
Shamil syok mengetahui Zella sudah tahu apa hubungannya dan Akhsan. Seketika paru-parunya seakan tersiksa karena tidak mendapat suplai oksigen yang cukup.
"Binatang saja jika merasa hutang budi pada manusia, dia bisa berterima kasih dengan caranya. Tapi kamu?" sarkas Zella.
Shamil semakin membatu, menelan saliva pun terasa sulit, rasanya ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya. Akhsan takut Zella menyerang Shamil, dia langsung pasang badan melindungi Shamil.
"Tenang saja San, aku tidak mau mengotori tanganku dengan menyentuhnya!" sarkas Zella.
"Kau!?" Akhsan geram Shamil diibaratkan oleh Zella, seperti kotoran.
"Ya ... anggap saja seperti ini cara Shamil berterima kasih padaku." Zella menatap tajam pada Shamil. "Rasa sakit yang kau beri ku anggap pertolongan Tuhan padaku dengan perantara dirimu." Zella semakin muak melihat suaminya terus pasang badan untuk melindungi Shamil.
"Dasar halu! Kau itu tidak punya apa-apa! Sedang Shamil punya segalanya! Apa yang berharga darimu yang bisa Shamil ambil?!Nggak ada! Hanya barang rongsok yang menghiasi rumahmu! Nggak berminat Shamil ambil rongsokan darimu!" sambar Ranti.
Zella tertawa mendengar ucapan Ranti. "Selain anak durhaka, kamu juga adik durhaka! Kakakmu sudah memberikan segalanya untukmu, barusan kamu ngatain Kakakmu barang rongsokan." Zella berusaha menahan tawanya agar tidak terlalu lepas.
"Mana ada aku ngatain Kak Akhsan rongsokan!" Ranti membela diri.
"Yang Shamil ambil dariku, adalah Kakakmu." Zella mundur beberapa langkah. "Sudah aku katakan, keinginanmu berharap Shamil menjadi Kakak iparmu sudah terkabul, karena Shamil pelakor yang merebut suamiku!"
"Dia bukan pelakor!" tegas Akhsan.
"Oh maaf, dia adalah bidadari kedua suamiku!" ejek Zella.
"Apakah itu benar Kak?" tanya Ranti pada Akhsan, dan langsung dibalas anggukan kepala oleh Akhsan.
"Wah ... ini kabar bahagia! Kak Akhsan cerdas milih istri! Kalau istri kedua Kakak wanita hebat seperti Shamil, udah buang saja beban yang selama ini membelenggu Kakak!" Ranti isyaratkan pada Zella, Ranti langsung mendekati Shamil dan menggandengnya begitu bangga.
"Ranti!" tegur Akhsan.
Melihat apa yang terjadi di depannya, Mayang semakin meradang, apalagi ucapan Ranti yang begitu menyakitkan. Mayang mengepal kedua telapak tangannya, ingin sekali memberi hadiah bogeman mentah pada kedua anaknya dan pelakor itu.
Dia bukan menantuku! Aku tidak menerimanya ada dalam keluargaku! Dia bukan orang baik, karena orang baik tidak menyakiti orang lain! Batin Mayang.
Sekujur tubuhnya serasa memanas dan bergetar menahan kemarahan yang tak bisa dia keluarkan. "Sampai kapan pun! Aku tidak menerima dia menjadi menantuku!" Mayang segera menyentuh bibirnya, bagaimana bisa dia melontarkan kalimat yang cukup panjang.
"Ibu ...." Zella melupakan rasa sakitnya, mengetahui mertuanya mampu bicara, ini kebahagiaan besar untuknya.
"Ibu stress dan tertekan saat ibu tahu Akhsan menikah di belakangmu." Mayang langsung menarik Zella ke pelukannya. "Akhsan salah, tapi mama harap kamu tidak ambil jalan perpisahan, karena yang harus pergi dari keluarga kita adalah pelakor itu!" isak Mayang.
"Aku nggak ada keinginan menceraikan Zella, karena Shamil berbesar hati rela jadi yang kedua," sela Akhsan.
Mendengar itu Mayang murka, dia melepaskan pelukannya pada Zella. "Kau pikir siapa dirimu ingin memiliki 2 istri? Apa kelebihan yang kau punya hingga merasa pantas menjadi imam dari dua wanita?! Menafkahi satu istri aja nggak becus! Malah nambah satu lagi!" bentak Mayang.
"Lebih baik mama gagu selamanya daripada mama bisa bicara tapi kata-kata mama itu sesat!" ucap Ranti.
