Bidadari Kedua Suamiku

Bidadari Kedua Suamiku
Bab 31


__ADS_3

Shamil masih tersenyum mendapat sambutan itu. Dia mengenalkan Akhsan pada atasannya. Saat matanya memandang petinggi perusahaan lain, seketika senyum itu lenyap. Shamil menepuk lengan Akhsan, ingin memberi tahu padanya. Ternyata Akhsan juga saat ini membatu, pandangan matanya juga tertuju pada sosok yang membuat Shamil terkejut.


"Kalian kaget lihat Pak Bagas kan?" tebak petinggi perusahaan itu. "Pak Bagas sudah cerita kalau dia berasal dari desa yang sama denganmu."


"Bukannya Pak Bagas pindah keluar Negri?"


"Aku yang meminta dia agar kembali ke negara ini, dan bekerja padaku. Saat aku ulang tahun kemaren, bos besar menanyaiku, aku ingin hadiah apa? Ya ... aku minta Bagas dipekerjakan untukku."


"Oh ...." Shamil berusaha memungut kesadarannya yang terberai. Dia berusaha tersenyum. "Saya sangat terkejut ketemu Pak Bagas di sini."


"Saya malah terkejut mengetahui siapa suami kamu," balas Bagas.


Akhsan masih gugup, bagaimana dia bisa tetap baik-baik saja setelah bertemu Ayah Zella di sini, sedang dia diperkenalkan sebagai suami Shamil. Ayah Zella menatap tajam padanya. Dari sorot matanya, sangat jelas laki-laki 60 tahunan itu ingin menerkamnya.


"Ayo bergabung, kita bahas pekerjaan yang kita rencanakan."


"Baik, Pak." Shamil menarik Akhsan yang masih membatu.


Sosok bernama Bagas adalah Ayah kandung Zella, dikenal sebagai casanova, dia tidak bisa melihat perempuan, berbagai cara akan dia lakukan untuk mendapatkan perempuan itu. Walau kini usianya tidak muda lagi, namun dia memiliki bentuk tubuh yang bagus, dan berpenampilan menarik. Sehingga orang berpikir dia berusia 40 tahunan, ditambah keadaan finansial yang bagus, semakin menambah daya pikatnya. Dalam bekerja, pengabdiannya tidak diragukan, walau usianya sudah tua, tapi pengalamannya membuat dia diinginkan oleh banyak orang untuk menjadi kepala keamanan mereka.


Yang membuat Akhsan takut padanya, Akhsan tahu mertuanya itu memiliki ilmu bela diri. Karena dia dulunya seorang petugas keamanan Perusahaan pertama tempatnya bekerja. Di mana dia dan Shamil bekerja di tempat yang sama. Bagas sendiri saat ini berusaha bersikap profesional, walau dirinya ingin sekali mematahkan leher menantunya itu. Selama pembahasan kerjasama berlangsung, Bagas sibuk dengan handphonenya, dia terus berkirim pesan, meminta kenalannya untuk mencari tahu tentang Shamil, dan misi utama perempuan itu, juga mencari tahu tentang pernikahannya dengan Akhsan.


Selama makan malam berlangsung, Shamil hanya bicara saat ditanya. Keberadaan Ayah Zella di tengah mereka membuat Shamil takut.


Kenapa sih om Bagas kembali ke tanah air? Sial! Moga saja kehadiran om Bagas di sini tidak merusak rencanaku. Aku harus protes pada Ayah. Kalau ku tahu om Bagas tidak tinggal di luar Negri, aku tidak akan mengambil jalan menikah dengan Akhsan!


Shamil berusaha menelan makanannya, saat ini lidahnya tidak bisa merasakan kenikmatan makanan itu, rasa takut yang menyelimutinya membuat lidah dan tenggorokannya seakan mati rasa. Tak berbeda dengan Akhsan, dia juga sangat takut, bahkan tidak berani mengangkat wajahnya di depan Ayah Zella. Hingga makan malam selesai, Bagas masih diam, pura-pura tidak peduli dengan mereka.


Acara makan malam selesai, seperti biasa Bagas keluar lebih dulu untuk memastikan keamanan bosnya. Melihat hal itu, Akhsan mendekatkan wajahnya pada Shamil.


"Aku mau nyusul Bapak Zella, aku harus bicara baik-baik, aku takut dia mempersulitmu."


"Iya, aku tunggu kamu di parkiran," sahut Shamil.


Akhsan berusaha menyusul mertuanya, tapi dia tidak bisa menemukan sosok yang dia cari. Akhsan terus menjelajahi Restoran itu. Sedang di tempat lain, Shamil berdiri di sisi mobilnya, menunggu kehadiran Akhsan.

__ADS_1


"Aku tahu tujuanmu menikah dengan Akhsan!"


Suara tegas itu membuat bulu kuduk Shamil berdiri. Dia berusaha menenangkan dirinya.


"Tinggalkan Akhsan! Jangan ganggu rumah tangga putriku! Jika kau bersedia meninggalkan Akhsan, aku akan membantumu mencapai tujuanmu," penawaran Bagas.


