
Baru memulai penyelidikan, handphone Alvin berdering. Laki-laki itu fokus menatap layar handphonenya. Sedetik kemudian, dia menempelkan benda pipih persegi panjang itu ke sisi wajahnya.
"Ammak, tadi pagi kan ammak sudah janji habis antar mereka ammak langsung balik."
"Eh Tuan! Anda lupa saat ini mamaku cuti!"
"Zella?" Alvin terkejut mendengar suara Zella.
Sedang di sisi yang lain, mendengar nama Zella seketika tubuh Taufik meremang. Di luar kendalinya semua itu terjadi begitu saja.
"Zell, aku butuh mamakku," ucap Alvin lembut.
"Saat ini dia milikku!" Zella bersikeras.
"Zel ... Zel, kalau kau belum nikah, aku ambil juga kau jadi istriku, biar mamamu resmi jadi mamaku!" ucap Alvin kesal.
"Kan mama sudah kirim pesan, kalau mama kembali ke sana saat jam pulang sekolah anak-anak. Kau setuju atau nggak, itu urusanmu!"
"Zella!" Alvin mendengus kesal, karena sambungan telepon diputus Zella sepihak.
"Jangan berharap menang kalau berurusan sama perempuan," sela Nadi.
"Padahal aku mau cerita banyak sama ammak, tapi anaknya nahan dia, dari pesan sebelumnya kata Ammak, yang langsung balik cuma supir, dia ingin menemani Zella," jelas Alvin.
Zella? Nama itu yang terpatri begitu kuat di hati Taufik. Alvin dan Nadi lanjut pada tujuan mereka, sedang Taufik bersandar di pintu masuk, pandangannya begitu kosong tertuju kedepan. Semua kejadian masa lalu kembali terbayang di benaknya.
Flash Back
Seseorang tidak bisa mengatur bagaimana dia jatuh cinta, dengan siapa dia jatuh cinta, namun perasaan itu hadir begitu saja di hati Taufik untuk wanita yang bernama Zella. Hubungan mereka mendapat restu kedua orang tua Taufik. Namun Ayah Taufik yang sangat sibuk bekerja membuatnya tidak pernah bertemu langsung dengan kekasih anaknya itu.
"Zella, kapan aku bisa melamarmu pada mama mu?"
"Mama ku masih belum bisa mengatur waktu pulang, anak majikan mama itu nggak ngizinin pulang karena dia masih libur kuliah, mungkin saat majikan mama kembali kuliah, tapi ... semoga saja saat itu Ayah tiriku tidak pulang. Karena walau cuti, tapi Ayah tiriku pulang, mama juga nggak bisa pulang."
"Bagaimana kalau kita yang ke rumah mamamu? Bukannya mamamu tidak bekerja sepenuhnya di sana?"
"Memang mama tidak bekerja lagi di sana, tapi majikan mama ku, dan Ayah tiriku patner bisnis, jadi walau nggak kerja mama tetap diminta tinggal di sana saat anak majikan mamaku pulang, dia sangat lengket sama mama."
"Entah mengapa setiap mama mu pulang berkunjung aku selalu sibuk, rasanya takdir begitu mempermainkan kita untuk bersama," keluh Taufik. Saat Zella tamat SMA dia ingin sekali segera melamar, namun selalu terhalang oleh kesibukan masing-masing.
"Jangan nyalahin takdir, sangka baik saja, mungkin Allah ingin kita lebih baik lagi sebelum melangkah pada kehidupan baru."
"Kapan kita bisa atur pernikahan? Bapakku sibuk antar sayur, mama kamu nggak bisa pulang, nggak bisa di tunda lagi, besok kita datangi kontrakan mamamu, walau bukan lamaran, setidaknya ini perkenalan resmi ibuku dan mamamu, bagaimana?"
"Aku setuju."
13 tahun yang lalu handphone adalah barang mewah di desa Zella. Hanya orang-orang tertentu yang memilikinya, selain harga yang cukup menguras kantong, kwalitas signal di desa juga masih tidak merata. Harus naik ke pohon tinggi untuk mendapatkan signal, atau memakai pemancar yang menarik signal. Zella dan Taufik berkomunikasi dengan bertemu langsung, jarak yang jauh tidak masalah bagi Taufik, sebab itulah dia tidak mengetahui kapan ibu Zella kembali, saat dia kembali berkunjung, ibu Zella sudah kembali lagi ke kota.