"Tidak ada tambahan kursi dalam rumah tanggamu, Akhsan. Zella tetap ratu dalam istana itu!" tegas Mayang. Tatapan kemarahannya kini tertuju pada Shamil.
__ADS_1
"Kau!" tunjuk Mayang pada Shamil. "Angkat kaki dari sini dan jangan pernah perlihatkan muka tebalmu itu padaku!"
Shamil memalingkan tubuhnya, dan mulai mengayunkan kakinya meninggalkan rumah orang tua Akhsan. Namun langkahnya tertahan, ada genggaman yang memegang pergelangan tangannya.
"Shamil nggak akan pergi, dia akan tetap menjadi bidadariku." Akhsan menarik Shamil dan berdiri sejajar dengannya. Memperlihatkan pada ibunya kalau dia mempertahankan Shamil.
Mayang maju mendekati Akhsan. "Kamu memilih pelakor ini daripada wanita yang menghabiskan 11 tahun waktunya bersamamu!" hardik Mayang.
"Andai ibu memintaku memilih antara ibu dan Shamil, maaf aku tetap mempertahankan Shamil, apalagi jika pilihannya Zella dan Shamil, tentu aku memilih Shamil." sahut Akhsan begitu mantap.
"Apa istimewanya pelakor itu, he!!" maki Mayang.
"Ibu! Shamil bukan pelakor, dia tidak merebutku dari Zella!" balas Akhsan.
"Demi pelakor ini kau berani meninggikan suaramu di depan ibumu!"
"Cukup bu! Dia bukan pelakor! Dia punya nama, berhenti sebut dia pelakor!" teriak Akhsan.
Zella tidak ingin masuk perdebatan itu, dia menarik Mayang menjauh dari Akhsan dan Shamil, Zella meminta Mayang untuk tenang. "Ibu baru sembuh, kontrol emosi ibu," pinta Zella.
"Zell, ibu nggak mau kehilangan kamu, ibu nggak mau jauh dari Tifa ...."
"Zella, Shamil tidak pernah mengambil apapun darimu! Shamil bukan perebut, dia hanya meminta satu kursi dalam rumah tangga kita!"
"Meminta itu harus ada izin dan persetujuan, kalian menikah apakah ada izin dan persetujuan dariku? Nggak minta izin dan nggak dapat persetujuan sama aja maling!" balas Zella.
"Tidak perlu, karena aku akan memberikan rongsokan itu padamu." Zella menatap sinis pada Ranti.
"Terserah kamu sebut aku apa, asalkan aku bisa bersama Shamil aku sangat bahagia. Aku yang datang padanya, aku tidak bisa menahan perasaan yang belasan tahun aku pendam. Dia selalu ada di hatiku, jauh sebelum kamu hadir dalam hidupku, Zell."
"Lalu, 11 tahun bersama anakku, kau anggap apa dia?"
Mendengar pertanyaan itu, semua orang kompak memandang ke arah pintu. Terlihat Indri dan Alvin muncul dari arah itu.
"Maaf, walau 11 tahun aku hidup bersama Zella, aku tidak pernah bisa mencintainya. Shamil selalu ada dalam hati dan pikiranku." ucap Akhsan.
"Dasar bocah bangkotan!" gerutu Alvin. Namun dia menahan ucapannya, karena Indri melotot padanya.
"Baiklah, sangat jelas kamu tidak menghargai perjuangan dan pengorbanan putriku. Dia memberikan jiwa raganya untukmu, tapi apa yang kau lakukan padanya?" hardik Indri.
"Ku rasa mama tahu jawabannya. Karena mama pernah berada di sutuasi yang sama, bedanya posisi mama saat itu seperti Shamil."
Indri semakin marah karena Akhsan membuka luka lamanya. "Tapi memakai cinta sebagai alasan untuk merebut itu sangat rendahan! Dan aku memilih memotong cintaku daripada memotong menara rumah tangga wanita lain!"
"Itu derita mama, aku lebih memilih memperjuangkan cintaku Shamil sosok yang aku cinta, Zella sosok yang menikah denganku tanpa cinta. Tentu mama tahu dilema karena 2 hal tersebut. Inilah keputusanku, aku memilih memperjuangkan cintaku." ucap Akhsan.
"11 tahun kamu bersamaku, itu bukan cinta?" sela Zella.
__ADS_1
"Maaf," sesal Akhsan.
