu! Kalau perempuan merasa bisa menghasilkan uang sendiri, dia berani sama suami, karena merasa nggak butuh suami lagi!"


Zella samar mendengar kata-kata Akhsan, tapi dia malas berdebat dengan suaminya, dia memilih segera berbaring, tubuh, hati, dan pikirannya sudah sangat lelah.


"Aku pergi Zell! Ku rasa kamu tahu kemana mencari aku jika kamu sudah tahu apa kesalahanmu!" Akhsan berjalan cepat menuju kamarnya dan mengemasi beberapa pakaian kedalam tas jinjing.


***


Akhsan meninggalkan rumah, dia bingung harus ke mana. Ke rumah Shamil atau ke rumah ibunya. Akhsan berusaha menimbang-nimbang permasalahan yang terjadi. "Kalau ke rumah Shamil, pas Zella nyari aku, nanti ketahuan. Aku ke rumah ibu saja, kalau ibu datang lalu lihat aku ada di sana, barangkali ibu bersedia menasihati Zella."


Selama ini apa saja yang terjadi antara Akhsan dan Zella, ibu Akhsan tidak pernah ikut campur masalah mereka, sekali pun Akhsan mengadu pada ibunya. Bukan pembelaan yang Akhsan dapat agar ibunya memarahi Zella. Yang ada malah dirinya yang dimarahi ibunya. Kali ini Akhsan yakin, ibunya akan membelanya. Akhsan segera tancap gas menuju kediaman ibunya.


Suasana malam di belahan bumi yang lain.


Malam semakin larut, tapi Alvin dan Taufik masih sibuk memeriksa data-data tentang peternakan mereka.


"Andai aku nggak kenal siapa kamu, aku pasti nuduh kamu korupsi di peternakanku," ucap Alvin.


"Terima kasih karena percaya padaku. Jujur, aku kaget mendengar ada kejanggalan dari peternakan yang aku tangani." Taufik merasa selama ini peternakan yang dia kelola baik-baik saja. Kedatangan Alvin sangat mengejutkan, dan membuka suatu yang tidak dia sadari.


"Kamu bandingkan catatan yang aku miliki dan catatanmu, ayam-ayam pedaging yang masuk, sama kan? Laporan ayam yang mati juga sama, anehnya catatan saat panen berbeda jauh, ayam panen dari kandang sekian, sedang yang masuk panen pada catatanku kurang dari separuhnya. Parahnya lagi, pakan yang diambil untuk kandang milikmu jumlahnya lebih besar dari catatan kamu, ini sangat merugikan namamu," ujar Alvin.


"Kita akan selidiki bersama, siapa dalang yang merugikan kita berdua."


"Sudah malam, sebaiknya menginap saja," tawar Alvin.


"Saran Tuan Alvin benar, sebaiknya Kak Taufik menginap saja," sela Nadi.


Rasanya malam bergitu cepat berakhir, suara kokokan ayam terdengar di segala penjuru. Membuat mata-mata yang asyik terpejam itu segera terbuka dan fokus dengan kegiatan tugas mereka masing-masing.


"Tante ...." Panggilan dan suara ketukan pintu terdengar.


"Sebentar," Indri menyelesaikan membantu Tifa bersiap sekolah. Setelah semua selesai, Indri perlahan membuka pintu kamarnya.


"Nadi?" Indri terkejut melihat Nadi sepagi ini mengetuk pintu kamar yang dia tempati.


"Kita makan bersama tante, setelah itu Tifa sama Iqbal ada yang mengantar mereka."


"Iya Nad." Indri mengikuti Nadi menuju tempat makan, mereka semua makan bersama di tempat itu.

__ADS_1


"Tuan, apa boleh saya ikut mengantar Tifa dan Iqbal?" tanya Indri pada Alvin.


"Amma, apa sangat berat memanggil saya dengan nama saja?" sahut Alvin.


Indri bingung harus menjawab apa.


"Bagiku amma seperti ibuku sendiri, kalau amma berat memanggilku dengan nama, panggil aku nak, apakah ini juga berat?"


"Tapi saya hanya pembantu," sahut Indri.


"Bagiku kamu ibuku, sekarang ibu kandungku sudah tidak ada, hanya Amma anggota keluargaku saat ini."


Indri berulang kali menghela napasnya. "Nak Alvin, ammak mu ini boleh ikut antar anak-anak sekolah? Soalnya ammak janji mau ketemu Zella di gerbang sekolah."


"Uhukkkk!" Taufik tersedak mendengar nama Zella.


"Jangan bilang juragan mau ikut juga," ledek Nadi.