"Tujuan? Aku tidak punya tujuan apa-apa, pernikahan kami terjadi karena rasa cinta."


"Kau kira aku bodoh? Aku tahu tujuanmu Shamil!"


"Terserah Bapak menuduhku dengan apa, asal Bapak tahu, aku dan Akhsan saling mencintai. Apa pun yang Bapak tawarkan, tidak bisa memisahkan aku dan Akhsan!" tegas Shamil.


"Zella sudah tahu hubungan kami, Pak. Aku tahu Bapak punya banyak uang, tapi uang Bapak tidak akan mampu membeli cinta kami!" sambar Akhsan.


Bagas geram, dia berjalan cepat menyusul Akhsan. "Dasar bodoh! Cinta yang kau agung-agungkan itu palsu!"


"Bapak salah, belasan tahun cinta itu tumbuh, justru cintaku pada Zella yang palsu."


Brukkkk!


Astaga! Robek jas sewaan itu! Aduh ... Pak Bagas sialan! Baru muncul saja bikin aku bangkrut!


Melihat jas yang Akhsan kenakan robek, Shamil terus menjerit dalam hati.


Di sana Bagas langsung menarik Akhsan lagi, dan melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah Akhsan. Membuat Akhsan merasa diantara alam sadar dan bawah sadar karena pukulan itu. Rasanya sisi bibirnya terasa perih, penglihatannya pun kini berkunang-kunang.


Di sisi lain. Alvin dan Indri berjalan bersama keluar dari sebuah Restoran.


"Maaf ya Ammak, sepertinya dia tidak mencintaiku. Buktinya dia tidak datang kemari menemui kita."


"Kamu jangan mengambil kesimpulan seperti itu, mungkin ada keluarganya yang sakit. Bukankah katamu kalian tidak saling tukar nomor handphone?"


"Aku nggak tahu Ammak, mengapa aku sangat mudah jatuh hati pada perempuan itu. Pertama kali melihatnya, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku lagi, aku hanya ingin melihat tawa renyahnya."


"Semoga dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Ammak nggak sabar mau kenalan sama dia."

__ADS_1


Keberadaan Alvin dan Indri di Restoran itu, karena Alvin ingin memperkenalkan gadis pujaannya, yang dia kenal 3 bulan yang lalu. Namun sang pujaan tidak kunjung datang.


Brukkk!


Boughht!


Suara pukulan itu menyita perhatian Indri dan Alvin. Indri syok melihat korban pemukulan itu adalah Ayah dari cucunya, dan yang melakukan pemukulan itu mantan suami pertanya.


"Bagas! Berhenti!!" teriak Indri.


Merasa familiar dengan suara itu, Bagas menghentikan serangannya. Dia terkejut melihat mantan istrinya berlari ke arahnya. Merasa Bagas tidak kesurupan lagi, Shamil langsung mendekati Akhsan, membantu Akhsan bangun, tapi laki-laki itu tidak berdaya. Shamil perlahan mengangkat kepala Akhsan ke pangkuannya.


"Kau jangan ikut campur! Aku ingin memberi pelajaran pada laki-laki yang menyakiti putriku!" Bagas ingin menarik Akhsan, namun ditahan oleh Indri.


"Apakah kamu tidak mempunyai cermin di rumahmu?!"


Bagas membeku, dia menatap lemah pada Indri.


"Bagaimana rasanya mengetahui putrimu dikhianati oleh laki-laki?"


"Bagaimana hatimu sebagai seorang Ayah, saat mengetahui hati putrimu terluka?" cecar Indri lagi.


Kedua tangan Bagas bergetar mendengar pertanyaan Indri.


"Apakah rasanya manis? Gurih? Atau bagaimana?" Indri tersenyum sini melihat mantan suaminya bungkam. "Begitulah rasa yang Ayahku dulu rasakan, saat mengetahui anaknya dikhianati oleh suami, dan itulah rasa sakit Ayah perempuan-perempuan lain yang perasaan mereka kamu permainkan!"


"Kau membela dia?" Bagas menunjuk pada Akhsan.


"Aku tidak membela Akhsan, aku hanya ingin bilang, sebelum kau pukuli Akhsan, kau harusnya pukuli dirimu sendiri, ku rasa kalian sama saja." Indri segera pergi dari sana, dan menyeret Alvin agar mengikutinya.


Apa yang Indri katakan membuat dada Bagas bergemuruh. Dia sering mempermainkan wanita, tapi dirinya tidak rela anaknya merasakan rasa sakit yang sama, yaitu rasa sakit wanita yang pernah dia sakiti. Bagas meminta anak buah yang saat ini menahan petugas keamanan Restoran untuk segera pergi mengikutinya.


Sedang keamanan Restoran itu segera membantu Shamil untuk membawa Akhsan masuk mobil mereka.


***

__ADS_1


Misal besok ga update, harap maklum ya, aku up kalau aku bisa rebahan😅


__ADS_2