***
Keinginan Taufik disambut hangat oleh ibunya. Tanpa menunggu persetujuan Ayahnya yang masih berada di kota untuk mengatar sayur ke pasar-pasar, mereka mengatur rencana pertemuan keluarga untuk membahas hubungan Zella dan Taufik. Keesokan harinya, Nadi membonceng ibu Taufik, sedang Taufik membonceng Zella. Mereka berkendara menuju kota. Sesampai di kontrakan ibu Zella, Zella tidak sabar lagi untuk bertemu ibunya.
"Assalamu'alaikum, ma ... aku datang." teriak Zella.
Ceklak!
Pintu rumah terbuka.
"Lho, Zella? Kamu ke sini kok nggak kasih kabar dulu?" sapa laki-laki yang membukakan pintu.
__ADS_1
"Wartel kemaren sore nggak buka, tadi pagi juga nggak buka, gimana mau kabarin." Zella masih tidak menyadari reaksi orang-orang yang menyaksikan obrolan mereka.
"Kak, beruntung ada Abah aku, maksudku dia abah sambungku, ayok masuk," ajak Zella.
Laki-laki itu ikut mematung saat menyadari orang-orang yang datang bersama Zella.
"Abah sambung?" ibu Taufik memperjelas.
"Ibu lupa ya, kan aku pernah cerita saat mama aku mau nikah waktu itu, nah ini suami mama aku." tunjuk Zella pada Ayah tirinya.
"Ada apa ini ramai-ramai?" Ibu Zella baru menampakan dirinya. "Zella? Taufik? Nadi? Itu ibu kamu Taufik?" tunjuk Indri pada wanita yang terlihat emosi itu.
Taufik hanya menganggukan kepalanya merespon pertanyaan ibu Zella.
"Ayo semuanya masuk, kita bicara di dalam, pasti mau membahas tentang Zella dan Taufik 'kan?" tebak Indri.
"Tidak ada yang perlu dibahas! Saya rasa hubungan Zella dan Taufik cukup sampai di sini! Saya tidak sudi menikahkan anak saya dengan anak pelakor sepertimu!" maki ibu Taufik.
"Bu, becandanya nggak asyik," sela Zella. Zella ingin merangkul wanita itu, namun ibu Taufik malah mendorongnya.
"Jangan berani sentuh saya lagi! Taufik! Kita pulang sekarang! Kamu juga!" tunjuk ibu Taufik pada suaminya yang ternyata Ayah sambung Zella.
"Ini yang Bapak bilang antar sayur ke kota?!" maki ibu Taufik pada Ayah tiri Zella.
"Kak, maksudnya apa ini?" Zella bingung dengan keadaan ini.
"Ayah tirimu adalah Bapakku."
Rasanya petir menggelegar detik itu juga, Indri menatap tajam pada suaminya, air mata mengalir deras membasahi pipinya. "Tega kamu bohongin saya!"
"Indri--" Ayah Taufik tidak bisa meneruskan kalimatnya, Indri memberi isyarat agar dia diam saja.
Tragedi itu tidak hanya menghancurkan rasa kasih sayang Ibu Taufik pada Zella, namun juga menghancurkan ikatan yang ada, termasuk hubungan Taufik dan Zella. Ibu Taufik mengancam bunuh diri dan melontarkan sumpah serapah yang sangat menakutkan jika Taufik tidak memutuskan hubungannya dengan Zella, apalagi jika nekad tetap menikahi Zella. Hari yang Taufik khayalkan sebagai hari bahagia, malah hari yang sangat menyakitkan dan paling hancur bagi dua keluarga, termasuk dirinya sendiri.
Melihat bagaimana kemarahan ibu Taufik padanya, Zella mengerti kisahnya harus selesai. Setelah kejadian nahas itu, ibu Zella kembali bekerja pada majikannya, namun menemani anak majikannya kuliah di kota lain. Sedang Zella pindah ke desa Neneknya, di sana lah bermulanya kisah Zella dan Akhsan, karena persahabatan ibu Akhsan dan Nenek Zella.
Flash Back off.
Bukan keinginan Taufik terbelenggu belasan tahun oleh cinta masa lalu. Dia berusaha melupakan, namun Zella terlalu dalam tertanam di hatinya. Menikah pun terpaksa ia setujui karena desakan dari ibunya, yang mengaku tidak tenang jika Taufik tidak kunjung menikah. Bosan dengan tuduhan ibunya yang mengatakan, Taufik sengaja tidak menikah memang menunggunya mati, lalu kembali menikahi anak pelakor itu. Taufik bosan, hingga hari keberuntungan itu tiba. Dia bertemu seorang gadis desa yang malang.
