
Sesampai di rumah, Mayang merasa sangat lemas. Dia membayar jasa ojek yang mengantarnya. "Pak, yang di lampu merah tadi--"
"Saya akan tutup mulut bu, saya anggap diri saya tidak melihat dan mendengar kejadian tadi," selanya.
"Makasih Pak."
"Bu Mayang baik-baik aja? Wajah ibu semakin pucat."
"Saya lelah aja Pak, lelah fisik dan hati saya. Dengan istirahat sebentar, saya akan baik-baik saja."
"Apa perlu saya panggilin dokter, bu?"
"Sekali lagi terima kasih, tapi itu tidak perlu."
"Ya sudah, ini bungkusan yang tadi Zella kasih." Tukang ojek itu memberikan plastik bening yang berisi 2 box makanan.
"Buat Bapak saja."
"Saya juga dikasih bu, ini buat ibu."
Mayang merasa tubuhnya sangat letih, dia menerima bungkusan itu dan segera masuk ke dalam rumah. Tapi rasanya tenaganya tidak mendukungnya untuk sampai ke kamar. Sesampai di ruang tamu, Mayang menghempas tubuhnya di sofa panjang, dan berbaring di sana.
"Nenek kenapa?" Fiqri bingung melihat neneknya rebahan di sofa. Namun tidak ada jawaban. "Nenek ...." Fiqri menggoncang tubuh Mayang, tetap saja tidak ada respon.
"Ma! Mama! Mama!!" teriak Fiqri.
"Ada apa Fiqri!" Ranti kesal, waktu tenangnya terganggu.
"Nenek, ma." Fiqri mengisyarat pada Mayang.
"Ibu!" Ranti ikut panik menyadari itu, dia segera mendekati ibunya. Melihat ada bungkusan di meja, Ranti membukanya, melihat isi box itu, dia sudah tahu makanan dari siapa itu. "Jangan-jangan ibu keracunan makanan buatan Zella!" gerutu Ranti.
Ranti segera keluar rumah meminta bantuan tetangga untuk mengangkat ibunya masuk ke mobil. Ranti memangku ibunya yang masih tidak sadarkan diri, sedang yang mengemudi mobil itu salah satu tetangga yang menolongnya.
Sesampai di Rumah Sakit, Mayang mendapat penanganan medis. Ranti tidak tenang, dia terus mondar-mandir di depan ruang penanganan Mayang.
"Nenek kenapa ma?" tanya Fiqri, dia sangat takut melihat Neneknya tidak sadar seperti itu.
"Semoga aja Nenek cuma kecapekan, kamu tenang aja."
"Telepon tante Zella sama om Akhsan, sudah ma?"
Ranti berdecak kesal, dia sampai tidak ingat untuk mengabari Akhsan dan Zella. Ranti segera mengirim pesan pada dua orang tersebut.
Di sisi lain.
Zella sibuk melayani pembeli, namun pesan masuk dari Ranti menarik perhatian Zella.
*Ibu sakit, ini masih di UGD.
__ADS_1
Ranti menuliskan nama Rumah Sakit tempat ibunya di rawat.
Membaca pesan itu, perasaan Zella seketika kacau. Dia tengah melayani pembeli, bagaimana dia langsung ke Rumah Sakit?
Alea! Nama itu terlintas di pikiran Zella, dia segera menelepon sahabatnya itu.
"Apa Zella?" sapa orang di ujung telepon.
"Al, aku harus gimana? Mertua aku sakit, terus pembeli juga lumayan rame," ungkap Zella.
"Kamu bagiin aja gratis pisang yang udah matang, kasih plastik biar mereka bungkus sendiri. Kamu langsung tutup lapak aja, amankan kompor dan tabung gas seperti biasa."
"Tapi Al, lumayan banyak pisang geprek yang bentar lagi siap."
"Nggak apa-apa, sekalian minta do'a pada mereka untuk kesembuhan mertua kamu."
Setelah menutup sambungan telepon, Zella mengangkat gorengannya, dia masukan pada wadah besar dan membawanya menuju meja yang ada di depan lapaknya. "Maaf ya semuanya, saya lagi ada masalah, mertua saya sakit, saya harus ke sana. Siapa aja yang mau pisang gepreknya, silakan di ambil sendiri, ini gratis. Saya izin mau nutup lapak."
"Beneran gratis mbak?" tanya salah satu pelanggan.
"Iya mas, ambil aja sebijak kalian, agar yang lain juga kebagian. Maafkan saya," sesal Zella.
Sebagian pembeli tidak tega mengambil secara gratis, mereka turut bersedih atas masalah penjual itu, hanya memberikan do'a untuk kesembuhan yang sakit, lalu pergi. Sedang yang lain mengambil bergantian pisang yang diberikan Zella. Pisang dalam wadah habis, lapak Zella juga sudah selesai di tutup, Zella menyimpan wadah tempat pisang sebelumnya ke gerobak countainernya, setelah semua aman, dia segera melajukan motornya menuju Rumah Sakit. Sesampai di Rumah Sakit, Mayang sudah sadar. Melihat kedatangan Zella, mayang mengulurkan tangannya pada Zella, meminta menantunya itu mendekat. Dengan senang hati Zella segera mendekati mertuanya.
