
Mayang berulang kali menghela napasnya. Zella selalu mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Seingat ibu, lapak ini milik Alea sahabatmu, bukan?"
"Iya, ini ketidak sengajaan, dia kehilangan pegawai terus minta tolong aku buat sehari, eh aku betah jualan, jadi aku minta buat nerusin," sahut Zella.
"Aleanya mana?"
"Minggu begini biasanya dia di rumah, dia sosok pekerja keras, apa saja kalau bisa dia jadiin usaha. Biasanya kalau minggu sibuk bikin snack bucket, money bucket, yang sejenis itulah."
Mayang tersenyum, akhirnya dia tahu posisi Alea sahabat Zella saat ini. "Ya sudah, ibu tinggal ya, ibu mau istirahat.
"Iya, langsung pulang ya, nanti sore insya Allah aku ke rumah ibu kalau bisa aku ajak mama sama Tifa sekalian."
Mana bisa aku pulang, aku harus memastikan keadaan kamu, Zell. Batin Mayang.
Zella memberikan bungkusan berisi pisang gapit dan pisang geprek jualannya. "Jangan kemana-mana lagi, pokoknya pulang dan rehat dulu. Wajah ibu tuh pucat, sangat jelas ibu kecapek'an. Satu lagi jangan mikir yang aneh-aneh, pikiran yang bukan-bukan juga sangat mempengaruhi kesehatan."
"Iya anakku sayang, ibu pamit ya. Semoga jualan kamu laris manis."
"Amiin ya rabb."
Zella melepas kepergian mertuanya. Namun Mayang meminta tukang ojek mengantarnya ke tujuan lain, yaitu rumah Alea.
Ya Rabb, aku tidak tahu apa yang terjadi, izinkan aku untuk tahu ya rabb, munajat hati Mayang.
Mayang tersadar dari lamunan, karena tukang ojek yang memboncengnya mengerem mendadak. "Ada apa Pak?"
"Di depan lampu merah bu, jadi macet, terus kiri kanan jalan banyak ruko jadi banyak yang keluar masuk area ruko juga."
Mayang memandangi area ruko itu, terlihat banyak pengunjung di area itu. Hingga dia menangkap sosok yang tak asing yang baru saja masuk mobil yang terparkir di depan salah satu ruko. Mayang berusah mempertajam pandangannya, sayang mobil itu perlahan melaju.
"Pak! Tutup kaca helm bapak!" titah Mayang pada yang memboncengnya.
"Kenapa bu?"
"Jangan tanya, tutup saja!" Mayang juga menurunkan kaca helmnya, agar wajahnya tak dikenali.
Kendaraan yang ada di jalanan mulai melaju, karena lampu sudah berganti hijau. Mayang masih yakin pengemudi mobil itu adalah putranya. Mobil siapa yang Akhsan pakai? Siapa yang ada dalam mobil bersama Akhsan? Berbagai pertanyaan mencuat. Saat mobil itu menyalip motor Mayang, Mayang meminta ojeknya mengikuti mobil itu.
Menanyakan mengapa harus mengikuti mobil itu juga percuma, tukang ojek segera mengikuti target pelanggannya.
Sampai kapan kami harus mengikuti mobil ini? Batin Mayang.
Kecepatan ojeknya dan kendaraan lain sekitar menurun, karena padatnya lalu lintas.
"Tabrak mobil itu!" titah Mayang.
"Bahaya bu, bahaya bagi kita," tolak tukang ojek.
"Aku akan ganti rugi pada mereka juga tanggung jawab pada motormu, tetap tutup helm apapun yang terjadi setelah menabrak." pinta Mayang.
__ADS_1
"Nggak berani bu."
"Selagi mobilnya masih berhenti, buruan tabrak! Nggak usah kencang-kencang, tabrak! Supaya pengemudinya keluar dari mobil!" desak Mayang.
Karena Mayang sangat sering menolongnya, tukang ojek terpaksa menuruti perintah Mayang, dia memutar gas motornya. "Pegangan yang kuat bu, pasti benturannya kuat."
Brakkk!