"Kalau kau berhasil membuat ibuku menjodohkan kita, aku akan menjamin keluargamu, menyekolahkan adik-adikmu, menjamin pengobatan keluargamu. Kau dapat segalanya jika berhasil jadi istriku, tapi ... kamu harus siap, karena aku tidak bisa memberimu cinta, dan posisi sebagai istri sebenarnya, apa kamu siap?"
"Owh, seperti di novel-novel gitu, nikah hanya sebagai status saja, tapi di dalam kita bukan siapa-siapa?"
"Anak pintar, begitulah."
"Aku nggak jamin kamu beneran nggak sentuh aku. Kan aku cantik dan seksi ...."
"Elisa ... aku serius!" tegas Taufik.
"Setuju! Asal abahku sehat, asal pendidikan adikku terjamin, satu lagi, renovasi rumah kami."
"Nggak masalah jika kamu setuju, tapi jangan bermimpi bisa cerai, karena ibuku akan mempersulit itu, dan aku tidak akan menceraikanmu kecuali kamu yang minta dan disetujui oleh ibuku."
"Tidak masalah!"
Karena kegigihan Elisa cari perhatian ibu Taufik, Taufik pun menikah dengan Elisa, atas desakan ibu Taufik.
***
__ADS_1
"Bagaimana Fiq?" tanya Alvin, dia heran temannya itu malah terus memandang ke arah luar.
"Juragan!" Nadi melempar sesuatu, membuat Taufik menoleh padanya.
"Apanya?" Taufik berusaha kembali pada kenyataan saat ini.
"Ya ide kita barusan, menurutmu bagaimana?"
Taufik kebingungan, dia tidak mendengar apa-apa, dia hanyut dengan kenangan masa lalu. Melihat Taufik tampak linglung, Alvin bisa menebak, "jangan bilang kamu nggak dengarin kita?"
"Aku--" Taufik bingung harus beralasan apa.
"Baru dengar namanya saja sudah budeg! Kalau ketemu orangnya bisa-bisa buta sesaat!" gerutu Nadi.
"Dengar nama siapa yang bikin budeg?" Alvin memperjelas.
"Bukan siapa-siapa bos, saya mau jelaskan rencana kita pada Kak Taufik," kilah Nadi.
Di sisi lain ....
"Elisa! Pulang! Karaokean melulu!" teriak wanita paruh baya.
"Ya elah ibu ... syirik banget ganggu kebahagiaan aku!" sungut wanita yang dipanggil Elisa itu.
"Nyanyi mulu! Bikin malu tau nggak!"
"Siapa yang malu? Ibu? Itu sih derita elu!" ucap Elisa dengan gaya bunda Corla.
"Ya salam ... bener-bener dah! Aku salah maksa Taufik nikah sama kamu! Pecicilan banget!" sesal ibu Taufik.
"Sabar bu Jubaedah, Elisa mah emang langka orangnya. Kita aja kaget napa bu Jubae malah maksa anaknya nikah ama Elisa," komentar warga yang lewat.
"Padahal mah gampang kalau nggak kuat hadapin aku, tinggal ... pulangkan saja, aku pada ibuku atau ayahku~ uuu." ucap Elisa seraya bernyanyi.
"Cerai? Enak saja! Balikin semua yang Taufik beri baru cerai!" maki Jubaedah.
"Kalau begitu sih, yo nda mampu aku bu ...." ujar Elisa sambil bersenandung.
Jubaedah berjalan cepat menuju rumahnya. "Apa bisanya ni perempuan selain bikin malu dan bikin rusuh!" gerutu Jubaedah.
"Aku banyak bisanya bu."
"Ngomongmu! Bikin anak aja nggak bisa! 12 tahun nikah, orang-orang pada punya anak, kau sendiri!"
"12 tahun sudah, aku berumah tangga, tapi belum juga, mendapatkan putra." Elisa bernyanyi lagu kemandulan.
"Bapak!! Mantumu ini bikin darah tinggi melulu!" teriak Jubaedah.
"Cinta yank ufiek padaku, tak akan pudar ... walau seumur hidupku dalam kemandulan ...." Nyanyian Elisa semakin kacau.
"Pulang sana ke rumah kalian! Jangan pulang ke sini!" usir Jubaedah.
"Kurasa tiada sempurna kebahagiaan kita--"
"Elisa, cukup nak, kasian mertuamu bisa struk nahan marah," tegur Bapak Taufik halus.
"Iya Pak, aku pulang." Elisa mengayunkan sepasang kakinya menuju kediamannya dan Taufik.
Begitulah Elisa, dia akan halus pada mereka yang bersikap halus, namun bisa lebih bandel jika berhadapan orang bawel.
__ADS_1