"Kebiasaan! Siapa yang bawa, selalu dia yang dicari!" gerutu Ranti. Ranti kesal, dia pergi dari ruangan itu.
"Ibu kenapa?" Zella meraih tangan mertuanya itu dan menciumnya. "Tadi Zella udah pesan sama ibu, pulang dan istirahat. Ibu badel ya?"
Tidak mungkin Zella tidak tahu pengkhianatan Akhsan, andai dia sudah tahu, mengapa dia setenang ini? jerit hati Mayang.
Kalian beruntung! Karena istri saya baik!
Kalian berdua, turun dari motor, buka kaca helm kalian, dan minta maaf sama saya dan istri saya!
Terbayang kata-kata Akhsan, Mayang semakin terisak, seistimewa apa perempuan itu, sehingga Akhsan terlihat sangat melindunginya.
"Ibu kenapa? Mengapa ibu menangis terus? Zella khawatir sama ibu ...."
Perhatian Mayang tersita pada Zella. Tangisnya semakin pilu, mengingat Akhsan tidak pernah membela Zella saat Zella dihakimi oleh keluarganya.
"Bu ... cerita sama aku bu, jangan ibu pendam sendiri." Zella berusaha menenangakan mertuanya.
Ceklak! Pintu terbuka, memperlihatkan sosok Akhsan.
"Ibu gimana Zell?" tanya Akhsan.
"Nggak tahu, ibu nggak ngomong apa-apa, cuma nangis aja."
Mayang heran melihat Zella biasa-biasa saja pada Akhsn, apakah dia benar belum tabu? Mayang melotot pada putranya itu. "Ku-aee!" Mayang semakin sesak, menyadari lisannya tidak mampu berkata lagi.
__ADS_1
"Kuuu--ayy!" jerit Mayang.
"Ibu kenapa?" Akhsan berusaha menyentuh ibunya, tapi langsung ditepis Mayang.
"Sepertinya ibu ingin kita keluar," sela Zella. Zella meraih tangan mayang dan menciumnya. "Kami nunggu di luar ya bu, sebentar lagi ibu akan dipindahkan ke ruang perawatan." Zella mengajak Akhsan keluar, saat keluar pintu, dia terperanjat melihat keberadaan Shamil di sana.
Sepertinya dia ingin memperkenalkan Shamil pada ibu, batin Zella.
Flash Back
Di luar ruangan penanganan Mayang.
Akhsan baru saja sampai, namun ada yang menarik perhatian Ranti , sosok perempuan yang datang bersama Akhsan.
"Ibu gimana?"
Pertanyaan Akhsan membuat lamunan Ranti buyar. "Ada di dalam, udah baikan. Kata dokter cuma kelelahan dan sepertinya ibu tertekan. Itu pasti gara-gara Zella!"
"Kamu tunggu di sini ya, aku mau lihat keadaan ibu," ucap Akhsan pada Shamil, dan dibalas anggukan kepala oleh Shamil.
"Kamu Shamil yang kerja di perusahaan Pak Gilham 'kan?" tanya Ranti.
Shamil kikuk, dia menganggukan kepalanya.
"Kenapa bisa kamu datang sama Kak Akhsan?" tanya Ranti.
"Kami satu proyek kerjasama, tadi lagi rapat, terus ada panggilan dan ku lihat Akhsan panik, jadi aku menawarkan tumpangan," sahut Shamil.
"Cantik, baik hati. Aku makin ngefans sama kamu, aku salah satu pengagum kamu, sampai follow akun media sosial kamu, prestasi kamu itu luar biasa, kerja nggak sampai 2 tahun sudah sampai di posisi yang tinggi aja," puji Ranti.
Detik yang sama Akhsan dan Zella keluar dari ruang penanganan.
Perhatian Ranti teralih pada dua sosok itu "Bagaimana ibu?" tanya Ranti pada Akhsan.
"Entahlah, saat aku masuk ibu nangis banget sambil memeluk Zella, pas lihat aku malah usir aku." jawab Akhsan.
Ranti langsung mendekati Zella dan memojokannya ke tembok. "Kamu apakan ibuku?!"
"Aku nggak tahu, ibu nggak cerita apa-apa, cuma nangis!"
"Pasti ibu keracunan makanan jualan kamu kan!Tapi ibu selalu mau lindungin kamu!" todong Ranti.
"Aku selalu salah ya di mata kamu, belum tentu sebab makanan buat ibu seperti ini." Zella mendorong Ranti dan berjalan ke sisi yang lain.
Mendengar ibu Akhsan belum cerita, Akhsan dan Shamil saling tatap, keduanya menghela napas begitu lega.
Shamil berjalan menyusul Zella. "Kamu yang kuat ya. Mertuamu pasti baik-baik aja." Shamil berusaha menyemangati Zella.
"Makasih," sahut Zella dingin.
__ADS_1