Ciuman antara bagian depan motor dan bagian belakang mobil itu menarik para pengguna jalan lainnya. Namun melihat pengendara motor tidak terluka, sebagian pengguna jalan meneruskan perjalanan mereka. Sedang pengguna mobil itu kesal, terlihat dari caranya menutup pintu mobil.
"Bapak bisa bawa motor nggak?! Masa mobil segini jelas masih ditabrak!" makinya.
"Jangan buka kaca helm!" bisik Mayang.
"Bukannya itu putra ibu?" bisik tukang ojek pada Mayang.
"Hei! Turun kalian berdua! Sudah nabrak, bukannya minta maaf malah bisik-bisik!" maki Akhsan.
"Ada yang rusak ba?" Seorang wanita yang baru saja keluar dari mobil yang sama menyusul Akhsan.
"Baret amma, gimana?"
Shamil mengamati bagian mobil yang kena tabrak. "Cuma sedikit doang."
"Kalian beruntung! Karena istri saya baik!" ucap Akhsan.
"Minta mereka buat minta maaf saja, setelah itu kita pergi." Shamil mendekatkan wajahnya pada Akhsan. "Bahaya terlalu lama di jalan, takutnya ada yang mengenali kita."
Akhsan mengerti maksud Shamil, perhatiannya kembali tertuju pada 2 orang pengendara motor itu. "Kalian berdua, turun dari motor, buka kaca helm kalian, dan minta maaf sama saya dan istri saya!" perintah Akhsan.
"I-ibu?" Akhsan syok, saat yang sama pengemudi motor itu juga membuka kaca helmnya. Akhsan langsung melindungi Shamil dengan badannya, dia takut ibunya menyakiti Shamil.
"Kamu hutang penjelasan sama ibu!" tegas Mayang. Mayang menatap sinis pada wanita yang bersembunyi di belakang Akhsan.
"Pak, kita pulang!" Dia membatalkan ke rumah Alea, tanpa bertanya pada Alea, rasanya dia sudah tahu dari mana rasa sakit Zella yang berusaha menantunya itu sembunyikan.
Selepas kepergian ibunya, Akhsan dan Shamil saling pandang.
"Kamu mau temani aku menghadap ibuku?"
"Mau nggak mau harus mau, gimana lagi, ibumu terlanjur tahu."
Di desa Nenek Zella.
Tanpa sengaja Indri bertemu salah satu warga sana yang pernah satu desa dengan Nadi. Bukan hanya sedesa, tapi mereka bertetanga di desa lama.
"Mbak Ainah!" sapa Indri.
"Ini Indri kan? Mamanya Zella?" wanita itu memastikan.
"Iya, sekarang tinggal di mana?" tanya Indri.
__ADS_1
"Kembali ke sini, sejak selesai pembebasan lahan, aku nggak ada pekerjaan, kan kebun karet yang dulu sebagai usahaku punya orang, jadi ya usaha kecil-kecilan di sini."
"Seingatku ada kabar berhembus kalau warga sana tidak akan menjual lahan mereka untuk ditambang, tapi kenapa tiba-tiba kompakan?" tanya Indri lagi.
"Heh! Nggak mau jual cuma omong kosong beberapa orang, biar yang kaya mereka aja. Itu si Shamil sampe cerai sama Nadi, katanya Nadi itu baik di luar aja!" celetuk Ainah.
"Masa mbak? Kok Nadi yang kalem itu bisa begitu?"
"Kita ke rumahku, biar aku cerita semua yang aku tahu. Biar cucumu juga nggak bengong lihatin kita, di rumahku ada cucuku, siapa tahu mereka akur."
"Ide yang bagus mbak, aku lama nggak main ke rumahmu." Indri mengikuti perempuan yang seumuran dengannya itu.
"Kamu dan anakmu sama-sama beruntung, kamu beruntung karena Ayahnya Zella menceraikanmu karena perempuan baru, kalau kamu tak dicerai, nasibmu bakal tragis kayak wanita yang ambil suami kamu itu." cerita Bainah.
