
Sulit rasanya mencari pelaku kecurangan yang sebenarnya, penyelidikan mereka selalu mengarah pada orang-orang yang memang baik. Alvin tidak ingin ambil reseko membuat mereka sakit karena tuduhannya. Rasanya tidak mungkin mengkhianati Taufik. Mereka mengatur cara lain untuk mencari tahu lebih jelas lagi, tidak hanya berdasar catatan yang mereka miliki, harapan mereka suatu saat mereka bisa tangkap tangan.
"Sudah hampir siang, sebaiknya kita kembali saja dan istirahat," ucap Alvin.
Mereka bertiga membubarkan diri. Nadi dan Alvin kembali ke perkebunan Nadi, sedang Taufik izin pamit pulang ke rumahnya.
Di kediaman Taufik.
"Assalamu'alaikum," salam Taufik.
"Wa'alaikumsalam," sahut wanita yang fokus pada handphonenya.
"Tumben tadi malam nggak pulang?" tanya wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya dari layar handphone.
"Ada masalah di peternakan ayam potong, terus bahas sama bos dan juga Nadi sampai larut malam, Nadi meminta aku bermalam di pondok, ya aku bermalam karena sangat larut juga."
"Owh ... kirain karena ada mantan calon mama mertua di sana hingga betah sampai nggak pulang."
"Cemburu?" tebak Taufik.
"Enggak, aku masih ingat siapa aku di sini."
"Owh, kirain. Aku takut kamu nyaman sama aku, terus jatuh cinta sama aku, itu hanya menambah penderitaan kamu saja, Elisa."
"Aku malah takut kamu yang jatuh cinta sama aku," balas Elisa.
"Andai aku bisa, aku mau. Tapi sayangnya aku tidak pernah jatuh cinta padamu, atau gadis lainnnya." Taufik menghela napasnya begitu dalam.
"Kamu ingat nggak? Dulu awal-awal kita nikah, aku marah-marah nggak jelas sama Zella saat aku lihat kalian bertemu, atau sekedar ketemu dia nggak sengaja. Aku seperti itu cuma ingin membahagiakan ibumu saja, aku yakin banyak mata-mata yang akan melaporkan kejadian itu pada ibumu. Aku lakuin itu sebagai rasa terima kasihku karena kamu selalu membuat kedua orang tuaku bahagia, sedang aku tidak pernah memberi kebahagiaan untuk kedua orang tuamu. Ya ... menjadi kipas saat ibumu kebakaran salah satu hal yang membuatnya bahagia, salah satunya memaki Zella, ibumu sangat bahagia."
"Ya, kau sering jelaskan itu padaku."
"Jika suatu saat aku bertemu Zella, dan kala itu aku memiliki kesempatan hanya berdua, aku ingin minta maaf padanya, atas kata-kataku yang terlalu aduhai menghina dan menyudutkannya."
"Jangan pernah memberitahu akan keadaan kita termasuk kesepakatan kita!" ujar Taufik tegas, memperingatkan istrinya agar tidak membuka rahasia mereka.
"Tenang saja, aku hanya ingin minta maaf, rasanya aku selalu dihantui oleh rasa bersalahku karena dulu sering drama cemburu demi membahagiakan ibumu."
"Tanpa kamu minta maaf, ku rasa Zella sudah memaafkanmu."
"Kamu tahu banyak tentang dia," goda Elisa.
"Terserah kamu Elisa, bagaimana kamu menjalani keseharianmu, bisa-bisa kamu saja membahagiakan dirimu sendiri, kalau kamu lelah dengan keadaan ini, ku rasa kamu tahu di mana letak kantor urusan agama."
"Aku tahu alamat kantor agama, tapi aku nggak tahu gimana cara buat ibumu nendang aku. Rasanya aku selalu buat dia emosi sampai keluar tanduk, tapi saat aku usul pisah aja, dia nggak terima."
Taufik tertawa mendengar keluhan Elisa. "Dari dulu sudah ku katakan, tidak mudah bercerai jika ibuku tidak setuju. Kamu yang mau, ya selamat menikmati."
__ADS_1
"Kenapa Kak Taufik nggak coba untuk menyeriusi hubungan kita? Apa aku kurang cantik? Apa ada yang salah pada diriku? 12 tahun loh Kak kita dalam ikatan pernikahan, kita seperti orang asing yang tinggal serumah."
"Maaf, aku sudah mencoba menerima garisan hidupku, tapi aku tidak bisa." Taufik menarik napasnya begitu dalam.
Lebih baik seperti ini, daripada aku memaksa diri hanya semakin menambah diriku tersiksa. Batin Taufik.
Melihat Elisa mematung, Taufik berkata, "Tidak ada yang salah dengan dirimu, dalam rumah tangga kita yang sangat hampa ini, semuanya kesalahanku. Jangan menyalahkan dirimu. Ingat pesanku, kita sudah hidup tanpa cinta dari pasangan, setidaknya buat diri kita bahagia dengan hal yang lain."