"Lalu hadirnya Tifa karena apa? Kau menyentuhku atas dasar apa?" Zella tertawa hambar menertawakan dirinya yang bodoh. "Aku merasa kau menggauliku karena rasa cinta suami pada istrinya, sebagai ibadah berumah tangga, dan kehadiran Tifa hadiah dari Allah dalam rumah tangga yang penuh cinta dan kasih sayang, tapi--"
"Hah!!" Zella membuang kasar napasnya dari mulut, berharap rasa sesak itu juga keluar bersama hembusan napasnya. "Ternyata semua itu karena naffsu. Ya Rabb, aku baru tahu rumah tanggaku berjalan karena rasa iba dan ketakutan seorang anak pada ibunya, dan aku hanya pemuas naffsu suamiku."
"Sudah cukup Nak. Bereskan barang-barangmu, kita pergi sekarang. Sudah cukup kamu membuang waktumu untuk orang yang tidak menghargaimu!" ucap Indri.
Mayang langsung mencegat Zella, dia memegang kuat tangan Zella. "Nggak, kamu nggak boleh pergi."
"Sudahlah bu, yang bahagia dengan pernikahan Kak Akhsan dan Zella cuma Bapak sama ibu, aku sendiri nggak bahagia, sekarang aku baru tahu Kak Akhsan juga nggak bahagia sama Zella."
Zella melepaskan tangannya yang masih dipegang ibu Akhsan. "Maafin Zella ya bu."
"Zell ...." Mayang menggelengkan kepala, isyarat dia tidak mau Zella pergi.
"Maaf." Zella mencium tangan Mayang, dan segera menuju kamar yang dia tempati dan membereskan barang-barangnya dan barang Tifa yang dia bawa ke rumah itu
Mayang bisa menebak apa akhir dari kepergian Zella. Mayang menyeret sepasang kakinya mendekati Indri. "Apapun yang terjadi, tolong tenangkan Zella. Jangan sampai mengambil langkah perceraian ...."
"Maaf, besan. Andai kamu di posisiku, melihat Anakku pada posisi ini, apakah kamu akan membiarkan anakmu dalam pernikahannya?"
Perhatian Mayang kini beralih pada Akhsan. "San ... kamu jangan diam saja, Zella lebih berharga dari apa pun! Pertahankan dia! Dan buang sampah itu!" tunjuk Mayang pada Shamil.
"Dalam mimpi pun, hal itu tidak akan terjadi, bu. Seburuk apa pun pandangan kalian pada Shamil, itu tidak berlaku padaku! Aku rela meninggalkan segalanya demi bersamanya." Dengan bangga Akhsan menarik Shamil kedalam pelukannya.
Semakin memuncak kemarahan Mayang. "Dasar iblis! Enyah kau dari dunia ini"
Shamil terperanjat, karena Mayang menyerangnya begitu saja. dia tidak sempat menghindar.
"Ibu!" Ranti berusaha menolong Shamil, tapi dia malah terlempar karena dorongan dari ibunya.
"Bu! Jangan sakiti istriku!" Akhsan berusaha menyelamatkan Shamil dari amukan ibunya, tapi dia malah dapat hadiah tamparan dari ibunya.
Melihat pergelutan itu, Alvin mendekatkan wajahnya pada Indri. "Ammak, boleh nggak aku kasih pisau pada besan ammak? Biar tu pelakor pindah alam," bisiknya.
Melihat Indri marah padanya, Alvin tersenyum kaku. "Aku ingat, nggak boleh ikut campur."
Entah kekuatan dari mana hingga membuat Mayang begitu beringas menyerang Shamil. Tanpa henti dia memukul, m3n4mpar, dan menjamb4k rambut Shamil. Akhsan dan Ranti sudah berusaha melindungi Shamil, tapi tenaga seseorang yang dikuasai kemarahan tak bisa dihalangi dengan mudah.
"Ibu!" Zella langsung memeluk ibu mertuanya. Hal ini membuat Mayang seketika tenang.
Akhsan dan Ranti langsung menolong Shamil. Mereka sangat kesal melihat wajah Shamil yang putih mulus itu kini bercorak, hasil mahakarya dari pukulan, tamparan, dan cakaran dari ibu Akhsan. Ranti berusaha merapikan rambut Shamil yang mengembang seperti rambut singa.
"Bu, jaga emosi ibu. Kalau ibu sakit aku nggak bisa jaga ibu," ucap Zella lembut.
Pandangan Mayang tertuju pada tas yang tergeletak tak jauh darinya. Sangat jelas Zella memilih pergi. Dirinya juga sangat egois jika memaksa Zella bertahan di kapal yang hampir tenggelam ini. Mayang melepaskan pelukan Zella, dan langsung pergi menuju kamarnya.
__ADS_1