Bidadari Kedua Suamiku

Bidadari Kedua Suamiku
Bab 24


__ADS_3

Khayalan Akhsan, ibunya akan mendatangi Zella dan menasihati Zella. Namun pada kenyataan, ibunya tetap membela Zella.


"Berapa uang yang kamu berikan pada Zella setiap bulannya?" tanya Mayang.


"A-aapakah Zella nggak pernah kasih uang lagi sama ibu?" Akhsan berharap dengan bertanya balik ibunya lupa akan pertanyaan sebelumnya.


"Zella selalu kasih uang sama ibu, walau ibu tolak dia selalu meminta ibu untuk menerimanya, katanya walau uang yang dia berikan jauh dari cukup buat kebutuhan ibu, tapi dengan itu harapannta semoga pintu rezekimu makin lebar."


"Aku lega kalau Zella masih ingat memberikan uang bulanan untuk ibu." Akhsan ingin sekali pergi sebelum ibunya bertanya tentang uang bulanan lagi. Namun alasan apa yang harus dia gunakan untuk pergi?


"Jadi, berapa kamu kasih Zella per bulannya?"


Deggg! Pertanyaan yang ingin sekali Akhsan hindari.


"Soalnya beberapa bulan terakhir Zella memberi ibu lima ratus ribu, sedang bulan-bulan sebelumnya, dari satu juta, bahkan bisa dua juta. Ibu berpikir sepertinya anak ibu mendzalimi anak dan istrinya. Karena Zella bukan sosok pengadu, ibu yakin di memendam segala masalahnya sendiri. Rasanya tidak mungkin Zella menyimpan semua yang dia pegang, karena Zella tidak egois, jika dia memiliki sesuatu, dia selalu membaginya dengan keluarga, selebihnya dia tabung sebijaknya."


Akhsan tidak bisa menghindar lagi, dia memejamkan matanya menutupi kegusarannya.


"Ibu bukan ikut campur keuangan kalian, hanya saja ibu merasa berdosa jika sampai menantu dan cucu ibu kekurangan karena kesalahan anak ibu. Jawab ibu, berapa uang yang kamu kasih?"


"Akhir-akhir ini aku ada masalah bu, jadi gajihku tidak full, dan aku memberikan 4 juta untuk Zella, ku rasa itu cukup."


"Cukup kepalamu!?" Mayang sangat syok mendengar jumlah yang Akhsan berikan pada Zella.


"Cukup nggak cukup itu relatif bu, banyak orang yang berpenghasilan lebih rendah dari aku, dan memilki banyak anak, mereka bisa mencukupkan untuk kehidupan mereka. Tinggal kebijakan saja dalam mengelola uang itu, bu."


"Susah bicara sama orang yang mata sama otaknya terpejam!" Mayang sangat emosi, dia berjalan menuju kamarnya. Sesaat Mayang menghentikan langkahnya. "Bulan depan, ibu nggak mau tau, pokoknya bayar semua tagihan harus kamu! Dari air, listrik, biaya les Tifa dan bayar bulanan sekolah Tifa! Ibu akan bicara sama Zella."


"Bu, aku nggak punya waktu buat melalukan itu," protes Akhsan.


"Dari dulu waktu 24 jam sehari, semua orang juga memiliki kesibukan, bahkan ada mereka yang lebih sibuk dari kamu, membayar sendiri iuran bulanan mereka tetap bisa! Tinggal manajemen waktu dengan baik!" balas Mayang.


Ahhh! Seharusnya dari kemaren aku ke rumah Shamil saja, hanya dia yang mengerti aku dan membuatku nyaman! Batin Akhsan.


Dia membuang napas kasar, kesal dengan ibunya yang terus membela Zella. Tanpa pamit pada siapa-siapa, Akhsan membawa semua barangnya dan pergi dari rumah ibunya.


Hari minggu, Shamil sangat bahagia bisa mengisi waktu liburnya untuk kebahagiaannya sendiri. Minggu-minggu sebelumnya dia merasa jengah karena Akhsan selalu datang. Belum lagi adanya segala curhatan Akhsan. Shamil sangat muak mendengar keluh kesah suaminya itu, tapi terpaksa memberi senyuman, terus mendengarkan sesekali berkata lembut untuk menyemangati. Walau itu palsu, tapi Akhsan sangat bahagia.

__ADS_1


Takkk!


Suara penyangga motor yang diturunkan.


Sial! Itu pasti Akhsan! Gerutu hati Shamil.


"Assalamu'alaikum, amma." salam Akhsan.


"Wa'alaikumsalam."


Akhsan langsung memeluk Shamil. "Hanya amma rumah yang indah untuk kembali, hanya amma yang mengerti aba," jerit Akhsan.


Kenapa dia datang sih! Hancur sudah kebahagiaanku karena kemunculanya! Gerutu hati Shamil.


"Aba kenapa? Kalau aba berkenan, sini cerita sama amma."


Akhsan mulai menceritakan perdebatanya dengan ibunya.