Elisa merasa dirinya adalah tokoh utama dalam sebuah cerita pernikahan kesepakatan tanpa cinta. 12 tahun menikah, tapi dirinya masih perawan. Elisa berusaha tidak mempermasalahkan itu, dengan mengikuti saran Taufik untuk membahagiakan dirinya sendiri dengan hal-hal yang dia suka. Jasa Taufik pada keluarganya sangat besar, membuat Elisa berusaha menerima pernikahan kosong ini. Kebahagiaan yang Taufik berikan padanya sangat besar. Elisa merasa sepadan dengan reseko yang harus dia terima, walau tidak tahu sampai kapan menjalani ikatan tanpa rasa ini.
Jika ingin bercerai, buat ibu Taufik tak suka padanya. Elisa sudah berusaha berulah sejak tahun pertama pernikahan hingga sekarang. Tapi hanya sebatas membuat ibu Taufik marah, jika dirinya membahas perceraian, maka ibu Taufik akan meminta Elisa mengembalikan semua yang telah Taufik berikan padanya dan keluarganya.
Segala kekonyolan yang Elisa lakukan, itu sebagai bentuk membahagiakan dirinya sendiri, dan di balik alasan itu, dia ingin menguji kesabaran ibu Taufik, sampai mana perempuan paruh baya itu kekeh membiarkannya menyandang status sebagai istri Taufik.
Sebenarnya bagi Taufik mudah menceraikan Elisa, namun ada sebuah nasihat yang selalu dia ingat. 'Jangan menyakiti hati ibumu, dia yang berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkanmu, sebanyak apa pun perhatianmu pada ibumu, tidak akan mampu menebus setiap tetes air susu yang dia berikan untuk kehidupanmu, setiap tetes keringat karena lelah menjagamu.' menceraikan Elisa, tentu membuat ibunya murka. Biarlah pernikahannya terus berjalan. Apa yang terjadi di dalamnya cukup dia dan Elisa yang tahu.
Ibunya ingin dia menikah, dia menikah dengan perempuan yang ibunya pilihkan. Sejauh ini Taufik tidak ingin melawan ibunya, tidak berdebat dengan ibunya, namun dia juga punya pilihan tersendiri. Seperti ikatannya dengan Elisa, hanya dirinya dan Elisa yang tahu.
Di rumah yang lain.
Sambil menyiapkan makan siang, Jubaedah terus mengomel, dia mengeluhkan kelakuan menantunya itu.
"Maunya ibu ini apa? Elisa menjadi istri Taufik kan ibu sendiri yang maksa, kapan hidup kita bisa tenang? Ibu ini maunya diturutin atau enggak sama aja, ngomel dan protesnya tetep nggak berhenti," keluh Ayah Taufik.
"Yang aku mau Elisa itu jangan terlalu ceriwis! Suka nyanyi, suka ngerayu laki-laki! Aku malu!"
"Aku takut, itu jalan Elisa buat narik perhatian laki-laki, lalu dia membantu Elisa mengembalikan apa yang Taufik beri padanya dan kekuarga, dengan mudahnya dia akan minta cerai!"
"Mereka mau cerai, atau terus itu urusan mereka, Taufik memang anak kita, bukan berarti kita mengatur dia menjalani hidupnya."
Rumah tangga yang tenang memang jauh dari kehidupan Ayah Taufik. Tiada hari tanpa omelan Jubaedah, sebab itu saat dia sering bertemu Indri, dia jatuh hati dan sampai menikah. Bahkan sampai saat ini dirinya tidak bisa menghapus perasaannya untuk Indri, Indri memberikan apa yang tidak pernah dia temukan selama berumah tangga dengan Jubaedah. Saat ini meneruskan hidup dan berusaha terlihat bahagia hanya demi anak-anaknya. Kebahagiaannya sendiri rasanya sudah mati.
"Pak, Kak Elisa mana?" tanya adik bungsu Taufik.
"Kakak iparmu sudah pulang, cari saja ke rumahnya."
"Okelah, aku sekalian mau makan di sana, biasanya Kakak ipar selalu masak enak!"
Sedang di sisi lain ....
Indri bukan menemani Zella, tapi dia mendatangi desa mantan mertuanya. Ibu dari Ayah Zella. Ziarah kubur, alasan pertama dia datang. Walau pernikahan pertamanya kandas karena kehadiran orang ketiga, tapi dirinya masih menjaga silaturrahmi dengan keluarga dari Ayah kandung Zella. Tujuan lain, untuk mencari tahu lebih banyak tentang Shamil.
Seminggu berlalu. Pencarian informasi tentang Shamil belum seperti yang Indri inginkan. Dia yakin pasti ada sesuatu mengapa Shamil sampai rela menjadi istri siri dari seorang yang sudah beristri. Dirinya cantik, memiliki pekerjaan bagus, tentu mudah mencari pendamping hidup yang lebih baik dari Akhsan.
