
Keadaan seketika tenang, Mayang menghilang di balik pintu kamarnya. Sedang Akhsan dan Ranti, sibuk mengobati wajah Shamil. Zella tidak peduli dengan keadaan itu, dia mencari Tifa yang asyik bermain bersama Fiqri di halaman belakang. Kedua anak itu terlihat asyik, mereka tidak tahu kekisruhan yang terjadi di dalam rumah.
"Tifa sayang, yuk kita pulang." Zella memberikan tangannya untuk Tifa raih.
Tifa memandangi tangan ibunya, jujur dia berat jika harus pulang, dia suka bermain dengan Fiqri. "Lho, emangnya Nenek sudah sehat?"
"Alhamdulillah, Nenek sudah bisa ngomong, itu Nenek Indri datang jemput kita." Zella mengusap kepala putrinya.
"Yah ... rumah jadi sepi lagi, aku suka tante Zella di sini, selain ada Tifa yang jadi teman main aku, tante Zella juga masak enak-enak, bekal aku jadi nggak itu-itu aja. Tante pergi, yang jagain dan temani aku pastinya cuma Nenek," gerutu Fiqri.
"Kan bisa main sama Tifa sepulang sekolah sambil nunggu jemputan. Jangan sedih, kalau bekal juga ada makan siang dari sekolah."
"Tapi aku suka bekal dari tante, walau ada makanan yang disediakan di sekolah."
"Kalau tante nggak sibuk, insya Allah tante Zella titip sama Tifa ya." Zella berusaha menghibur Fiqri.
Dengan berat hati Fiqri ikut mengantar kepergian Tifa dan Zella. Saat sampai ke ruang tamu, kedua anak itu menatap wanita asing yang duduk diapit oleh Akhsan dan Ranti.
"Dia siapa ma?" tanya Fiqri.
"Dia tamunya mama Fiqri dan juga teman kerja abah Tifa," potong Zella. Di tidak mau pikiran anaknya terganggu oleh hal yang tidak dimengerti oleh Tifa.
"Tantenya kenapa? Kok berdarah?" Tifa mengamati wajah Shamil.
"Tante kena cakar dan kena pukul malaikat, karena nakal," sahut Zella.
"Untung cuma nakal, kalau sampai bohong, lidah tantenya digunting loh sama malaikat. Makanya jadi orang baik ya tante, biar disayang Allah, kalau Allah sayang sama kita, malaikat juga baik sama kita," ucap Tifa tertuju pada Shamil.
"Hei cantik, kapan kita pergi? Om sudan capek berdiri," potong Alvin.
"Ya udah sekarang." Dengan polosnya Tifa berjalan kearah Akhsan dan menyalimi Ayahnya itu. Entah mengapa anak kecil itu melewati Shamil, dia langsung salim pada Ranti.
"Sama tante nggak salim?" Shamil mengulurkan tangannya.
"Tante minta maaf dulu sama Allah, kena pukul malaikat pasti tante bikin salah. Tifa takut sama orang yang berani bikin Allah marah." Anak kecil itu segera berlari menuju Zella dan menarik Zella untuk segera keluar dari sana.
"Anak dan mamanya sama-sama nyebelin!" gerutu Ranti.
__ADS_1
"Sudah, Kamu kenapa sih benci banget sama Zella? Padahal dia baik loh," ucap Shamil.
"Nggak tahu, aku benci saja sama wanita yang tabiatnya kayak burung, menunggu dikasih makan dari yang mencari nafkah. Padahal dia sehat! Tentu bisa kerja juga dong!"
"Mama benci tante Zella?" sela Fiqri.
"Anak kecil jangan ikut campur urusan orang dewasa! Sana kamu main atau belajar gih!" usir Ranti.
"Kalau bukan karena nasihat tante Zella, supaya aku memahami mama, dan tetap hormat sama mama, sudah lama aku benci sama mama! Mama cuma kerja dan kerja nggak pernah ada waktu buat aku!" ucap Fiqri.
Saat dia hendak berbalik menuju kamarnya, dia melihat Neneknya keluar dari kamar menarik koper besar.
"Nenek mau kemana?" tanya Fiqri.
"Nenek mau pulang ke kampung halaman Nenek. Nenek merasa tidak punya tempat di sini."
"Apa? Ibu mau pulang kampung?" Ranti syok mendengar hal itu.
"Buat apa ibu di sini? Bukannya kamu benci dengan wanita yang tahunya hanya menadah? Perlu kamu ingat Ranti, wanita yang melahirkan kamu ini sejak awal menikah hingga Ayahmu tiada, aku hanya menadah padanya. Kamu benci aku, buat apa aku di sini?"
"Itu urusan kamu!" Mayang berjalan mendekati Fiqri, memeluk cucu lelakinya itu, Mayang menempelkan wajahnya di sisi telinga Fiqri. "Maafin Nenek ya, kalau Fiqri tidak kuat di sini, Fiqri telepon Papa, minta papa jemput Fiqri." bisiknya. Dengan berat hati Mayang meninggalkan cucu yang selama ini dia jaga.