"Sabar ya aba, kan dari dulu ibu aba sangat menyayangi Zella. Begitulah cinta, bagaimana buruknya sosok itu, rasa cinta akan menutupinya sehingga sosok yang dicinta selalu sempurna di mata yang mencintai. Begitu juga ibumu, walau keburukan Zella terpampang jelas di matanya, ibu akan menyalahkan orang lain, karena sosok yang dia cintai itu sempurna baginya." Shamil memasang senyuman manis di wajahnya. Salah satu tangannya mengusap punggung Akhsan, berusaha membuat laki-laki itu tenang.


***


Mayang yakin, ada sesuatu yang lebih besar yang terjadi pada rumah tangga putranya. Tapi pada siapa dia bertanya? Dalam keluarganya tidak ada yang dekat dengan Zella. "Aku harus menemui Zella."


Mayang menuju kamar Ranti. "Ran, Zella jualan di mana?"


"Dekat taman yang nggak jauh dari sekolah Tifa!" sahut Ranti.


Mayang segera menelepon ojek langganan yang selalu siap mengantar dia kemana saja. Walau lelah masih menderanya, tapi dia tidak bisa beristirahat dengan tenang jika belum mencari tahu .


Sesampai di sana, dia melihat Zella sibuk melayani pembeli. Senyum terukir di wajah mayang kala sepasang matanya menangkap aura keceriaan dari wajah Zella.


"Ibu? Kapan ibu kembali?" Zella baru menyadari keberadaan mertuanya. Dia langsung menyambut mertuanya dan salim padanya.


"Barusan, ibu kangen sama kamu, mau minta Akhsan panggil kamu, katanya kamu jualan." Mayang mengusap sisi wajah Zella.


"Aku sama Kak Akhsan ada sedikit gesekan bu, maaf ya seminggu ini Kak Akhsan menenangkan diri di rumah ibu. Kak Akhsan nggak salah, Zella yang salah bu."

__ADS_1


"Ibu yakin, kalian berdua bisa menyelesaikan masalah kalian." Mayang menyisir pandangannya ke arah gerobak kontainer Zella. "Tifa mana? Bukannya ini hari minggu?"


"Oh Tifa sama mama aku bu, sebenarnya mama cuti, tapi majikan mama tiba-tiba ada tugas di desa Arum Baru. Aku nggak bisa larang juga, karena Tifa suka di sana."


"Sebentar ya bu." Zella menyiapkan dua porsi pisang gapit untuk mertuanya dan tukang ojek langganan ibunya. Zella memberikan satu porsi pada tukang ojek, Zella memasang tanda tutup di jualannya, dia ingin menemani mertuanya. "Kita duduk di sana bu." Zella mengajak mertuanya duduk di kursi panjang yang ada di bawah pohon.


"Tapi kenapa lapakmu harus dipasang tanda tutup?"


"Biar ngobrolnya lancar nggak kejeda iklan!" goda Zella.


"Masakan kamu selalu enak," pujj Mayang setelah memasukan satu potong pisang gapit ke mulutnya.


"Kenapa ibu nggak telepon aja? Akh jualan cuma sampai sore, abis jualan aku secepatnya ke rumah ibu kalau ibu kabari."


"Yah ... ibu pengen lihat perjuangan kamu."


"Maafin Zella, karena usaha ini Zella membuat anak ibu kecewa."


"Ibu yang harus minta maaf sama kamu, karena ketidak mampuan anak ibu, kamu harus memodifikasi tulang rusukmu menjadi tulang punggung. Ibu yakin anak ibu udah berbuat dzalim sama kamu."


Ucapan mertuanya tentang tulang rusuk yang dimodif jadi tulang punggung membuat Zella terharu. Dia langsung memeluk ibunya. "Kak Akhsan nggak salah bu, mungkin keadaan zaman yang sekarang membuat seorang wanita juga menjadi sekuat tulang punggung. Tulang rusuk itu diharuskan keadaan untuk jadi tulang punggung."


"Ibu tahu rasa sakitmu, apalagi jika Ranti menyudutkanmu, mengatai kamu beban keluarga, bermuka tebal karena menadah terus sama suami, ibu sakit, ibu tahu kamu juga sakit, tapi ibu tidak tahu bagaimana mengobati rasa sakitmu."


"Aku hanya bisa minta maaf, karena aku jualan ibu akan kepikiran yang enggak-enggak nantinya."


"Ibu memang kepikiran sesuatu, tapi ibu tidak tahu hal apakah itu?"


"Itu karena ibu capek, ayo habiskan pisangnya, terus pulang dan istirahat ya ...."


"Beneran nggak ada apa-apa antara kamu dan Akhsan?"


"Ibu makin ngaco, kalau ibu nggak kuat habisin, aku bungkusin ya ...."


Bagaimana pun Mayang mencoba mengajak Zella bicara, tetap saja Zella mengelak. Tapi Mayang serasa melihat kesedihan yang mendalam dari sepasang mata Zella.


*Alea. Dia sahabat Zella. Aku yakin dia tahu sesuatu. Aku harus menemui dia. Batin Mayang.

__ADS_1


__ADS_2