Sedang Akhsan, seminggu ini dia menginap di rumah ibunya. Pulang bekerja mampir ke rumah istri keduanya, jika malam dia akan kembali ke rumah ibunya. Pagi minggu, harusnya ini hari yang panjang untuknya dan Shamil, apalagi tamu bulanan Shamil sudah pergi. Namun pergi dari rumah ibunya di hari libur begini tentu Ranti akan menanyakan tujuannya. Akhsan terpaksa berdiam diri di rumah, namun dia selalu berkirim pesan dengan Shamil.
"Assalamu'alaikum."
__ADS_1
Suara salam itu mengejutkan Akhsan. "Ibu pulang," gumamnya.
"Wa'alaikumsalam." sahut Fiqri. "Nenek ...." Fiqri sangat bahagia melihat Neneknya sudah kembali.
"San? Mana Zella sama Tifa?" tanya ibunya.
"Om Akhsan cuma sendiri Nek, sudah seminggu om nginep di sini, Tifa juga sekolah diantar Nenek Indri," adu Fiqri.
Mayang bisa merasakan ada ketidakberesan dalam rumah tangga anaknya, apalagi adanya besannya, tentu ada hal yang mengkhawatirkan. Banyak hal yang ingin dia tanyakan, tapi tidak ingin Fiqri mendengar percakapannya dengan Akhsan.
"Oh iya, Nenek punya oleh-oleh buat Fiqri. Nah ini boleh Fiqri bagiin ke teman-teman Fiqri di sekitar rumah." Mayang memberikan beberapa bingkisan pada Fiqri.
"Alhamdulillah, makasih Nek! Aku mau bagi-bagi ini dulu Nek!" Fiqri menyimpan oleh-oleh untuknya, dan berlari keluar rumah untuk membagi oleh-oleh yang akan dibagikan.
Fiqri suka berbagi pada tetangga sekitar, karena Mayang yang mengajarkannya dan membuat Fiqri suka berbagi, sebab itu dia sangat cepat jika disuruh untuk membagi sesuatu.
"Ada masalah apa San? Apa masalahmu tidak bisa diselesaikan?"
"Ibu ... ibu! Kali ini kak Akhsan angkat tangan mengurusi anak emas ibu itu!" sela Ranti.
"Sesulit apapun, sebesar apapun masalah kalian! Dengan pergi dari rumah tidak akan membuat masalah selesai!" ucap Mayang.
"Bu, aku bukan kabur, tapi mendidik istriku. Pendidikan pertama, dengan peringatan dan nasihat dia abaikan, pendidikan kedua dengan pukulan, owh ... aku tidak ingin masuk penjara karena kekerasan, bu. Ku rasa ibu masih ingat cara mendidik istri itu, pertama dengan nasihat, kedua dengan pukulan mendidik, tapi zaman sekarang susah bu, jadi aku ambil jalan ketiga, menjauhinya. Aku menginap di sini untuk menjaga jarak dengannya, kepergianku untuk membuatnya sadar kalau dia salah, bu." sahut Akhsan panjang lebar.
"Permasalahan apa yang tidak mau Zella dengarkan?" Mayang sulit percaya jika menantunya sepembangkang itu. Dia sangat tahu, dengan nasihat pun, Zella sangat menerima.
"Dia jualan bu, jualan di pinggir jalan dengan gerobak kontainer. Jualan pisang goreng!" ucap Ranti sinis.
"Memangnya salah dia jualan?" Mayang merasa itu bukan suatu kesalahan.
"Ya salah bu, memangnya aku nggak kasih nafkah buat dia? Dengan dia bekerja seperti itu, orang berpikir suaminya tidak memberinya nafkah!" protes Akhsan.
"Zaman sekarang tidak ada yang salah jika istri bekerja, justru istri di rumah seperti Zella dianggap beban keluarga, bukannya itu yang selalu kamu katakan pada Zella, Ran?" ucap Mayang, tertuju pada Ranti.
Bukan marah pada Zella, ibunya malah menyudutkan Ranti. Hal ini semakin membuat Ranti geram.
"Sekarang, Zella sudah bekerja. Tapi tetap disalahkan, ini Zella yang salah, atau pemikiran kalian berdua?"
"Tapi bu--"
Mayang memberi isyarat agar Akhsan diam. "Mungkin nafkah yang kamu berikan kurang, san. Dia tidak ingin membebanimu dengan menuntutmu agar memberi lebih, sebab itu Zella memilih berjualan untuk menutupi kekurangan keuangan kalian, sangka baik San. Zella hanya berusaha meringankan bebanmu."
"Ibu ya! Zella selalu benar di mata ibu! Ibu nggak tahu betapa malunya aku di depan keluarga kita karena Zella jualan kaki lima begitu!" protes Ranti.
"Kamu ini aneh Ran, Zella itu jualan sesuatu yang memang diperbolehkan jualan, andai Zella jualan yang diharamkan, misal jual n4rkoba, atau jual diri, oke ini masuk kategore memalukan!" tegas Mayang.
"Bella terus anak emas itu!" Ranti pergi dengan kemarahan yang masih berkobar.
__ADS_1