"Memangnya kenapa dia?" Indri memang tidak pernah tahu cerita mantan suami pertamanya itu.
"Ayahnya Zella itu makin gila, sampai sekarang hobinya kawin-cerai. Entah berapa wanita yang pernah dia nikahi. Nggak bisa lihat wanita, matanya tak terkondisikan, ketemu wanita yang sama gilanya, dah mereka nikah, terus ada permasalahan cerai lagi, Ayahnya Zella kawin lagi, gitu aja. Bayangin nasib istrinya itu," jelas Bainah.
"Salah wanita itu, kenapa bertahan, udah tahu lakinya begitu," balas Indri.
"Katanya Ayahnya Zella nggak mau ceraikan tapi aku nggak percaya juga cerita wanita itu, nah kamu beruntung karena terselamatkan dari laki-laki sumber mala petaka begitu. Rasa sakitmu dulu adalah cara Tuhan mengeluarkan kamu dari lautan kesakitan."
"Alhamdulillah, walau hidupku susah setelah cerai, tapi aku bahagia, hati dan pikiranku lega."
"Ku rasa, anakmu juga beruntung sepertimu."
"Beruntung apa yang sama aku?" tanya Indri.
"Beruntung anakmu gagal nikah ama Taufik itu, Taufik sama Nadi sama-sama munafik!"
Indri berusaha menahan diri untuk tidak membela Taufik dan Nadi, dia belum tahu apa sebab Ainah semarah itu pada mereka. Sesampai di rumah Ainah, Ainah mulai menceritakan kisah mereka di desa itu, sehingga dia sangat benci dua sosok lelaki desa itu.
***
Bersambung.
***
Cuitan othor.
Aku tahu dan aku sadar banget karya aku masih sangat receh, dan jauh dari kata bagus dan jauh dari kategore novel standart. Tapi aku menulis ini untuk membahagiakan diriku, aku senang nulis. Senang lagi lihat ada yang ikut terhibur dengan karyaku.
Maaf beribu maaf. Aku nggak tahu apa gunanya rate bintang itu. Aku nggak minta kalian rate bintang 5 karena aku sadar kwalitasku. Tapi aku sangat berterima kasih buat kalian yang sukarela kasih rate bintang 5, walau karyaku tidak bagus, tapi kalian dengan itu aku merasa kalian sangat mengapresiasi usahaku.
Di sini bukan aku ngemis supaya kalian Rate, aku cuma bertanya, kepuasan apa yang kalian dapat dengan memberi rate jelek pada novel seseorang? Kebahagiaan apa yang didapat jika memberi komentar menghujat pada karya orang? Tanyakan pada kalian sendiri. Karena aku juga pembaca, jika aku nggak suka karya orang, ya aku tinggal tanpa komentar jelek.
Saran dan kritik itu sangat bagus, karena saat nggak mood nulis, saran dan kritik kalian menumbuhkan ide lagi. Tapi apa harus saran dan kritik itu beserta rate yang jelek?
Alur lambat jalan ditempat? Ya ini caraku buat maju lagi ke cerita lainnya dengan menceritakan bagian cerita yang akan terhubung dengan cerita berikutnya.
jika dituntut cepat, aku akan kehilangan rasa dalam menulis, seperti karyaku "istri untuk Ardhi" ini aku bener-bener kacau karena nulis hanya mengikuti outline yang aku buat tanpa rasa. Bahkan nulisnya aku merasa itu sebuah beban. Karena ada tuntutan harus ini harus itu. Hanya sekedar arahan tanpa contoh, ibarat komentar hanya sekedar hujatan dan hinaan tanpa saran untuk perbaikan.
__ADS_1
Saat ini aku nulis aku ingin membahagiakan diri sendiri, bukan membebani diri saat nulis. Nulis demi cuan serasa mimpi karena kebijakan baru, sebab ini aku menyemangati diriku, aku nulis karena aku bahagia nulis. Itu aja.
Terus aku bisa nulis saat aku sudah selesai ngebabu, ya daripada bengong aku nulis. Mood aku masih jelek, jadi maaf, cuma up karya 1000 kata aja, wasalam.