"Jaga pandangan, jaga hati juragan, jangan sampai jatuh cinta sama istri orang, karena mengobatinya susah, jin alias iblisnya lebih kuat!" ibu Nadi menambahi.


"Kalian bicara apa? Masih pagi, otakku masih loading." Taufik fokus pada makananya.


Alvin juga tidak mengerti kemana arah pembicaraan mereka. Yang dia tahu, Zella bersuami, dan Taufik memiliki istri walau dia tidak pernah tahu wanita yang diperistri anak teman Ayahnya itu.


Indri lega, majikannya memperbolehkan dirinya mengantar Iqbal dan Tifa. Setidaknya dia punya waktu berbicara langsung dengan putrinya walau hanya sebentar. Mobil yang ditugaskan mengantar anak-anak sekolah segera meluncur menuju sekolah mereka.


"Enak Nad nggak perlu antar anak ke sekolah?" goda Taufik.


"Lumayan juga, aku free tugas mengantar Iqbal selama bos besar kita di sini," ucap Nadi puas.


"Kalau mau free selamanya, ya cari ibu baru buat anakmu, biar istri barumu yang antar Iqbal setiap hari ke sekolah!" sela ibu Nadi.


"Jangan bilang kamu masih cinta sama mantan istrimu?" goda Taufik.


"Jangan ledek saya Nggak bisa move-on, kalau saya ledek balik ntar marah!" balas Nadi.


"Sampai kapan kalian gelud? Kalau masih mau lanjut silakan, tapi kalau bisa saling tonjok, nggak seru kalau gelud ucapan aja!" sambar Alvin.


"Maaf Tuan, ayok kita lanjut penyelidikan kita," ucap Nadi.

__ADS_1


***


Setelah membersihkan rumah dan segala koloninya, Zella segera menuju sekolah Tifa, dia tidak sabar untuk bertemu putrinya di sana. Sesampai di depan gerbang sekolah, tidak lama sebuah mobil juga berhenti di dekatnya.


"Mama!" Tifa melambaikan tangannya di jendela mobil itu.


"Sayang ... mama kangen sama kamu!"


Seper sekian detik pintu mobil terbuka, Tifa langsung memeluk ibunya.


"Tifa juga kangen sama mama, tapi di sana seru ma! Banyak teman, terus rasanya main apa aja bisa!"


"Alhamdulillah kalau anak mama suka di sana, jangan nakal ya, harus nurut sama Nenek."


"Iya mama."


Iqbal mematung melihat kebahagiaan Tifa dan ibunya.


Mengapa bundaku tidak sehangat mamanya Tifa? Bunda saat bersamaku hanya fokus pada handphone, bahkan setelah terpisah sangat jarang menanyakan keadaanku.


Keceriaan Tifa bagai goresan luka di hati Iqbal, apa yang Tifa miliki saat ini, sesuatu yang Iqbal inginkan, tapi tidak bisa dia rasakan.


"Permisi tante, Nenek, dan Tifa, aku duluan masuk ya." Iqbal tidak menunggu jawaban mereka, dia terus mengayunkan sepasang kakinya menuju gerbang sekolah.


"Anak nadi sangat pendiam seperti Nadi," komentar Zella.


"Enggak kok, kak Iqbal baik, sangat perhatian dan berusaha melindungi Tifa!" protes Tifa.


"Tifa masuk gih, nanti jam pulang sekolah, mama tunggu Tifa di sini sambil nunggu jemputan," ujar Zella.


"Kenapa mama nggak ikut kami aja? Di sana banyak orang loh ma! Ada om Nadi, om Alvin, om siapa lagi satunya yang suka mandangin aku nek?" Tifa menggoyangkan tangan Indri.


Indri menatap Zella. "Mama bukan nggak suka kamu ikut kami, tapi di sana ada--"


"Om Taufik! Ihhh Nenek lama banget mikirnya!" potong Tifa.


"Tifa, masuk sana sayang, nanti bel bunyi terus pintu gerbang ditutup om security!" sela Zella.


Tifa menyalimi dua wanita yang sangat menyayanginya itu, dia segera berjalan sambil melompat kegirangan menuju sekolahnya. Perhatian dari banyak orang, membuatnya lupa akan Ayahnya.

__ADS_1


"Itu juga yang membuatku enggan menyusul kalian, walau aku pengen ke sana. Mama tenang aja, aku sudah lama menjaga jarak dengan Taufik. Bahkan sebelum dia menikah, aku sudah menjauhinya."


"Mama percaya sama kamu, mama hanya takut kamu disebut yang enggak-enggak, cukup nama mama yang dikenal sebagai perebut."


__ADS_2