Tidak ada orang yang sanggup bekerja lama untuk Ranti, bahkan suaminya saja tidak sanggup meneruskan rumah tangga mereka. Orang yang bekerja pada Ranti kadang tidak sampai satu bulan orang itu izin berhenti, kadang menghilang begitu saja, padahal tugas utamanya untuk menjaga Fiqri. Tapi sifat Ranti yang buruk itu membuat orang tidak sanggup bertahan. Hingga pada akhirnya Mayang lagi yang harus menjaga Fiqri. Mayang menarik kopernya dan meninggalkan rumah itu.
"Tahan ibumu, ba." pinta Shamil.
"Itu keputusan ibu, biar saja ibu mau begitu."
"Sebaiknya kita berpisah saja, terlalu besar goncangan yang terjadi karena hubungan kita," ucap Shamil.
"Tidak akan, aku bahagia sama kamu. Aku tidak mau tahu hal lainnya, itu urusan mereka! Sahut Akhsan.
"Kalian fokus kebahagiaan kalian saja, saat Zella menggugat cerai, permudah saja, kalau surat cerai resmi keluar, kalian bisa nikah resmi."
"Mengurus cerai butuh waktu Ran," ucap Akhsan.
"Cuma nunggu, selama nggak ada tuntutan harta dan nafkah, semua berjalan lancar. Paling-paling wanita itu meminta hak asuh Tifa, biarkan saja Tifa dia yang urus. Kalian masih muda, bisa punya anak sendiri. Tifa nggak sama kalian, justru lebih baik, kalian bisa bulan madu lebih lama." Ranti mengedipkan matanya pada Shamil.
__ADS_1
Fiqri semakin kesal dengan keadaan ini, walau dia tidak memahami apa itu perceraian, namun yang dia mengerti cerai itu ayah dan ibunya tidak bersama lagi. Fiqri menatap tajam pada Shamil, satu hal lagi yang dia mengerti, kekacauan ini sebab wanita yang duduk diantara ibunya, dan pamannya. Fiqri marah, dia berlari menuju kamarnya dan membanting pintu kamar itu begitu keras.
***
Sejak meninggalkan rumah Akhsan, Zella terus diam. Matanya menatap nanar jalanan yang mereka lalui. Hanya suara Tifa yang menghiasi perjalanan mereka.
"Sekarang, kamu ingin mengambil langkah apa, Zell?" tanya Indri.
"Sejak awal aku ingin melepas Akhsan, aku diam karena permintaan mama. Mama bisa lihat langsung, tidak ada alasan untukku tetap bertahan dalam pernikahan ini. Mama sudah dengar sendiri semuanya, bukan?" Zella berusaha tetap tegar. "Ibarat di sebuah film, aku hanya tokoh yang tidak diperlukan ma. Untuk apa aku tetap berperan di sana?"
"Kapan kamu mendaftarkan--" Indri mengisyarat cerai, namun dia tidak sanggup melontarkan kata itu, karena ada Tifa.
"Besok ma, andai pengadilan agama minggu buka, ya sekarang."
"Ehmm! Emmm!" Alvin sengaja berdeham.
"Mau bicara apa?" Indri sangat mengerti kalau majikannya itu ingin buka suara.
"Jika ingin proses perceraian mudah, maka jangan meminta apapun, jangan minta nafkah apalah itu namanya aku lupa, terus jangan minta harta gono-gini. Jika sekedar cerai dan memberi alasan yang jelas, semua akan berjalan cepat."
"Siapa yang cerai? Abah sama mama?" sela Tifa.
Indri berusaha menahan diri untuk tidak menyebut cerai, namun Alvin malah menyebutnya. Indri menunjukan kekesalannya pada Alvin.
Tifa memandangi orang dewasa itu, tidak satu pun yang menjawab pertanyaannya. "Bukannya abah sama mama sudah lama cerai, ya?"
"Kok Tifa bicara begitu?" tanya Indri.
"Kata Kak Iqbal, cerai itu kedua orang tua kita nggak serumah, kayak kak Iqbal. Kata kak Iqbal, mamanya cuma nengok dia sebentar. Persis kayak abah dan mama. Abah juga cuma ada sebentar di rumah terus hilang."
Zella menatap haru putrinya. Di mana sebagian orang tua bingung mengambil jalan perpisahan karena memikirkan mental anak jika bercerai. Tapi Tifa? Dia terlihat biasa dengan keadaan ini.
"Aku lebih suka abah nggak di rumah, kalau abah ada di rumah, abah suka marah-marah nggak jelas sama mama."
"Ya ampun Zell, kamu diam aja jadi sasaran emosi suami?" sela Alvin.
"Kan aku bodoh, makanya aku diam. Aku pikir dia begitu karena tertekan di tempat kerja dan stress. Ternyata tertekan karena keberadaanku."
__ADS_1